INTERMESO
“Pada dasarnya, awan heksagonal ini seperti bom udara.”
Ilustrasi: Fuad Hasim
Kamis, 3 November 2016Lewat tengah hari pada 5 Desember 1945, Penerbangan 19, yang terdiri atas lima pesawat Grumman Avenger Torpedo Bomber, lepas landas dari pangkalan militer Fort Lauderdale, Florida. Empat pesawat masing-masing mengangkut tiga awak dan pesawat kelima hanya membawa dua awak.
Penerbangan 19, yang dipimpin Letnan Charles C. Taylor, sedang dalam misi latihan navigasi. Letnan Taylor adalah pilot tempur Angkatan Laut dengan pengalaman terbang sangat panjang. Empat pilot muridnya juga punya pengalaman lebih dari 300 jam terbang dengan pesawat sejenis.
Lepas dari landasan di Fort Lauderdale, mereka terbang ke arah timur menuju Beting Chickens & Hens di perairan Florida Keys untuk latihan pengeboman pada ketinggian rendah. Seusai latihan di tempat itu, lima pesawat tersebut mestinya melanjutkan terbang ke arah Kepulauan Grand Bahama.
Sejam kemudian, Kapten Robert Cox, yang terbang tak jauh dari tempat itu, mendengar komunikasi radio dari Kapten Edward Powers, pilot pesawat kedua. Dia mengeluhkan kerusakan kompas di pesawatnya. “Aku tak tahu di mana kita berada. Sepertinya kita tersesat setelah putaran terakhir tadi,” kata Kapten Powers dikutip Naval History.

PBM Mariner 49 dan PBM Mariner 32 terbang tandem. Mariner 49 yang ada di depan hilang di Bermuda
Foto: dok Arsip Nasional Amerika
Aku sama sekali tak tertarik mempelajari Segitiga Bermuda.”
Randall Cerveny, Direktur Meteorologi di Universitas Negeri ArizonaKapten Cox meminta Kapten Powers menjelaskan identitasnya supaya ada pesawat yang bisa memandunya. Tapi tak ada jawaban dari Kapten Powers. Beberapa saat kemudian, justru Letnan Taylor yang memberikan tanggapan. “Kedua kompasku rusak…. Aku yakin ada di Florida Keys, tapi aku tak tahu sejauh mana dan bagaimana mencari jalan pulang ke Fort Lauderdale,” kata Letnan Taylor. Saat itu sudah sore hari dan cuaca memburuk.
Kapten Cox segera melaporkan masalah yang dihadapi Letnan Taylor dan anak buahnya ke Stasiun Angkatan Laut. Beberapa kali terjadi komunikasi antara Letnan Taylor dan Stasiun Angkatan Laut di Fort Lauderdale. Namun tak kunjung jelas ada di mana kelima pesawat itu. Pada pukul 18.20, ketika langit sudah gelap, terdengar suara Letnan Taylor. “Bahan bakar kami sangat tipis. Kami akan terbang 270 derajat ke arah barat hingga mendarat atau bahan bakar kami habis. Kami akan jatuh bersama,” katanya.
Setelah itu senyap. Tak ada lagi komunikasi dengan Letnan Taylor maupun Kapten Powers. Padahal, selama bertahun-tahun, Avenger terkenal sebagai pesawat yang bandel. Pilot-pilot pesawat tempur kala itu, menurut Mark Evans, sejarawan dari Pusat Sejarah Angkatan Laut, menjuluki Avenger sebagai Burung Besi.
“Pesawat-pesawat itu dirancang seperti tank…. Berulang kali Avenger pulang dari medan tempur penuh lubang tembakan, tapi masih bisa terbang dengan baik. Pilot-pilot menyukai pesawat itu,” kata Mark, kepada National Geographic, beberapa tahun lalu.
Beberapa menit setelah lima pesawat itu hilang dari radar, Stasiun Angkatan Laut mengirim dua pesawat pencari PBM Mariner. Sejam kemudian, satu pesawat Mariner dengan 13 awak mengirim kabar telah berada di lokasi yang diduga titik terakhir hilangnya Penerbangan 19. Tapi beberapa saat kemudian, sinyal dari awak Mariner malah hilang.
Hari itu, ada enam pesawat beserta 27 awaknya hilang di perairan yang kini dikenal sebagai Segitiga Bermuda tersebut. Operasi pencarian besar-besaran oleh Angkatan Laut Amerika gagal menemukan mereka. Sampai detik ini, tak jelas benar bagaimana enam pesawat itu bisa hilang, bak menguap begitu saja di udara. Hilangnya enam pesawat inilah yang jadi asal-muasal misteri Segitiga Bermuda.
Ada puluhan kejadian pesawat dan kapal hilang yang, konon, terkait dengan misteri Segitiga Bermuda, wilayah yang terbentang dari Florida hingga Puerto Riko dan Kepulauan Bermuda. Pada 17 Januari 1949, pesawat G-AGRE Star Ariel, yang mengangkut 13 penumpang dan 7 awak, hilang di Bermuda dan tak pernah ditemukan jejaknya.
Rupa-rupa kejadian itu membuat sebagian orang yang menyebut wilayah perairan ini sebagai Segitiga Kematian atau Segitiga Setan. Gosip dan kabar burung ditambah bumbu-bumbu mitos makin mengukuhkan kisah-kisah seram soal Segitiga Bermuda. Benarkah ada yang seram dan misterius di Segitiga Bermuda?
* * *
Beberapa pekan lalu, program What on Earth di jaringan Science Channel mengundang Randall Cerveny, Direktur Meteorologi di Universitas Negeri Arizona, Amerika Serikat, untuk menjelaskan fenomena cuaca tak biasa yang terjadi di Laut Utara dan perairan di sekitar Kepulauan Bahama.
Satelit cuaca mendeteksi awan berbentuk heksagonal di atas Kepulauan Bahama, persis di sisi barat Segitiga Bermuda. Awan bersegi enam itu juga tampak tersebar di atas Laut Utara. “Para peneliti percaya angin sangat kuat di Laut Utara juga muncul di bawah awan berbentuk heksagonal di Kepulauan Bahama…. Dan menurut Randall Cerveny, kondisi itu terkait dengan fenomena atmosfer yang menakutkan,” kata sang pembawa acara.
Awan-awan heksagonal yang lebarnya puluhan kilometer itu, menurut Randall, terbentuk oleh kumpulan microburst atau empasan angin ke bawah. Microburst bisa terbentuk oleh rupa-rupa sebab, salah satunya akibat proses pendinginan di bawah awan badai. Dan akumulasi empasan angin ini punya kekuatan cukup dahsyat.
“Pada dasarnya, awan heksagonal ini seperti bom udara,” Randall Cerveny menjelaskan. Saat “bom” ini “meledak”, kekuatan empasan udaranya bisa menjatuhkan pesawat, bahkan menenggelamkan kapal di laut.
Pembawa acara What on Earth menyimpulkan, bisa jadi fenomena awan heksagonal dan empasan udara inilah yang jadi kunci jawaban atas hilangnya sejumlah pesawat dan kapal di Segitiga Bermuda. Beberapa media, seperti The Sun dan New York Post, mengutip What on Earth dan ikut menambah heboh kabar bahwa misteri Segitiga Bermuda telah terpecahkan.

Segitiga Bermuda
Foto: Quotesgram
Setelah tayangan What on Earth menyebar ke mana-mana, Randall Cerveny meluruskan pernyataannya. Menurut Randall, penjelasannya soal fenomena awan heksagonal dan microburst sama sekali tak ada hubungannya dengan Segitiga Bermuda. “Aku sama sekali tak tertarik mempelajari Segitiga Bermuda,” kata Randall, kepada Washington Post. Pembawa acara program itulah yang membelokkan pernyataannya dan mengaitkan dengan Segitiga Bermuda.
Sebenarnya, sebelum pembawa acara What on Earth mengklaim telah memecahkan “misteri” Segitiga Bermuda, sudah berkali-kali peneliti lain mengklaim hal serupa. Dua tahun lalu, tim peneliti dari Institut Geologi Minyak-Gas Trofimuk di Novosibirsk, Rusia, menulis di jurnal Science in Siberia soal penyebab lubang-lubang besar misterius di Semenanjung Yamal, Siberia. Vladimir Potanov dan timnya yakin penyebab lubang-lubang besar itu adalah pelepasan gas hidrat di bawah lapisan es.
Pelepasan gas hidrat ini pula, Igor Yeltsov, Wakil Ketua Institut Trofimuk, menduga, yang menyebabkan kapal tenggelam dan pesawat jatuh di Segitiga Bermuda. Hipotesis Igor dan teman-temannya ini sebenarnya tak baru-baru amat. Pada 2003, Joseph Monaghan, profesor di Universitas Monash, Australia, telah menguji teori gelembung gas hidrat yang bisa menenggelamkan kapal itu. Dia mempublikasikan penelitiannya di American Journal of Physics.
“Kapal bisa tenggelam di perairan yang dipenuhi gas hidrat metana dalam jumlah sangat besar…. Atmosfer di atas permukaan laut yang jenuh dengan gas metana menjadi sangat liar dan bisa menyebabkan pesawat jatuh,” kata Igor Yeltsov kepada Siberian Times.
Di bawah tekanan besar dari air laut, gas metana yang terperangkap di bebatuan di dasar laut biasanya dalam kondisi stabil. Tapi, lantaran sejumlah hal, misalnya akibat pemanasan dari air laut atau bebatuan, gas hidrat itu bisa terlepas ke permukaan dalam bentuk gelembung-gelembung udara.

Penerbangan 19
Foto: dok Angkatan Laut Amerika Serikat
Tak ada bukti bahwa frekuensi kecelakaan misterius di Segitiga Bermuda lebih tinggi dari wilayah perairan lain.”
Ben Sherman, juru bicara NOAADi sepanjang tepian lempeng Benua Atlantik bagian utara, menurut Benjamin Phrampus, geolog di Universitas Southern Methodist, memang terdapat konsentrasi gas hidrat dalam jumlah besar, terutama di Blake Ridge, perairan di ujung utara Segitiga Bermuda. Tapi, dalam beberapa abad terakhir, tak ada catatan pelepasan gas hidrat dalam jumlah besar di perairan Segitiga Bermuda. “Bagiku, teori gas hidrat ini menarik, tapi tak lebih dari itu,” kata Benjamin, dikutip Live Science.
Bagi Badan Nasional Atmosfer dan Kelautan Amerika Serikat (NOAA), misteri Segitiga Bermuda hanyalah mitos dan sekumpulan omong kosong. “Tak ada bukti bahwa frekuensi kecelakaan misterius di Segitiga Bermuda lebih tinggi daripada wilayah perairan lain,” kata Ben Sherman, juru bicara NOAA, kepada Sun Sentinel, beberapa waktu lalu. Badai dan cuaca buruklah, menurut Sherman, yang jadi penyebab utama hilangnya pesawat dan kapal di perairan Bermuda. “Laut selalu menjadi misteri bagi manusia. Saat cuaca buruk dan peralatan navigasi tak bekerja sempurna, laut bisa mematikan.”
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.