INTERMESO

Mereka Benci Mati Hillary

“Dia seorang penipu, dia seorang penyihir dan telah menyerahkan jiwanya kepada setan.”

Unjuk rasa kelompok anti-Hillary Clinton

Foto: Jessica Kourkounis/Getty Images

Rabu, 19 Oktober 2016

Ketika pada 2007 Hillary Rodham Clinton memutuskan menantang Barack Obama sebagai calon Presiden Amerika Serikat dari Partai Demokrat, bukan cuma pendukung Obama yang menyerangnya. Di luar sana, ada banyak orang yang tak pernah suka kepada Hillary, apa pun alasannya.

Di Facebook, segera bermunculan kampanye-kampanye menyebarkan permusuhan kepada Hillary. Satu grup, dinamai dengan nada merendahkan, ”Hillary Clinton: Stop Running for President and Make Me a Sandwich”, punya lebih dari 23 ribu anggota. Grup ini sangat aktif menyebarkan kebencian terhadap Hillary. Grup lain, dengan nama lebih kasar dan vulgar, ”Life’s a bitch, why vote for one?”, diikuti oleh lebih dari 13 ribu orang.

Dulu ataupun sekarang, saat Hillary untuk kedua kalinya bertarung untuk memperebutkan kursi di Gedung Putih, kebencian itu tak pernah luntur. Mengapa mereka begitu benci kepada Hillary, calon kuat Presiden Amerika?

Jika dia tak bisa memuaskan suaminya, bagaimana dia bisa memuaskan Amerika?”

Begitu bencinya mereka kepada Hillary, entah atas dasar apa, tak sedikit yang menyamakan calon Presiden Amerika dari Partai Demokrat itu dengan iblis. “Dia seorang penipu, dia seorang penyihir, dan telah menyerahkan jiwanya kepada setan,” kata Alex Jones, penyiar radio dari Texas, kepada BBC, beberapa pekan lalu. “Lihat saja mukanya…. Yang dia butuhkan tinggal kulit berwarna hijau.”

Bahkan seorang perempuan muda seperti Emily Longworth, 25 tahun, juga tak suka pada Hillary. Dulu, saat masih bekerja di perusahaan senjata yang punya kontrak dengan pemerintah, Emily masih menjaga lidahnya. Kini, setelah tak lagi bekerja di perusahaan senjata, dia tak lagi menahan diri untuk mencerca Hillary.

“Dia berbohong, manipulatif, perempuan narsistik yang pantas dijebloskan ke dalam penjara,” kata Emily. Gadis itu memang tumbuh besar di keluarga konservatif. Tak hanya menyebarkan kebencian kepada Hillary lewat Facebook dan YouTube—gara-gara komentarnya yang kelewatan, akun milik Emily disetip oleh Facebook—Emily dan teman-temannya juga menjual kaus bertuliskan ”Hillary for Prison”.

* * *

Hillary Clinton
Foto: Justin Sullivan/Getty Images

Jauh sebelum maju sebagai kandidat Presiden Amerika, sebelum menjadi Menteri Luar Negeri dan Senator, bahkan sebelum menjadi Ibu Negara di Gedung Putih, Hillary sudah punya banyak musuh “setia”. “Bagi sebagian orang, mungkin aku mengingatkan mereka kepada ibu tiri atau bos mereka,” Hillary menuturkan kepada New Yorker, 20 tahun lalu.

Sejak masih remaja, Hillary tahu bahwa dia bukan orang biasa-biasa saja. "Hillary selalu tertarik berkompetisi," kata Dorothy Rodham, sang ibu, kepada Boston Globe. Sejak kecil, Hillary tak suka menjadi orang kedua, apalagi menjadi bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa. Di kelas, Hillary selalu jadi juara. "Dia selalu menjadi pemimpin di antara anak-anak. Orang lain bertanya kepada dia apa yang harus dilakukan saat bermain."

Tapi, bagi sebagian orang, perempuan maupun laki-laki, kecerdasan, ambisi, determinasi, juga pencapaian Hillary mungkin terasa mengintimidasi. “Banyak orang tak suka dengan kepercayaan dirinya,” kata penulis Ariana Huffington. “Rasa bersyukur barangkali tak jadi masalah jika diungkapkan dengan baik, tapi jika terus-menerus disampaikan kepada orang lain, tentu bakal bikin orang tak enak.”

Kaus anti-Hillary 
Foto: Ethan Miller/Getty Images

Ketika sang suami, Bill Clinton, menjabat jaksa dan Gubernur Negara Bagian Arkansas, Hillary Rodham—dia memutuskan mempertahankan namanya sendiri ketimbang dipanggil sebagai Nyonya Bill Clinton—merupakan partner di kantor pengacara Rose Law. Penghasilan Hillary sebagai pengacara lebih besar daripada gaji suaminya.

Saat Bill melompat ke Gedung Putih, peran Hillary bukan sekadar jadi “pemanis”. Dia terlibat aktif dalam sejumlah kebijakan. Setelah Bill Clinton lengser dari Gedung Putih dan aktif dalam kegiatan sosial, giliran karier politik Hillary yang terbang tinggi. Dia menjadi Senator dan Menteri Luar Negeri Amerika. Berulang kali survei Gallup menaruh namanya di daftar paling atas Perempuan Paling Dikagumi di Dunia. Tak lama lagi, besar kemungkinan Hillary Clinton akan menjadi Presiden Amerika perempuan pertama dalam sejarah.

Di lapangan politik, tak banyak perempuan seperti Hillary. Mereka menembus dan menantang dominasi laki-laki. Perempuan seperti Hillary sudah tentu punya banyak musuh yang akan dengan senang hati menjegalnya. Tapi penulis konservatif Margaret “Peggy” Noonan, tak percaya bahwa kebencian terhadap Hillary berakar pada “kecemburuan” terhadap perempuan sukses.




Poster dukungan kepada Donald Trump
Foto: Jessica Kourkounis/Getty Images

“Omong kosong, pendapat seperti itu sudah tak berlaku lagi,” kata Peggy. Hillary, menurut Peggy, sengaja bersembunyi di balik dalih itu untuk berkelit dari masalah sesungguhnya. Tapi Peggy juga tak bisa memberikan alasan yang jernih mengapa dia dan sejumlah perempuan, termasuk beberapa feminis, tak suka Hillary.

Tak ada urusan ideologi atau kebijakan politik yang membuat Margo Guryan Rosner, 78 tahun, tak suka pada Hillary. Margo masih sakit hati terhadap komentar Hillary lebih dari 20 tahun lalu. Kala itu, saat Bill Clinton berkampanye untuk merebut kursi Presiden Amerika, ada wartawan yang bertanya soal karier Hillary di biro hukum Rose Law.

Barangkali Hillary tak sadar komentarnya membuat para ibu rumah tangga tersinggung. “Aku mungkin bisa saja tinggal di rumah dan memanggang kue, tapi apa yang aku lakukan adalah memenuhi tuntutan profesiku,” kata Hillary saat itu. Hillary, menurut Margo, meremehkan peran para ibu yang tinggal di rumah dan mengurus anak-anak. “Aku pikir itu sungguh komentar yang bodoh.”

Trump dan Hillary dalam acara debat calon presiden
Foto: Win McNamee/Getty Images

Bagi para pembenci, ada banyak alasan untuk tak suka kepada Hillary. Banyak sekali desas-desus, prasangka, juga fitnah yang terus menempel pada Hillary dan Bill Clinton sekalipun tak disokong bukti. “Ada 48 kasus kematian mencurigakan di sekitar Hillary,” kata Uday Sachdeva, 22 tahun, mahasiswa asal Georgia kepada Slate. Dia tak peduli dari mana sumber desas-desus itu. Bagi Uday, tak mungkin ada asap jika tak ada sumbernya.

Bahkan meledaknya berita perselingkuhan Bill Clinton pada 1990-an pun tak membuat orang-orang yang membencinya bersimpati kepada Hillary, justru makin antipati. Di mata mereka, termasuk lawan politiknya, Donald Trump, Hillary-lah yang patut disalahkan atas kelakuan tak pantas suaminya. “Jika dia tak bisa memuaskan suaminya, bagaimana dia bisa memuaskan Amerika?” Trump berkomentar di Twitter beberapa bulan lalu.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE