INTERMESO

Belanda Depok, Museum, dan
Cagar Budaya

Kaya akan berbagai situs sejarah dan kekayaan alam, Depok layak menjadi tujuan wisata sejarah dan agro. Penetapan cagar budaya masih dalam kajian.

Makam keluarga 12 marga bekas budak petinggi VOC Cornelis Chastelein di belakang RS Hermina Depok.
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Selasa, 18 Oktober 2016

Kemampuan mendengar yang sudah berkurang jauh dari normal tak mengurangi antusiasme Yano Jonathans menuturkan riwayat Kota Depok, Jawa Barat, Minggu, 9 Oktober 2016. Selama hampir dua jam, lelaki kelahiran Bandung, 4 Maret 1951, itu meladeni berbagai pertanyaan dari belasan anggota komunitas Ngopi Jakarta yang bertandang ke kediamannya siang itu. Ada kalanya mereka berebut Walkman bekas untuk menyampaikan pertanyaan. Ya, lewat bantuan Walkman bekas itulah Yano dapat mendengar lawan bicaranya.

“Sejak lahir indra pendengaran saya memang terganggu, sekarang tinggal 25 persen saja,” kata mantan kepala riset dan pelatihan perusahaan audiovisual dan multimedia itu.

Keterbatasan tersebut tak membatasi obsesi Yano menulis riwayat Depok secara lebih utuh. Berbekal bantuan dana dari gereja, Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein di Depok, serta tabungan pribadinya, ia menelisik ribuan dokumen di Arsip Nasional. Juga dari Perpustakaan Nasional dan naskah lawas milik gereja dan sejumlah kenalannya di Belanda. Setelah empat tahun, pada 2011 ia merilis buku bertajuk Depok Tempo Doeloe, Potret Kehidupan Sosial dan Budaya Masyarakat. Buku setebal 274 halaman itu diterbitkan oleh Libri BPK Gunung Mulia.

Berikutnya, pria yang pernah mengenyam pendidikan dari Sekolah Instrumentasi Gelas, Elektronika, dan Logam di Bandung itu bercita-cita menjadikan Depok sebagai kota wisata. Selain kaya akan aneka situs sejarah peninggalan masa lalu, Depok punya perkebunan buah khas, seperti belimbing. Ia berharap Pemerintah Kota Depok dapat meniru langkah Kota Malang, yang menjadikan memetik apel di kebun sebagai obyek wisata agro. “Itu cuma salah satu contoh saja. Kita kan punya buah jenis lain. Bangunan bersejarah juga ada puluhan,” ujarnya.

Yano Jonathans menerima belasan anggota komunitas Ngojak (Ngopi di Jakarta), Minggu, 9 Oktober 2016.  
Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Pemerintah Kota Depok dapat meniru langkah Kota Malang, yang menjadikan memetik apel di kebun sebagai obyek wisata agro.”

Yano Jonathans, penulis buku Depok Tempo Doeloe

Selain itu, Yano sudah menjalin kerja sama dengan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia guna menjajaki pendirian museum tentang Depok. Ia mengaku telah menyerahkan berbagai naskah dan artefak tentang Depok yang dimilikinya.

Ahli kebudayaan dan sastra Belanda dari Universitas Indonesia, Lilie Suratminto, menyokong ide Yano. Ia menilai Depok Lama, tempat bermukimnya 12 marga keturunan bekas budak petinggi VOC Cornelis Chastelein, dapat menjadi tujuan wisata sejarah.

Menurut dia, daerah tersebut unik. Sejarahnya masih bisa ditelusuri dari dokumen-dokumen yang cukup lengkap, baik di Belanda maupun di Indonesia. Namun mereka harus mempertahankan atau menunjukkan ciri-ciri khas kedepokannya. Selain itu, situs-situs yang masih ada harus dirawat dengan baik. “Rumah-rumah jangan dihancurkan. Karena saya lihat sudah cukup banyak yang sudah berganti dengan bangunan modern,” ujar Lilie.

Hal lain yang menarik, Lilie melanjutkan, saat ini masih ada generasi tua Depok yang tetap memelihara tradisi mereka. Saat pesta perkawinan, misalnya, mereka melantai dengan menari waltz. Lalu, saat ada yang meninggal, pakaian peninggalannya dibagikan kepada orang-orang yang membutuhkan. Ini menunjukkan jejak kebudayaan yang diwariskan masih ada. Soal bahasa juga tak kalah menarik.

“Saya mendengar ada kosakata yang masih dipakai itu berasal dari abad ke-17. Seperti misalnya kanitot. Kanitot itu artinya ‘tidak bisa’ atau ‘tidak sampai’,” kata Lilie.

Keturunan para bekas budak Cornelis Chastelein menyebut bekas majikan leluhurnya itu sebagai penjajah yang baik hati. Tapi, menurut Lilie, Cornelis sebetulnya seorang pengusaha atau pedagang. Dia kurang pas dikategorikan sebagai penjajah. Karena itu, bila kelak Pemerintah Kota Depok ingin mengabadikannya sebagai nama jalan seperti halnya Margonda dan Tole Iskandar, itu ide yang sangat bagus. “Itu bagus kalau (nama Cornelis Chastelein) diabadikan jadi nama jalan. Dia bukan penjajah, dia pengusaha di bidang pertanian dan hasil-hasilnya diperdagangkan di Batavia,” ujarnya.

Pemakaman Kamboja, Depok, yang merupakan kompleks pemakaman tua keturunan Belanda Depok.

Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Kediaman bekas Presiden Depok J.M. Jonathans, yang terletak di seberang RS Harapan.

Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Tiang telepon ini diperkirakan dibangun pada tahun 1900-an, terletak di pertigaan Jalan Kartini dan Jalan Pemuda, Depok.

Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Gemeente Bestuur dulu merupakan pusat pemerintahan Depok. Sekarang menjadi Rumah Sakit Harapan.

Foto: Pasti Liberti Mappapa/detikX

Lilie menyarankan, bila kelak nama Cornelis Chastelein menjadi nama jalan, posisi yang tepat adalah yang sekarang dinamai Jalan Pemuda. Sebab, di situ ada gereja pertama Depok dari masa Cornelis, kantor Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein, serta ada rumah mantan presiden terakhir Depok. Dengan demikian, kata dia, penduduk setempat, baik asli maupun pendatang, dapat mengetahui siapa gerangan Cornelis Chastelein.

Cornelis Chastelein itu bukan penjajah, dia pengusaha dan pedagang pertanian. Layak diabadikan menjadi nama jalan.”

“Ini lebih penting daripada nama di tugu, untuk diketahui anak-cucu dan masyarakat luas. Ini semacam memberikan pelajaran sejarah kepada masyarakat Depok khususnya dan bangsa Indonesia pada umumnya,” tutur Lilie.

Kepala Dinas Pemuda, Olahraga, Pariwisata, Seni, dan Budaya Kota Depok Agus Suherman menyambut positif ide tersebut. Ia mengaku pihaknya saat ini tengah mendata situs-situs yang memenuhi kriteria untuk dijadikan cagar budaya. Salah satunya yang paling mendesak, Agus menyebut Jembatan Panus, yang dibangun ole Ir Andre Laurens pada 1917.

Begitu juga dengan bangunan-bangunan di sepanjang Jalan Pemuda. “Kami akan bekerja sama dengan Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein,” ujar Agus.

Hanya, proses untuk mewujudkan semua itu, ia mengingatkan, butuh waktu panjang. Juga perlu keterlibatan para ahli untuk menilai otentisitas kesejarahannya. Kalau semua sudah terdata dengan baik, tidak tertutup kemungkinan kawasan tersebut bisa dijadikan kawasan wisata sejarah atau budaya.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE