INTERMESO

Para Perempuan yang ‘Menembak’ Clinton

“Dia adalah cinta dalam hidupku dan aku adalah cinta dalam hidupnya.”

Bill Clinton

Foto: Justin Sullivan/Getty Images

Rabu, 12 Oktober 2016

Ketika mampir di New Hampshire dalam perjalanan kampanye pada Desember tahun lalu, ada satu pertanyaan tak disangka dari seorang pendukung kepada Hillary Clinton.

“Belum lama ini Anda mengatakan bahwa pernyataan seorang korban pemerkosaan mesti dipercaya…. Lalu bagaimana dengan pernyataan Juanita Broaddrick, Kathleen Willey, dan Paula Jones? Apakah kita mesti mempercayai mereka?” tanya pendukung itu dikutip Free Beacon.

Tapi bukan Hillary, perempuan yang sudah ditempa pengalaman politik selama puluhan tahun, jika lidahnya terlipat menghadapi pertanyaan semacam itu. Tanpa kehilangan ketenangan, Hillary menjawabnya. “Well, menurutku, semua orang harus dipercaya saat pertama kali, sampai ada bukti yang membuat dia tak bisa dipercaya,” kata Hillary diplomatis.

Aku berhubungan seks dengan Bill Clinton, tanpa tekanan."

Nama Juanita Broaddrick, Kathleen Willey, Paula Jones, Gennifer Flowers, Monica Lewinsky, dan Sally Perdue sudah lama jadi “hantu” yang terus membuntuti perjalanan politik Bill dan Hillary Clinton. Puluhan tahun lalu, perempuan-perempuan ini, lewat pelbagai cara, mengklaim menjadi korban perilaku seksual tak pantas Bill Clinton. Kini, saat Hillary bertarung memperebutkan kursi nomor satu di Gedung Putih, berita lawas itu diaduk-aduk lagi oleh lawan politiknya, kubu Donald Trump, calon Presiden dari Partai Republik.

Sampai detik ini, Bill Clinton, presiden ke-42 Amerika Serikat, hanya mengaku “bersalah” terhadap dua perempuan, yakni Monica Lewinsky dan Gennifer Flowers. Ulah tak pantas Bill terhadap Monica, saat itu anak magang di Gedung Putih, nyaris menjungkalkan Bill Clinton dari kursi presiden.

Juanita Broaddrick
Foto: Justin Sullivan/Getty Images

Selama bertahun-tahun, saat masih menjabat Gubernur Arkansas, Bill juga mengakui menjalin hubungan terlarang dengan Gennifer di balik punggung Hillary. “Dia adalah cinta dalam hidupku dan aku adalah cinta dalam hidupnya,” kata Gennifer kepada Daily Mail tiga tahun lalu. “Aku dan Bill mungkin masih akan tetap bersama hari ini jika bukan lantaran pertimbangan politik.”

* * *

Dalam soal kesetiaan suami, Bill Clinton barangkali memang bukan seorang teladan. Ada berderet-deret nama perempuan yang mengaku pernah menjalin hubungan dengan Bill saat dia sudah menikah dengan Hillary. “Aku berhubungan seks dengan Bill Clinton, tanpa tekanan…. Kami melewati malam yang intim. Dia sangat menawan,” kata Elizabeth Ward Gracen, mantan Miss America, soal hubungan singkatnya dengan Gubernur Clinton pada awal 1980-an.

Cerita Juanita agak beda dari kasus Bill Clinton dengan perempuan lain. Dia merupakan satu-satunya perempuan yang mengaku diperkosa oleh Bill Clinton. “Aku berumur 35 tahun saat Bill Clinton, saat itu Jaksa Agung Negara Bagian Arkansas, memperkosaku…. Sekarang aku sudah 73 tahun, tapi aku tak bisa melupakannya,” Juanita menulis di Twitter beberapa bulan lalu.

(Dari kiri) Kathleen Willey, Juanita Broaddrick, dan Kathy Shelton saat menghadiri acara Debat Calon Presiden Amerika Serikat, Minggu 9 Oktober 2016.
Foto: Chip Somodevilla/Getty Images

Dia dan Bill Clinton, Juanita menuturkan kepada Washington Post bertahun-tahun lalu, pertama kali berkenalan pada April 1978 saat Bill berkampanye untuk mencalonkan diri menjadi Gubernur Arkansas. Juanita menjadi relawan tim kampanye Bill. Saat itu Jaksa Agung Clinton mengundang Juanita untuk mampir di kantor tim kampanye di Kota Little Rock.

Seminggu setelah perkenalan itu, bersama seorang teman, Juanita kebetulan mengikuti seminar di Little Rock. “Kami berdua sangat bersemangat,” kata dia. Juanita segera menelepon Bill di kantornya. Gayung bersambut, Bill mendatangi Hotel Camelot Inn, tempat Juanita bermalam. Tak mau obrolannya terganggu wartawan, Bill menyarankan supaya mereka minum kopi dan mengobrol di kamar Juanita.

“Bodohnya aku…. Aku memesan kopi ke kamar. Aku pikir kami akan mengobrol soal kampanye,” kata Juanita. Di kamar itulah, versi Juanita, Bill Clinton yang berbadan tinggi-besar menggigit bibirnya, menindihnya ke kasur, dan terjadilah…. Perlawanan Juanita juga sia-sia belaka. Dia tak menjerit lantaran kejadian itu terjadi begitu cepat. “Hal terakhir yang dia katakan adalah, ‘Kamu sebaiknya mengompres bibirmu dengan es.’ Kemudian dia memakai kacamata hitamnya dan berlalu.”




Bill Clinton
Foto: Ethan Miller/Getty Images

Tak ada saksi mata dan tak ada visum dokter. Dia hanya bercerita kepada Norma Rogers, teman dekatnya dan sesama peserta seminar di Little Rock. Bahkan Juanita tak bercerita kepada suaminya, juga pacar gelapnya. Pada 1992, saat Bill Clinton mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika, desas-desus soal kasus Juanita mulai berembus. Perempuan itu jadi buruan wartawan. Tapi Juanita malah membantah kabar tersebut.

Cerita itu terkubur lebih dari 20 tahun hingga kasus Monica Lewinsky jadi berita utama di media-media Amerika. Kepada Lisa Myers dari stasiun televisi NBC, Juanita menuturkan kejadian pada April 1978, sekaligus meralat pernyataan dia sebelumnya.

David Kendall, pengacara Bill Clinton, membantah kisah Juanita. “Tuduhan bahwa Presiden Clinton memperkosa Juanita 20 tahun silam sama sekali tidak benar,” kata Kendall, dikutip CNN. Tanpa bukti, tanpa saksi, bahkan Juanita sendiri pernah membantahnya, tudingan Juanita segera luntur oleh waktu.

Donald Trump duduk bersama (dari kanan ke kiri) Paula Jones, Kathy Shelton, Juanita Broaddrick, dan Kathleen Wiley sebelum acara Debat Calon Presiden Amerika Serikat, Minggu, 9 Oktober 2016.
Foto: Mike Segar/Reuters

Sekarang cerita Juanita jadi berita dan hidup kembali. Kepada Breitbart—situs berita ini sangat condong kepada Donald Trump dan Stephen Bannon, mantan bos Breitbart, yang merupakan Ketua Tim Kampanye Trump—Juanita mengulang kembali kisahnya hampir 40 tahun silam tersebut.

“Aku masih merasa takut kepada Bill Clinton. Apalagi jika Hillary terpilih menjadi presiden,” kata Juanita, hanya beberapa jam sebelum Donald Trump berdebat untuk kedua kalinya dengan Hillary, hari Minggu lalu. Dia, kata Juanita, tak punya motivasi politik apa pun dengan pengungkapan kasus itu kembali. Dia hanya tak ingin Bill Clinton kembali ke Gedung Putih. “Aku hanya ingin dipercaya.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE