INTERMESO
“Bagi kami para korban, ini bukan soal ongkos dan keuntungan, tapi soal menyelamatkan nyawa.”
Para pendukung kesepakatan damai dengan FARC di Kota Cali.
Foto: Jaime Saldarriaga/Reuters
Kamis, 6 Oktober 2016Darah tak selalu mesti berbalas dengan darah. “An eye for an eye only ends up making the whole world blind,” kata Mahatma Gandhi. Lingkaran dendam tak berkesudahan hanya akan mengekalkan rantai kekerasan.
Di Kolombia, negara di belahan utara Amerika Latin, darah sudah lama tertumpah. Sejak awal 1960-an, sejumlah kelompok kiri angkat senjata melawan tentara penguasa di Bogota. Salah satu yang paling besar dan ulet adalah Tentara Revolusioner Kolombia atau Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia alias FARC.
Pada mulanya, FARC merupakan gerakan perlawanan petani yang diorganisasi oleh Partai Komunis Kolombia (PCC) untuk melawan represi pemerintah pada awal 1960-an. Kelompok gerilya ini makin besar, kian sulit dibasmi tentara Kolombia. Selama lebih dari setengah abad, FARC jadi duri di kursi setiap penguasa di Bogota.
Hari ini aku bisa mengatakan bahwa ayahku bisa pergi dan beristirahat dalam damai.”
Berulang kali jalan perdamaian dirintis, tapi senapan kembali menyalak, permusuhan kembali berkobar, dan perang makin brutal. Baik gerilyawan FARC maupun tentara pemerintah sama-sama menghalalkan segala cara, sama-sama bergelimang darah, di medan tempur.
Selama itu pula ratusan ribu orang—harian El Tiempo menulis angka lebih presisi, 267.162 orang—jadi korban dari kedua belah pihak, termasuk rakyat sipil. Luka dari keluarga atau kerabat korban masih belum sembuh benar, tapi alih-alih terus memelihara murka dan dendam, sebagian dari mereka memilih memaafkan.

Komandan FARC Ivan Marquez menyalami korban pembantaian La Chinita di Apartado, Kolombia, pada 30 September lalu.
Foto: Fredy Builes/Reuters
Suatu pagi pada pertengahan April 2002, dengan menyamar sebagai tentara Kolombia, puluhan prajurit FARC menyerbu gedung DPRD di Santiago de Cali, ibu kota Provinsi Valle Del Cauca. Mereka menculik 12 anggota DPRD, salah satunya Hector Arismendi. FARC menjadikan sandera ini sebagai alat tawar-menawar dengan pemerintah. Selama lima tahun, FARC dan pemerintah Kolombia bernegosiasi, tapi tanpa hasil. Gara-gara satu kesalahan, FARC malah menembak mati 11 dari 12 sandera, termasuk Hector Arismendi.
Ketika ayahnya mati ditembak gerilyawan FARC, Sebastian Arismendi baru berumur 7 tahun. Pemuda itu tumbuh besar dengan menimbun dendam. Dia ingin membunuh orang-orang yang menembak mati ayahnya, Hector, dengan tangannya sendiri. “Aku belajar sangat keras dan menjadi yang paling pintar di kelas supaya bisa menjadi orang dengan pengaruh besar dan punya jaringan luas untuk membalas dendam,” kata Sebastian kepada Fusion.
Perlahan, dengan sokongan keluarga dan kerabat, amarah itu mulai padam. Sebastian sadar bahwa dendam tak akan membuat Kolombia jadi lebih baik, justru akan membawa masa depan negara itu ke dalam jurang.
“Kita tak bisa berhenti di masa lalu yang menyakitkan,” kata Sebastian. Demi menghentikan pertumpahan darah di negerinya, demi perdamaian di Kolombia, dia siap memberikan maaf kepada mereka yang membunuh ayahnya. “Sekarang aku merasakan ketenangan yang tak pernah aku dapatkan sepanjang hidupku…. Hari ini aku bisa mengatakan bahwa ayahku bisa pergi dan beristirahat dalam damai.”

Anggota kelompok gerilyawan FARC merayakan perdamaian dengan pemerintah Kolombia.
Foto: Mario Tama/Getty Images
Luis Napoleon Concha dan Gloria Ines Alvarado pernah murka terhadap tentara pemerintah Kolombia. Mereka yakin, tangan tentara pemerintahlah yang ada di balik kematian putra mereka, Luis Alejandro Concha, sepuluh tahun lalu. “Aku tahu, itu pasti pekerjaan tentara pemerintah karena rumah kami terus diawasi…. Pemerintah curiga anak kami seorang teroris,” kata Luis Napoleon, kepada Telesur, beberapa pekan lalu. Kasus ini tak pernah terungkap.
Seperti Sebastian, Luis dan Gloria sudah merelakan kematian anaknya. Sejak beberapa waktu lalu, Luis Napoleon dan Gloria bergabung dalam Gerakan Korban-korban Kejahatan Negara (MOVICE). Bersama teman-temannya, Luis dan Gloria tak cuma menuntut tanggung jawab pemerintah, tapi juga mengkampanyekan perdamaian di Kolombia.
“Aku percaya pada perdamaian, karena itu aku bersedia memaafkan semua perbuatan mereka yang telah menyakiti kami,” kata Gloria. Anggota MOVICE terus berkampanye menyokong perundingan damai pemerintah Kolombia dengan FARC dan kelompok-kelompok gerilyawan lain.
Sejak beberapa bulan lalu, pemerintah Kolombia di bawah Presiden Juan Manuel Santos kembali merintis pembicaraan perdamaian dengan FARC. Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus turut menyokong upaya perdamaian dengan FARC. Bahkan Presiden Obama mendesak Kongres Amerika meloloskan bantuan senilai US$ 450 juta atau sekitar Rp 6 triliun untuk rupa-rupa proyek setelah perjanjian damai diteken.
Para pendukung kesepakatan damai dengan FARC di Kota Bogota
Foto: John Vizcaino/Reuters
Setelah berperang lebih dari setengah abad, pada Senin petang, 26 September lalu, di kota tepi pantai Cartagena, disaksikan oleh Presiden Kuba Raul Castro dan Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry, Presiden Juan Manuel Santos dan pemimpin FARC, Rodrigo Londono Echeverri alias Timochenko, bersalaman setelah meneken kesepakatan perdamaian.
Kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh prajurit-prajurit FARC: membunuh, menculik, dan memperdagangkan narkotik, berdasarkan kesepakatan itu, akan diampuni setelah mereka mengakui kesalahannya di depan Komisi Kebenaran. Sebagian warga Kolombia dan para korban FARC menolak amnesti untuk gerilyawan FARC.
Juan David Lacoutoure, pengusaha di Bogota, menuntut anggota FARC yang terlibat dalam pembunuhan dan penculikan tetap menjalani hukuman. Beberapa kerabat Juan menjadi korban pembunuhan FARC. “Bagaimana bisa adil jika aku yang tak punya salah harus dipenjara selama empat bulan di kamp FARC, sementara mereka yang berbuat kriminal sama sekali tak dihukum?” Nohora Tovar, salah satu korban penculikan FARC, dikutip Guardian, menggugat kesepakatan perdamaian pemerintah Kolombia dengan kelompok pemberontak itu.
Juan, Nohora, dan teman-temannya inilah yang terus menyerukan penolakan atas kesepakatan perdamaian lewat referendum pada 2 Oktober lalu. Sesuai dengan yang dikehendaki Presiden Kolombia Juan Manuel Santos, referendum digelar untuk meminta persetujuan rakyat atas perjanjian damai itu.

Warga Kolombia memberikan suara dalam referendum atas perjanjian damai pemerintah dengan gerilyawan FARC di Bogota, 2 Oktober lalu.
Foto: Mario Tama/Getty Images
Hasil referendum pada 2 Oktober lalu sungguh tak disangka. Lebih dari 50,2 persen warga Kolombia menolak perjanjian perdamaian dengan FARC, lawan 49,7 persen yang menyokong. Kendati “kalah” dalam referendum, Presiden Santos menolak mengibarkan bendera putih. “Aku tak menyerah. Aku akan terus memperjuangkan perdamaian sampai akhir mandatku sebagai presiden,” kata Juan Manuel Santos kemarin.
Sebastian Arismendi hanya bisa menyesali pilihan saudara-saudaranya. “Justru mereka yang tak menderita akibat perang bicara paling lantang soal ongkos dan keuntungan dari kesepakatan itu,” kata Sebastian. “Padahal bagi kami, para korban, ini bukan soal ongkos dan keuntungan, tapi soal menyelamatkan nyawa.”
Seandainya kesepakatan perdamaian benar-benar bubar, entah berapa banyak lagi yang akan jadi korban. Gencatan senjata antara FARC dan pemerintah Kolombia akan berakhir pada 31 Oktober ini. Pascareferendum menolak kesepakatan damai, komandan-komandan FARC sudah memerintahkan anak buahnya bersiaga. “Seluruh unit harus segera bergerak ke zona aman untuk menghindari provokasi,” Pastor Alape, salah satu komandan FARC, menulis di Twitter, kemarin.
Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.