INTERMESO
Wartawan yang meliput Operasi Woyla ada yang sempat melihat dua dari lima pembajak masih hidup dan tengah diinterogasi aparat terkait. "Pokoknya, kamu tulis semuanya tewas!"
Ilustrasi: Luthfy Syahban
Rabu, 5 Oktober 2016Dudi Sudibyo tiba di Bangkok beberapa jam setelah pesawat DC-9 Garuda Indonesia Woyla registrasi PK-GNJ dengan nomor penerbangan GA-206 rute Jakarta-Palembang-Medan yang dibajak mendarat di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, Sabtu, 28 Maret 1981. Pesawat nahas berkapasitas 102 penumpang buatan McDonnell Douglas itu sebelumnya mampir di Penang, Malaysia, selama hampir 4 jam untuk mengisi bahan bakar. "Saya langsung ditugaskan ke Bangkok begitu tahu pesawat diarahkan ke sana," kata wartawan harian Kompas itu kepada detikX, Senin, 3 Oktober 2016.
Pesawat yang mengangkut 5 awak dan 48 penumpang termasuk para pembajak itu diparkir di ujung landasan. Jaraknya sekitar 2,5 kilometer dari terminal utama, yang masuk dalam kawasan Angkatan Udara Kerajaan Thailand. Karena itu, tak ada akses untuk melihat langsung ke pesawat. Hanya ada sebuah jalan yang dibatasi tembok tinggi dengan jarak 300-400 meter. Para wartawan tak kehilangan akal. Mereka berpatungan menyewa bus antarkota untuk dijadikan panggung. "Kami meliput dari atap bus dan tidur juga di situ," kata Dudi mengenang.
Para wartawan asing memuji operasi pembebasan oleh pasukan Komando Indonesia yang berlangsung amat singkat, 3 menit. "Unbelievable... fantastic... impossible, but they did it."
Dudi Sudibyo, wartawan harian Kompas yang meliput pembajakan pesawat Garuda Woyla
Dudi Sudibyo
Foto: dok pibadi via Facebook
Hari ketiga pembajakan, Dudi mengontak General Manager Garuda Indonesia Salman Hardani. Ia menawarkan diri menjadi relawan pengantar makan malam ke pesawat. Rencananya, lelaki kelahiran Pacet, Mojokerto, Jawa Timur, 19 Maret 1944, itu akan menyaru sebagai karyawan Garuda. Salman menyetujui rencana itu dan Dudi sudah menandatangani surat pernyataan.
Ia mengaku bukan sok berani. Kenekatannya muncul demi sebuah tugas jurnalistik untuk menghadirkan laporan yang hidup dan bernas. "Sebagai wartawan, rasa ingin tahu jangan luntur. Saya ingin tahu seperti apa pembajak itu, bagaimana keadaan sandera," kata Dudi, yang sekarang lebih dikenal sebagai pengamat penerbangan.
Namun rencana itu tak terealisasi. Ia mendapat kabar, Letnan Jenderal Benny Moerdani, yang bertindak sebagai kepala operasi militer pembebasan sandera, tidak setuju. Akhirnya yang ditugaskan adalah dua karyawan Garuda berkebangsaan Thailand, yakni Kern Jadyangtone serta Rathavit Tunvibul. Mereka berdua menuju pesawat dengan bertelanjang dada dan kaki sesuai dengan syarat para pembajak.
Kesabaran para wartawan menunggu akhir drama pembajakan terbayar pada 31 Maret dini hari. Sekitar pukul 02.13, beberapa mobil Volkswagen Combi bergerak menurunkan pasukan berseragam loreng dengan baret merah. "Don't move! Don't move," ujar Dudi menirukan asisten juru kamera televisi NBC yang mengumpat. Bus yang menjadi pijakan mereka bergoyang karena sejumlah wartawan bergerak-gerak berebut mencari sudut terbaik.

Dudi Sudibyo dalam sebuah pameran inovasi Airbus
Foto: dok pibadi via Facebook
Tepat pukul 02.45, operasi dilancarkan. Hanya tiga menit waktu yang dibutuhkan pasukan antiteroris baret merah membebaskan para sandera. "Unbelievable… fantastic… impossible, but they did it," ujar Dudi menirukan pujian beberapa wartawan asing. "Seperti di film saja," kata yang lain.
Dudi beruntung punya kawan wartawan lokal di Bangkok. Setelah proses evakuasi berakhir, sang kawan mengajaknya bergegas menuju gedung terminal utama. Tentu saja segala atribut kewartawanan mereka tanggalkan. Dari sebuah ruangan, Dudi mendengar jeritan perempuan dalam bahasa Indonesia. "Jangan… jangan pukul. Sudah cukup," ujarnya menirukan.
Penasaran terhadap suara tersebut, Dudi mendekati asal sumber suara. Sekilas dilihatnya dua pembajak yang masih hidup tengah "dikerjai" sejumlah anggota pasukan. Suara perempuan yang menjerit berasal dari salah satu pramugari yang kemudian diketahui bernama Deliyanti. Dudi kemudian meminta waktu kepada Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Jenderal Yoga Soegama untuk melakukan wawancara khusus. Ia ingin meminta konfirmasi bahwa dua pembajak ternyata masih hidup. Yoga cuma menjawab semua pembajak sudah dilumpuhkan.
Kisah Woyla juga dituturkan Panda Nababan. Saat peristiwa pembajakan Garuda itu terjadi, 28 Maret 1981, wartawan Sinar Harapan itu menjadi wartawan pertama yang tiba di Bangkok. Semula Redaktur Khusus Sinar Harapan itu akan menuju Penang, Malaysia. Tapi, karena pesawat segera melanjutkan perjalanan ke Bangkok, ia pun langsung menyusul ke sana. "Saya wartawan Indonesia pertama yang sampai di Bangkok," ujar Panda dalam buku Jurnalisme Investigatif Panda Nababan: Menembus Fakta, yang diterbitkan pada 2009.
Kamu ini enggak bisa dikasih tahu, ya! Kamu tahu, nanti ribut DPR, ribut (Adnan) Buyung Nasution, ngerti enggak?"
Letjen Benny Moerdani, Kepala Operasi Militer Pembebasan Sandera Pesawat Garuda Woyla
Panda Nababan bersama Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Jenderal Yoga Soegama
Foto: dok. Sinar Harapan
Ia mengaku berada di pusat krisis di ruangan kantor maskapai penerbangan Belanda, KLM, yang digunakan Yoga sebagai ketua tim negosiasi. Senin, 30 Maret pagi, setelah Perdana Menteri Thailand Prem Tinsulanonda memberi izin operasi militer, persiapan segera dimatangkan. Panda mengungkapkan, makanan untuk Senin malam itu telah diberi obat penenang semacam obat tidur. "Ini makan malam terakhir, the last supper," ujarnya.
Setelah operasi berakhir, Panda ikut rombongan para sandera pulang ke Jakarta. Saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Selasa, 31 Maret sore, Benny Moerdani memanggilnya. "Nanti kamu beritakan bahwa pembajaknya semua mati, ya," kata Benny sambil melihat para sandera yang sedang turun dari pesawat. Spontan Panda menyergah. Ia mengaku menerima informasi bahwa dua pembajak, Abdullah Mulyono dan Wendy (Effendi), masih hidup. Keduanya sempat menyaru jadi sandera, tapi ketahuan dan ditembak.
"Pokoknya, kamu tulis semuanya tewas!" kata Benny dengan nada marah. Panda belum sempat menyelesaikan sanggahannya saat tinju Benny mengenai dadanya dengan keras. Benny membentak, "Kamu ini enggak bisa dikasih tahu, ya! Kamu tahu, nanti ribut DPR, ribut (Adnan) Buyung Nasution, ngerti enggak?" Panda lantas memeluk Benny. Ia khawatir belasan anak buah Benny akan melakukan hal yang mengerikan terhadap dirinya.
Panda pun mengaku beberapa waktu kemudian, ia mendapat informasi bahwa Abdullah dan Wendy dieksekusi di sebuah tempat rahasia. Tentu saja setelah semua informasi dari keduanya didapatkan.
Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.