INTERMESO

Antiklimaks Drama
di Bogota

“Aku tak menyerah. Aku akan terus memperjuangkan perdamaian sampai akhir mandatku sebagai presiden.”

Gerilyawan FARC menghadiri pertemuan akbar kelompok itu di El Diamante, Kolombia, pada 23 September lalu.

Foto: Mario Tama/Getty Images

Kamis, 6 Oktober 2016

Yurluey Mendoza belajar semuanya dari perang. “Aku sudah 20 tahun bergerilya di hutan,” kata Yurluey kepada Washington Post beberapa hari lalu. Senapan Heckler & Koch MP5 menggantung di pundak perempuan itu.

Hari ini umurnya baru lewat 34 tahun. Umurnya baru 14 tahun ketika dia memutuskan pergi ke hutan dan bergabung dengan gerilyawan “kiri” Tentara Revolusioner Kolombia (FARC). Dia menjadi anggota kesatuan Teofilo Forero, salah satu unit FARC yang ditakuti. Yurluey memutuskan bergabung dengan FARC setelah, di depan matanya, ayahnya babak belur dihajar polisi Kolombia.

“Saat itu aku berharap punya badan lebih tinggi atau menjadi bagian dari kekuatan yang lebih besar sehingga mereka tak akan pernah menganiaya kami,” gadis itu menuturkan. Sejak hari itu, gadis asal Caqueta, Kolombia, ini tak kenal lagi kehidupan di kota. Dia tak pernah makan di restoran, tak pernah pula menginjakkan kaki di pusat belanja.

Tidak ada lagi perang…. Tak ada lagi perang.”

Dari FARC, Yurluey belajar bertahan hidup di hutan dan belajar bertarung dengan senjata. Enam kali nyawanya hampir melayang dalam pertempuran melawan tentara pemerintah Kolombia. Beberapa waktu lalu, kakinya nyaris hilang terkena tembakan dan gendang telinga kanannya rusak. Tapi Yurluey tak pernah menyesali 20 tahun umurnya yang dia habiskan di hutan.

“Tahukah kamu rasanya 20 tahun hidup dalam peperangan?” dia bertanya. Yurluey tak butuh jawaban. Dia menjawab sendiri pertanyaannya. “Rasanya sangat berat.” Kadang berhari-hari dia hanya makan sekadar untuk menyambung nyawa. Tak jarang dia menyaksikan teman-temannya meregang nyawa dalam pertempuran. Bahkan dua adiknya, satu perempuan dan satu laki-laki, mati ditembak tentara pemerintah.

Presiden Kolombia Juan Manuel Santos bersama keluarganya setelah memberikan suara dalam referendum atas perjanjian perdamaian dengan FARC, 2 Oktober lalu.
Foto: Mario Tama/Getty Images

Bertahun-tahun hidup di hutan sebagai gerilyawan, dia kehilangan masa remaja, dan mungkin kehilangan kemampuan untuk hidup “normal”. Punya anak tak ada dalam pikirannya. “Aku tak membayangkan suatu saat nanti akan menjadi seorang ibu,” kata Yurluey.

Pada mulanya, FARC merupakan gerakan perlawanan petani yang diorganisasi oleh Partai Komunis Kolombia (PCC) untuk melawan represi pemerintah pada awal 1960-an. Kelompok gerilya ini makin besar, kian sulit dibasmi tentara Kolombia. Selama lebih dari setengah abad, FARC jadi duri di kursi setiap penguasa di Bogota.

Berulang kali jalan perdamaian dirintis, tapi senapan kembali menyalak dan permusuhan kembali berkobar. Selama itu pula ratusan ribu orang—harian El Tiempo menulis angka lebih presisi, 267.162 orang—jadi korban dari kedua belah pihak, termasuk rakyat sipil. Baik tangan gerilyawan FARC maupun tentara pemerintah sama-sama bergelimang darah.

Romo Alberto Franco, pemimpin Komisi Keadilan dan Perdamaian Antar-Gereja, sampai tak banyak berharap lagi akan datang damai di Kolombia. “Bagi kami, akhir dari perang ini bukanlah perdamaian,” kata Romo Alberto, kepada Guardian, beberapa bulan lalu.

Gerilyawan FARC bersiap menyambut perdamaian di El Diamante, Kolombia, bulan lalu.
Foto: Mario Tama/Getty Images

Walaupun mungkin suatu kali nanti para komandan FARC bersedia meletakkan senjata dan berdamai dengan pemerintah Kolombia, menurut Romo Alberto, masih banyak isu ketidakadilan di negeri itu yang belum tuntas. Ada jutaan hektare lahan yang dirampas dari para petani pemilik tanah sejak 1960-an. Walaupun lelah menunggu, bukan berarti rakyat Kolombia tak menginginkan perdamaian. “Rakyat Kolombia sudah lelah dengan semua kekerasan, semua pembunuhan,” kata Romo Alberto.

Sejak beberapa bulan lalu, pemerintah Kolombia di bawah Presiden Juan Manuel Santos kembali merintis pembicaraan perdamaian dengan FARC. Presiden Amerika Serikat Barack Obama dan pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus turut menyokong upaya perdamaian dengan FARC. Bahkan Presiden Obama mendesak Kongres Amerika meloloskan bantuan senilai US$ 450 juta atau sekitar Rp 6 triliun untuk rupa-rupa proyek setelah perjanjian damai diteken.

Dan akhirnya…. pada Senin petang, 26 September lalu, di kota tepi pantai Cartagena, disaksikan oleh Presiden Kuba Raul Castro dan Menteri Luar Negeri Amerika John Kerry, Presiden Juan Manuel Santos dan pemimpin FARC, Rodrigo Londono Echeverri alias Timochenko, bersalaman setelah meneken kesepakatan perdamaian.




Anggota FARC di belantara Kolombia
Foto: Mario Tama/Getty Images

“Tidak ada lagi perang…. Tak ada lagi perang,” Presiden Santos berteriak di depan lebih dari 2.000 orang yang menyaksikan kesepakatan bersejarah itu. Rodrigo Londono meminta maaf kepada semua korban FARC. “Atas nama FARC, kami meminta maaf.”

“Ini seperti menunggu kelahiran bayi yang sekian lama dinanti,” Leon Valencia, veteran FARC, mengibaratkan peristiwa hari itu. Semua orang bersukacita, hingga beberapa hari kemudian….

* * *

Belasan tahun menemaninya hidup di hutan, Daniela merasa berat melepas senapan AK-47 yang selalu dia sandang ke mana pun. Sejak umur 15 tahun, gadis itu masuk hutan dan bergabung dengan kelompok gerilyawan kiri Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia alias FARC.

Tapi pemimpin besar FARC, Rodrigo Londono alias Timochenko, sudah meneken perjanjian perdamaian dengan pemerintah Kolombia. Salah satu syarat dalam kesepakatan itu, semua anggota FARC harus keluar dari hutan dan menyerahkan senjatanya. “Hari pertama akan sangat sulit bagi kami,” kata Daniela kepada Guardian. “Kami merasa rentan…. Tanpa senjata, kami bukan apa-apa.”

Sekian tahun hidup di hutan sebagai gerilyawan, Daniela dan teman-temannya masih gamang untuk keluar dari hutan dan hidup “normal” di kampung atau di kota. Pedro Aldana, 25 tahun, salah satu komandan FARC, mengatakan mereka siap bersalin peran dari gerilyawan menjadi politikus.

Warga Kolombia yang menolak perjanjian damai pemerintah dengan gerilyawan FARC merayakan kemenangan dalam referendum, pada 2 Oktober lalu.
Foto: Mario Tama/Getty Images

“Anak-anak muda mungkin terjun dalam perang lantaran tertarik pada senjata… tapi kami semua juga seorang komunis, jadi tak ada persoalan berganti peran dari gerilyawan bersenjata menjadi politikus,” kata Aldana. Tapi Franklin, salah seorang prajurit Aldana, sama sekali tak tertarik “berperang’ di medan politik setelah menggantungkan senapannya. “Aku akan menanam pisang dan tebu,” kata Franklin.

Sesuai kesepakatan FARC dengan pemerintah Kolombia, Pedro Aldana, Daniela, dan teman-temannya tak akan dihukum atas semua tindakan mereka di masa lalu. Setelah mengakui semua kesalahan di depan Komisi Kebenaran, semua dosa mereka akan diampuni. Tak ada penjara bagi mereka. Pengampunan inilah yang belakangan jadi sumber ganjalan.

Sesuai dengan keinginan Presiden Santos, pemerintah Kolombia menggelar referendum untuk minta “restu” rakyat atas kesepakatan damai dengan FARC. Padahal sejumlah pembantunya tak sepakat dengan proposal referendum. Presiden Santos barangkali berpegang pada angka hasil jajak pendapat Datexco pada awal September lalu. Menurut Datexco, 59 persen rakyat Kolombia akan menyokong perjanjian damai dengan FARC.

Humberto de la Calle, ketua tim negosiasi pemerintah Kolombia, khawatir referendum bakal jadi blunder besar. “Jika rakyat memilih ‘tidak’ terhadap perjanjian perdamaian dengan FARC, seluruh proses perdamaian akan berhenti,” Humberto, lewat BBC, menyampaikan peringatan. Rakyat Kolombia, menurut Humberto, barangkali bakal mengira jika mereka mencoblos “tidak” dalam referendum, pembicaraan dengan FARC bisa dengan gampang diulang.

Pendukung dan mereka yang menolak perjanjian damai gerilyawan FARC dengan pemerintah Kolombia di Bogota, pekan lalu.
Foto: Mario Tama/Getty Images

Mantan Presiden Kolombia, Alvaro Uribe, adalah salah satu corong paling kencang yang terus menyuarakan penolakan atas amnesti terhadap prajurit-prajurit FARC. Mereka, kata Alvaro, tak semestinya memberikan pengampunan atas semua pembunuhan dan perdagangan narkotik yang dilakukan prajurit-prajurit FARC.

Tapi tanpa amnesti, menurut Ivan Marquez, perwakilan FARC di meja perundingan, nyaris mustahil berujung pada perdamaian. “Tanpa pengampunan, well, bakal sangat sulit bagi kami untuk beralih ke zona perdamaian,” kata Ivan kepada CNN.

Hasil referendum pada 2 Oktober lalu sungguh tak disangka. Lebih dari 50,2 persen warga Kolombia menolak perjanjian perdamaian dengan FARC, lawan 49,7 persen yang menyokong. Kendati “kalah” dalam referendum, Presiden Santos menolak mengibarkan bendera putih.

“Aku tak menyerah. Aku akan terus memperjuangkan perdamaian sampai akhir mandatku sebagai presiden,” kata Juan Manuel Santos kemarin. Lewat Twitter, Rodrigo Londono alias Timochenko juga berjanji akan terus berjuang demi perdamaian. “Cinta dalam hati kami sangat besar…. Dengan kata-kata dan tindakan, kami akan bisa mencapai perdamaian,” dia menulis, dikutip Guardian.

Entah apakah kata-kata itu bisa menenangkan rakyat Kolombia yang ingin menutup lembaran sejarah berdarah di negeri itu. “Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi besok,” kata wartawan Kolombia, Simone Bruno.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE