INTERMESO

Yang Diculik
Setelah Disandera

Seorang penumpang Garuda yang dibajak mengalami teror lanjutan setelah tiba di Jakarta. Pelakunya bukan pembajak, melainkan....

Ilustrasi: Fuad Hasim

Selasa, 4 Oktober 2016

Seminggu setelah dikarantina di Hotel Garden, Jakarta, Musril Hanafiah, salah satu penumpang pesawat Garuda Indonesia Woyla yang dibajak di Bangkok pada 28-31 Maret 1981, bersantai di rumah kontrakannya. Situasi kompleks perumahan sedang ramai karena ada tetangganya yang menggelar hajatan. Dengan cuma mengenakan celana pendek tanpa baju, dia tidur-tiduran sambil berbincang dengan adik sepupunya yang baru datang. "Rencananya agak sore saya ke hajatan di sebelah," ujar Musril kepada detikX, Jumat, 30 September 2016, di kediamannya di kawasan Cipinang Muara, Jakarta Timur.

Tiba-tiba dua mobil jenis Toyota Hardtop membelah keramaian kompleks tersebut dengan kecepatan tinggi. Dari mobil, bergegas turun 10 pria tegap berambut gondrong. Tanpa permisi, lima di antaranya langsung masuk rumah. Sisanya berjaga-jaga di dekat mobil. Mereka bersenjata lengkap laras panjang. Salah seorang berteriak mencari Musril. Musril, yang baru saja lepas dari peristiwa pembajakan, pun ketakutan dibuatnya. "Saya sudah pikir akan mati karena ini teman-teman pembajak," kata Musril.

Orang-orang bersenjata itu lantas mengikat kedua lengan Musril dari belakang menggunakan baju kaus. Ia digelandang ke mobil dengan cepat. Sejumlah tetangganya yang berusaha mencari tahu mendapat hardikan. "Jangan ikut campur," kata bekas pegawai Pertamina itu menirukan orang-orang yang menjemput paksa tersebut. Kakinya juga diikat setelah berada dalam mobil. Matanya pun ditutup dengan kain. Mobil dikendarai dengan cepat. "Sepertinya diputar-putar dulu beberapa lama, lalu sampai ke sebuah bangunan."

Pria berdarah Aceh itu lantas dibawa dan didiamkan di sebuah ruangan. Tengah malam ia dibangunkan. Lampu sorot ditembakkan persis ke wajahnya. Sejumlah pertanyaan dilontarkan, mulai identitas sampai alasan Musril naik pesawat tujuan Jakarta-Medan itu. "Saya jawab sesuai yang saya alami," ujar Musril. Malam itu pemeriksaan tak hanya sekali. Dini hari pun ia kembali dibangunkan dan dicecar dengan pertanyaan yang sama dengan urutan di balik. "Baru saya sadar ini sebuah interogasi. Tapi pelakunya siapa?"

Musril Hanafiah, salah satu penumpang pesawat Garuda Indonesia Woyla yang dibajak di Bangkok
Foto: Pasti Liberti Mapappa/detikX

Penumpang Garuda Woyla (42 orang) tiba kembali di Jakarta setelah pesawat mereka dibajak selama empat hari di Bangkok Thailand.
Foto: repro buku Operasi Woyla/Kartono Riyadi (Kompas)

Setelah disandera di dalam pesawat, para penumpang menerima kembali barang-barang mereka di Garden Hotel.
Foto: repro buku Operasi Woyla/Dudi Sudibyo (Kompas)

Pembajak menyuruh para sandera bergantian membersihkan toilet yang sudah penuh dengan menggunakan tangan. Saya bersihkan pakai koran dengan kaki, tapi mereka marah.”

Musril Hanafiah, salah satu penumpang pesawat Garuda Indonesia Woyla yang dibajak di Bangkok

Saat mendapat izin buang air, Musril mencoba menurunkan penutup matanya. Rupanya ia melihat seorang penjaga dengan baju militer sedang berdiri di sebuah ruangan. "Baru saya sedikit lega, karena saya diambil alat negara," katanya. Lima hari dia diinterogasi di gedung tersebut tanpa mengetahui alasannya. Saat akan dibebaskan, ia dihadapkan kepada pimpinan institusi tersebut. "Namanya saya lupa, tapi pangkatnya bintang satu," kata Musril.

Perwira tinggi itu meminta maaf sembari memeluknya. Menurut Musril, dia dicurigai sebagai salah seorang anggota kelompok pembajak yang menyamar. "Kecurigaan mengarah ke saya karena dinilai terlampau berani," ujarnya.

Untung, saat ditangkap, Musril tidak melawan. Sebab, menurut perwira tersebut, jika dia sampai berani melawan, sudah pasti akan ditembak mati. "Aduh… saya lebih trauma dengan peristiwa ini daripada di pesawat karena saya tidak tahu siapa mereka."

Pada 28 Maret 1981, Musril naik pesawat Garuda yang nahas itu dari Jakarta. Tujuannya Sibolga, Sumatera Utara, bersama seorang kawannya, Roy Sekewael. Mereka akan mengerjakan sebuah proyek Pertamina di Sibolga. Saat di bandara, Musril juga bertemu dengan kawan lamanya, Irwan Iriawan, karyawan PT Arun yang baru kembali dari Amerika Serikat. "Irwan yang akan kembali ke posnya di Sumatera juga naik pesawat itu," katanya.

Hendra, putra Abidin Usman, satu-satunya sandera anak-anak di pesawat DC-9 Garuda Woyla
Foto: repro buku Operasi Woyla/Kartono Riyadi (Kompas)

Setelah pesawat transit di Palembang, tak begitu lama setelah lepas landas, sejumlah lelaki berdiri dan maju ke depan. Pemimpinnya lantas mengeluarkan pistol dan berteriak bahwa pesawat dibajak. Penumpang pun diminta angkat tangan. "Saya pikir bercanda. Begitu juga penumpang lain, tak ada yang angkat tangan," ujar Musril. Pembajak lantas meminta semua dompet, jam tangan, dan benda berharga lainnya dikumpulkan.

Apesnya, Musril masih menyimpan kartu anggota Resimen Mahasiswa (Menwa) di dompet. Ia pernah menjadi komandan batalion Menwa saat kuliah di Akademi Teknologi Nasional di Bandung. Lambang Komando Daerah Militer II Siliwangi ada di kartu itu. "Di kartunya ada lambang Maung Siliwangi lengkap dengan jabatan dan-yon," katanya. Para pembajak yang membongkar semua dompet terkejut. Mereka mengira Musril seorang tentara. Musril pun dipanggil dan akhirnya diikat di bangku barisan belakang.

Meski begitu, pria kelahiran September 1943 itu mengaku tak pernah mendapat kekerasan fisik. Dia hanya diminta membersihkan toilet yang sudah penuh dengan menggunakan tangan. "Saya bersihkan pakai koran dengan kaki, tapi mereka marah."

Pembajak ada yang menggoda pramugari dan melecehkan penumpang perempuan.”

Lain lagi dengan sandera Budianto Salim. Karena kelelahan setelah membersihkan toilet, ia tak mendengar ketika salah seorang pembajak, Abu Sofyan, berteriak-teriak menanyakan siapa yang memiliki sepatu yang tercecer di gang pesawat. Ketika Budianto terbangun dan mencari sepatu tadi, sebuah tamparan langsung mendarat di pipinya. “Tadi saya bilang siapa yang punya, tidak nyahut. Sekarang baru cari,” Sofyan menghardik, seperti ditulis Bambang Wiwoho dalam buku Operasi Woyla.

Dalam buku itu juga sepintas diungkapkan betapa begajulannya sikap dan perilaku para pembajak. Meski mengklaim tengah memperjuangkan Islam, mereka jauh dari nilai-nilai Islam. Tak cuma melarang para sandera menunaikan salat, mereka melakukan pelecehan terhadap pramugari dan beberapa penumpang perempuan. Sungguh biadab!


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE