INTERMESO

“Masih Merinding Dengar Pistol Dikokang”

Beberapa kali diizinkan oleh pembajak keluar dari pesawat tak membuat Hedhy Juwantoro melarikan diri.

Hedhy Juwantoro,  kopilot pesawat Garuda Waoyla yang dibajak pada 1981

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Senin, 3 Oktober 2016

Setelah menilik buku menu yang disodorkan pramusaji di sebuah kedai di Mal Pejaten Village, Jakarta Selatan, Rabu, 28 September 2016, Hedhy Juwantoro, 63 tahun, akhirnya memilih tom yam kung. Tak sampai 10 menit, menu khas Thailand dengan cita rasa asam-pedas itu terhidang di meja. Menu serupa pernah dinikmatinya di dalam pesawat Garuda Woyla yang dibajak di Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand, pada akhir Maret 1981.

“Pada malam terakhir menjelang operasi pembebasan sandera oleh Kopassus, kami mendapatkan hidangan mewah, menu first class. Salah satunya adalah tom yam dan buah-buahan yang melimpah,” kata Hedhy mengenang. Pada saat pembajakan terjadi, ia sebagai kopilot, mendampingi Kapten Herman Rante. Hedhy tak langsung menyantap menu nostalgia yang dipesannya itu. Beberapa saat ia sengaja membiarkan uap panas mengepul, menebar aroma mengundang selera. “Sewaktu di pesawat sih tak sebanyak ini, cuma semangkuk kecil,” ujarnya.

Pemberian menu mewah kepada para kru, sandera, dan pembajak merupakan bagian dari strategi Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara Jenderal Yoga Soegama. Dengan menyantap menu terbaik, diharapkan semua orang yang kelelahan dalam pesawat akan makan dengan lahap, lalu tertidur lelap. Jika semua tertidur, upaya pembebasan oleh pasukan khusus antiteror akan relatif lebih mudah dan meminimalkan jumlah korban. “Dua hari terakhir dalam penyanderaan itu, saya dan Pak Herman boleh dibilang tak tidur sama sekali. Jadi, begitu perut kenyang, ya otomatis langsung pulas.”

* * *

Kalau saya sampai mati di tangan pembajak, artinya anak saya akan terlahir sebagai yatim dan istri menjadi janda. Betul-betul membuat saya stres.”

Hedhy Juwantoro, kopilot pesawat Garuda Woyla

Hedhy dan tiga pramugari bersama pasukan yang membebaskan mereka dari para penyandera siap kembali ke Jakarta.
Foto: koleksi Sersan Satu Hidayat

Selepas SMA pada 1973, Hedhy mengikuti tes di Sandy Negara, yang berkantor di Jalan Latuharhary (kini menjadi kantor Komnas HAM), dan di Garuda. Hasilnya, di kedua lembaga itu, ia dinyatakan lulus. Tapi, melihat seorang tetangganya yang bekerja di Sandy Negara jarang pulang dan orang tuanya tak bisa berkomunikasi secara normal dengannya, putra Suwartini dan Kolonel E. Juwono itu akhirnya memutuskan memilih Garuda. Selain lebih bergengsi, di Garuda gajinya tergolong lebih baik.

Tiga tahun berselang, lelaki kelahiran Jakarta, 23 Maret 1953, itu mendapat wing penerbang sebagai kopilot untuk pesawat Fokker-28. Dari situ Hedhy kemudian dipercaya menjadi kopilot untuk DC-9. Saat pembajakan terjadi, ia baru dua kali terbang bersama Kapten Herman Rante. Sebelum terbang, Rita Yogarini, istrinya, baru mengabarkan bahwa dirinya positif mengandung anak pertama. Sebagai wujud syukur sekaligus merayakan ulang tahun ke-28, ia berjanji kepada Rita akan mentraktirnya makan di restoran sepulang dari Medan.

“Eh, enggak tahunya pesawat saya dibajak. Batin saya berkecamuk, galau. Kalau saya sampai mati di tangan pembajak, artinya anak saya akan terlahir sebagai yatim dan istri menjadi janda. Betul-betul membuat saya stres,” tutur Hedhy.

Di kemudian hari, ia menamai anak pertamanya itu Dony Muandito. Nama itu terinspirasi dari nama Bandara Don Mueang. Sedangkan anak kedua, yang lahir pada Agustus 1995, dinamai Jordanianto Yuwanputra. 

* * *

Hedhy Juwantoro menandatangani sampul buku Operasi Woyla disaksikan penulisnya, Bambang Wiwoho.
Foto: Sudrajat/detikX

Selama empat hari dalam situasi pembajakan, Hedhy sebetulnya beberapa kali punya kesempatan untuk melarikan diri. Tapi rasa setia kawan terhadap Herman Rante dan tiga pramugari (Deliyanti, Retna Wiyana Barnas, dan Lidya) serta para sandera di dalam pesawat mengubur dalam-dalam godaan untuk kabur, yang sempat melintas.

Saat pertama kali mendarat di Penang, Malaysia, misalnya, dialah yang dipercaya oleh para pembajak untuk mengawasi proses pengisian bahan bakar. Kesempatan berikutnya ketika ia diminta menutup pintu darurat yang dibuka sandera Robert Wainwright untuk melarikan diri. Hedhy sempat keluar dari pesawat melalui pintu tersebut. Begitupun ketika harus menolong Carl S. Schneider, yang tergeletak akibat luka tembak setelah mencoba kabur, Hedhy kembali dipercaya untuk menolongnya bersama dua petugas Palang Merah.

“Schneider tinggi-gede, enggak kuat kami bertiga membopongnya. Jadi dia kami gulingkan saja ke tandu. Posisinya tengkurap sambil merintih kesakitan,” ujar Hedhy.

Beberapa pekan setelah pembajakan, untuk memulihkan trauma, ia dan ketiga pramugari mendapat hadiah berlibur ke Amerika Serikat selama sepekan. Bahkan Hedhy kemudian diminta mengikuti pendidikan kopilot untuk Boeing 747 di Seattle. “Total saya di Amerika jadi tiga minggu.”

Video : Ichsan Luthfi

Pembajak yang kemudian diketahui bernama Abu Sofyan menembak Kapten Herman Rante yang duduk di kursi sebelah kiri dengan pistol Colt 38.”

Sintong Panjaitan, komandan pasukan yang membebaskan sandera di pesawat Garuda Waoyla

Kariernya sebagai pilot mencapai puncak sebagai kapten Boeing 747-200. Sejumlah negara Eropa pernah dijelajahinya bersama Boeing, termasuk beberapa kali menerbangkan rombongan jemaah haji ke Arab Saudi. Di sela-sela penerbangan itu, ada kalanya pesawat singgah di Don Mueang. Hedhy memanfaatkannya untuk bernostalgia. Pada 1995, ia memutuskan berhenti menerbangkan Boeing karena alasan kesehatan. Selanjutnya Hedhy lebih banyak bertugas di darat hingga 2008, dalam usia 55 tahun.

Setelah 35 tahun berlalu, aksi para pembajak Woyla tak sepenuhnya sirna dari jiwa dan pikiran Hedhy Juwantoro. Sesekali perasaan sedih masih menyelinap, terutama bila mengenang koleganya, Herman Rante. Sang kapten terkena peluru di bagian pelipis kanan tembus ke bagian belakang kanan bawah dekat telinga. Kenyataan itulah yang terkadang membuat bulu romanya berdiri, merinding. “Pokoknya, kalau mendengar suara pistol dikokang, bulu kuduk saya berdiri.”

Sintong Panjaitan, yang memimpin operasi pembebasan sandera, menepis analisis yang menyatakan seolah Herman tertembak oleh peluru pasukan komando. Ia yakin gugurnya Kapten Herman akibat tembakan salah seorang pembajak, bukan akibat friendly fire. “Pembajak yang kemudian diketahui bernama Abu Sofyan menembak Kapten Herman Rante yang sedang duduk di kursi sebelah kiri dengan pistol Colt 38,” tulis Sintong dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE