INTERMESO

 Dobrak, Tembak,
Granat Tak Meledak

Kecuali menerima anugerah Bintang Sakti dari Presiden Soeharto, penghargaan dan hadiah dari pihak lain untuk Kopassus ditolak. “Mereka bukan tentara bayaran.”

Karno Oyo (kiri) dan D. Hidayat, dua dari puluhan prajurit yang ikut membebaskan pembajakan Garuda Woyla, di pintu darurat bagian ekor pesawat DC-9 di Museum Transportasi TMII, Jakarta, Sabtu 1 Oktober 2016  

Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Senin, 3 Oktober 2016

Sekitar pukul 02.13, bersamaan dengan lepas landasnya sebuah pesawat milik maskapai penerbangan Irak, beberapa mobil Volkswagen Combi bergerak mendekati pesawat Garuda Woyla yang diparkir di ujung landasan, sekitar 2,5 kilometer dari terminal utama Bandara Don Mueang, Bangkok, Thailand. Sekian ratus meter dari pesawat, pasukan yang dipimpin Letnan Kolonel Sintong Panjaitan diturunkan. Beberapa menit kemudian, pasukan yang berisi tak lebih dari 50 orang itu bergerak menuju badan pesawat. Mereka berjalan dua-dua dalam iringan dua baris. Mengenakan seragam loreng dan berbaret, pasukan merapat ke pesawat dalam tiga gelombang.

Gelombang pertama, yang dipimpin Calon Perwira Ahmad Kirang, berhenti di belakang pesawat. Letnan Dua Rusman A.T. dengan anggota tim Sersan Dua (Serda) Dayat Hidayat, Serda Karno Oyo, Serda Yeyet Rukiyat, Serda Atim, Sersan Satu (Setu) Suwarno, dan Sersan Mayor Dul Atip mendekati sayap sebelah kiri. Sedangkan Kapten Untung Suroso, yang salah satu anggota timnya Sertu M. Teguh, menuju pintu bagian depan. Sebagian dari mereka dilengkapi senjata terbaru Submachine Gun Maschinenpistole (MP) 5 buatan Heckler & Koch, Jerman.

Kalau (granat) sampai meledak, orang-orang di sekitar bisa jadi korban. Bisa jadi perkedel saya.”

Sertu Karno Oyo, prajurit Kopassus yang ikut membebaskan sandera di pesawat Woyla

Tangga segitiga kemudian disandarkan di pintu depan kiri. Hidayat dan Karno bersama Yeyet dan Suwarno naik ke sayap menggunakan tumpuan bahu rekannya yang lain. Mereka mengendap mendekati dua pintu darurat di atas sayap. "Kami merayap naik dengan senjata MP5 tetap di tangan, semua dalam hitungan detik," kata Hidayat kepada detikX di anjungan Museum Transportasi Taman Mini Indonesia Indah, Sabtu, 1 Oktober.

Suara auxiliary power unit atau pembangkit listrik tambahan untuk menggerakkan mesin pendingin pesawat membantu menyamarkan gerakan mereka. Setelah semua tim siap di posisi masing-masing, Sintong, yang berada di bawah pesawat, memberi instruksi serbu tepat pukul 02.45. Hidayat dan Karno Oyo sebagai penyergap menekan salah satu tombol di pintu darurat dan mendorongnya ke dalam secara bersamaan. Begitu juga dengan Teguh di pintu depan.

Mereka dengan lantang meneriakkan "komando!" yang disusul seruan Hidayat, "Penumpang tiarap... di sini pasukan komando!" Seorang pembajak yang berjaga di dekat pintu darurat tak sempat bereaksi, dan segera ditembak Hidayat.

H. Dayat Hidayat (kanan) saat menerima medali Bintang Sakti  dan kenaikan pangkat istimewa dari sersan dua menjadi sersan satu di kantor Departemen Pertahanan dan Keamanan, Jakarta, April 1981.
Foto: koleksi Dayat Hidayat

Sebelum penyerbuan, Sintong memang memberi arahan agar mereka menembak sasaran yang tidak merunduk dan anggota badannya berada di atas kursi penumpang. Dari tengah, Hidayat bergerak ke belakang dengan pelindung Suwarno, sementara Karno ke depan bersama Yeyet. Di tengah situasi ricuh, salah seorang pembajak, Zulfikar, sempat melemparkan granat. Granat mengenai punggung salah seorang anggota tim dan jatuh ke bawah bangku yang diduduki sandera Wawan Iriawan.

Karno, yang berada di dekat jatuhnya granat, dengan sigap memungut, mendekap, dan memberikannya kepada anggota tim yang berjaga di sayap. Ia sempat menduga granat tersebut dalam kondisi galak dan akan meledak. “Kalau (granat) sampai meledak, orang-orang di sekitar bisa jadi korban. Bisa jadi perkedel saya,” ujar Karno kepada detikX, Sabtu, 1 Oktober, mengenang.

Dari pintu belakang pesawat, rupanya pergerakan Ahmad Kirang diikuti Pembantu Letnan Dua Pontas Lumban Tobing, yang sedikit lebih cepat dari tim sayap, membangunkan Mahrizal. Dia spontan menembakkan pistol dan mengenai perut bagian bawah Ahmad Kirang yang tak terlindung rompi. Peluru juga mengenai bagian dada Pontas, tapi tak tembus karena terhalang rompi.

Jenazah Letnan Satu Anumerta Ahmad Kirang menuju TMP Kalibata, 2 April 1981.
Foto: repro buku Operasi Woyla/Kartono Riyadi (Kompas)

Letnan Satu Anumerta Ahmad Kirang
Foto: repro buku Operasi Woyla/Kartono Riyadi (Kompas)

Ahmad Kirang terjatuh, sementara Pontas membalas tembakan yang menewaskan Mahrizal. Kirang akhirnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit di Bangkok.

“Pak Ahmad Kirang sempat menukar rompi antipeluru dengan yang lebih pendek karena merasa tidak nyaman. Ya, barangkali memang sudah menjadi takdirnya seperti itu,” ujar Karno.

Zulfikar, yang gagal meledakkan granat, mencoba kabur lewat pintu darurat mengikuti beberapa penumpang. Namun, begitu melompat ke landasan, identitasnya diketahui tim pelapis dan langsung disambut dengan tembakan. Abu Sofyan, yang mencoba menyamar sebagai penumpang, pun bisa diterjang peluru pasukan penyerbu berkat kode yang diberikan penumpang yang mengenalinya sebagai pembajak.

Pak Ahmad Kirang sempat menukar rompi antipeluru dengan yang lebih pendek karena merasa tidak nyaman. Ya, barangkali memang sudah menjadi takdirnya seperti itu.”

Sertu Karno Oyo

Video : Ichsan Luthfi

Adapun Abdullah Mulyono, yang mencoba lari, menabrak tim penyergap. Dia kemudian dilemparkan keluar lewat pintu depan yang sudah terbuka. Pasukan komando yang berjaga di bawah menyambutnya dengan tembakan.

Total, operasi untuk menyelamatkan sandera dan melumpuhkan para pembajak itu hanya menyita waktu sekitar 3 menit. Kelima pembajak akhirnya tewas. Kapten Pilot Herman Rante dan Calon Perwira Ahmad Kirang mengembuskan napas terakhir setelah menjalani perawatan di rumah sakit di Bangkok. Atas prestasi itu, Sintong dan segenap anak buahnya mendapatkan kenaikan pangkat istimewa dan medali Bintang Sakti dari Presiden Soeharto.

Hidayat dan Karno naik pangkat dari sersan dua menjadi sersan satu. Keduanya pensiun dengan pangkat sersan mayor pada 1995 dan 1998. Sebelum pensiun, keduanya sempat beberapa kali menunaikan operasi di Timor Timur. “Saya juga sempat satu setengah tahun ditugaskan di KBRI Amsterdam, Belanda, sejak 1991,” ujar Karno.

Serma Hidayat, Kapten Pilot Hedhy Juwantoro, dan Serma Karno Oyo di depan pesawat DC-9 di Museum Transportasi TMII, Jakarta, Sabtu, 1 Oktober 2016.
Foto: Agung Pambudhy/detikcom

Sebetulnya, tim juga akan mendapat penghargaan dan hadiah dari manajemen Garuda. Tapi Komandan Kopassus kala itu, Brigadir Jenderal Yogie Suardi Memet, menolaknya. Dia menilai apa yang dilakukan para prajuritnya sudah menjadi kewajiban mereka terhadap negara, bukan untuk mencari hadiah. “Mereka bukan tentara bayaran,” ujar Yogi seperti dikenang oleh Hidayat dan Karno.


Reporter/Penulis: Pasti Liberti Mappapa
Editor: Sudrajat
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE