INTERMESO

Satu Kota
522 Pembunuhan

“Tak ada ibu yang ingin menguburkan anaknya…. Dan aku tak ingin menguburkan anak untuk kedua kalinya.”

Foto: ChicagoTribune

Jumat, 16 September 2016

Pekan lalu adalah hari-hari yang sungguh kelam bagi keluarga Pierre Curry. Anak tirinya, Nahmar “Nemo” Holmes, 23 tahun, sedang bersantai di depan rumahnya di Brainerd, Chicago, saat dua orang laki-laki menghampirinya pada Sabtu petang pekan lalu. Tak banyak cakap, salah satu laki-laki itu merogoh pistol dan memuntahkan pelurunya ke arah Nahmar.

Semua peluru itu bersarang di dada Nemo. Beberapa detik kemudian, saat Pierre dan ibu kandung Nemo keluar, tubuh pemuda itu bersandar di pagar. “Pierre, that’s my baby,” sang ibu meratap. Nyawa Nemo tak bisa diselamatkan lagi. Tapi bala bagi keluarga Pierre belum usai.

Pada Minggu malam, keluarga besar Nemo berkumpul di rumahnya untuk melepas kepergian pemuda itu. Di Jalan South Justine depan rumah, satu mobil van abu-abu melintas perlahan…. dan dor… dor… dor…. Suara tembakan bertubi-tubi dari arah mobil itu mengoyak kegelapan.

Tak pernah sepanjang hidupku di Chicago aku melihat begitu buruknya hubungan polisi dengan masyarakat seperti hari ini.”

Shantell “Keekee” Fleming, 18 tahun, yang tengah bercengkerama dengan para kerabatnya di luar rumah, kontan tumbang. Gadis itu datang ke rumah sepupunya, Nemo, bersama keluarganya. Mereka semua datang untuk menghibur keluarga Pierre. Tapi satu peluru yang ditembakkan dari mobil itu menembus kepalanya.

“Aku mendengar suara dor… dor… dor… dan segera berlari ke luar,” Pierre menuturkan kepada CBS. Begitu melihat pemandangan di depan pintu rumahnya, Pierre langsung lemas. Selain Keekee, ada dua orang lagi yang rebah terkena tembakan. Salah satunya anak Pierre. “Oh tidak… jangan lagi.” Keekee tewas seketika, sementara anak Pierre dan satu korban lagi masih terselamatkan. Dua nyawa dalam satu keluarga melayang hanya dalam waktu 28 jam.

Keluarga Nykea Aldridge, korban penembakan di Chicago, pada akhir Agustus lalu, berpelukan dan saling menguatkan.
Foto: Joshua Lott/Getty Images

Masa-masa jalan-jalan Kota Chicago dikuasai oleh Al Capone dan geng-geng kriminal lain sudah hampir lewat seabad silam. Pada masa itu, senapan begitu gampang menyalak. Hari ini, Chicago seperti kembali ke masa lalu. Dari Januari hingga awal September ini, sudah 522 orang mati dibunuh di Kota Chicago dan ada ribuan orang lainnya yang jadi korban penembakan.

Jumlah korban pembunuhan di Chicago sudah melampaui gabungan korban pembunuhan di Kota New York dan Los Angeles. Pada bulan Agustus saja, mengutip data yang dikumpulkan Chicago Tribune, 93 orang kehilangan nyawa jadi korban pembunuhan. Agustus lalu menjadi bulan paling berdarah untuk Chicago selama 20 tahun terakhir.

Peluru tak punya mata, tak pandang siapa korbannya. Tavon Tanner baru berumur 10 tahun. Pada malam itu, awal Agustus lalu, bocah itu sedang bermain di luar rumahnya di Jalan West Polk, Chicago, saat beberapa anggota geng mulai saling tembak. Melanie Washington, ibu Tavon, tak tahu dari mana arah tembakan itu. Dia hanya mendengar paling tidak lima kali letusan.

“Aku tak sadar ada Tavon di dekatku sampai dia roboh di depan pintu,” kata Melanie kepada ABC. Ada beberapa peluru menembus tubuh kecilnya. Satu peluru mengenai ginjalnya, satu peluru melukai saluran pencernaan, satu peluru bersarang di lehernya. Kondisi bocah itu masih kritis. Sang ibu sangat sedih, sekaligus murka. Anaknya hampir kehilangan nyawa. “Kalian menembak anakku tanpa alasan….. Aku dan anakku tak punya urusan apa pun dengan kalian.”

* * *

Polisi memeriksa barang bukti penembakan di Jalan Sangamon, Chicago, pada April 2016.
Foto: Joshua Lott/Getty Images

Sepuluh tahun lalu, Pam Bosley memakamkan anaknya yang baru berumur 18 tahun. Putranya tewas ditembak di Kota Chicago. Kini dia hanya hidup berdua dengan putranya, kini juga 18 tahun. Anak Pam satu-satunya tersebut kuliah di Universitas Southern Illinois di Kota Saint Louis.

Pada awal September ini, sang anak memberi kabar hendak pulang ke Chicago. Menyimak kabar demi kabar soal korban-korban pembunuhan di kotanya, Pam sangat khawatir dengan nasib putranya itu. “Tak ada ibu yang ingin menguburkan anaknya…. Dan aku tak ingin menguburkan anak untuk kedua kalinya,” kata Pam kepada CBS. Walaupun sangat cemas, dia mengizinkan anaknya pulang, tapi dengan rupa-rupa syarat. Ke mana pun pergi, Pam akan mengantarkan putranya. “Aku juga tak mengizinkan dia nongkrong di teras rumah.”


Warga Kota Chicago memprotes tingginya angka pembunuhan di kota itu pada akhir Agustus lalu.
Foto: Joshua Lott/Getty Images

Dalam beberapa tahun terakhir, angka korban pembunuhan melonjak tinggi. Menurut Shari Runner, Presiden Liga Perkotaan Chicago, ada sejumlah faktor yang jalin-menjalin menjadi rantai kekerasan bersenjata di kota itu. Sebagian besar kekerasan bersenjata terjadi di permukiman miskin dengan angka pengangguran relatif tinggi.

“Kondisi perekonomian berisiko tinggi ini bertemu dengan pasokan senjata ilegal dari luar Chicago dan narkotik,” kata Shari. Sejak beberapa tahun lalu, Chicago sudah menerapkan kontrol ketat kepemilikan senjata api. Tapi, di beberapa kota di luar Chicago, senjata api masih gampang diperoleh. 

Situasi makin pelik dengan buruknya hubungan antara kepolisian dan warga, terutama dengan komunitas keturunan Afrika. Data menunjukkan, sebagian besar korban pembunuhan merupakan keturunan Afrika, disusul keturunan Hispanik.

“Aku juga frustrasi. Warga Chicago juga mestinya frustrasi,” kata Eddie Johnson, Kepala Kepolisian Chicago, kepada Washington Post. Dia mengeluhkan begitu gampangnya senjata ilegal diperoleh di kota itu. Eddie, yang tumbuh besar di Chicago, juga berkeluh kesah soal para saksi mata yang enggan bekerja sama dengan kepolisian. Walhasil, banyak pelaku penembakan yang melenggang keluar dari kantor polisi dan kembali berulah di jalan. “Tak pernah sepanjang hidupku di Chicago aku melihat begitu buruknya hubungan polisi dengan masyarakat seperti hari ini.”

Topi tergeletak di samping noda darah dari korban penembakan di Jalan Rockwell, Kota Chicago, pada akhir Agustus 2016.
Foto: Joshua Lott/Getty Images

Silang pendapat soal cara memutus rantai kekerasan di Chicago masih panjang. Calon Presiden Amerika dari Partai Republik, Donald Trump, mengklaim punya cara ampuh untuk memupus lingkaran kekerasan itu dalam waktu cepat. Tak terang benar bagaimana caranya. “Jika Anda punya peluru ajaib untuk menghentikan semua kekerasan ini, bukan hanya di Chicago, tapi juga di seluruh Amerika, tolong kasih tahu kami,” Eddie Johnson menanggapi klaim Donald Trump.

Pastor Ira Acree yakin, satu-satunya cara menghentikan kekerasan di Chicago adalah membuka lapangan pekerjaan. “Jika kalian ingin memupus epidemi kekerasan ini, jalan satu-satunya adalah pekerjaan,” kata Pastor Ira, dikutip CNN.


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Intermeso mengupas sosok atau peristiwa bersejarah yang terkait dengan kekinian.

SHARE