Crimestory

Tragedi Kematian Sang Maestro

Basuki Abdullah dikenal sebagai maestro lukis Indonesia. Banyak tokoh nasional dan dunia yang dilukisnya dengan indah. Tapi siapa sangka, hidupnya berakhir tragis di tangan seorang garong.

Ilustrator: Edi Wahyono/detikcom

Jumat, 27 September 2024

Seorang pemuda, kira-kira berusia 20 tahun, turun dari mobil omprengan di Jalan Fatmawati menuju Jalan Keuangan Raya, Cilandak, Jakarta Selatan, pada Kamis, 4 November 1993, malam. Kakinya melangkah menuju kompleks perumahan Departemen Keuangan. Tujuannya mendatangi rumah besar berlantai dua nomor 19.

Begitu sampai, kepala pemuda itu menoleh ke kanan dan kiri untuk melihat situasi di perumahan itu. Merasa aman dan sepi, pemuda itu melompat pagar di rumah sebelahnya. Lantas dia berjalan mengendap-endap menyusuri tembok samping hingga tembus ke kolam renang di belakang rumah bernomor 19 itu.

Dia turun menuju pojokan kolam renang yang gelap dan bersembunyi. Matanya tetap mengamati aktivitas penghuni di dalam rumah. Dia menyembunyikan bayangannya hingga malam berganti hari pada Jumat, 5 November 1993. Pukul 01.30 WIB, pemuda itu mulai bergerak ketika para penghuni di rumah tersebut sudah terlelap tidur.

Awalnya dia mendekati pojokan ruang cuci piring di belakang. Lalu matanya memindai lubang angin di antara ruang cuci piring di belakang menuju dapur. Karena baju dan celana terasa sempit di badannya, dia melepaskannya agar bisa masuk ke dalam lubang tersebut.

Basuki Abdullah saat melukis Soeharto pada 1970-an.
Foto: Repro Koleksi Museum Basoeki Abdullah

Susah payah pemuda yang ternyata berniat mencuri di rumah tersebut akhirnya bisa lolos dari lubang itu sampai ke ruang dapur. Dia kenakan lagi pakaiannya, lalu mencomot sebutir buah apel dan dimakannya, karena perutnya keroncongan. Lantas, dengan mudah, dia masuk ke ruang tengah karena pintu dapur ternyata tak dikunci.

Nataya meraung-raung melihat keadaan Basuki. Sang suami pun dipeluk dengan erat-erat. Namun, ketika tahu Basuki sudah tak bernapas, Nataya pingsan.”

Dengan berjinjit, pemuda itu berjalan menuju tangga ke lantai dua. Dia memeriksa keadaan ruang di lantai dua, termasuk memeriksa pintu keluar menuju teras di lantai dua. Dia membuka kuncinya, mungkin untuk jalur kabur bila ketahuan. Sejurus kemudian, pemuda itu turun ke lantai bawah.

Diambilnya sebuah pajangan pedang samurai, Walkman dan kamera tustel. Barang-barang itu dibawa ke lantai dua dan disimpan di dekat pintu teras. Lalu dia turun lagi hendak menuju lantai bawah. Begitu berada di ruang tengah, pemuda ini berjalan dengan cara merayap agar langkah kakinya tak terdengar.

Dia terus merayap menuju salah satu kamar di lantai bawah. Dibukanya pintu pelan-pelan, dia melihat seorang pria tua kira-kira berumur 70 tahun tengah tidur pulas di ranjangnya. Masih merangkak, pemuda itu masuk menuju lemari pakaian tak jauh di samping ranjang tersebut.

Dia membuka pintu lemari dengan hati-hati agar tak berisik. Dia pindai isi lemari dan digeledahnya. “Siapa kamu!? Siapa kamu?" Tiba-tiba terdengar suara yang mengejutkan garong muda itu. Suara tersebut ternyata dari pria tua yang terbangun dari tidurnya.

Ketika tangan pria tua itu hendak meraih kacamatanya di atas meja, karena penerangan sedikit remang-remang. Garong muda itu kabur, tapi niatnya terhambat pintu kamar yang terhalang pintu lemari yang masih terbuka. Terdengar lagi teriakan pria tua itu yang semakin membuatnya panik, “Maling... maling...!”

Tangan si garong secara spontan meraih senapan angin yang tergantung di dinding dekat pojokan kamar. Gagang atau popor senapan itu dihantamkan ke kepala pria tua itu hingga ambruk ke lantai. Pria tua itu berteriak sekali lagi, “Maling!” dengan suara tercekat.

Semakin panik, garong muda itu memukulkan gagang senapan angin sebanyak dua kali ke kepala pria tua itu. Saking kerasnya pukulan itu, gagang senapan patah menjadi dua. Darah mengucur dari kepala pria tua itu, yang mengenai baju dan celana si garong.

Setelah memastikan tubuh pria tua itu tak berkutik lagi, si garong melanjutkan aksinya. Dia mengacak-acak isi lemari pakaian. Dia menemukan uang Rp 200 ribu, 43 koleksi jam tangan, serta segepok mata uang asing. Setelah menjarah barang-barang tersebut, dia meraih pakaian piyama korban untuk menutupi bajunya yang kecipratan darah.

Barang-barang itu dimasukkan ke dalam satu tas. Garong kembali menuju lantai dua dan mengambil Walkman dan kamera. Setelah itu, dia kabur melalui teras lantai dua, menyusuri dinding di samping hingga meloncati pagar. Dia berjalan menuju Jalan Fatmawati yang sepi. Lalu dia kabur dengan menumpang mobil taksi, entah ke mana tujuannya.

Pagi harinya, warga di kompleks perumahan itu geger. Bahkan berita pencurian yang menyebabkan pria pemilik rumah itu tewas membuat khalayak Indonesia heboh. Pasalnya, pria korban pencurian dan pembunuhan tersebut bukanlah orang sembarangan.

Basuki Abdullah.
Foto: dok. Bernedetta

Korban adalah sang maestro lukis Indonesia, Raden Basuki Abdullah, 78 tahun. Dia adalah salah satu cucu tokoh pergerakan sekaligus pendiri organisasi Budi Utomo dan Pahlawan Nasional, Doktor Wahidin Sudirohusodo. Basuki, yang seangkatan dengan Affandi, dikenal sebagai pelukis beraliran realisme dan naturalis selama 1937-1993.

Pelukis kelahiran Sriwedari, Surakarta, Jawa Tengah, pada 27 Januari 1915 itu merupakan bagian dari pelukis beraliran Mooi Indie (Hindia Molek). Dia banyak melukis sejumlah tokoh nasional dan dunia. Pada 1960-an, selama beberapa tahun ia menjadi pelukis di Istana Thailand untuk Raja Bhumibol Adulyadej. Lalu sejak 1974, Basuki juga menjadi pelukis Istana Merdeka, Jakarta.

Kehebohan itu bermula ketika Lasmini, salah seorang pembantu almarhum, bangun dan menyiapkan segelas kopi buat Basuki Abdullah pada pukul 05.30 WIB. Dia selalu mengantarkan kopi ke kamar majikannya itu. Dia tak curiga melihat pintu kamar sudah terbuka dan melihat tubuh bosnya tergeletak di lantai.

Lasmini menganggap bosnya tengah bercanda, karena memang Basuki dikenal suka iseng dengan pura-pura mati. Namun, ketika lebih dekat ke tubuh bosnya, suara Lasmini tercekat di mulutnya. Dia terkejut melihat darah merembes dari kepala Basuki Abdullah, yang terluka cukup parah.

Lasmini tergopoh-gopoh memberi tahu rekan sesama asisten rumah tangga. Dia lantas lari mendatangi Yudi Priyono, seorang satpam yang pagi itu berjaga di pos tepat di depan rumahnya. Sementara itu, Jumiyati, pembantu lainnya, membangunkan istri Basuki Abdullah, Nataya Nareerat, yang tidur di kamar lain.

“Nataya meraung-raung melihat keadaan Basuki. Sang suami pun dipeluk dengan erat-erat. Namun, ketika tahu Basuki sudah tak bernapas, Nataya pingsan,” ungkap Agus Dermawan T, pelukis dan kurator lukisan, dalam tulisannya Basoeki Abdullah: Elegi 30 Tahun, yang dimuat di laman Borobudur Writers & Culture Festival (2023).

Berita tewasnya Basuki Abdullah terdengar ke telinga Presiden Soeharto setelah dikabari Kepala Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, yang kala itu dijabat oleh Mayor Jenderal Hindarto. Para tokoh di Indonesia berduka atas kematian pelukis legendaris tersebut. Polisi segera membentuk tim penyelidik untuk memburu garong kejam tersebut.

Dua hari kemudian, jasad Basuki dikuburkan di Desa Mlati, Yogyakarta, DIY, pada 7 November 1993. Pemakaman dihadiri Nataya Nareerat bersama anaknya Cicilia Sidhawati, Saraswati putri sulung Basuki dari pernikahan dengan istri keduanya (Josephine), dan Maya Michel Thacker (mantan istri pertama Basuki). Hadir pula Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), yang mewakili keluarga Presiden Soeharto, dan tokoh lainnya.

Dikutip dari Kompas edisi 11 November 1993, empat hari setelah pemakaman tersebut, pelaku garong ditangkap. Dia adalah Amirudin alias Nanda, 23 tahun, yang ditangkap di Cicurug, Sukabumi, Jawa Barat, pada 10 November 1993. Hindarto langsung melaporkan penangkapan garong itu kepada Presiden Soeharto dan Tien Soeharto.

Sementara itu, majalah Tempo edisi 20 November 1993 menyebutkan Amirudin dikenal sebagai residivis atau penjahat kambuhan atas berbagai kasus pencurian. Pria kelahiran Aceh Selatan dan jebolan kelas III SMP itu sering keluar masuk penjara. Pertama kali masuk bui karena tuduhan membunuh anak majikannya di Aceh pada 1990.

Rumah Basuki Abdullah yang kini menjadi museum.
Foto: dok. CNN Indonesia

Setelah bebas, Amirudin hijrah ke Jakarta. Setiba di Ibu Kota, dia menorehkan catatan kriminalnya dalam kasus pencurian. Dia pernah mendekam sekitar 8 bulan di Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cipinang, Jakarta Timur, karena terlibat penjarahan di Toko Pojok Busana di kawasan Aldiron, Blok M, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Dari catatan kepolisian, setidaknya ada enam kali kasus pencurian yang dilakukan Amirudin di Jakarta. Beberapa rumah pernah disatroni Amirudin, seperti di Jalan Barito, Jalan Radio Dalam, Jalan Benda, dan rumah warga negara Jepang di Bulungan. Sebelum melakukan aksi di rumah Basuki Abdullah, Amirudin ditangkap karena terlibat keributan di Jalan Brawijaya, Kebayoran Baru, pada Oktober 1993.

Sebelum Amirudin ditangkap, sebenarnya polisi lebih dahulu mencurigai Wahyudi, 37 tahun, tukang kebun di rumah Basuki Abdullah. Pasalnya, anjing pelacak yang dikerahkan polisi saat olah tempat kejadian perkara selalu bolak-balik mengarah ke kamar yang ditempati Wahyudi. Tukang kebun ini pun dibawa ke kantor polisi untuk dimintai keterangan.

Kepala Kepolisian Resor (Polres) Jakarta Selatan Letnan Kolonel Adang Rismanto saat itu mengatakan keterangan Wahyudi juga selalu berubah-ubah. Sekali waktu dia mengaku saat kejadian tengah tidur di rumahnya di Jalan Hijau Raya, Pondok Indah. Tapi, lain hari, Wahyudi mengaku tidur di rumahnya di Jalan Langsat 1 No 28, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan.

Keyakinan tim penyelidik pada Wahyudi lalu diperkuat laporan dari Polsek Tambora dan Polres Jakarta Barat. Laporan itu berupa adanya mantan preman di kawasan Kalijodo yang tengah mabuk meracau tentang siapa pelaku pencurian dan pembunuhan di rumah Basuki Abdullah. Tim lalu mengamankan mantan preman itu yang bernama Gunarso alias Si Jangkung.

Gunarso 'menyanyi' bahwa pencuri dan pembunuh Basuki adalah temannya yang tengah menganggur, yaitu Amirudin alias Nanda. Pencurian itu didalangi oleh Wahyudi. Barang curian, berupa jam tangan Basuki, di jual ke pedagang kaki lima atau loakan di Jatinegara, Jakarta Timur.

Benar saja ocehan si Jangkung tersebut. Sekretaris Basuki Abdullah, Wiewein Wardoyatmo, sangat mengenali jam-jam tangan koleksi yang disita polisi dari penjual barang loakan itu. Sebenarnya harga koleksi jam tangan Basuki murah, yaitu Rp 70 ribu per buahnya. Setelah itu, polisi memburu Amirudin mulai dari Ciputat, Bintaro, hingga akhirnya ditangkap di Cicurug, Sukabumi.

Selain menangkap Amirudin dan Wahyudi, polisi menangkap Abdul Mukti, 29 tahun, yang perannya sebagai penadah barang curian. Satu pelaku lagi, Andi Sembiring, jadi buron. Dalam kasus ini, Amirudin diganjar vonis hukuman 12 tahun penjara oleh Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Sedangkan Andi Sembiring, yang jadi buron selama 10 tahun, baru ditangkap pada 15 Maret 2003. Sebenarnya dia ditangkap atas kasus pembunuhan terhadap kakak kandungnya sendiri, Tetep Sembiring, pada 2001. Saat diinterogasi polisi, Andi mengaku bersama kakaknya terlibat kasus pencurian yang menyebabkan Basuki Abdullah tewas pada 1993 tersebut.

Amirudin alias Nanda mengakui ide pencurian datang dari Wahyudi. Temannya itu mendatanginya, curhat tengah terlilit masalah utang. Dia dituduh menghilangkan dokumen STNK mobil milik Basuki Abdullah. Adiknya yang menjadi sopir juga membutuhkan uang untuk membayar ganti rugi karena menabrak mobil orang lain.

Kamar tempat dibunuhnya pelukis Basuki Abdullah.
Foto: Wahyu/detikTravel

Saat itu Wahyudi mengutarakan berniat mencuri di rumah Basuki Abdullah, yang memiliki banyak koleksi jam tangan. Jam-jam tangan itu ditaksir memiliki harga senilai Rp 280 juta. Wahyudi dan Amirudin dan kawanannya menyusun rencana pencurian. Tapi diputuskan hanya Amirudin yang menjalankan aksinya.

Amirudin mengaku sejak awal tidak ada niat membunuh Basuki. Dia pun tak tahu rumah yang akan digasaknya itu milik Basuki Abdullah sang maestro lukis Indonesia. Namun, saat memasuki rumah itu, dia melihat banyak lukisan keluarga Basuki Abdullah. Dia sempat grogi untuk mencuri.

Lalu terjadilah pencurian tersebut. Amirudin pun terpaksa membunuh Basuki karena panik diteriaki maling. Keesokan paginya, Amirudin baru tahu bahwa rumah yang dicuri dan lelaki tua yang dibunuhnya itu adalah Basuki Abdullah setelah menonton berita di televisi pada Jumat, 5 November 1993.

Dia mengaku menyesal telah melakukan pencurian dan pembunuhan tersebut. Apalagi melihat ketabahan istri Basuki Abdullah saat dirinya melakukan rekonstruksi di rumah itu. Dia mengaku bersalah dan, bila nyawanya diminta untuk menggantikannya, dia siap melakukannya.

“Orang berbuat jahat itu ada masanya. Dan bagi saya, masa itu telah berakhir dengan tertangkapnya saya ini,” ucap Amirudin seperti dikutip Tempo.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE