Foto Ilustrasi: Alexis Yancy/DailyMail
Sabtu, 10 Februari 2024Dua petugas dari Departemen Kepolisian Visalia, California, Amerika Serikat, tengah berpatroli pada Senin, 29 Januari 2024, malam. Keduanya keliling kota West Buena Vista Avenue, yang berada di lembah San Joaquin. Mereka harus memastikan keamanan di kota kecil yang berjarak sekitar 16 mil dari Tulare, pusat ibu kota Visalia ini tetap kondusif.
Visalia memiliki penduduk terpadat ke-40 di California atau ke-192 di Amerika. Lembah yang dikelilingi banyak pertanian itu ditinggali 141.384 jiwa dari berbagai ras dari Eropa, Amerika Latin, Afrika, dan Asia. Kota ini memiliki keindahan alam yang menarik wisatawan. Di sisi lain, kota ini memiliki angka kriminalitas yang tinggi, seperti pencurian dan perkelahian.
Malam semakin larut. Tepat pukul 01.00, radio komunikasi di dalam mobil petugas polisi yang berpatroli itu berbunyi. Keduanya diberi tahu bahwa ada warga yang melaporkan gerak-gerik mencurigakan di Blok 1100 West Buena Vista Avenue. Warga melaporkan ada kendaraan terparkir di gang antara Jalan N Gidding dan Jalan Prospect Ave.
Dilaporkan ada sekitar lima orang tak dikenal tengah bolak-balik memindahkan barang-barang dari rumah yang ditinggalkan penghuninya. Tak hanya kedua polisi itu, beberapa petugas polisi yang tengah bertugas malam itu menerima panggilan yang sama untuk mengecek ke lokasi yang disebutkan tadi. Setibanya di lokasi, petugas polisi masih mendapati aksi perampokan tersebut.
Tiga orang pelaku melihat kedatangan polisi langsung melarikan diri. Dua pelaku tak sempat kabur dan terkepung kedatangan beberapa polisi. Dua orang itu adalah Isaac Rocha, 22 tahun, dan Alexis Yancy, 22 tahun, seorang perempuan cantik. Polisi yang hendak menangkapnya sempat mendapat perlawanan, khususnya dari Rocha.
Dikutip dari Daily Mail, 31 Januari 2024, foto pelaku pencuri yang ditangkap polisi menjadi viral di jagat maya. Salah satu pelaku, Alexis Yancy, disebut sebagai pencuri glamor. Para netizen di Amerika langsung menggerudug akun media sosial milik Alexis, baik Instagram atau Facebook. Salah satu netizen menuliskan di akun Alexis Yancy, ‘Dia Mencuri Hatiku’.

Lokasi perampokan yang dilakukan geng Alexis Yancy
Foto: Google Map
Ada juga pengunjung akun lainnya menuliskan, ‘Yang mulia, satu-satunya yang dia curi adalah hati saya,’. Pengguna akun lainnya menuliskan, ‘Nomor 5 di dinding, Nomor 1 di hati kami,’ dan ‘Setinggi 6 kaki, kalian benar-benar berpikir dia mampu?’, serta yang lain menimpali, ‘Satu-satunya hal yang dia curi adalah hati kita.' Pesan-pesan mereka mengesankan bahwa hati mereka ‘dibobol’ oleh Alexis Yancy.
Dalam rilis penangkapannya yang diunggah oleh Departemen Kepolisian Visalia di Facebook, disebutkan bahwa Rocha bertindak sebagai pengemudi rombongan perampok tersebut. Di bagasi mobilnya, ditemukan barang-barang hasil curiannya. Sementara, Alexis Yancy bersama tiga pelaku lainnya mengambili barang dari dalam rumah dan memasukan ke dalam bagasi mobil.
Rocha sebenarnya yang paling dominan di dalam memimpin aksi perampokan ini. Dia kenal sebagai residivis dan sering bolak-balik masuk penjara dengan berbagai kasus kejahatan sebelumnya. Seperti dikutip dari Visalia Times-Delta pada 5 Maret 2021, Rocha pernah ditangkap oleh tim multi-unit kepolisian dari Unit Penegakan Hukum Khusus, Tim Narkotika, Patroli, K9 dan unit Drone.
Mereka menggeledah rumah Rocha di kawasan Blok 2600 Jalan North Giddings pada Kamis, 4 Maret 2021 pukul 16.30 waktu Amerika. Di rumahnya polisi menemukan senjata api berbagai jenis tanpa nomor seri, amunisi, magasin berkapasitas besar dan rompi anti peluru. Polisi mengatakan, semua barang itu milik Isaac Rocha.
Rocha oleh polisi disebut sebagai penjahat yang diidentifikasikan sebagai anggota geng. Dia sebenarnya baru saja didakwa atas tuduhan penyerangan dan pemukulan dalam catatan pengadilan. Sedangkan Alexis Yancy tidak ada catatan kriminal sebelumnya. Namanya hanya sekali muncul pada tahun 2015, itupun ketika dia menggugat kedua orang tuanya atas hak asuh terhadap seekor anjing.
Di situs Linkedln pun nama Alexis Yancy tercantum berprofesi sebagai sales freelance. Entah pula apa hubungan Rocha dengan Alexis? Apakah sebagai kekasihnya atau Alexis bagian dari geng mereka? Polisi tidak memberikan keterangan secara detail. Yang jelas, keduanya dimasukan ke Fasilitas Penjara Bob Wiley, Tulare County dan wajib membayar uang jaminan sebesar US$ 60 ribu atau setara Rp 939 juta.
Kejahatan Alexis Yancy memang tidak seberapa, kasus pencurian. Walau namanya menjadi sorotan para netizen, mungkin namanya belum bisa disandingkan dengan tokoh penjahat perempuan di Amerika Serikat di masa lalu. Misalnya dengan sosok Bonnie Elizabeth Parker (1910-1934). Dia bersama pacarnya Clyde Chestnut Barrow (1909-1934) melanglang buana melakukan perampokan sejumlah bank, toko dan Pom Bensin.

Alexis Yancy
Foto: Facebook
Bonnie dan Clyde dipercayai telah membunuh 9 orang polisi. Kedua pasangan penjahat ini akhirnya mati ditembak ketika dikepung di jalanan di Louisiana pada 1934. Bonnie Parker disebut sebagai geng Barrow. Keduanya menjadi pusat perhatian publik dan media massa. Bahkan Hollywood membuat filmnya ‘Bonnie and Clyde’ pada 1967.
Lalu sosok perempuan jahat lainnya adalah Pear Hart yang dikenal sebagai ‘Bandit Wanita dari Arizona’. Pear Hart lahir di Kanada pada era Old West Amerika pada 1871 dan mati 1955. Pear Hart dengan nama lahir Pear Taylor ini dikenal banyak melakukan perampokan pada rombongan kereta kuda orang-orang kaya, atau kereta kuda cargo.
Terakhir adalah ‘Bandit Barbie’, dua perempuan bersahabat Heather Johnston dan Ashley Miller asal Kota Achworth, Georgia, Amerika Serikat. Kedua perempuan bersahabat yang sama-sama berumur 19 tahun, serta memiliki paras cantik berambut pirang. Media menjuluki keduanya sebagai bandit berwajah bak boneka Barbie pada 2007.
Awalnya keduanya berprofesi sebagai penari telanjang (striptise). Karena butuh uang, mereka bekerja sama dengan salah seorang kasir bank. Mereka berhasil membawa uang sebesar US$ 10 ribu atau setara Rp 156,6 juta (kurs dollar saat ini). Lalu mereka diburu polisi di beberapa negara bagian dan tertangkap pada 2007.
Pada 2008, pengadilan Amerika menjatuhi vonis hukuman 10 tahun penjara kepada Ashley Miller dan Heather Johnston. Tapi Ashley Miller menjalani masa hukuman selama 2 tahun dan sisanya masa percobaan. Begitu juga dengan Heather yang menjalani hukuman selama 10 bulan penjara, karena dianggap hanya ikut-ikutan saja.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho