Crimestory

Salah Paham
Berujung Carok

Gara-gara salah paham, Hasan dan Wardi menerima tantangan carok. Dua lawan empat. Kakak-adik ini terancam hukuman mati.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 26 Januari 2023

Menjelang salat Isya, Hasan Tanjung atau Hasan Busri, 39 tahun, keluar dari rumahnya di Desa Bumi Anyar, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, Jumat, 12 Januari 2024. Dia berjalan kaki menyusuri jalan desa untuk memenuhi undangan tahlilan di rumah tetangganya. Sebelum acara tersebut dimulai, Hasan sempat berhenti sementara di pos ronda.

Saat itulah dari arah selatan pos ronda muncul satu unit sepeda motor yang melaju dengan kencang dan sorot lampunya amat menyilaukan mata. Motor itu ditunggangi oleh Mat Terdam, 26 tahun, yang memboncengkan kakaknya, Mat Tanjar, 45 tahun. Hasan mengenali kakak-adik itu sebagai warga desa sebelah, yaitu Desa Larangan Timur.

Mat Tanjar dikenalnya sebagai jago silat karena menjadi guru pencak silat di beberapa desa sekitar. Dia juga bekerja sebagai penjaga lahan beberapa tambak. Setelah sepeda motor itu mendekat, Hasan menyapa kedua kakak-adik tersebut hendak ke acara apa sehingga mengendarai sepeda motor dengan kebut-kebutan.

Entah kenapa sapaan Hasan diartikan lain oleh Mat Tanjar dan Mat Terdam. Mat Tanjar terlihat emosional dan langsung membentak Hasan. Akhirnya terjadilah cekcok mulut hingga Mat Terdam memegangi kerah baju Hasan. Sementara itu, kakaknya langsung menampar wajah Hasan seraya menghunus celurit, senjata tajam melengkung khas Pulau Madura.

Dia bilang tolong kasih makan anak saya, bilangnya ke saya, jaga, disuruh ngaji.”

Hasan dan Wardi pelaku carok Bangkalan, Madura. 
Foto: Kamaludin/detikJatim

Pria yang dikenal jago silat itu menantang Hasan untuk bertarung atau carokDia menantang Hasan untuk mengambil celurit di rumahnya. “Kone’eh gemanah kakeh (kalau berani, ambil senjatamu),” bentak Mat Tanjar seperti ditirukan kembali oleh Hasan kepada sejumlah wartawan di Polres Bangkalan, Madura, Minggu, 21 Januari 2024.

Merasa ditantang, Hasan pulang ke rumahnya untuk mengambil celurit. Di rumahnya, dia berpapasan dengan adiknya, Mochammad Wardi, 30 tahun. Hasan mengadu dirinya ditantang carok oleh orang lain. Hasan tak menceritakan bahwa yang menantang carok adalah Mat Tanjar, yang dikenal sebagai jagoan kampung tersebut.

Tersulut amarah sang kakak, Wardi menyanggupi untuk ikut carok. Dua bilah celurit disambarnya. Keduanya lalu berpamitan kepada ibunya. Sang ibu melarang keduanya untuk carok. Namun Hasan dan Wardi, yang sudah dibakar amarah, tetap pergi menumpangi sepeda motor menuju lokasi tempat Mat Tanjar dan adiknya berada.

Sementara itu, di tengah menunggu lawannya datang, Mat Tanjar dan Mat Terdam menghubungi delapan murid silatnya untuk datang ke lokasi tersebut sekitar pukul 19.30 WIB. Tepat setelah mereka berkumpul, sepeda motor yang dikendarai Wardi yang memboncengkan Hasan juga tiba di lokasi tersebut. Hasan langsung melompat dari kuda besi ketika masih melaju dan belum berhenti.

Hasan langsung mengejar Mat Tanjar. Begitu juga dengan Wardi, yang setelah memarkirkan sepeda motornya langsung melawan musuhnya. Dari 10 orang, hanya 5 orang yang terjun dalam pertarungan berdarah tersebut. Sisanya hanya menonton. Aksi kejar-kejaran dan saling membacokkan celurit pun tak terelakkan. Dentingan senjata beradu terdengar dibarengi suara teriakan-teriakan mereka.

Duel maut dua orang melawan lima orang, yang juga masih bersaudara itu, berlangsung begitu cepat, hanya beberapa menit. Hasan menumbangkan Mat Tanjar dengan kondisi bersimbah darah. Dia lantas membantu Wardi, yang tengah melawan 3 orang lainnya, yaitu Mat Terdam, Najehri, 42 tahun, dan Hafid, 45 tahun.

Najehri adalah paman Mat Tanjar dan Mat Terdam. Sedangkan Hafid adalah murid silat Mat Tanjar, yang ternyata masih bersaudara dengan Hasan dan Wardi. Tapi ketiga orang ini pun tumbang bersimbah darah melawan Hasan dan Wardi.

Sebenarnya ada satu lawannya lagi yang siap akan menghadapi Hasan dan Wardi. Tapi orang tersebut  diminta mundur oleh Hasan. “Kalau kamu maksa, saya bunuh juga,” kata Hasan ketika itu.

Anehnya, dalam pertarungan carok itu, Hasan dan Wardi tak sedikit pun mengalami luka-luka di tubuhnya. Hanya jaket jins yang dikenakan Hasan mengalami robek di bagian lengannya. Carok ramai-ramai ini terekam video warga dan viral di jagat maya.

Settong (satu), duwa (dua), tello (tiga), iyeh empa se mateh (iya, empat yang mati),” ujar suara seorang pria dalam rekaman video yang beredar viral di media sosial.

Pascaduel carok tersebut, Hasan dan Wardi langsung lari menuju kebun tak jauh dari rumahnya. Wardi menelepon kakaknya, Abdul Rahman, untuk datang ke kebun. Tak lama Rahman datang melihat Hasan dan Wardi tengah gemetaran.

Rahman terkejut mendengar pengakuan kedua adiknya yang telah duel carok dan menewaskan Mat Tanjar, Mat Terdam, Najehri, dan Hafid. Perasaan Rahman menjadi tak karuan. Pasalnya, dia menganal Mat Tanjar dan sering bertegur sapa. Rahman lalu membawa kedua adiknya ke rumah ibunya untuk menyerahkan diri ke polisi.

Korban carok di Bangkalan, Madura. 
Foto: dok. detikJatim

Tak lama kemudian, sejumlah polisi dari tim gabungan Kejahatan dan Kekerasan Direktorat Kriminal Umum (Jatanras Ditreskrimum) Polda Jatim dan Satuan Reserse Kriminal Polres Bangkalan datang menjemput Hasan dan Wardi. Saat itu ibu dan istri Hasan menangis histeris. Hasan kepada kakaknya menitipkan anak-anaknya.

“Dia bilang, tolong kasih makan anak saya, bilangnya ke saya, jaga, disuruh ngaji,” kata Abdul Rahman kepada wartawan.

Sementara itu, empat korban carok yang tewas dievakuasi ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Syamrabu, Pejagan, Bangkalan, pada tengah malam untuk dilakukan autopsi. Duel carok itu menjadi perbincangan warga. Mereka menilai sosok Hasan bersama adiknya adalah seorang yang ramah dan suka bergaul.

“Setahu saya, dia (Hasan) itu ramah, kok, nggak terlihat kalau dia jagoan,” kata seorang warga Desa Bumi Anyar yang tak mau disebutkan namanya kepada detikJatim, Minggu 21 Januari 2024.

Dia mengatakan mungkin Hasan dan Wardi memiliki kemampuan silat juga setelah merantau ke Pulau Kalimantan untuk bekerja. Selain bekerja, mungkin keduanya belajar silat kepada seorang guru di Kalimantan. “Dulu memang pernah merantau ke sana. Tapi sudah lama di sini, dia (Hasan) sama adiknya beda rumah,” ucap pria itu.

Sedangkan korban carok yang tewas, yakni Mat Tanjar, Mat Terdam, dan Najehri, yang tercatat sebagai warha Desa Larangan Timur, terkenal sebagai jagoan. Begitu juga dengan Hafid, yang tinggal di Desa Bumi Anyar. “Kalau mereka (korban) itu terkenal (jagoan),” pungkasnya.

Hasan dan Wardi menampik bila dirinya disebut memilik ilmu kebal. “Nggak, Pak, hanya membela diri,” ucap Hasan sembari tersenyum saat ditanya polisi dalam jumpa pers di kantor Polres Bangkalan, Minggu, 21 Januari 2024.

Kini Hasan dan Wardi sudah mendekam di sel tahanan Polres Bangkalan untuk dimintai tanggung jawabnya. Keduanya terancam akan menerima hukuman mati atau penjara seumur hidup atau paling lama penjara 20 tahun. Hal ini sesuai dengan bunyi Pasal 340 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) yang diterapkan kepada mereka.

“Penerapan Pasan 340 KUHP, seumur hidup,” tegas Kepala Polres Bangkapan AKBP Febri Isman Jaya, yang didampingi Kasat Reskrim Polres Bangkapan AKP Heru Cahyo, pada Minggu, 14 Januari 2024.


Reporter: Kamaludin (Madura), Tim detikJatim
Redaktur: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE