Ilustrasi: Geng pemaksa perceraian di New York (Edi Wahyono)
Minggu, 31 Desember 2023Seorang pejalan kaki melintas di depan pemakaman sepi di kawasan Brooklyn, New York, Amerika Serikat, pada 23 Oktober 1996. Saat itu bola matanya melihat tubuh seorang lelaki setengah telanjang tergolek tak jauh dari pintu gerbang pemakaman. Tubuh lelaki itu dipenuhi luka memar dan berdarah. Tangannya diborgol, kaki diikat, dan matanya ditutup kain.
Dia menghampiri lelaki malang yang diyakininya masih bernafas itu. Dia masih sempat mendengar suara lirih lelaki tersebut yang meminta tolong. Pejalan kaki ini lalu membuka tutup mata dan ikatan kakinya. Lalu lelaki itu segera dievakuasi ke Rumah Sakit Maimonedes. Tidak lama kemudian, beberapa polisi datang menyusulnya ke rumah sakit.
Kepada polisi, lelaki itu mengaku bernama Abraham Rubin, seorang rabi Yahudi Ortodoks di Brooklyn, New York. Dia menceritakan telah diculik tiga orang bertopeng ketika hendak pulang dari sinagoga (rumah ibadah Yahudi) menuju rumahnya di kawasan Borough Park. Tiba-tiba dirinya diserang di tengah jalan dan dimasukkan ke dalam mobil van berwarna gelap.
Di dalam mobil, penculik langsung menutup mata, memborgol tangan, dan mengingat kaki Rubin. Selama perjalanan, Rubin dipukuli hingga sampai di sebuah tempat yang tak diketahuinya. Penyiksaan berlanjut di tempat itu. Tubuh Rubin dipukuli dan disetrum senjata listrik sebanyak 30 kali. Bahkan alat kelaminnya juga ikut disetrum dan ditusuk.
Rubin disiksa para penculiknya selama tiga jam. Penyiksaan baru dihentikan setelah Rubin mau menandatangani surat persetujuan perceraian yang diajukan istrinya. Beberapa hari kemudian, Rubin mengajukan gugatan atas penyiksaan terhadap dirinya yang dilakukan geng pemaksa perceraian pimpinan Rabi Mendel Epstein pada 1997.
“Semua itu dilakukan untuk memaksa menyetujui perceraian secara agama atau get (gittin) dari istrinya,” kata Rubin dalam gugatannya itu seperti dikutip kembali oleh New York Post pada 11 Oktober 2013.

Abraham Rubin, salah satu korban penculikan dan penyiksaan yang dilakukan kelolmpok Rabi Mendel Epstein.
Foto: New York Post
Gugatan Rubin akhirnya dibatalkan pada 2000 dan penyelidikan Jaksa Wilayah Brooklyn pun dihentikan juga. Alasannya, Rubin tidak dapat mengidentifikasi para pelaku penyerang, penculikan, dan penyiksanya, sehingga tak bisa melanjutkan ke penuntutan.
“Mereka melakukannya di tempat yang sangat gelap dan mereka mengenakan masker. Kami menginginkan Epstein (Rabi Mendel Epstein), tapi kami tidak bisa membuktikannya. Itu semua ada di di dunia yang tidak bisa kami masuki,” ungkap sumber Jaksa Wilayah Brooklyn saat itu.
Tuduhan Rubin tersebut membuat Rabi Mendel Epstein dan Rabi Martin Wolmark masuk radar para penyelidik di kejaksaan AS. Pasalnya, Rubin ingat betul orang yang memaksanya masuk ke dalam mobil van berwarna gelap di luar sinagoga sebelum dipukuli dan setrum adalah Rabi Epstein dan Wolmark.
Setelah penantian selama 16 tahun, Rubin bersyukur akhirnya Rabi Epstein dan Wolmark, yang dikenal sebagai pemimpin komunitas Yeshiva Shaarei Torah di Monsey dan Brooklyn, ditangkap penyelidik biro federal atau Federal Bureau of Investigation (FBI) pada 9 Oktober 2013. “Para penipu ini, yang disebut sebagai rabi adalah aib bagi komunitas kami. Topeng-topeng itu akhirnya terlepas dari wajah mereka,” ucap Rubin kepada New York Post.
Di lingkungan Yahudi ultra-Ortodoks yang memberlakukan halakha (hukum Yahudi) di Brooklyn, Mendel Epstein, 68 tahun, dikenal sebagai rabi pengawas para perempuan yang berjuang untuk menceraikan suaminya. Di kalangan mereka, ketika seorang perempuan atau istri meminta cerai membutuhkan izin suami yang dikenal dengan sebutan gittin atau get.
Epstein banyak sekali menerima cerita tentang wanita yang suaminya menolak memberikan persetujuan cerai tersebut. Dia mulai mengadvokasi para perempuan yang dipersulit izin bercerai dari suaminya itu. Oleh sejumlah media, Mendel Epstein dijuluki sebagai ‘The Prodfather’ karena kesombongannya menggunakan alat tusuk ternak dalam menyiksa korbannya.
Pada tahun 1991, aktivis hak-hak ayah pernah mendemonya dengan membentangkan spanduk bertuliskan ‘Hentikan Mendel Epstein!”. Pimpinan aktivis Monty Weinstein mengaku telah mendengar cerita praktik biadab Epstein selama bertahun-tahun, tapi tidak ada pihak berwenang di kota yang berani menghentikannya.
“Yang mengganggu saya adalah polisi dan pengadilan tidak peduli kala itu,” kata Weinstein.
Sementara seorang aktivis Hasidic di Brooklyn, Elya Amsel, yang selalu mendampingi Rubin, bersyukur Rabi Epstein dan Rabi Wolmark ditangkap FBI. Akhirnya, kejahatan mereka yang berkedok jubah rabi terbongkar. “Penangkapan ini mengejutkan semua orang. Orang-orang Italia (mafia) tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang terjadi di sini dengan orang-orang Yahudi,” terang Amsel.

Topeng Helloween yang digunakan geng pemaksa perceraian.
Foto: dailymail.co.uk
Amsel pernah menjadi korban dari ‘pasukan preman’ serupa dalam perebutan hak asuh anak pada pertengahan tahun 1990-an. Dia menjelaskan bahwa sangat jarang penegak hukum mau terlibat karena adanya hubungan politik dengan para rabi ultra-Ortodoks.
"Ini adalah kejahatan yang keji, kekejaman yang mengerikan, namun (Jaksa Wilayah di Brooklyn dan Rockland, N.Y.) menutup mata," imbuh Amsel seperti dikutip USA Today, 13 Oktober 2013.
Dalam tradisi Yahudi, wanita yang tidak dapat memperoleh nafkah dari suaminya disebut sebagai agunot, dari kata Ibrani yang berarti dirantai. Tanpa mendapatkan surat cerai, wanita tersebut dilarang melanjutkan hidupnya. Dia tidak dapat menikah lagi, dan setiap anak yang mungkin dia miliki di masa depan dianggap tidak sah dan tidak dapat menikah dengan orang Yahudi lainnya.
"Menggunakan kekerasan, itulah cara yang biasa dilakukan berabad-abad yang lalu," kata Samuel Heilman, seorang profesor sosiologi dan ahli studi Yahudi di Queens College, New Rochelle, New York.
Sebenarnya sebagian besar orang Yahudi tak lagi melakukan hal itu, tetapi dalam komunitas tertentu pasti ada semacam pandangan radikal. Perampasan dan kekerasan yang mereka lakukan atas nama perempuan yang putus asa untuk bebas dari pernikahan mereka adalah contoh salah satu penderitaan terbesar komunitas Ortodoks.
Dalam pandangan ultra-Ortodoks, geng-geng tersebut melanggar hukum sekuler untuk tujuan yang baik, katanya. Perempuan tidak memiliki banyak bantuan dari polisi jika suami mereka menolak karena tindakan itu sendiri bukanlah sebuah kejahatan.
Para rabi yang mengatur penculikan atau tindakan paksa lainnya untuk mendapatkannya bahkan dapat dipandang sebagai feminis. Di situlah ironinya, layanan yang mereka tawarkan bersifat kriminal, dan harganya mencapai puluhan ribu dolar Amerika.
"Di dalam dunia Ortodoks, mereka bekerja atas nama yang tidak diunggulkan, untuk perempuan, tapi bagi dunia luar, mereka terlihat seperti geng penculik,” pungkas Heilman.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho