Ilustrasi: Edi Wahyono
Sabtu, 14 Oktober 2023Bocah lelaki berusia 12 tahun bersimpuh di atas gundukan kuburan yang masih terlihat merah di Taman Pemakaman Umum Babakan, Cisaat, Sukabumi, Jawa Barat, pada Selasa, 10 Oktober 2023. Tangisnya pecah saat berada di pusara ibu kandungnya, Dini Sera Afrianti, 27 tahun. Sejak lahir, bocah itu tak pernah bertemu dengan sang ibu.
DR, nama bocah yang masih duduk di bangku kelas 6 sekolah dasar, itu, larut dalam doa bersama sanak famili yang berziarah. Dia ikut menaburkan bunga di atas pusara. Dini meninggal dunia dianiaya kekasihnya, Gregorius Ronald Tannur, 31 tahun, di Surabaya, Jawa Timur, pada 4 Oktober 2023. Ronald adalah anak anggota Dewan Perwakilan Rakyat dari Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa, Edward Tannur.
“DR (anak Dini) tahu itu mamanya, nggak ditutup-tutupin. Sejak lahir juga dikasih tahu, 'ini mama kamu, ini nenek.' 'Iya'. Cuma belum pernah ketemu," kata Elsa Rahayu Agustin, 25 tahun, adik kandung Dini, saat ditemui detikJabar, Rabu, 11 Oktober 2023.
Berdasarkan Kartu Keluarga, Dini adalah perempuan kelahiran Cisaat, Sukabumi, 25 April 1996. Tapi, menurut Elsa, tanggal kelahiran kakaknya itu yang benar 27 September 1995. Dini lulusan sekolah menengah pertama tahun 2011. Pada 2012, di usianya yang ke-17, Dini memilih untuk bekerja. Apalagi saat itu ia sudah harus menghidupi seorang anak.
Suatu hari, Dini ditawari seseorang untuk bekerja di sebuah perusahaan di Parungkuda. Selama 1 bulan, dia berangkat kerja dan pulang ke rumah. Menjelang gajian, Dini pamit hendak menginap di indekos temannya selama dua hari. Tapi pamitan itu ternyata menjadi saat terakhir Dini di rumah. Dia tak pernah pulang lagi selama 12 tahun.

Keluarga menziarahi makam Dini Sera Afrianti
Foto: Siti Fatimah/detikcom
Awalnya, ketika 1-2 pekan tak pulang, keluarga sempat mencari ke perusahaan tempat Dini bekerja. Alangkah terkejutnya ketika mereka mendapat keterangan bahwa Dini tidak pernah bekerja di sana. Keluarganya pun menanyai beberapa teman yang mengetahui keberadaan Dini dan mendatangi Gang Ajid di Cikole, Kota Sukabumi, 8 kilometer dari rumahnya, namun tak menemukan keberadaan Dini.
“Gaji juga belum nerima. Baru sebulan itu kerja. Makanya kita nggak tahu beneran kerja di perusahaan itu apa enggak? Jadi belum tahu kita juga,” jelas Elsa menceritakan asal-muasal kakaknya itu menghilang.
Saat itu keluarga sempat melaporkan Dini hilang ke Polsek Cisaat. Sayangnya, polisi menganggap enteng laporan tersebut seraya menyebutkan bahwa anak baru gede (ABG) biasa jarang pulang dan pasti kembali. “Lapor ke Polsek. Waktu anaknya umur 4 bulan. Kata polisi biarin aja anak ABG. Sekarang mah nanti juga pulang,” sesal Elsa.
Keluarga hanya berpikiran positif, walau tak ketemu, asalkan Dini dalam keadaan sehat. 1 tahun lebih pencarian dilakukan keluarganya. Praktis mereka hilang kontak sama sekali dengan Dini. Akun Facebook dan media sosial lainnya yang dimiliki Dini juga diblokir. Empat tahun kemudian, kabar Dini baru diketahui. Ia ada di Kuala Lumpur, Malaysia, dengan bibinya yang bekerja di Negeri Jiran itu pada 2016.
Keluarga lalu menghubungi nomor kontak Dini yang diberikan saudaranya itu. “Ditanya, 'Teh ke mana aja?' 'Ada kerja di Surabaya', katanya. 'Tapi sekarang ada di Kuala Lumpur'. 'Uwa (bibi) di sana kerja di kedai gitu,' katanya. Nyusul kerja di sana,” ucap Elsa mengulang jawaban Dini.
Elsa mengaku tak menanyakan alasan kenapa kakaknya itu tak pulang-pulang ke rumah. Dia khawatir Dini marah dan malah menghilang lagi. Bahkan, untuk sekadar memberitahu perkembangan DR saja, Elsa enggan. Tapi Dini selalu menanyakannya dan memenuhi kebutuhan anaknya, mengirimkan uang, dan keperluan lainnya melalui jasa paket pos.
-xdvi4b.png)
Elsa Rahayu Agustin (Paling kanan), adik kandung almarhumah Dini Sera Afrianti
Foto: Siti Fatimah/detikcom
Dini menyatakan niat pulang saat pernikahan Elsa pada 2018. Tapi, menjelang pelaksanaanya, Dini mengabarkan tak jadi pulang dan hanya mengirimkan sejumlah uang. Dini paling sering berkomunikasi dengan Elsa melalui aplikasi WhatsApp (WA) dan Instagram. Begitu juga selama pandemi COVID-19 berkecamuk.
“Masih komunikasi, cuma tertutup. Nggak nanya sudah punya pacar atau belum? 'Teu ah jomblo. Boro-boro nguruskeun lalaki, gawe cenah'.' Gitu jawabannya,” imbuh Elsa.
Dini selalu menjanjikan akan pulang, tapi mengulur-ngulur waktu, seperti akan pulang ketika Lebaran atau dirinya akan menikah nanti.“Terakhir mau pulang tahun 2021-2022. Katanya mau pulang ke sini sama pacarnya. Mau ngurus KTP. Soalnya dia kan nggak punya KTP. Sekalian main ke sini sama pacarnya,” ucap Elsa lagi.
Kontak terakhir dengan Dini terjadi tiga bulan lalu, sebelum keluarga mendapat kabar Dini meninggal dunia. Waktu itu anaknya yang menelepon meminta dibelikan sepatu, lampu disko, dan tas.
“Terakhir kontak malam sebelum meninggal, malam Rabu sama anaknya. Kan, saya sakit, ya, jadi saya diem di kamar dengerin suara anaknya ngobrol,” kata Tuti Herawati, 54 tahun, ibu kandung Dini, yang ditemui detikJabar, Selasa, 10 Oktober 2023.
Tuti mengaku anaknya yang keempat dari enam bersaudara itu tak banyak cerita ketika berkomunikasi, termasuk masalah dengan pacarnya. Dia hanya cerita soal pekerjaannya sebagai SPG yang akan di-endorse di supermall, promosi, dan mau diberi uang Rp 1 miliar.
“'Ya, mudah-mudahan aja itu jalan yang baik, yang halal,' kata saya begitu. 'Iya ntar kita beliin ini.' Ini, ngomongnya begitu. 'Ya, aamiin.' Saya bilang gitu aja,” ujar Tuti.
Pada Agustus lalu, Dini menghubungi Tuti untuk mengabarkan ingin pulang ke Sukabumi dan melihat DR, anaknya. Ternyata kabar itu dianggap Tuti firasat kalau Dini benar-benar pulang setelah menghilang selama 12 tahun. Tapi ternyata Dini kembali dalam kondisi sudah meninggal dunia, meninggalkan perasaan duka yang tak terkira.
-tlpqw7.png)
Foto kebersamaan Dini dan kekasihnya, Ronald, ketika berpacaran
Foto : Istimewa
"Itu katanya telepon ke mama. 'Ma, pengin pulang,' katanya gitu. Pengin lihat anak, gitu. Cuma kayak firasat mungkin, ya, pengin pulang katanya pengin ke sini. Kata mama, 'nanti mama yang ke sana kalau nggak Dini yang ke sini,'" kata Elsa lagi.
Kabar meninggalnya Dini awalnya diterima melalui direct message Instagram dari teman satu kosan Dini di Surabaya. Temannya itu mengabarkan Dini meninggal dunia akibat serangan jantung. Elsa terkejut mendengar kabar tersebut, sebab, setahu dirinya, kakak kandungnya tak memiliki riwayat sakit jantung.
Lantas Elsa mengabarkan kematian sang kakak kepada ibunya. Tuti juga sudah beberapa tahun ini mengidap kanker dan beberapa kali melakukan tindakan kemoterapi. Tuti pun syok mendengar kabar duka dari anaknya di Surabaya.
“Mama juga kaget. 'Kok, serangan jantung katanya?' Terus ditelepon langsung sama polisi dari Surabaya. 'Bu, bisa nggak ke sini?' Mama nggak ada pikiran apa-apa, langsung terbang aja ke Surabaya. Waktu di sana baru ketahuan banyak memar-memar," ungkap Elsa.
Sejak itu keluarga Dini didampingi tim kuasa hukum, salah satunya Eko Prasetian, yang mengungkapkan adanya kejanggalan korban meninggal.Awalnya korban disebutkan meninggal karena sakit lambung. Tapi setelah berkoordinasi dengan Polrestabes Surabaya ditemukan banyak kejanggalan.
“Kita ke lokasi kejadian untuk mencari bukti apakah ada penganiyaan. Setelah kita berproses di situ memang ditemui ada beberapa kejanggalan-kejanggalan,” terang Eko.
Kejanggalan itu semakin diperkuat ketika polisi melakukan rekonstruksi pada Rabu, 11 Oktober 2023. Dini mengalami luka memar bekas cekikan, luka pemukulan dengan botol, dan patah tulang iga dan tangan ketika terlindas mobil milik kekasihnya. Hal ini diperkuat dari hasil autopsi dan forensik tim dokter RSUD Dr. Soetomo, Surabaya.
“Kami mengatakan ini pembunuhan, meskipun masih dugaan. Itu sangat tidak manusiawi menurut kami. Artinya, ya sudah proses hukum yang akan menjawabnya,” ucap Eko yang ditemui di kediaman keluarga Dini.
Pihak keluarga Ronald, dalam hal ini ayahnya, Edward Tannur, sebagai anggota DPR RI FPKB sempat mengirimkan orang suruhannya untuk berupaya meminta damai. Namun, upaya itu ditolak keluarga Dini, karena ternyata mereka datang tanpa sepengetahuan kuasa hukum dan akan memberikan uang santunan.

Foto Dini Sera Afrianti saat masih hidup
Foto: Dok Keluarga
“Kalau sisi kemanusian silakan memberikan bantuan santunan kepada pihak Dini, tapi tanpa embel-embel perdamaian atau pencabutan laporan. Karena perkara ini jelas. Ini adalah pembunuhan,” tegas Dimas Yemahura Alfaruq, salah satu kuasa hukum keluarga Dini, saat dihubungi detikX, Rabu, 11 Oktober 2023.
Utusan dari keluarga Ronald atau Edward Tannur disebutkan bernama Fauzi mendatangi keluarga Dini pada Selasa, 10 Oktober 2023. Orang suruhan itu meminta nomor rekening untuk dikirimi uang santunan. Tapi syaratnya, pihak keluarga Dini tidak boleh memberitahukan kepada pengacara mereka.
“Menyuruh orang untuk datang ke sini meminta rekening keluarga korban dengan alasan jangan sampai pihak kuasa hukum itu tahu. Itu sangat mencederai proses hukum yang sedang berjalan," jelas Dimas.
Atas dugaan intervensi itu, Dimas Yemahura menegaskan bahwa dirinya dan tim kuasa hukum keluarga Dini lainnya akan melakukan tindakan lebih lanjut terhadap oknum-oknum yang mendatangi keluarga Dini. Bila terbukti mereka melakukan upaya intervensi atas suruhan Edward Tannur, dia mengaku tidak segan untuk melakukan langkah hukum.
"Dan kami tim kuasa hukum akan melakukan tindakan lebih lanjut terhadap oknum-oknum tersebut. Dan, bila memang terbukti pejabat tersebut melakukan tindakan itu, maka kami akan melakukan proses hukum lebih lanjut," pungkasnya.
Reporter: Rahmat Khairurizqi, Siti Fatimah (Sukabumi)
Redaktur: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho