INTERMESO

Hari-hari Margriet dan Catty di Penjara

Margriet Christina Megawe dulu dipidana kasus pembunuhan anak angkatnya, Engeline. Kini, di tahanan, dia menjadi pencinta kucing.

Ilustrasi: Edi Wahyono

Jumat, 01 September 2023

Kucing berwarna putih melintas di pintu masuk ruang kunjungan narapidana Lembaga Pemasyarakat Perempuan (LPP) Kelas II-A Kerobokan, Badung, Bali. Sesekali kucing tersebut duduk, lantas menjilati seluruh bulu yang membalut kulitnya. Tingkah kucing lucu itu ternyata teman setia salah seorang terpidana seumur hidup, Margriet Christina Megawe, yang kini berumur 68 tahun. “Itu kucingnya Margriet,” kata Kepala LPP Kelas II-A Kerobokan, Ni Luh Putu Andiyani, kepada detikX, sembari menunjuk kucing itu pada Rabu, 30 Agustus 2023.

Binatang bernama Latin Felis silvestris catus itu milik Margriet itu diberi nama Catty. Kucing itu mendapat perlakuan istimewa. Catty satu-satunya kucing milik Margriet yang dibiarkan berkeliaran sendiri di dalam lapas. Catty menjadi peliharaan kesayangan perempuan kelahiran Kalimantan Timur, 3 Maret 1955, tersebut.

Margriet mulai mencintai kucing sejak mendekam di LPP Kerobokan pada 2015. Awalnya, ada beberapa ekor kucing yang dipelihara Margriet. Tapi sebagian besar kucing itu terpaksa dikeluarkan dari lapas karena buang kotoran sembarangan. Saat sipir membuang kucing tersebut, Margriet sempat mengamuk. “Akhirnya kita kembalikan, tapi hanya satu saja, yakni Catty,” ucap Andiyani.

Andiyani menuturkan Margriet lebih mengutamakan memberi makan Catty ketimbang makan bagi dirinya sendiri. Setiap hari dia membeli ikan tongkol untuk makan Catty. Kucingnya sering diajak ke dalam kamar sel tahanan. Beberapa kali petugas sipir mencoba melarangnya, karena dikhawatirkan mengganggu kesehatan narapidana lain, khususnya yang berusia lanjut.

“Di luar (ruangan) tetap dia (pelihara). Ke mana pun dicari (kucingnya). Jadi kucingnya juga sudah tahu kalau lapar pasti ke tempatnya dia,” jelas Andiyani lagi.

Andiyani menjelaskan, selama tinggal di LPP Kerobokan, kesehatan Margriet cukup baik. Walau sering terserang batuk dan pilek, setelah mendapatkan pengobatan di klinik lapas, penyakitnya itu sembuh. Hal ini wajar karena faktor usia Margriet yang memang sudah masuk usia sepuh. "Tadi saya ke kamarnya, (dia) lagi istirahat. Saya suruh berjemur di halaman. Tapi biasanya olahraga dia hanya jalan-jalan di depan blok. Keadaan masih bagus, cuma itu saja, batuk-pilek sedikit," jelas mantan Kepala Balai Pemasyarakatan Kelas I Denpasar itu.

Margriet Christina Megawe bersama Engeline Mewage waktu kecil
Foto: dok. detikcom

Margriet rajin mengikuti beberapa kegiatan rutin di dalam lapas, seperti beribadah, menghadiri penyuluhan hukum dan kesehatan. Hanya, untuk kegiatan fisik yang lebih berat, seperti olahraga dan pelatihan kemandirian, ia tak ikut serta. Pelatihan menjahit, salon, membuat kerajinan, dan lain-lain kebanyakan diikuti narapidana atau warga binaan yang usianya masih muda.

Margriet, diakui Andiyani, memang kerap terlihat menyendiri. Namun, dengan para warga binaan serta petugas dan pegawai lapas lainnya, ia selalu menjawab ketika disapa dan berbincang-bincang. Saat itu detikX juga sempat melihat secara langsung kondisinya di dalam lapas.

Perempuan yang pernah dua kali menikah (dengan Wenlis dan Douglas Scarborough) itu terlihat tengah mengenakan kaus berwarna abu-abu dengan tulisan di bagian dada kirinya ‘LPP Kerobokan’ dan celana hitam. Dia mengenakan bando cokelat di atas kepalanya, yang kini rambutnya sudah kian memutih. “Sekarang sudah ubanan, tapi dia rajin kok potong rambut, ke salon. Di sini kan ada salon juga. Rajin dia ke salon, cuma nggak semiran, dipotong saja,” terang Andiyani.

Selama mendekam di LPP Kerobokan, Margriet ditempatkan di Wisma Fatmawati No 1 atau Blok F1, yang khusus bagi warga binaan yang sudah berusia lanjut. Wisma ini persis berdekatan dengan koperasi yang menjual berbagai kebutuhan bagi warga binaan. Margriet selalu membeli ikan tongkol buat Catty di tempat tersebut.

Tak ada perlakuan khusus bagi Margriet. Dia memiliki hak yang sama dengan narapidana lain, seperti jadwal kunjungan keluarga sebanyak dua kali dalam sepekan. Sayangnya, lanjut Andiyani, selama ia berada di lapas, sangat jarang terlihat keluarganya yang berkunjung. Paling seorang pembantu yang diutus keluarganya untuk mengantarkan makanan, khususnya pesanan ikan tongkol.

Menurut Andiyani, Margriet sampai saat ini masih bersikukuh dirinya tak bersalah atas pembunuhan anak angkatnya, Engeline Megawe. Bahkan beberapa kali kunjungan tim Penelitian Kemasyarakatan (Litmas) dari Balai Pemasyarakatan yang menanyakan selama tinggal di lapas apakah sudah ada penyesalan pada peristiwa delapan tahun silam.

Engeline Megawe semasa hidup
Foto: dok. detikcom

Margriet selalu tegas menjawab tak memiliki rasa penyesalan. Malah ia selalu berkata bahwa biang kerok pembunuhan Engeline bukanlah dirinya. “Tetap seperti keterangan di pengadilan bahwa dia tidak ada membunuh. Ya, kalau kita kan nggak bisa maksa ya pengakuannya. Yang penting di sini, dalam mengikuti kegiatan di sini, dia tidak aneh-aneh. Ikutilah saran petugas," imbuh Andiyani.

Salah satu mantan tim kuasa hukum Margriet di persidangan, Dion Pongkor, juga mengungkapkan hal yang sama. Tim kuasa hukum masih berkeyakinan bahwa Margriet tidak bersalah. “Ya, kami dulu meyakini, ibu itu (Margriet) bukan pembunuhnya berdasarkan bukti autopsi. Tapi karena ada tekanan publik dan politik,” kata Dion saat dihubungi detikX, Rabu, 30 Agustus 2023.

Awalnya, tim kuasa hukum saat menerima putusan kasasi dari Mahkamah Agung akan mengajukan peninjauan kembali (PK). Tapi hal itu diurungkan karena Margriet terlihat sudah pasrah dan menerima keputusan pengadilan yang memvonisnya penjara seumur hidup. “Sebenarnya waktu main dulu kita usulkan PK. Cuma dia sudah putus asalah dengan hukum di republik ini,” terang Dion.

Dion mengaku, terakhir kali bertemu dengan mantan kliennya itu pada 2018-2019. Karena kesibukannya sebagai advokat, dia jarang ke Bali atau menemui Margriet. Hanya, jalinan komunikasi dengan anak kedua Margriet, yaitu Christine, masih sering dilakukan. Sementara itu, komunikasi dengan anaknya yang pertama, Yvonne, tidak karena sudah meninggal dunia.

“Sudah lama tidak ketemu, karena saya jarang ke Bali. Sudah sakit-sakitanlah intinya. Aku nggak nanya sakitnya apa, cuma beberapa kali masuk rumah sakit karena usia kali,” ungkap Dion.

Pihak LPP Kerobokan sebenarnya sudah dua kali mengusulkan pemberian remisi perubahan kepada Margriet pada 2022 dan 2023. Namun hingga kini belum ada respons mengenai usulan tersebut. Sebab, pemberian remisi itu diteken oleh Presiden.

Rumah pembunuhan Engeline, kini jadi kafe, Selasa, 29 Agustus 2023.
Foto: I Wayan Sui Suandyana/detikBali

Rumah Margriet Jadi Kafe

Seperti diketahui, kasus pembunuhan Engeline Megawe dilakukan Margriet di rumahnya di Jalan Sedap Malam No 26, Sanur, Denpasar, pada 16 Mei 2015. Awalnya, kasus ini muncul atas laporan kehilangan atau penculikan Engeline oleh keluarga angkatnya melalui akun fanpage Facebook.

Jasad Engelin baru ditemukan dikubur di halaman belakang rumahnya oleh polisi pada 10 Juni 2015. Rumah yang ditempati Margriet dulu merangkap rumah kontrakan, dan dipenuhi kandang ayam. Bahkan rumah itu terlihat kumuh karena dipenuhi barang-barang bekas yang dibiarkan menumpuk.

Kini, situasinya berubah 360 derajat. Di tempat itu kini berdiri sebuah kafe dan bar. detikX dua kali berkunjung ke tempat itu, yaitu pada Selasa dan Rabu, 29-30 Agustus 2023. Entah sejak kapan rumah Margriet itu dijual atau berganti kepemilikan. Sayangnya, dua kali detikX berkunjung, pemilik kafe atau bar tak ada di tempat.

Staf atau karyawan kafe tak berani memberikan nomor kontak pemilik kafe tersebut. detikX sempat meninggalkan nomor kontak yang sewaktu-waktu bisa dihubungi si owner. Menurut stafnya, bosnya memang tengah sibuk mempersiapkan grand opening bisnis lain.


Reporter: Abdurrobby Rahmadi, I Wayan Sui Suadnyana (detikBali)
Redaktur: M Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE