Crimestory

Kisah Tilly Si Pentolan Geng Pisau Cukur

Matilda Mary Twiss atau Tilly Devine adalah sosok perempuan yang cantik. Ia menjadi mucikari dan rumah bordil terkaya di Sydney pada masanya.

Tilly Devine bersama suaminya, James Devine alias Big Jim tahun 1930. Foto Allthatinteresting.com

Jumat, 21 Juli 2023

Matilda Mary Twiss merupakan sosok perempuan muda yang cantik, genit dan bertubuh montok. Karenanya, banyak pria yang mencoba mendekati perempuan kelahiran Camberwell, London Selatan, Inggris, pada 8 September 1900 tersebut. Selama beberapa dekade ia dikenal dengan sebutan Tilly Devine atau Ratu Woolloomooloo, pemimpin geng Razor (pisau cukur) di Sydney, Australia.

Kisah perjalanan hidup perempuan yang memimpin organisasi kejahatan di Australia periode 1920-1970 ini tercatat dalam arsip State Library North South Wales (Dictionary Sydney) dan Museum History North South Wales (MHNSW). Tilly merupakan anak seorang tukang batu bernama Edward Twiss dan Alice Twiss di Hollington Street, Camberwell, kawasan kumuh dan miskin.

Karena ekonomi keluarganya yang miskin, Tilly putus seolah pada usia 12 tahun. Dia memilih untuk bekerja di sebuah pabrik. Namun, uang yang dihasilkannya sebagai buruh pabrik tak lantas menaikkan derajat perekonomian keluarga. Dia akhirnya memutuskan terjun di dunia prostitusi jalanan di kawasan penuh glamor di West End, London.

Di sana lah, Tilly bertemu dengan James Edward Devine atau Big Jim, serdadu penyapu ranjau dari Angkatan Darat Australia yang ditempatkan di London selama Perang Dunia I. Saat usia Tilly genap 16 tahun, ia menikah dengan Big Jim di Gereja Hati Kudus Yesus di Camberwell pada 12 Agustus 1917. Pernikahan mereka unik dan penuh kekerasan fisik dan verbal.

Karena penghasilannya besar, Tilly tetap melanjutkan profesinya sebagai pelacur kenamaan. Bahkan, Big Jim yang dikenal memiliki wajah masam itu mendukung dan menjadi pelindungnya. Pasangan ini pun memiliki seorang anak yang diberi nama Frederick Devine. Namun, anaknya itu dititipkan kepada ibu Tilly, ketika dia bersama suaminya pindah ke Australia pada akhir 1919. 

James 'Jim' Devine, suami Tilly Devine pada 1939.
Foto : Commons Wikimedia

Ketika masa tugasnya sebagai serdadu dalam Perang Dunia I di London habis, Big Jim mengajak Tilly pindah ke Australia. Mereka menumpang kapal perang Waimana. Mereka tiba di pelabuhan Sydney pada 13 Januari 1920. Selanjutnya mereka tinggal sebuah flat sewaan di Glenmore Road, Paddington, yang dikenal kawasan kumuh dan tinggi angka kriminalitasnya.

Seorang yang kejam, tamak, pendeta tinggi dari kebiadaban, pemuja kecabulan dan pelacuran. Dia meninggal tanpa teman dan sendirian, dan untuk itu dia harus dikasihani. Tapi jika mereka membangunkannya, kesedihannya akan menjadi air liur dan air mata buaya. Dia adalah wanita yang malang."

Kawasan itu merupakan markas para geng kriminal dan mafia yang terkenal di Sydney. Sebut saja gangster Guido Calleti, Frank Green, Phil 'the Jew' Jeffs, Norman Bruhn, pelacur ternama Nellie Cameron, dan Dulcie Markham. Setiba di sana, Tilly langsung terjun ke dunia prostitusi dan dengan cepat bergaul dan dipercaya para gembong kriminal di kota tersebut.

Dalam waktu singkat, Tilly menjadi seorang kembang latar dengan bayaran mahal. Tentu saja, kesuksesan Tilly berkat perlindungan dari Big Jim yang bertindak sebagai mucikari dan sopir pribadinya. Big Jim setelah tak bertugas di ketentaraan terjun lada bisnis ilegal jualan opium dan kokain.

Antara 1921-1925, Tilly tercatat sebanyak 79 kali ditangkap polisi. Kebanyakan karena melanggar aturan prostitusi. Dalam catatan kriminalnya, ia sering disebut dengan 'perilaku ofensif' dan 'bahasa tak senonoh'. Tilly juga sering didakwa karena berkelahi dan bergaul dengan penjahat terkenal. Hukumannya membayar denda dan menginap di sel polisi selama beberapa hari saja.

Tuduhan paling serius dan kejam adalah ketika ia melukai Sidney Cork, pembuat manisan yang tinggal di 474 Bourke Street, Sydney pada Mei 1925. Lelaki nahas itu mengalami luka akibat disayat dengan pisau cukur (razor). Lelaki itu membutuhkan 17 jahitan. Sedangkan Tilly dijatuhi hukuman kerja ringan selama dua tahun di Penjara Wanita Long Bay.

Polisi menggambarkan Tilly sebagai 'pelacur dari tipe terburuk dari semua pelacur, gelandangan, dan penjahat' yang ada di kota Sydney. Di penjara, dia dikenal dengan sebutan 'Pretty Tilly'. Usai keluar penjara, Tilly bertekad berhenti sebagai pelacur dan terjun dalam bisnis rumah bordil. Apalagi, saat itu, Negara Bagian North South Wales (NSW) mengeluarkan Undang-undang Vagrancy Act 1905 yang salah satu isinya melarang laki-laki menjalankan bisnis rumah bordil. 

Dengan aturan itulah Tilly diuntungkan. Dia mulai mengembangkan rumah bordil di seluruh Surry Hills, Darlinghusrt, Paddington, hingga Woolloomooloo. Ia banyak merekrut orang sebagai staf pria, penjaga, dan pengawal untuk melindungi tempat tinggalnya, serta para perempuan yang bekerja di rumah bordilnya. 

Menurut Larry Writer, salah seorang penulis buku tentang perang geng pisau cukur Sydney (Tilly Devine, Kate Leigh and the Razor Gangs) pada 2001, Tilly dikenal sebagai sosok 'lalim yang baik hati'. Dia akan memberikan penghargaan kepada para pekerja, pengawal, dan pelacurnya yang bekerja keras. Di sisi lain, dia tak segan-segan menghukum mereka bila kedapatan menyembunyikan penghasilannya. 

Tak hanya memecat, Tilly akan memukuli dan melukai dengan cara menyayat wajah mereka sebagai tanda perpisahan. Pada 1943, Tilly didakwa telah melukai salah satu pelacurnya, Ellen Grimson, dengan pisau cukur di wajahnya. Di persidangan, Tilly mengklaim, ia melakukan hal keji itu karena membela diri. Ia mengaku luka sayatan pada wajah Grimson akibat goresan cincin berlian di jari manisnya ketika menampar korban. 

Bisnis rumah bordi Tilly kian besar dan terkenal. Di samping bisnis tersebut, Tilly bersama suaminya, Big Jim, menjual minuman keras dan obat bius. Karena keuntungan itulah, Tilly membeli sebuah bungalo Maroubra di sudut Jalan Torrington dan Malabar. Tapi para tetangga sering protes sejak mereka tinggal di sana, sebab rumah itu dijadikan tempat pesta liar yang kerap berujung keributan dan perkelahian. 

Polisi sering menggerebek tempat itu, bahkan sering terjadi baku tembak. Big Jim pernah menembak mati saingannya, George 'Gunman' Gaffney, di rumah itu pada 17 Juli 1929. George merupakan tokoh utama dalam geng kriminal pimpinan Kate Leigh yang dikenal sebagai 'Ratu Miras' dan penadah minuman keras yang licik di kawasan Surry Hills. Karena itu, sering terjadi bentrokan, tawuran, dan aksi tembak menembak antara anggota geng Tilly dan Kate Leigh.

Matilda Mary Devine alias Tilly Devine, 27 Mei 1925.
Foto : Commons Wikimedia

Pada 1936, Komisaris Polisi William Mackay mendesak Tilly dan Kate untuk gencatan senjata. Bisnis rumah bordil dan jual beli miras ilegal Tilly sempat diterpa badai depresi akibat berkecamuknya Perang Dunia II. Walau begitu bisnis rumah bordilnya bisa bertahan dengan kehadiran para serdadu Amerika Serikat di sana. Tahun 1943, Tilly bercerai dengan Big Jim, karena sikapnya yang kasar dan kejam juga selingkuh. 

Setelah bercerai, Tilly jatuh hati pada seorang pelaut dan bartender yang usianya jauh lebih muda, yaitu Eric Parsons. Namun, perangai kejam Tilly tak pernah hilang. Ia yang mabuk pernah menembak Parsons pada Februari 1945. Lelaki itu menolak untuk bersaksi di persidangan. Tapi tiga bulan kemudian, Tilly menikah dengan Parsons pada Mei 1945. 

Tilly hidup mesra dengan Parson selama 12 tahun, hingga suami keduanya itu meninggal akibat sakit kanker pada November 1958. Tilly disebut-sebut sebagai Ratu Malam terkaya di wilayah Sydney. Dia pernah didakwa atas pengemplangan pajak penghasilannya sebesar 20.000 dollar Australia. 

Lambat laun, kejayaannya kian memudar. Satu persatu rumah bordilnya tutup. Tinggal menyisakan satu rumah bordil di ujung Jalan Palmer Street. Itu pun akhirnya ditutup setelah dibom oleh salah seorang pelaku yang diduga suruhan pengusaha kriminal saingannya yang ingin merebut kekuasaan bisnis prostitusi di Sydney bagian selatan. 

Lambat laun, kejayaan Tilly tenggelam. Dia meninggal dalam keadaan miskin lagi. Dia meninggal akibat menderita bronkitis kronis selama 20 tahun dan divonis kanker di RS Concord pada 24 November 1970. Tak ada warga Sydney yang berduka atas kematiannya. Ucapan duka justru datang Kate Leigh tua, yang menjadi musuh bebuyutannya selama puluhan tahun. 

"Seorang yang kejam, tamak, pendeta tinggi dari kebiadaban, pemuja kecabulan dan pelacuran. Dia meninggal tanpa teman dan sendirian, dan untuk itu dia harus dikasihani. Tapi jika mereka membangunkannya, kesedihannya akan menjadi air liur dan air mata buaya. Dia adalah wanita yang malang," begitu kutipan obituari Ron Saw yang dimuat Daily Telegraph saat itu. 


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE