CRIMESTORY
Sekitar 23 tahun lalu, Jepang digegerkan oleh pembunuhan keluarga Miyazawa di Setagaya, Tokyo. Hingga kini, pelakunya belum tertangkap.
Foto: Mikio Miyazawa, Yasuki, Nina dan Rei (Foto: The Asahi Shimbun)
Jumat, 07 Juli 2023Mikio Miyazawa, 44 tahun, memboyong keluarganya pindah ke sebuah rumah di sekitar Jalan Kamisoshigaya, Setagaya, Tokyo, Jepang, pada 1991. Mereka menempati rumah bersebelahan dengan rumah yang ditempati mertua dan kakak iparnya. Rumah mereka juga tak jauh dari taman bermain anak-anak, Taman Kereta Choo-Choo.
Mikio merupakan pekerja kantoran. Istrinya, Yasuko, 41 tahun, berprofesi sebagai guru privat di rumah. Kedua pasangan ini memiliki seorang putri bernama Nina, 8 tahun, dan putra bernama Rei, 6 tahun. Di tengah mengasuh anak-anaknya, Yasuko juga mengajar anak-anak secara privat.
Saat keluarga Mikio pertama kali tinggal di Kamisoshigaya, terlihat ratusan rumah tetangga berjejeran. Tapi, seiring waktu berjalan, hampir sembilan tahun lamanya, satu per satu rumah warga menghilang. Pemiliknya banyak yang menjual rumah dan pindah ke daerah lainnya di Tokyo.
Hingga tahun 2000, permukiman itu tinggal menyisakan empat rumah saja. Salah satunya rumah yang diisi keluarga Mikio, mertua, dan kakak iparnya, serta dua tetangga lainnya. Kawasan itu digusur untuk proyek perluasan lahan Taman Soshigaya oleh pemerintah Tokyo.
Mikio sebenarnya berniat menjual rumah dan pindah ke daerah lain, tapi urung. Pertimbangannya adalah masalah tumbuh kembang kedua anaknya di tempat baru nanti. Dia dan Yasuko khawatir anaknya yang masih kecil kesulitan beradaptasi di tempat baru. Lebih-lebih ibu Yasuko, Asahi Geino, hidup sendiri di rumah kakak iparnya, An, yang pergi merantau ke Inggris.
Kehidupan keluarga Mikio cukup harmonis. Tapi kedamaian berubah menjadi malapetaka tragis karena sebuah kejadian pada 30 Desember 2000 malam. Mikio, Yasuko, Nina, dan Rei ditemukan terbunuh secara sadis oleh seseorang tak dikenal. Hingga kini, 23 tahun setelahnya, pihak kepolisian Tokyo belum berhasil mengungkap dan menangkap pelaku pembunuhan tersebut.
Kasus tersebut menjadi berita utama di media Jepang dan menjadi sorotan internasional. Dikutip dari Asahi Shimbun dan Japan To Day, pembunuhan itu diketahui oleh mertua Mikio, Asahi Geino, saat mendatangi rumah anak dan menantunya pada 31 Desember 2000 pagi, sekitar pukul 10.00 waktu Tokyo.
Awalnya, Asahi berulang kali menghubungi putrinya melalui interkom. Merasa heran karena tidak ada jawaban sama sekali, Asahi berjalan kaki ke sebelah rumahnya. Dia bisa masuk ke dalam rumah karena memang memiliki kunci cadangan. Ketika pintu rumah terbuka, Asahi menjerit.

Rumah keluarga Mikio Miyazawa
Foto: The Asahi Shimbun
Dia menyaksikan menantunya Mikio Miyazawa tergeletak berlumuran darah di ruang utama lantai satu. Asahi langsung memanggil putrinya, Yasuko, dan kedua cucunya, Nina dan Rei. Alangkah terkejutnya nenek itu mendapati putrinya juga tewas berlumuran darah bersama kedua cucunya di lantai dua.
Mendengar jeritan Asahi, salah satu kerabatnya datang. Dia pun terkejut melihat pemandangan yang mengerikan tersebut. Dia tersadar dan langsung menyambar gagang telepon untuk menghubungi polisi. Tidak butuh waktu yang lama, satu per satu polisi datang ke rumah keluarga Mikio.
Polisi segera memasang police line dan melakukan olah tempat kejadian perkara. Tim forensik pun datang untuk melakukan penyelidikan. Dugaan polisi, pembunuh keluarga Miyazawa masuk melalui jendela kecil kamar mandi di lantai dua. Pelaku pertama kali membunuh Rei, yang tengah tidur, dengan cara dicekik lehernya hingga tewas.
Pelaku langsung turun ke lantai satu dan mendapati Mikio yang tengah menyelesaikan pekerjaan kantornya. Melihat orang asing datang membawa pisau, Mikio melakukan perlawanan. Tapi nahas, Mikio kalah beradu fisik. Dia mengalami luka tusuk di kedua tangannya, paha, bokong, dan bagian dada yang mematikan.
Setelah menghabisi nyawa Mikio, pelaku kembali ke lantai dua mencari Yasuko dan Nina yang tidur di loteng di atas lantai dua. Pelaku naik tangga kecil yang ada di dekat toilet lantai dua menuju loteng itu. Melihat korbannya tertidur lelap, pelaku langsung menyerang dengan menusukkan pisau ke wajah dan leher Yasuko.
Perempuan itu terbangun dan berusaha kabur dengan menggendong Nina untuk melarikan diri. Tapi pelaku mengejarnya dan menghunjamkan pisau ke kepala Yasuko hingga ambruk. Sementara itu, Nina dipukul hingga tewas di tempat yang sama. Keduanya ditemukan meringkuk saling membelakangi punggung.
Setelah puas membunuh, pelaku menuju dapur di lantai satu. Dia membuka lemari es dan mengambil beberapa cup es krim untuk dimakan. Lalu, dia juga sempat menyeduh minuman teh hangat. Dia sempat membalut luka di tangan kanannya akibat tersayat pisau patah yang digunakan untuk membunuh para korbannya.
Lantas pelaku mengobrak-abrik lemari dan laci yang ada di lantai satu dan dua. Dia mengeluarkan isinya, termasuk mengambil uang 150 ribu yen (setara dengan USD 1.500). Diduga, pelaku masih berada di rumah itu pada pukul 01.00 waktu Tokyo.
Pasalnya, pada jam tersebut, pelaku sempat membuka internet melalui komputer kerja milik Mikio. Ia sempat berselancar di dunia maya dan membuat folder. Kemungkinan besar pelaku kabur antara pukul 01.30 dan pagi hari. Pelaku banyak meninggalkan jejak sepatu di dalam dan luar rumah. Dia juga meninggalkan tas pinggang, baju sweater, dan pisau patah.

Perayaan ulang tahun anak keluarga Mikio Miyazawa.
Foto: The Asahi Shimbun
Namun upaya kepolisian Tokyo mengungkap kasus pembunuhan keluarga Mikio Miyazawa buntu. Hingga kini, sudah ada 246 ribu petugas penegak hukum, detektif, pakar kriminologi, dan ahli forensik yang dilibatkan dalam penyelidikan. Polisi juga menerima 16 ribu informasi dari masyarakat, tapi pembunuhnya tetap masih jadi buron.
Polisi sempat mengeluarkan sayembara bagi pihak lain, termasuk masyarakat, yang mengetahui identitas atau menangkap pembunuh tersebut. Bahkan polisi menaikkan hadiah uang dari 3 juta yen menjadi 20 juta yen. Kini tim penegak hukum yang masih ditugaskan secara full time mengungkap kasus pembunuhan itu berjumlah 40 orang.
Polisi Tokyo juga telah melakukan tes deoxyribonucleic acid (DNA) terhadap bercak darah miliki pelaku yang diketahui bergolongan A. Dari analisis tes DNA, pelaku diketahui memiliki ibu keturunan Eropa. Kemungkinan berasal dari negara dekat Laut Mediteranian atau Laut Adriatik.
Dari analisis kromosom Y, diketahui ayah si pembunuh adalah keturunan Asia, seperti Korea, China, dan Jepang. Pelaku diyakini memiliki tinggi badan sekitar 170 cm dengan tubuh kurus. Tim khusus dari Departemen Kepolisian Metropolitan Tokyo bekerja sama dengan para penyelidik dari luar negeri untuk mengungkapnya.
Yang menarik, temuan terbaru adalah pelaku diduga seorang pria berasal dari Korea Selatan yang disebut sebagai 'K'. Sementara itu, di dalam buku berjudul Setagaya Ikka Satsujin Jiken: Jugonen-me no Shin Jijitsu (Kasus Pembunuhan Keluarga Setagaya: 15 Tahun, Fakta-fakta Baru) yang ditulis oleh Fumiya Ichihashi pada 5 Desember 2015, disebut inisial pelaku lainnya adalah 'R'.
Ichihashi, mantan jurnalis investigasi kawakan Jepang dari Mainichi Shimbun, menyebutkan bukti yang ditemukan di TKP adalah partikel tanah/pasir yang ditelusuri ke Provinsi Gyeonggi, Korea Selatan. Dia menduga pelaku memiliki motif uang. Pasalnya, pelaku diduga tahu betul tentang warga di kawasan Kamisoshigaya menerima uang ganti penggusuran.
Pelaku yang diduga bernama 'K' ini telah menyuruh pelaku bernama 'R' untuk melakukan eksekusi. Ichihashi juga mengklaim telah melakukan 'kontak' dengan 'R', yang digambarkan sebagai mantan anggota militer Korea Selatan. Dia berhasil mendapatkan sidik jari R, yang diyakini sama dengan sidik jari yang ditemukan polisi di TKP.
Tapi buku itu masih merupakan teka-teki penuh misteri dan sarat dugaan belaka. Publik tidak pernah merasa puas bila pelaku belum tertangkap. Lebih-lebih bagi keluarga korban pembunuhan tersebut, yang menanti keadilan.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho