Foto: Phoolan Devi, Bandit Queen (Althatinteresting-Flickr.webp)
Jumat, 30 Juni 2023Pada suatu malam yang dingin di bulan Februari 1983, seorang perempuan berambut berwarna cokelat gelap, dengan ikat bandana merah, berjalan melawati jurang di lembah sungai Chambal, negara bagian Madhya Pradesh, India. Dia mengenakan kemeja dan celana panjang berwarna khaki (cokelat muda) dengan dibalut selimut wol berwarna senada. Di bahunya tergantung senapan Mauser buatan Jerman dan di pinggangnya terselip belati panjang melengkung.
Perempuan itu berjalan di sela-sela jurang bersama 12 orang pria yang mengenakan pakain berwarna serupa dan membawa senjata api. Mereka merupakan gerombolan perampok yang dipimpin si perempuan bernama Phoolan Devi, 20 tahun, yang dikenal dengan julukan Queen Bandit (Ratu Bandit), Dewi Bunga atau Dasyu Sundari (Perampok Cantik).
Malam itu, mereka berjalan sejauh 6 mil (6,5 km) menyusuri celah tebing dan jurang untuk menyerahkan diri kepada polisi. Di tempat yang akan mereka tuju, sudah ada 300 polisi menunggunya. Gerombolan Phoolan Devi menyerah berkat negosiasi yang dilakukan oleh Rajendra Caturvedi, perwira polisi dari Distrik Bhind. Penyerahan diri itu hanya diketahui oleh Ketua Menteri Madhya Pradesh, Arjun Singh.
Hampir empat tahun lebih, Ratu Bandit bersama gerombolannya bersembunyi di lembah jurang sedalam 76,2 meter. Selama menjadi buronan, kepala Phoolan Devi dihargai US$ 10.400 bagi yang berhasil menangkapnya. Phoolan dan gengnya itu menghadapi 48 kasus kejahatan, khususnya kasus pembantaian terhadap 20 warga Desa Behmai kawasan Uttar Pradesh pada 14 Februari 1981.
Keesokan harinya, Phoolan dan gengnya tiba di pusat kota Bhind. Ribuan warga menyaksikan penyerahan diri gerombolan itu di hadapan Menteri Madhya Pradesh. Phoolan menyerah dengan mengajukan syarat. Yaitu, tidak dihukum mati bagi semua anggota geng, hukuman maksimal 8 tahun, tidak diborgol, dipenjara secara bekelompok dan dipenjara di Madhya Pradesh, bukan di Uttar Pradesh, keluarganya diberi tanah dan hewan ternak, serta saudara laki-lakinya diberi pekerjaan di pemerintahan.
Kisah Phoolan Devi ini dituturkan dan ditulis oleh Mary Anne Weaver dengan judul 'India's Bandit Queen' yang dimuat di laman The Atlantic pada November 1996. Kepada Mary Anne, Phoolan kembali menceritakan kisah kelamnya yang penuh dendam atas perlakuan masyarakat kelas atas atau kasta tinggi di India. Phoolan bagi masyarakat kasta rendah dianggap pahlawan legenda Roobin Hood.
Sejak kecil, wanita kelahiran Kampung Gurha Ka Purwa, Distrik Jalaun, Uttar Pradesh, 10 Agustus 1963, hidup di lingkungan miskin. Kampungnya berada di wilayah ngarai dan jurang serta tandus yang dilintasi Sungai Yamuna dan Chambal. Dengan geografis seperti itu, kampung tersebut dijadikan sarang yang aman para perampok untuk tinggal. Sebagian besar penduduk berprofesi sebagai tukang perahu, yang di India merupakan kasta terendah setelah kasta Sudra, yaitu kasta Dalit.

Phoolan Devi
Foto: Wikinio.in
Dia merupakan anak keempat dari pasangan Devidin Mallah dan Moola. Ibunya menamai anak keempat itu Phoolan yang berarti bunga, karena ia lahir bertepatan dengan Festival Bunga. Untuk kebutuhan hidup mereka membuat kotoran sapi menjadi bahan bakar kompor. Sejak umur 9 tahun, Phoolan sudah mulai bersikap kritis terhadap kondisi keluarga dan lingkungannya.
Phoolan tumbuh menjadi anak perempuan yang pemberani dan suka berbuat onar. Keonaran dilakukan atas perlakuan kasar dari orang lain yang menyakiti keluarga dan tetangganya. Apalagi keluarga Phoolan juga menjadi korban penipuan pamannya sendiri. Lahan kecil milik ayahnya dirampas. Phoolan dendam dengan perlakuan kerabatnya sendiri yang lebih kaya tersebut.
Karena kerap berbuat onar, Moola mencarikan jodoh anak perempuannya itu. Phoolan dinikahkan saat berumur 11 tahun dengan lelaki yang tua bernama Putti Lai. Padahal saat itu aturan di India, wanita baru boleh menikah saat berumur 18 tahun. Suaminya sering menyiksa Phoolan bila tak mau melayani kebutuhan biologisnya. Suatu ketika, Phoolan disiksa hingga berdarah dan pakaiannya compang-camping.
Melihat hal itu, ayahnya membawa pulang putrinya yang terluka nyaris sekarat. Dua tahun kemudian, Phoolan diceraikan suaminya. Saat itu banyak pria muda dan tua dari kaum Thakur dari kasta Ksatria datang ke kampung tersebut untuk berusaha mencicipi tubuh perempuan hitam manis tersebut.
Tapi Phoolan bukan gadis biasa lagi. Dia sudah kenyang dihina, disiksa dan dicambuk. Kini dia berupaya memperjuangkan keadilan. Bila para Thakur itu tak mau membayar upah kerja, Phoolan tak segan-segan mengintimidasi dan mencuri dari rumah orang kaya itu. Di usianya 14-15 tahun, Phoolan berubah menjadi seorang pemberontak terhadap kaum kasta yang tinggi dan berkuasa.
Hingga suatu saat Phoolan diculik segerombolan bandit pimpinan Vickram Mallah. Tapi ternyata, Phoolan jatuh cinta dengan Vickram dan dinikahinya. Dari sanalah, dia belajar tentang dunia hitam, di mana gerombolan Vickram beraksi, Phoolan selalu ikut serta.
Suatu ketika, gerombolan itu mendatangi Desa Mahesphur. Phoolan ingat betul mantan suaminya, Putti Lai tinggal di desa tersebut. Hal itu tak disia-siakan Phoolan untuk balas dendam. Gerombolan itu menyerbu rumah Putti Lai, dan menyeret keluar mantan suami Phoolan.
Mereka memukuli Putti Lai dengan cambuk dan besi hingga tulang-tulang tubuh Putti Lai remuk. Setelah Putti Lai mat, Phoolan menuliskan pesan di dekat mayat mantan suami pertamanya itu, "Peringatan bagi orang tua yang berani-berani menikahi anak gadis kecil".
Gerombolan bandit ini selalu berpindah-pindah tempat untuk menghindari polisi. Mereka selalu bergerak dan melancarkan operasi perampokan. Mereka semua menggunakan pakaian serba warna cokelat muda (khaki), seperti seragam polisi. Vickram dan Phoolan menggunakan pakaian dengan atribut seragam inspektur polisi.
Vickram dan Phoolan memiliki jaringan informan yang melaporkan orang kaya yang pantas menjadi target mereka. Suatu hari, informan melaporkan tentang orang kaya di desa mereka yang tak mau membayar upah para pekerja. Gerombolan itu langsung menyatroni desa. Phoolan langsung menembakkan senjata api ke udara.

Geng Phoolan-Devi
Foto: Wikibio.in
"Kalian semua telah membuat hidup orang-orang miskin ini merana. Sekarang saatnya kami membalas kalian! Vickram Mallah. Phoolan Devi bersama saya di sini," teriak Vickram menggunakan megafon.
Begitu selesai menjarah uang, emas dan perak, gerombolan tersebut menembakkan senapan ke udara. Hasil rampokan sebagian dibagi-bagikan kepada orang kampung yang miskin. Itu sebabnya masyarakat menganggap Vickram dan Phoolan sebagai pahlawan.
Pada 14 Februari 1981, gerombolan Phoolan mendatangi Desa Behmai. Malam itu bertepatan dengan perayaan Valentine Day oleh orang-orang kaya dari kasta tinggi. Di saat semua orang terlena dalam acara pesta itu, tiba- tiba terdengar suara peringatan melalui megafon. "Kalian dengar! Jika kalian mencintai nyawa kalian, serahkan semua uang tunai, perak, dan emas yang kalian miliki."
Gerombolan Vickram dan Phoolan datang ke desa itu juga tengah mencari dua gembong bandit saingan mereka, yaitu Lala dan Sri Ram Singh besaudara. Diduga keduanya bersembunyi di desa itu. Phoolan bersumpah akan menghabisi siapa pun orang yang melindungi keduanya.
"Jika kalian tak menyerahkannya, aku akan todongkan pistol ku ke tubuh kalian dan mencabik-cabiknya. Ini adalah Phoolan Devi yang bicara.Jai durga mata! (kemenangan untuk Durga, sang dewi ibu)," teriak Phoolan.
Dalam peristiwa itu, gerombolan itu menangkap 20 pria dari kaum Thakur (kasta atas). Mereka dibariskan dan dieksekusi mati tepat di pinggur sungai Yamuna. Peristiwa itu membuat marah pemerintah India. Dua tahun setelah pembantaian itu, Phoolan dan gengnya menyerahkan diri pada 1983.
Phoolan di persidangan membantah telah menembak mati 20 korbannya. Apapun alasannya, akhirnya Phoolan dijebloskan ke Penjara Pusat Gwalior. Ia divonis hukuman 10 tahun penjara dan bebas pada 1994. Ia lalu masuk dunia politik dengan masuk Partai Samajwadi pada 1996.
Saat duduk di parlemen India, Phoolan Devi mendapat serangan mematikan. Dia tewas ditembak mati oleh tiga pelaku yang mengendarai mobil di depan gerbang rumahnya di Jalan Ashoka 44, New Delhi pada 25 Juli 2001, siang.
Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho