CRIMESTORY

Misteri Kematian ‘Ibu Energi Atom’

Sameera Moussa adalah perempuan ahli atom pertama. Perempuan asal Mesir ini tewas secara misterius dalam kecelakaan pada 1952.

Ilustrasi: Sameera Moussa (Foto: Al-Ain)

Jumat, 12 Mei 2023

Sameera Moussa, 35 tahun, tengah mematut dirinya. Dia kenakan pakaian dan berdandan, karena menerima undangan makan malam dengan seseorang. Sameera malam itu akan dijemput di depan hotelnya di Clearemont, Wyoming, Amerika Serikat pada Sabtu, 15 Agustus 1952.

Setelah selesai, perempuan yang bekerja sebagai peneliti di Institut Radiologi Mallinckrodt, Universitas Washington di Saint Loius tersebut turun menuju lobi hotel. Begitu sampai sudah nampak mobil sedan Buick 1952 terparkir menunggunya. Sameera lantas menghampiri mobil tersebut dan bertemu Arling Orwyn Kressler, 40 tahun, pegawai sipil Angkatan Udara Amerika Serikat.

Arling membukakan pintu mobil dan mempersilakan Sameera untuk duduk di bagian belakang. Lantas mobil pergi menuju lokasi undangan makan malam. Mobil melaju dengan kencang melalui jalanan yang berkelok-kelok di sebuah perbukitan di US Highways 14-16 atau 29 kilometer sebelah timur kota Clearmont, Wyoming. Tapi entah kenapa tiba-tiba mobil yang ditumpangi Sameera oleng saat melewati belokan tajam.

Sang pengemudi kehilangan kendali hingga mobil meluncur masuk ke dalam jurang sedalam 40 kaki atau 16 meter. Polisi yang datang ke lokasi menemukan mobil rusak berat. Mereka melihat Sameera dan Arling tewas mengenaskan. Anehnya, polisi tak menemukan siapa pengemudi mobil tersebut. Kejanggalan itulah yang hingga kini menjadi misteri dan tanda tanya. 

Berita kemarian Sameera Moussa pada 15 Agustus 1952
Foto:  AP

Sejumlah koran lokal di Amerika Serikat dan Mesir memberitakan kematian Sameera tersebut. Banyak pihak mencurigai bahwa kecelakaan mobil tersebut merupakan upaya pembunuhan terhadap Sameera oleh agen dinas intelijen Israel, Mossad. Pasalnya, Israel begitu gigih mencegah Mesir untuk memperoleh pengetahuan tentang teknologi nuklir.

Dari sejumlah sumber media di AS dan Mesir, Sameera berada di Wyoming dalam rangka liburan sekaligus akan mengunjungi fasilitas nuklir yang dikelola militer negeri Paman Sam tersebut. Nahasnya, kematian Sameera justru terjadi ketika hendak kembali pulang ke kampung halamannya di Mesir.

Sameera tinggal di Amerika Serikat sejak menerima beasiswa Fulbright dalam bidang radiasi atom di Universitas California, Berkeley. Dari laman Kementerian Informasi Mesir (sis.gov.eg) dan Egypt To Day disebutkan, Sameera adalah wanita pertama ahli nuklir yang bekerja di Universitas Kairo. Dia dijuluki sebagai 'Miss Curie of East' atau 'Nona Curie dari Timur' merujuk nama ahli fisika asal Polandia, Marie Curie. Selain itu juga digelari dengan sebutan 'Ibu Energi Atom'.

Sameera Moussa atau Samira Musa lahir di Desa Zefta, Provinsi Al-Gharbia, Mesir pada 3 Maret 1917. Ia memulai pendidikan dasar di Senbo untuk menghafal bagian-bagian dari Al-Qur'an. Tapi, sejak ibunya meninggal akibat penyakit kanker, Sameera bersama ayahnya, Haji Moussa Ali pindah ke Kairo.

Ayahnya lalu membangun usaha hotel kecil di wilayah Al-Hussein. Atas dorongan ayahnya, Sameera masuk sekolah dasar yang tertua di kota Kairo, yaitu Qasr Al-Shouq. Setelah lulus, Sameera melanjutkan sekolah menengah di Banat Al-Ashraf yang dibangun oleh Nabawya Moussa, seorang aktivis politik terkenal saat itu. 

Sameera sangat cerdas sehingga pada 1933, dia menulis sebuah buku tentang Aljabar ketika baru berusia 16 tahun. Karena kecerdasannya itulah, Sameera memilih untuk masuk Fakultas Sains di Universitas Raja Fuad I, Kairo pada 1939. Dia berhasil menyelesaikan studinya dengan gelar bachelor of science (BSc) pada 1942 dengan ranking pertama setelah melakukan penelitian efek radiasi sinar-X pada berbagai bahan material. 

Dekan Fakultasnya bernama Dr Ali Mustafa Musharafa mendukung Sameera menjadi asisten pengajar pertama di fakultasnya. Hingga akhirnya Sameera dipercaya menjadi dosen dan meraih gelar PhD dalam bidang radiasi atom. Selain cerdas, Sameera juga berbakat dalam bidang kesenian dan kegiatan sosial, terutama membantu keluarga miskin dan anak-anak terlantar. 

Sameera percaya bahwa atom bisa untuk perdamaian. "Saya akan membuat pengobatan nuklir tersedia dan semurah aspirin," ucapnya penuh tekad. 

Sameera bekerja keras untuk mewujudkan hal tersebut dengan melakukan serangkaian penelitian yang intensif. Dia berhasil membantu memecahkan atom logam murah seperti tembaga. Dia berharap teknologi nuklir yang murah bisa dimanfaatkan semua orang untuk dunia medis. 

Sameera Moussa
Foto: Al-Ain

Untuk itulah, Sameera ikut membantu mengatur Konferensi Energi Atom untuk Perdamaian di London, Inggris. Dia juga ikut mempromosikan diadakannya Konferensi Internasional Atom untuk Perdamaian yang dipimpin Presiden Dwight Eisenhower di Amerika Serikat. Acara yang dihadiri banyak ilmuwan terkemuka saat itu menghasilkan rekomendasi agar dibentuk komite untuk melindungi diri dari bahaya nuklir.

Sameera dengan sukarela membantu para pasien kanker di berbagai rumah sakit sejak ibunya meninggal dunia akibat melawan penyakit ganas tersebut. Pada 1951, Sameera mendapat beasiswa dari Fulbright untuk program penelitian atom di Universitas California, Berkeley. Saat itu berada di AS, Sameera mendapatkan izin untuk berkunjung ke fasilitas atom rahasia milik AS tersebut. 

Kunjungan Sameera ke fasilitas atom rahasia itu menimbulkan perdebatan sengit di antara kalangan akademisi dan ilmuwan di AS. Pasalnya, Sameera adalah warga nonkulit putih pertama yang diberikan hak istimewa tersebut. Namun begitu, Sameera menolak ketika ditawari untuk tinggal dan menjadi warga negara Amerika. 

"Mesir adalah tanah airku yang tersayang sedang menungguku," begitu jawaban Sameera ketika menolak tawaran tersebut. Sejak kematiannya, Sameera Moussa mendapat bintang kehormatan dari Tentara Mesir pada 1953. Lalu mendapat penghargaan Order of Science and Art, First Class oleh Presiden Mesir, Anwar Sadat pada 1981. 


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE