CRIME STORY

Kejamnya Kakek Tiri

Sakit hati dan dendam, Miman tega membunuh cucu tirinya, gadis remaja. Hukuman berat menunggunya.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 30 Desember 2022

Selama tiga pekan, penduduk Kampung Beor, Kelurahan Cipicung, Kecamatan Culamega, Tasikmalaya, Jawa Barat, dibuat resah. Sejak 30 November 2022, warga di kampung itu tak ada yang berani keluar dari rumah menjelang Magrib. Bahkan mereka yang biasanya kongko pada malam hari pun tak terlihat lagi batang hidungnya.

Selama 21 hari, warga kampung yang terletak di pegunungan dan dikelilingi hamparan sawah, perkebunan, serta hutan itu makin merasakan suasana mencekam bila malam hari. Kondisi tak normal itu terjadi setelah PA, 13 tahun, yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, ditemukan tewas di rumah neneknya, Komah, 68 tahun, di Kampung Beor, RT 04 RW 02, pada Rabu, 30 November 2022 pukul 17.00 WIB.

Sepulang dari sawah, Komah memanggil cucunya. Tapi yang dipanggil-panggil tak kunjung keluar. Komah bergegas ke dalam rumah panggungnya itu. Alangkah terkejutnya ketika Komah melihat kondisi badan cucunya tertelungkup. PA juga masih mengenakan seragam olahraga di lantai yang terbuat dari bilah bambu.

Gadis remaja itu berlumuran darah dari lukanya di dahi, kepala bagian belakang, dan punggung. Komah menjerit histeris sehingga mengundang para tetangga berdatangan. Gegerlah warga kampung melihat gadis di bawah umur itu menjadi korban pembunuhan.

Kabar terbunuhnya PA sampai ke telinga ibunya, Desri Nuraeni, 30 tahun. Ayah PA, Iwan, 34 tahun, yang tinggal di RT 03 RW 09, Kampung Cihujang, juga mendengar kabar anaknya dibunuh orang. Iwan dan Desri memang tinggal berbeda karena sudah bercerai. PA tinggal bersama neneknya, yang baru menikah dengan Miman (kakek tiri PA) sekitar setahun lalu.

Polisi dari Pospol Culamega datang lokasi kejadian. Mereka menemukan golok bergagang putih berlumuran darah yang diduga digunakan pelaku pembunuhan. Jasad korban langsung dikirim ke Rumah Sakit Umum Daerah Tasikmalaya untuk dilakukan visum dan autopsi. Keesokan harinya, Iwan melaporkan pembunuhan terhadap anaknya itu ke Polsek Bantarkalong dengan laporan polisi bernomor LP.B/11/XII/2022/POLSEK pada Kamis, 1 Desember 2022.

Miman, 71 tahun, kakek pembunuh cucu tiri.
Foto: Deden Rahadian/detikJabar

Mendapat laporan pembunuhan terhadap korban yang masih di bawah umur, Polres Tasikmalaya menurunkan tim penyelidikan dari Satuan Reserse Kriminal (Reskrim) Polres Tasikmalaya. Tim itu langsung melakukan olah TKP dan menyisir setiap sudut rumah dan pekarangan. Bahkan, dalam olah TKP, polisi mengerahkan anjing pelacak untuk mencari jejak pelaku pembunuhan tersebut.

Polisi sempat mengalami kesulitan mengungkap siapa pelaku pembunuhan karena minimnya saksi. Barang bukti berupa golok, sidik jari, dan jejak telapak kaki pelaku yang ditemukan dikirim ke Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Polri di Jakarta untuk diteliti. Setelah mendapatkan keterangan dari 20 saksi, baik keluarga, tetangga, maupun teman sekolah korban dan hasil Puslabfor, polisi mulai menemukan titik terang. 

Setelah tiga pekan, polisi mencurigai pelaku pembunuhan itu adalah keluarganya sendiri. Polisi sangat yakin pelaku adalah Miman, kakek tiri PA. Benar saja, ketika ditangkap, Miman tak berkutik dan langsung mengakui telah menghabisi nyawa cucu tirinya pada Rabu, 21 Desember 2022. “Pelaku adalah inisial M, yang masih orang dekat korban, yaitu kakek tirinya,” ungkap Kepala Polres Tasikmalaya AKBP Suhardi Hery Haryanto di kantornya, Senin, 26 Desember 2022.

Kepada polisi, Miman menuturkan aksi sadisnya itu. Bermula ketika PA, yang tengah sendirian di rumah, mendengar suara jendela berbunyi saat dibuka pada Minggu, 28 November 2022. Korban lalu memanggil neneknya, “Mak… Mak….” Tapi yang dipanggil tak menyahut. Korban lantas mendengar suara tapak kaki yang berlari. Lalu melihat sosok tubuh yang berkelebat mirip kakek tirinya tengah berlari.

“Pas dilihat, ciri-ciri kakek tirinya lari. Hingga dia cerita ke temannya dan menyebar,” kata Kepala Satuan Reskrim Polres Tasikmalaya AKP Ari Rinaldo pada Senin, 26 Desember 2022.

Miman, dari informasi yang menyebar, disebut menyusup masuk ke rumah lewat jendela. Dia pun sakit hati dan murka. Pada Rabu, 30 November 2022, pukul 05.00 WIB, ia keluar dari rumah Komah, yang telah setahun dinikahinya, ke rumahnya sendiri di Kampung Kubangsari, Desa Cipicung. Ia sempat membersihkan rumahnya yang sudah lama tak dirawat itu. Juga memberi kambingnya rumput.

Setelah pukul 08.30 WIB, Miman berjalan kaki menelusuri jalan setapak menuju sawahnya. Ia membabat rumput dan gulma di pematang sawahnya hingga waktu Zuhur. Bekal nasi pemberian Komah pun Miman makan. Setelah itu, ia pulang untuk mengambil batu asahan karena peralatan bercocok tanamnya sudah tumpul.

Kakek pembunuh cucu tiri diinterogasi polisi.
Foto: Deden Rahadian/detikJabar

Tapi, setelah mengambil batu asahan, entah setan atau iblis mana yang menghasutnya, muncul rasa sakit hati dan dendam kepada perilaku dan sifat PA. Ia nekat menghabisi nyawa cucu tirinya itu. Miman tak langsung kembali ke sawah, tapi mendatangi rumah Komah di Kampung Beor.

Ia mengambil jalan setapak agar tak diketahui banyak orang. Sesampai di rumah Komah, ia masuk melalui pintu belakang. Miman berjalan mengendap-endap. Miman melihat cucu tirinya baru pulang sekolah dan tengah makan.

Walau umurnya sudah tua, langkah Miman tetap gesit. Ia langsung mencekik leher PA dari belakang sekuat tenaga. Sejurus kemudian, ia mencabut golok dan membacok dahi cucu tirinya sebanyak tiga kali.

Tak berhenti sampai di situ, bak kesetanan, Miman terus membacokkan goloknya ke kepala bagian belakang PA. Lalu, sebagai pamungkasnya, Miman menusukkan golok ke punggung korban sebanyak lima kali. Setelah memastikan korban tak berkutik lagi, Miman keluar dari rumah melalui pintu depan.

Miman kembali ke sawahnya melalui jalan setapak. Begitu ia sampai, baju dan jaket yang terkena percikan darah korban dicuci di saluran air dan dijemur. Seolah tak ada kejadian apa-apa, Miman kembali bekerja mencangkul di sawah.

Tidak begitu lama, Komah, yang telah selesai bekerja di sawah miliknya di tempat berbeda, datang menemui. Karena Miman belum selesai bekerja, Komah ikut membantu ngored (mengarit) rumput di pematang sawah. Baru pukul 15.30 WIB, Miman dan Komah menyudahi semua aktivitasnya di sawah dan pulang dahulu ke rumah Miman di Kampung Kubangsari.

Di rumah itu, mereka sempat mencuci baju dan mandi. Pada pukul 16.15 WIB, pasangan kakek dan nenek itu pulang menuju rumah di Kampung Beor. Tapi keduanya pulang melalui jalan berbeda. Miman memilih jalan setapak, sedangkan Komah melalui jalan utama yang membelah Kampung Beor dan Kubangsari. Entah apa yang dilakukan Miman. Tapi suara jeritan yang menyayat hati terdengar dari mulut Komah yang mendapati cucu kesayangannya meninggal dunia dengan cara mengenaskan. 

Olah TKP dan anjing pelacak polisi di Kampung Beor, Cipicung, Tasikmalaya.
Foto: dok. Humas Polres Tasikmalaya

Miman kepada polisi mengaku sakit hati dan menaruh dendam terhadap sikap cucu tirinya itu. Tapi belum jelas betul apa sikap dan perilaku cucunya yang membuat Miman sebegitu tega dan keji membunuhnya. Polisi hingga kini masih terus mendalami motif yang sebenarnya. 

“Ngalawan mah jarang, tapi kehel. Kehelna nyebarkeun ka batur da basa poe minggu aya anu daek asup ka imah, disangkana abdi (Melawan sih jarang, tapi kesal. Kesalnya menyebarkan ke orang lain ada yang mau masuk rumah, dikira saya),” ucap Miman ketika ditanya tentang sikap dan perilaku cucu tirinya itu.

Sementara itu, Kepala Desa Cipicung, Amir, menuturkan korban dikenal sebagai sosok pendiam dan tidak pernah melakukan kenakalan remaja. Bahkan korban tak memiliki ponsel untuk berkomunikasi dan bergaul dengan teman-temannya. “Anak ini cenderung pendiam. Secara pergaulan tidak punya HP, paling curhat ke temannya,” jelas Amir.

Korban sejak 11 tahun lalu memang tinggal berpindah-pindah setelah orang tuanya bercerai. Ia sempat tinggal dengan ayahnya hingga umur 4-5 tahun. Sejak sekolah di PAUD, korban tinggal bersama ibunya. Ketika kelas 6, korban sempat masuk pondok pesantren.

Sedangkan Miman dikenal warga sebagai sosok pekerja keras. Ia juga rajin ikut dalam kegiatan gotong royong. Ketiga anaknya tinggal di luar Desa Cipicung. Sikap Miman berubah setelah pembunuhan atau sebelum dirinya dijadikan tersangka dalam pembunuhan tersebut. “Setelah kejadian, sebelum ada tersangkanya, dia lebih murung. Ada kerja bakti juga misah sendiri, nggak berbaur sama warga lain,” ujar Amir lagi.

Tapi akhirnya penduduk di Kampung Beor, Desa Cipicung, pun lega. Mereka tak takut keluar dari rumah lagi karena pembunuh PA sudah ditangkap. Miman terancam hukuman 15 tahun penjara karena melanggar Pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dan Pasal 338 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP).


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE