Crimestory

Gantang, Bandit Ulung yang Repotkan Belanda

Gantang dikenal sebagai bandit licin dan merepotkan hamba wet (polisi) di Batavia. Tapi punya koneksi kuat di kalangan pejabat.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Jumat, 16 Desember 2022

Tingkat kriminalitas di Batavia (sekarang Jakarta) meningkat pada pengujung abad ke-19 hingga awal abad ke-20. Kematian Pitung atau Solihun, sosok jagoan dan ‘Robinhood Batavia’, pada 14 Oktober 1893 tak menyurutkan aksi serupa.

Banyak bandit sosial yang merampok untuk kepentingan sosial dan politik sebagai perlawanan terhadap penjajahan kolonial Belanda. Tapi bandit biasa atau ordinary bandit yang melakukan perampokan dan pembunuhan tanpa latar belakang kepentingan apa pun juga marak.

Salah satunya adalah Gantang, penjahat legendaris setelah era Si Pitung. Ia menjadi momok bagi orang kaya pribumi, Eropa, dan Tionghoa.

Sepak terjang Gantang disebut sangat merepotkan polisi atau hamba wet (penegak hukum) serta Polisi Militer (marsose) di wilayah Batavia dan sekitarnya, Ommenlanden (sekarang Bodetabek). Tak ada catatan resmi apakah Gantang adalah nama asli atau samaran, juga tahun kelahirannya.

Si Gantang bandit Batavia awal abad ke-20
Foto: Repro buku Gedenkschriften van een Oud-Koloniaal 


Sidang si Gantang/Unus tidak banyak publikasi. Laporannya sengaja dirahasiakan karena si Gantang terlalu banyak tahu tentang pejabat tertentu. Anehnya, tersangka tidak dijatuhi hukuman mati, meskipun hukuman pada 2 tahun sebelumnya divonis hukuman mati.”

Tapi kiprahnya di dunia hitam tercatat dalam sejumlah berita yang ditulis media cetak, seperti Bataviaasch NieuwsbladDe Locomitief, dan Bintang Batavia pada kurun waktu 1903-1904. Gantang dikabarkan sebagai sosok kepala perampok yang kesohor dan sering bikin kacau di kawasan Meester Cornelis (sekarang Jatinegara, Jakarta Timur).

Berita Bataviaasch Nieuwsblad pada 20 Februari 1904, seperti dikutip Margreet van Till dalam bukunya Batavia Kala Malam: Polisi, Bandit dan Senjata Api (2018) dan Banditry in West Java 1869-1942 (2011) menyebutkan Gantang lahir dari keluarga miskin di kawasan perkebunan Landhuis Villa Nova di tepi Sungai Ciliwung antara Batavia dan Buitenzorg (Bogor). Atau persis sekarang di sekitar Condet, Jakarta Timur.

Sejak remaja, Gantang banyak belajar ilmu bela diri (pencak silat) dan gemar memperdalam ilmu gaib. Karena sejak remaja bergaul dengan kalangan yang kurang baik, ilmu kanuragan yang dimilikinya digunakan untuk hal-hal yang menyimpang. Ia juga belajar teknik membobol rumah.

Perampok Gantang dideskripsikan memiliki tubuh jangkung 180 cm, berbulu, badan penuh parutan atau bekas luka, dan memiliki penyakit kelamin. “Gantang punya bekas pukulan rotan, bentuk hukuman di era kolonial saat itu,” tulis Margreet.

Gantang dan komplotannya memiliki markas di wilayah hutan Pondok Gede, Bekasi. Karena itu, ia dijuluki sebagai Raja Utan karena sering memimpin gerombolan untuk merampok di dalam hutan kawasan Ommenlanden. Mereka akan merampok orang kaya, baik pribumi maupun orang Eropa, yang melintas di jalan setapak di hutan tersebut. Mereka juga tak segan-segan keluar dari hutan mendatangi rumah-rumah keluarga Eropa dan Tionghoa untuk dirampok.

Siapa pun rumah warga yang menjadi sasaran targetnya, bila tak mau dirampok, harus membayar upeti. Bila keluarga orang kaya itu membayar upeti, Gantang dan komplotannya akan menjamin keamanan mereka dari serangan perampok lainnya. Tapi, bila mereka mandek menyetor upeti, Gantang akan memaksa penduduk desa untuk menyerang rumah tuan tanah tersebut.

Di dalam berita berseri Bataviaasch Nieuwsblad, kelompok Gantang dijuluki Onze Mafia. Ia pandai mengorganisasi sejumlah bromocorah lainnya untuk bergabung. Bahkan, ketika tertangkap, bandit itu sering mengaku bernama Gantang. Bukan hanya itu, Gantang juga bisa menyuap para pejabat kolonial untuk mendapatkan senjata.

Ia bekerja sama dengan salah seorang demang di Bekasi. Demang inilah yang diminta menarik pajak atau mengambil ternak milik penduduk. Kadang-kadang Gantang juga melakukan aksinya dengan mengenakan seragam hamba wet. Hal inilah yang membuat polisi dan marsose gerah dan memburunya.

Penduduk Batavia jaga keamanan kampung awal abad ke-20
Foto: Foto buku Repo Banditry in West Java

Gantang dua kali pernah tertangkap dan dipenjara. Pertama pada 1895, tapi ia berhasil kabur. Tujuh tahun kemudian, ia ditangkap kembali pada 1903 dengan vonis hukuman mati. Tapi kembali kabur dengan mudahnya. Polisi lalu meminta bantuan Polisi Militer (marsose) untuk menangkapnya.

Mendengar kabar dirinya akan diburu, Gantang malah mengejek para Polisi Militer tersebut. “Polisi Militer itu kehabisan peluru sebelum menangkap saya. Kalau boleh berbaik hati, saya bersedia meminjamkan peluru,” ledek Gantang, yang kian membuat polisi murka.

Banyaknya jaringan kelompok penjahat dan koneksi dengan pejabat lokal membuat Gantang leluasa berpindah-pindah tempat. Dari satu distrik ke distrik lain, bahkan antarkabupaten. Koran Java Bode saat itu melaporkan Gantang telah meninggalkan dunia kejahatan dan tinggal di lingkungan pensiunan pejabat kolonial di wilayah Priangan. Tapi, di Batavia, masih ada perampokan lain menggunakan namanya ketika beraksi.

Polisi Militer tetap memburunya ketika mendengar keberadaan si Gantang di suatu wilayah. Akhirnya, pada 1904, Polisi Militer mendapatkan informasi keberadaan Gantang di sebuah desa di Kendal, Jawa Tengah. Hal itu didapatkan polisi ketika mendengar keterangan ada warga baru yang berasal dari Batavia dan diyakini sebagai Gantang.

Polisi Militer serta polisi Batavia dan Kendal pun bekerja sama untuk menangkapnya. Karena mereka takut buruannya kabur lantaran melihat sepasukan polisi berkulit putih masuk kampung, sebagian polisi menyamar sebagai pemburu. Pemimpin atau pejabat lokal diminta tutup mulut dan merahasiakan operasi penangkapan tersebut.

Penduduk desa yang lelaki dikumpulkan di balai desa seolah-olah akan didaftarkan sebagai wajib pajak. Setelah semua lelaki desa berkumpul, polisi yang menyamar sebagai pemburu datang dan menangkap seorang lelaki yang diyakini sebagai si Gantang. Padahal pria itu mengaku bernama Unus dan minta dilepaskan.

Tapi polisi mengidentifikasi sosok Unus memiliki ciri-ciri sebagai bandit. Tingginya 180 cm, sama dengan si Gantang. Kumisnya melintang rapi. Di tubuhnya banyak bekas luka, codetan di wajah, dan bekas luka sabetan rotan di punggungnya. Dan juga memiliki penyakit kelamin.

Ilustrasi polisi zaman Hindia Belanda sekitar tahun 1900-an dalam sebuah operasi.
Foto: Tropenmuseum

“Sidang si Gantang/Unus tidak banyak publikasi. Laporannya sengaja dirahasiakan, karena si Gantang terlalu banyak tahu tentang pejabat tertentu. Anehnya, tersangka tidak dijatuhi hukuman mati, meskipun hukuman pada dua tahun sebelumnya divonis hukuman mati,” tulis Magreet lagi.

Banyak pejabat dan korban yang pernah dirampok Gantang tak mengenalinya. Misalnya saksi korban keluarga Van de Capelle, yang pernah dirampok rumahnya, tak bisa mengenalinya. Gantang lalu dihukum penjara di Merauke, Papua.

Sebagian orang masih meyakini si Gantang asli belum tertangkap. Mereka, termasuk media cetak, saat itu menduga polisi sengaja mengklaim Gantang telah ditangkap agar penduduk Batavia dan Ommenlanden tenang.

Salah satu editorial yang ditulis editor Bataviaasch Nieuwsblad, Karel Zaalberg, mengatakan, “Kita tidak pernah tahu berapa banyak Gantang di Batavia.”


Penulis: M. RizalMaslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE