CrimeStory

Dendam Kesumat karena Ibu Diperkosa

Dendam kesumat membuat Maulud menghabisi nyawa tetangganya. Korban diduga telah memperkosa ibu pelaku.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 1 Desember 2022

Yasin Fadilah, warga RT 001 RW 11, Dusun Kisik, Desa Gempol, Kecamatan Gempol, Pasuruan, Jawa Timur, sedang ngobrol di rumah tetangganya pada Senin, 16 Desember 2019. Entah apa yang menjadi topik pembicaraan mereka. Yang jelas, Yasin menyudahi obrolannya dan pulang pada pukul 11.00 WIB.

Yasin pulang ke rumahnya yang tak begitu jauh dari rumah tetangganya tersebut. Pria berumur 49 tahun itu berjalan kaki menyusuri jalan di perkampungan penduduk. Di tengah jalan, sekitar pukul 11.30 WIB, muncul sepeda motor Honda Vario yang dikendarai seseorang dari arah belakang.

Ia tak menaruh curiga ketika pengendara motor itu semakin mendekatinya seraya mengeluarkan sebilah pisau dari balik bajunya. Dalam hitungan detik, pisau itu langsung dihujamkan ke tubuh Yasin dengan cepat. 

Yasin, yang tak tahu bakal diserang, tak bisa menangkisnya. Yasin hanya berteriak mengaduh ketika dada bagian kiri-bawahnya terasa perih terkena tusukan pisau. Yasin tak tahu siapa penusuknya, karena pelakunya mengenakan masker, topi, dan jaket.

Melihat korbannya terluka, pelaku langsung tancap gas dengan sepeda motornya dan menghilang di kejauhan. Wajah Yasin mulai pucat pasi. Tangannya terus memegang luka di bagian perut yang mulai mengeluarkan banyak darah.

Maulud Riyanto
Foto: Muhajir Arifin/Pasuruhan

Dengan tertatih-tatih, Yasin tetap berjalan ke rumahnya. Dia kemudian dipapah oleh seorang tetangga yang kebetulan sedang melintas dan melihatnya terhuyung-huyung hampir roboh.

Saya dengar sendiri saat saya masih SD, ibu saya diperkosa. Saat itu ada Pak RT dan warga datang ke rumah dan minta damai. Saya dendam sampai saat ini.”

Keluarga Yasin terkejut melihat kondisinya yang mengalami luka tusukan. Feri, salah satu anak Yasin, dan tetangganya, langsung melarikannya ke Rumah Sakit Bhayangkara Pusat Pendidikan Polri, Porong, Sidoarjo. Sayang, saat tiba di ruang Instalasi Gawat Darurat, Yasin tak lagi bernafas.

Dokter menyatakan Yasin tewas akibat luka tusuk yang membuat tulang rusuknya patah dan pendarahan hebat. Menerima laporan tersebut, polisi langsung melakukan olah di tempat kejadian perkara (TKP) dan penyelidikan. Setelah mendapatkan sejumlah keterangan, polisi mencurigai pelakunya tetangganya sendiri.

Orang yang dicurigai adalah seorang remaja berumur 18 tahun bernama Muhammad Maulud Riyanto. Benar saja, ketika polisi mendatangi rumahnya, Riyanto tak ada. Rumah itu kosong. Riyanto ternyata sembunyi di sebuah rumah kosong dan sempat meminta uang kepada adiknya.

Setelah menerima uang, Maulud lalu meminta temannya untuk mengantarkannya ke terminal bis di Ngoro dan pergi menuju Kota Mojokerto. Sesampainya di Mojokerto, Maulud melanjutkan perjalanan menumpang bis jurusan Kediri. Ia tak tahu bila gerak-geriknya sudah diawasi polisi.

Akhirnya, setelah 10 jam menusuk Yasin, Maulud berhasil diringkus polisi di wilayah Kecamatan Trowulan. Saat digerebek, remaja itu tak melawan. Ia pasrah digelandang menuju kantor Polres Pasuruan pada malam itu juga untuk diinterogasi lebih lanjut.

Kepada polisi yang mengintrogasinya, Maulud mengaku menusuk hingga mati korbannya karena diliputi hati dendam kesumat kepada Yasin. “Saya dendam. Ibu saya dulu diperkosa sama dia,” ucap pemuda tanggung itu kepada wartawan di markas Polres Pasuruan, Jalab dr. Soetomo, Bangil, Kamis, 19 Desember 2019.

Maulud mengatakan, dendam itu dipendam sejak lama ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). "Saya dengar sendiri saat saya masih SD, ibu saya diperkosa. Saat itu ada Pak RT dan warga datang ke rumah dan minta damai. Saya dendam sampai saat ini,” terang Maulud yang diwawancarai tengah memakai penutup kepala (balaclava).

TKP penusukan terhadap Yasin Fadilah
Foto: Muhajir Arifin/Pasuruhan

Sebenarnya, Maulud sempat meninggalkan desanya. Tapi begitu dewasa ia kembali ke desanya dan amarah di dada atas perlakuan pria yang diduga pernah melecehkan ibunya muncul lagi. Perilaku Yasin juga tidak berubah di mata Maulud.

Maulud akhirnya nekad menghabisi nyawa Yasin. Ia menyiapkan pisau sebulan sebelum melakukan penusukan. Pisau itu ia sembunyikan di salah satu sudut di kamarnya. Ia juga memantau Yasin yang tengah bertandang ke rumah tetangganya yang tak jauh dari rumahnya.

Maulud pun mengintai Yasin dengan motor pinjaman dari temannya. Begitu Yasin keluar dari rumah tetangganya, Maulud mengenakan jaket, masker, dan topi tak lupa meraih pisau yang telah disiapkannya sebelumnya. Setelah Yasin jauh dari rumah tetangganya, Maulud tak menyia-nyiakan waktu untuk menusuknya dan kabur.

Setelah diproses penyidikan di kepolisian, perkara Maulud lalu dilimpahkan ke Pengadilan Negeri Bangil. Majelis hakim PN Bangil akhirnya memberikan vonis hukuman 13 tahun penjara kepada remaja itu pada 8 Juli 2020. Sementara jaksa yang awalnya menuntut 20 tahun penjara tak puas dan mengajukan banding.

Rupanya Pengadilan Tinggi Surabaya justru menguatkan keputusan PN Bangil bernomor 125/Pid.B/2020/PN Bil tersebut pada 10 September 2020. Keputusan Pengadilan Tinggi Surabaya itu disampaikan majelis hakim yang dipimpin Jack Johanis Octavianus dan anggotanya Harry Sasongko, serta I Gusti Lanang Putu Wirawan.


Penulis: M Rizal
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE