CrimeStory

Hikayat Begal Legendaris Mat Peci

Mamat alias Mat Peci dikenal sebagai begal legendaris pada era 1970-an. Berani membunuh polisi dan merebut pistolnya untuk merampok.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 17 Februari 2022

Stasiun Leuwigoong di Desa Sindangsari, Kecamatan Leuwigoong, Garut, Jawa Barat, merupakan stasiun kecil yang dilintasi kereta api rute Bandung-Garut. Stasiun ini cukup tua usianya. Tapi bagi warga Jawa Barat, khususnya Garut, stasiun ini sangat populer. Stasiun itu diikenal karena menjadi tempat penangkapan dan tewasnya begal legendaris pada 4 Februari 1978, yaitu Mat Peci.

Mat Peci dan kelompoknya kerap membuat resah dan takut warga di Bandung. Mereka membegal dan tak segan membunuh korbannya. Bahkan Mat Peci pernah membunuh seorang polisi dan merampas senjata apinya. Dengan pistol revolver rampasan itu, Mat Peci semakin nekat dalam melancarkan aksi kejahatannya di beberapa daerah di Jawa Barat.

Karena kesohorannya itu, kisah Mat Peci pernah diangkat menjadi film dengan judul ‘Mat Peci (Pembunuh Berdarah Dingin)’ produksi PT Diah Pitaloka Film. Pemeran utama adalah aktor kawakan Rachmat Hidayat. Sedangkan pemeran utama wanita adalah Doris Callebaute. Film itu juga dibintangi oleh aktor Eddy M Sapri dan Kelly Jones. Film yang disutradarai Willy Wilianto tersebut ditayangkan di bioskop Nusantara Theatre, Bandung, pada 12 September 1978.

Dikutip dari Pikiran Rakyat, film Mat Peci menyedot perhatian masyarakat Jawa Barat, khususnya di Bandung. Pemutaran film selalu dipenuhi penonton yang membeludak setiap harinya. Jumlah penonton film tersebut memecahkan rekor penonton bioskop terbesar di Bandung. Karcis yang dijual seharga Rp 650 selalu ludes satu jam sebelum film diputar.

Poster film Mat Peci pada 1978
Foto : indonesiacinematheque

Padahal, pada saat yang bersamaan, beberapa bioskop di Bandung tengah menayangkan film nasional dan Barat top. Film Mat Peci, yang berdurasi 88 menit,  popularitasnya mengalahkan film Hollywood berjudul ‘Fury of The Dragon’, yang dibintangi aktor laga asal Hong Kong, Bruce Lee. Salah satu yang membuat warga Bandung menggemari film Mat Peci adalah karena diangkat dari kisah nyata.

Mat Peci memiliki nama asli Mamat bin Sutomo. Ia disebutkan berasal dari keluarga terpandang di kampungnya, Leuwigoong. Mamat lahir pada 1943. Nama 'Peci' disematkan di belakang namanya karena ia dikenal selalu mengenakan peci hitam ke mana-mana. Tak diketahui secara pasti motif yang mendasari dirinya terjun ke dunia hitam karena minimnya dokumen dan literasi tentang Mat Peci beserta keluarganya.

Masyarakat Jawa Barat, khususnya Bandung dan Garut, mengetahui kisah Mat Peci melalui film. Dari perjalanan hidup awalnya, Mat Peci menjalani hari-harinya dengan normal dan baik. Saat muda, ia menjalin kisah percintaan dengan gadis bernama Euis. Sayangnya, kisah cinta mereka putus karena tak mendapatkan restu dari keluarga. Orang tua Euis sangat tak menyukai Mamat.

Karena kecewa, Mat Peci meninggalkan Euis untuk pergi merantau ke Kota Kembang, Bandung. Di kota itu, Mat Peci tinggal dan bekerja sebagai calo karcis bioskop di kawasan Cicadas. Setiap hari ia menawarkan karcis kepada calon penonton bioskop Liberty atau Tjahaja dan Taman Hiburan. Lama kelamaan, Mat Peci merasa muak karena keadaan ekonominya tak kunjung meningkat.

Mulailah ia bergaul dengan sejumlah preman di Cicadas pada 1970. Sejak itu ia nyemplung ke dunia kejahatan. Pada 1970-an, ia mulai melakukan kejahatan kecil-kecilan di daerah Cirebon dengan mencuri sejumlah lampu petromaks. Ia sempat ditangkap polisi, tapi berhasil kabur dari tahanan sebelum kasusnya diadili di meja hijau.

Saat jadi buron, Mat Peci masih terus melakukan aksinya bersama kawanannya. Beberapa kali ia masuk penjara. Saat berada di dalam penjara itulah Mat Peci disebutkan belajar ilmu kebal. Dengan ilmunya itu, Mat Peci semakin percaya diri dan nekat melakukan aksi kriminalnya.

Bahkan ia nekat membunuh seorang polisi berpangkat sersan satu (sertu) di Jakarta hanya untuk merampas pistolnya. Berbekal pistol itulah Mat Peci melakukan perampokan. Ia dikenal sangat kejam dan sadis. Tak segan-segan ia akan langsung menembak mati mangsanya bila ketahuan akan melawan. Jejak kejahatannya terbanyak di wilayah Bandung, Cirebon, Sukabumi, dan beberapa daerah lainnya.

Salah satu aksi perampokan yang menggegerkan adalah ketika Mat Peci menembak mati seorang karyawan yang baru saja mengambil uang di Bank Karya Pembangunan di Jalan Naripan, Bandung, pada 10 September 1977 siang bolong. Aksi nekat lainnya, Mat Peci menembak mati pasangan suami-istri yang membawa uang ketika korban baru turun dari becak di depan rumahnya di Jalan Pasir Kaliki No 24, pada 25 Januari 1978. Aksi itu dilakukan tak begitu jauh dari pos polisi.


Stasiun Leuwigoong, Garut.

Kelakuan Mat Peci cs itu membuat geger warga Bandung dan geram polisi. Pihak Polrestabes Kota Bandung saat itu membentuk tim khusus untuk memburu dan menangkap kelompok Mat Peci. Tim khusus itu merupakan gabungan unit serse yang dipimpin oleh Komandan Serse Polrestabes Bandung, yang saat itu dijabat almarhum Brigjen Pol (Purn) Toni Sugiarto (ayah Wali Kota Bogor, Bima Arya).

Mat Peci licin seperti belut. Ia selalu berhasil meloloskan diri dari pengintaian dan pengejaran aparat. Ia tak pernah tinggal di sebuah rumah atau kontrakan, melainkan di sebuah kamar di kawasan pelacuran di Cicadas.

Di tempat inilah Mat Peci bertemu dengan mantan kekasihnya Euis, yang ternyata kabur dari kampungnya dan masuk dunia pelacuran.  Cinta keduanya kembali bersemi di lembah hitam itu. Keduanya bercita-cita menikah.

Di tengah pelariannya, Mat Peci membawa Euis bertamasya ke Danau Cangkuang, Garut. Mereka yang tengah dimabuk cinta itu naik rakit (lalayaran) menyeberang danau menuju Candi Cangkuang. Di tempat itulah mereka berjanji akan menikah.

Mereka seakan lupa akan adanya mitos larangan bagi sepasang kekasih untuk tidak menyeberang naik rakit menuju Candi Cangkuang. Bila mitos itu dilanggar, hubungan percintaan mereka akan putus begitu saja. Benar atau tidaknya, yang jelas, begitu Mat Peci dan Euis kembali ke Cicadas, polisi yang menyamar sudah mengintainya.

Merasa posisinya sudah terendus, Mat Peci terpaksa meninggalkan Euis. Mat Peci melarikan diri dari pengejaran aparat menuju kampung halamannya di Leuwigoong. Dari Cicadas, Mat Peci berganti-ganti naik kendaraan umum. Namun, sesampainya di Jalan Kadungora, Leles, Garut, terlihat polisi tengah melakukan razia.

Karena takut tertangkap, Mat Peci turun dan melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Leles. Dari stasiun itu ia naik kereta api menuju Stasiun Leuwigoong di Desa Sindangsari. Selama di dalam kereta api, Mat Peci selalu menutupi wajahnya dengan topi agar tak dikenali orang. Sebab, saat itu pihak kepolisian sudah menyebar selebaran tentang dirinya sebagai buron.

Mat Peci mulai panik ketika kondektur memeriksa tiket para penumpang kereta api. Karena tak punya karcis dan takut ketahuan, Mat Peci loncat ke luar dari kereta sebelum sampai Stasiun Leuwigoong. Kakinya mengalami luka-luka. Terseok-seok, Mat Peci meneruskan perjalanan menyusuri rel kereta api dan pematang sawah agar tak diketahui masyarakat.

Danau Situs Candi Cangkuang, Garut.
Foto : Brigida Emi Lilia/detikTravel

Tapi nahas, di dalam perjalanannya, ia berpapasan dengan warga yang sudah tahu identitasnya karena melihat selebaran. Warga itu langsung melaporkan kepada aparat desa. Saat itu seorang anggota Banpol (Bantuan Polisi) bernama Entik diperintahkan mengambil senjata Carl Gustav CG-45. Entik bersama polisi Sersan Bana mencari dan mengintai keberadaan Mat Peci di kampung itu.

Mat Peci yang tengah kesakitan di kakinya terlihat tengah menerawang di luar pojokan Stasiun Leuwigoong yang sepi. Ia mengingat wajah kekasihnya Euis yang ditinggalkannya. Ia tak menyadari saat itu Bana dan Entik tengah mengendap-endap mendekati stasiun.

Setelah Bana dan Entik memastikan targetnya itu Mat Peci sesuai selebaran yang dipegangnya, dengan aba-aba, Bana dan Entik menyergap Mat Peci yang terkesiap. Mat Peci langsung mencabut pistol dari balik jaketnya. Tapi, sebelum pistolnya menyalak,  timah panas dari senjata jenis Carl Gustav yang ditembakkan Entik sudah menghujani tubuh Mat Peci.

Mat Peci seketika ambruk bersimbah darah dan tewas tak jauh dari Stasiun Leuwigoong pada 4 Februari 1978. Bana dan Entik langsung melaporkan penangkapan itu ke Polsek Leuwigoong. Tak lama, tim khusus Polrestabes Bandung datang dan membawa jasad Mat Peci. Setelah itu, pihak keluarga menguburkan Mat Peci di TPU Sinaraga, Jalan Pajajaran, Kota Bandung.

Inilah kisah dari jalanan/ Tentang seorang pemuda terpandang/ Cinta tak direstui, dia tetapkan hati/ Pergi merantau unjukkan diri/ Pergi ke kota menjadi mafia/ Dengan ilmu yang dimilikinya/ Perintah tembak mati, tak lama menghampiri/Untuk sang buron paling dicari..”

Itulah beberapa bait lagu yang mengisahkan perjalanan hidup begal legendaris berjudul ‘Mat Peci’ yang dinyanyikan grup band Bendi Harmoni yang beraliran folk steady/Jamaican sound dalam album 'Kusir Kobam' yang dirilis pada 2019.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE