CrimeStory

Misteri Dalang Pembunuhan Peragawati Ditje Budiarsih

Peragawati Ditje Budiarsih ditemukan tewas tertembus lima peluru. Dalang pembunuhan itu menyimpan misteri hingga sekarang, walau polisi dan pengadilan telah menetapkan Pak De sebagai pelaku pembunuhnya.

Foto: Perpustakaan Nasional

Kamis, 27 Januari 2022

Sebagian kalangan generasi X atau yang lahir sebelum 1980-an di Indonesia mungkin masih menyimpan ingatan tentang kasus kematian Ditje Budiarsih yang terjadi pada 36 tahun silam. Ditje atau Dice ditemukan tewas dengan luka tembak di dalam mobil sedannya, Honda Accord warna putih bernomor polisi B-1911-ZW, Senin, 8 September 1986.

Perempuan cantik asal Bandung itu tak lain adalah peragawati dan fotomodel era 1970 hingga 1980. Mobilnya ditemukan warga tengah terparkir di pinggir Jalan Dupa, Kalibata, Pancoran, Jakarta Selatan, sekitar pukul 22.00 WIB. Kawasan yang kini menjadi kompleks perumahan Dewan Perwakilan Rakyat itu dulu merupakan kebun karet.

Warga terkejut mengetahui ternyata di dalam mobil itu terbujur kaku sosok perempuan yang belum dikenal identitasnya. Polisi datang ke lokasi menemukan lima luka tembakan senjata api di tubuhnya. Luka tembak itu terdapat di belakang telinga kanan, dada, pundak, ketiak kanan, dan punggung kanannya. Tak lama polisi menemukan identitas korban, yang tak lain adalah pemenang kontes Ratu Kebaya dan Ratu Kacamata pada 1977.

Ditje Budiarsih, model Ratu Kacamata pada 1977

Foto: dok. Perpustakaan Nasional

Dari hasil autopsi yang dilakukan ahli forensik Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta, dr Abdul Mun’im Idries, ditemukan lima peluru yang bersarang di tubuh Ditje. Tiga dari lima peluru itu masih utuh. Tiga peluru itu berasal dari pistol jenis Smith Wesson Master Piece (SNW) berkaliber 22 mm Long Rifle. Pelor-pelor itu meninggalkan luka sedalam 6 milimeter. Sedangkan dua proyektil lainnya hancur.

Yang benar, Pak? Masa orang pakai helm, begitu ketemu, langsung bisa dikenali? Hilangkan yang ini, ganti bahwa orang tadi melihat seseorang berdiri di samping Vespa.”

Siapakah pelakunya? Dikutip dari buku Indonesia X-Files: Mengungkap Fakta dari Kematian Bung Karno sampai Kematian Munir karya Mun’im Idries (2013), polisi menetapkan Mohamad Siradjudin alias Pak De atau Romo sebagai pembunuhnya. Warga Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, itu sebelumnya juga menghadapi tuduhan pembunuhan Endang Sukitri, pemilik toko bangunan di Depok, Jawa Barat.

Menurut polisi, Ditje telah menitipkan uang sebesar Rp 10 juta kepada Pak De,  yang merupakan dukun. Duit itu sedianya bakal disulap menjadi ratusan juta rupiah seperti dijanjikan Pak De, yang merupakan pensiunan tentara dengan pangkat terakhir pembantu letnan satu (peltu). Tapi, karena uang tersebut habis untuk kebutuhan hidup, Pak De nekat menghabisi nyawa Ditje.

Seperti mimpi buruk yang jadi kenyataan, akhirnya Pak De duduk di kursi pesakitan dalam persidangan di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Pak De membantah membunuh Ditje seperti tercantum dalam BAP (berita acara pemeriksaan) yang dibuat polisi. Pengakuan itu, menurut Pak De, dibuat karena tak tahan disiksa polisi.

Ketika itu, Pak De mengajukan alibi bahwa Senin malam, ketika pembunuhan itu terjadi, dia berada di rumah bersama sejumlah rekannya. Saksi-saksi yang meringankan untuk memperkuat alibi saat itu juga dihadirkan di pengadilan. Namun saksi dan alibi yang meringankan itu tak dihiraukan majelis hakim.

Akhirnya majelis hakim yang diketuai Reni Retnowati menjatuhkan vonis penjara seumur hidup kepada Pak De karena dianggap bersalah melakukan tindak pidana pembunuhan berencana. Karena merasa tak bersalah, Pak De mengajukan banding sambil tetap menjalani hukuman di Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Jakarta Timur.

Lokasi ditemukan mobil dan mayat Ditje Budiarsih di Kalibata, Jakarta Selatan, 8 September 1986.
Foto: Ali Said/Tempo

Namun upaya banding itu kandas setelah Pengadilan Tinggi DKI Jakarta justru menguatkan putusan sebelumnya. Tak menyerah, Pak De kemudian mengajukan kasasi agar putusan dua pengadilan sebelumnya dibatalkan. Namun lagi-lagi nasib baik belum berpihak. Majelis hakim kasasi yang diketuai Adi Andojo Sutjipto pada 23 Maret 1998 menolak permohonan itu.

“Menurut analisa saya, dalam kasus Ditje terjadi tarik-menarik dua kepentingan antara Polda Metro Jaya dengan Polda Jawa Barat,” kata Mun’im Idries dalam bukunya tersebut.

Sebagaimana disebutkan sebelumnya, Pak De juga dituduh terlibat kasus pembunuhan Endang Sukitri, pemilik toko bangunan di Depok. Menurut Mun’im Idries, seharusnya polisi menyelesaikan dahulu kasus pertama itu terlebih dahulu. “Seharusnya diselesaikan kasus pertama ini, baru kasus kedua (kasus Ditje), tapi ternyata tidak demikian,” terang Mun’im.

Polisi saat itu mendahulukan kasus Ditje dengan tersangka Pak De karena kasus pembunuhan tersebut disebut-sebut menyangkut nama-nama besar yang tak boleh disentuh. Di antaranya ada pejabat tinggi di Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI atau sekarang TNI AU), pengusaha ternama, dan satu lagi diisukan sebagai kerabat Presiden. “Jadi kasus ini diselesaikan dengan cara seperti itu,” ungkap pakar forensik kondang Indonesia yang telah meninggal pada 27 September 2013 itu.

Yang menjadi kejanggalan lainnya  adalah terkait pengakuan salah seorang saksi yang melihat Pak De berdiri di sebelah motor Vespa-nya mengenakan helm waktu sore menjelang Magrib. Saksi itu merasa yakin mengenali tersangka.

“Yang benar, Pak? Masa orang pakai helm, begitu ketemu, langsung bisa dikenali? Hilangkan yang ini, ganti bahwa orang tadi melihat seseorang berdiri di samping Vespa,” ujar Mun’im Idries seraya mengulang kembali saat diminta koordinasi pihak kejaksaan.

Mohammad Siradjudin alias Pak De alias Romo di sidang kasus pembunuhan Ditje di PN Jakarta Selatan pada 1987.
Foto: Perpustakaan Nasional

Mun’im Idries juga sempat diminta melakukan forensik terhadap jasad korban Endang Sukitri. Ia diminta meneliti kapak dan rambut korban. Ia menemukan fakta bahwa korban mengalami luka yang tak sesuai dengan alat bukti, yaitu kapak. Ia juga diminta menguji forensik rambut yang terdapat dalam kapak. Tapi keluarga korban tak mengizinkan penggalian kuburan korban.

“Niat itu tidak dilaksanakan. Akhirnya saya menyarankan untuk mencari barang-barang pribadi korban. Dari situ dikembangkan. Singkat kata, kasus ini diselesaikan dengan tetap membiarkan dalangnya menjadi pertanyaan historis,” pungkas Mun’im.


Penulis: M. Rizal Maslan
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Luthfy Syahban

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE