Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 29 September 2026Setelah 11 hari sempat simpang siur, Polda Banten akhirnya mengumumkan ada kecocokan DNA antara jenazah yang ditemukan di Pulau Enggano dan Surakman—salah satu awak kapal yang ikut dalam rombongan kapal jurnalis ke Gunung Anak Krakatau. Bagi keluarga jurnalis dan dua awak kapal lainnya, temuan ini seolah memberikan asa baru bahwa mereka yang hilang akan segera ditemukan.
“Pastinya saya dan keluarga selalu berharap suami saya pulang dan bisa ditemukan dalam keadaan apa pun,” kata Evi, istri Heriyanto alias Bonsai, salah satu awak kapal yang ikut dalam rombongan jurnalis, kepada detikX pekan lalu.
Evi berharap temuan jenazah Surakman di pulau yang berjarak sekitar 350 kilometer dari titik diduga lokasi hilangnya lima jurnalis dan tiga awak kapal itu bisa menjadi awal baru bagi proses pencarian sisa tujuh orang lainnya. Meski Basarnas telah secara resmi mengakhiri proses pencarian pada Kamis, 17 September 2026, Evi meminta agar proses pencarian kembali dilakukan setelah penemuan Surakman.
“Saya memohon dan meminta pencarian terus dilanjut dan dilakukan di area Pulau Enggano dan Lampung,” katanya dengan sedikit sesak.
Hal yang sama disampaikan Mansur, ayah fotografer Antara Muhammad Bagus Khoirunnas. Sebagai anak semata wayang, Bagus masih selalu dinanti kepulangannya oleh Mansur. Begitu juga oleh istri dan anak-anak Bagus di rumah.
Dia berharap, apa pun yang terjadi, Bagus bisa segera ditemukan. Karena itu, Mansur memohon agar Basarnas kembali membuka proses pencairan mereka yang hilang.
“Karena sudah ada titik terang, kami berharap operasi pencarian dilanjutkan lagi,” ungkap Mansur.

Keluarga jurnalis yang hilang di Gunung Anak Krakatau menggelar salat gaib.
Foto : Lisye Sri Rahayu
Harapan yang sama disampaikan oleh keluarga korban lainnya, termasuk keluarga Arie Basuki, Yudistiro Pranoto, Firman Daus, Donal, dan Warta. Semua berharap agar proses pencarian kembali dilakukan untuk, paling tidak, mereka yang hilang bisa ditemukan, bagaimanapun keadaannya.
Sayangnya, meski asa itu kini semakin terang, belum ada tanda-tanda dari Basarnas ataupun kepolisian untuk kembali membuka proses pencarian intensif. Kepala Basarnas Banten Al Amrad mengatakan pihaknya telah mengupayakan sebaik-baiknya pencarian selama 10 hari pada 8-12 September lalu.
Selama itu pula, sebanyak 18 kapal atau alat utama sistem SAR telah dikerahkan untuk melakukan pencarian di hampir setiap sudut perairan Selat Sunda. Pencarian dibagi ke dalam empat sektor hingga mengarah ke Tanjung Belimbing. Sejumlah pulau terdekat dengan Gunung Anak Krakatau juga telah disisir, termasuk Pulau Krakatau Besar, Pulau Panjang, Pulau Sertung, dan Pulau Sebesi.
Dalam proses pencarian ini, Basarnas juga menggandeng unsur-unsur lain dari Angkatan Laut, Polair, kantor kesyahbandaran dan otoritas pelabuhan, hingga masyarakat sekitar. Tim dari SAR Banten hingga SAR Lampung pun dikerahkan untuk menyisir wilayah perairan Lampung dan Banten.
Sembari terus melakukan pencarian di laut, helikopter juga dikerahkan untuk menyisir sisi timur hingga barat Gunung Anak Krakatau. Namun, meski sudah ditambah tiga hari masa pencarian atas permintaan keluarga korban, Basarnas nyaris tidak mendapatkan petunjuk apa pun terkait dengan keberadaan mereka yang hilang.
Temuan-temuan jeriken dan jaket keselamatan di sejumlah titik perairan selama proses pencarian tidak identik dengan barang-barang yang ada di kapal Arupadhatu 1, yang membawa lima jurnalis dan tiga ABK. Proses pencarian pun berakhir nihil pada 18 September 2026.
Baca Juga : Setelah 12 Hari Hilang di Lautan
Saat ini, setelah adanya temuan jenazah Surakman, Basarnas masih belum memberikan sinyal untuk proses pencarian ulang. Meski begitu, kata Al Amrad, proses pemantauan tetap dilakukan bersama-sama dengan Kantor SAR Bengkulu dan Lampung. Barangkali, katanya, akan ada informasi tambahan dari nelayan sekitar.
"Hingga saat ini Bengkulu masih melaksanakan koordinasi dan itu nihil, termasuk yang di wilayah Lebak," ujarnya pada Rabu, 24 September lalu.
Staf Humas Kantor SAR Bengkulu Mega Maysilva mengatakan, setelah penemuan jenazah di Pulau Enggano pada 12 September 2026, tim SAR Bengkulu sempat menerjunkan rigid inflatable boat (RIB), rigid buoyant boat (RBB), dan perahu karet untuk menyusuri sejumlah titik di perairan Bengkulu. Namun, sampai tenggat proses pencarian berakhir, SAR Bengkulu tidak menemukan tanda-tanda apa pun terkait keberadaan tujuh korban lainnya.
Saat ini, setelah DNA jenazah tersebut dipastikan milik Surakman, SAR Bengkulu kembali datang ke Pulau Enggano untuk melakukan pemantauan dan pemetaan. Informasi telah disebar ke nelayan dan warga sekitar, termasuk TNI dan Polri, untuk segera mengabarkan kepada SAR Bengkulu jika melihat atau menemukan benda-benda yang diduga milik kapal Arupadhatu 1 kepada Basarnas.
Mega mengatakan proses pemantauan ini dilakukan tanpa batas waktu tertentu. Kapan pun, katanya, ada laporan terkait temuan benda yang diduga milik kapal Arupadhatu 1, pihak SAR akan menindaklanjutinya.
“Informasi ada puing-puing atau benda-benda atau menemukan mayat lagi, kami akan tindak lanjuti lagi bagaimana tindakan kami selanjutnya,” pungkas Mega.
Baca Juga : Mereka yang Masih Hilang dan Diharapkan Pulang

Konferensi pers terkait identifikasi jenazah rombongan jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Foto : Arief Ikhsanudin/detikcom
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi, Melanie Hotarina Margaret Sihotang (magang)
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim