Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 24 Agustus 2026Empat hari sebelum meninggal, Sutrimo berjaga di depan rumah eks Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Febrie Adriansyah di Jalan Radio I Nomor 15, Kramat Pela, Jakarta Selatan.
“Nyong ditugasi kon ngawasi mbok ana media apa intel,” tulis Sutrimo kepada kerabatnya melalui WhatsApp pada Minggu, 19 Juli 2026, yang diterima detikX.
Ia ditugasi mengawasi bila ada jurnalis atau intel yang datang. Pada malam itu, Sutrimo mengirim foto dirinya duduk di depan sebuah meja di trotoar, persis di seberang rumah Febrie Adriansyah.
Sutrimo menuturkan mengenal lama rumah mewah tersebut. Ia bercerita dirinya ikut membangunnya. Mantan istrinya, kata dia, pernah pula datang ke sana.
Penjagaan berlanjut keesokan harinya. Pada 20 Juli pukul 15.30 WIB, Sutrimo kembali mengabarkan dirinya sedang berjaga. Lewat tengah malam, pada 21 Juli pukul 01.52 WIB, ia masih berada di sana.
Sekitar satu setengah jam kemudian, pukul 03.36 WIB, Sutrimo mengirim foto lagi dari tempat penjagaan.
“Penjaga. Ada wong 15-an. Pada turu. Nyong wis turu mau rong jam-an,” tulisnya.
Kepada kerabatnya, ia mengatakan sejak sore hanya tidur sekitar dua jam. Ada sekitar 15 orang yang ikut berjaga. Saat itu, kata Sutrimo, mereka sedang tidur. Ia masih terjaga.
Pagi harinya, pukul 08.00 WIB, Sutrimo mengirim foto dua botol parfum yang disebutnya pemberian ajudan Febrie Adriansyah, yang diduga adalah karyawan Kejaksaan Agung, Febrio Adiono. Malamnya, sekitar pukul 20.05 WIB, ia kembali mengirim foto makanan. Ada soto Kudus, perkedel, telur asin, dan es jeruk yang, menurut keterangannya, dibelikan ajudan.
Dalam percakapan-percakapan itu, Sutrimo tidak mengeluhkan atau mengabarkan ada masalah kesehatan. Pada 22 Juli, ia lebih banyak berbicara tentang keluarga. Dia justru sangat rutin bertanya kabar bayi dari kerabatnya yang sedang sakit.
Dini hari, pukul 02.50 WIB pada 23 Juli, Sutrimo mengirim foto ayam goreng dan nasi disertai pesan. Sejam lebih kemudian, pada pukul 04.00 WIB, sebuah foto lain masuk kembali dan menunjukkan tempat penjagaan.
Ada yang ganjil pada foto tersebut. Tidak ada teks yang menyertainya. Di bagian bawahnya tercantum keterangan waktu dan lokasi pengambilan gambar secara lengkap. Detail semacam itu tidak muncul pada foto-foto yang sebelumnya dikirim Sutrimo.
Perbedaan itu kemudian menjadi salah satu hal yang diperhatikan kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni.
“Cuma yang heran, Sutrimo itu kan tidak pernah pakai ini (stamp) lokasi. Kok yang jam empat, dia ngirim foto pakai lokasi. Itu aneh juga,” terang Aan kepada detikX melalui sambungan telepon.
Foto pukul 04.00 WIB itu menjadi pesan terakhir yang tercatat dari ponsel Sutrimo. Sekitar dua setengah jam kemudian, menurut kronologi yang ditulis Febrio Adiono dalam formulir di RS Muhammadiyah Taman Puring, Sutrimo mengeluh sakit dan meminta bantuan medis. Waktu yang tercatat adalah 06.37 WIB. detikX telah berupaya menghubungi Febrio melalui pesan singkat, tetapi hingga kini belum ada respons.
Kemudian pada pukul 09.00 WIB, Sutrimo ditemukan meninggal tergeletak dengan mulut mengeluarkan busa mengenai hidungnya di depan Klinik Mordent di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Jenazahnya kemudian dibawa pulang ke Banyumas, Jawa Tengah. Menurut Aan Rohaeni, ambulans berangkat dari Jakarta sekitar pukul 12.30 WIB. Jenazah baru tiba di rumah duka sekitar pukul 22.00 WIB. Sekitar sembilan jam lebih 30 menit. Jika merujuk Google Maps, waktu normal yang harusnya ditempuh menggunakan mobil biasa sekitar enam jam perjalanan.
Waktu tempuh itu belakangan menjadi salah satu hal yang dipertanyakan keluarga. Kepada keluarga, orang yang mengantar jenazah menyebut perjalanan terhambat macet. Padahal jenazah dibawa menggunakan ambulans.
Salah satu pengantar jenazah meninggalkan nomor telepon kepada keluarga. Ia disebut bernama Ahmad Machmud. Ialah yang menyerahkan uang Rp 20 juta kepada keluarga Sutrimo dan memberikan nomor teleponnya.
Ada hal lain yang membuat keluarga mulai bertanya-tanya. Barang-barang pribadi Sutrimo, termasuk telepon selulernya, tidak ikut dibawa. Menurut Aan, keluarga mendapat penjelasan barang-barang itu akan disusulkan keesokan harinya.
Ketika keluarga mencoba menghubungi Machmud, nomor tersebut kemudian tidak lagi aktif. Telepon milik Sutrimo juga tidak bisa dihubungi. detikX juga telah berupaya membuka komunikasi dengan nomor Machmud, tetapi belum ada respons.
“Jadi kan pada bingung. Jadi kan orang curiga. Mulai curiga itu, terus lihat berita dan lain-lain,” kata Aan.
Sejumlah tag di GetContact mengaitkan nomor tersebut dengan lebih dari 200 tanda pagar. Beberapa pengguna menyimpan nomor Machmud dengan nama yang mencantumkan identitas TNI, antara lain “Mahmud Babinsa” dan “Serma Mahmud Koramil Kembangan Jabar”.
detikX kemudian mengonfirmasi status Machmud kepada Kepala Pusat Penerangan TNI Brigadir Jenderal Muhammad Nas. Ia membenarkan bahwa Machmud pernah menjadi anggota TNI Angkatan Darat, tetapi kini sudah pensiun.
“Sudah pernah saya konfirmasi dan Dispenad juga sudah rilis bahwa yang bersangkutan sudah pensiun dari dinas TNI AD,” kata Muhammad Nas melalui pesan singkat kepada detikX.
Baca Juga : Jejak Kematian Sutrimo di Klinik Kecantikan
Berdasarkan informasi yang didapatkan detikX dari Kepala Dinas Penerangan TNI AD Kolonel (Inf) Donny Pramono, aktivitas Machmud setelah pensiun tidak lagi menjadi tanggung jawab TNI Angkatan Darat.
Machmud memang merupakan purnawirawan TNI, yang pensiun pada 31 Juli 2024. Setelah pensiun, ia bekerja sebagai tenaga keamanan di lingkungan Kejaksaan Agung.
Pada 23 Juli 2026, Machmud disebut mendapat arahan dari danru untuk menuju RS Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Di rumah sakit, ia bertemu seorang ajudan dan diminta membantu mengantar jenazah Sutrimo ke rumah duka di Desa Wangon, Banyumas. Machmud membawa berkas serta uang santunan untuk diserahkan kepada keluarga.
Setelah menyerahkan santunan, Machmud kembali ke Jakarta pada 24 Juli.
“AM (Ahmad Machmud) sudah pensiun dari dinas militer dan saat ini berstatus sebagai warga sipil,” kata Donny yang merujuk rilis Dandim 0503/Jakarta Barat.
Perintah Pulang ke Jakarta
Sutrimo sempat pulang ke Banyumas atas inisiatif sendiri. Beberapa hari kemudian, ia diminta kembali ke Jakarta, itulah setidaknya yang dituturkan orang-orang di sekitarnya. Kuasa hukum keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni, memperkirakan kepulangannya kampung terjadi sekitar 10 Juli.
“Pulang inisiatif sendiri, makanya dia nggak bawa baju, nggak bawa uang,” kata Aan kepada detikX.
Dari cerita Sutrimo kepada keluarga, setelah pulang ke Banyumas, pada 15 Juli 2026, Sutrimo mendapat telepon dari Febrie Adriansyah. Ia diminta kembali ke Jakarta diduga oleh Febrie Adriansyah.
“Aku lagi ada masalah, kamu malah pergi. Bapak mau cerita sama siapa? Kamu pulang sekarang,” kata Aan, mengutip ucapan yang diceritakan keluarga Sutrimo kepadanya.
Tiket perjalanan ke Jakarta kemudian dibelikan, karena Sutrimo sempat mengatakan tidak punya uang untuk menuju stasiun.
Menurut Aan, Sutrimo berangkat dari Stasiun Purwokerto dan turun di Stasiun Pasar Senen. Keberangkatannya dianggap buru-buru. Telepon itu disebut diterima sekitar pukul 14.00 WIB. Sekitar setengah jam kemudian, Sutrimo sudah harus berada di Stasiun Purwokerto.
“Kasarnya gini, bukan bertanya, tapi perintah pulang,” kata Aan.
Dalam cerita yang disampaikan Sutrimo, ada pula orang yang akan menemaninya dalam perjalanan ke Jakarta. Namun Sutrimo tidak menyebutkan siapa orang tersebut kepada keluarga.
Baca Juga : Merangkai Puzzle Kematian Sutrimo

Potret Kuasa Hukum Keluarga Sutrimo, Aan Rohaeni bersama kakak tiri Sutrimo, Tukim.
Foto : Anang Firmansyah/detikJateng
“Nah, itu yang kita tidak tahu. Kalau ceritanya Trimo begitu,” ujar Aan.
Berdasarkan cerita ihwal kepulangan itu juga menunjukkan bahwa Sutrimo selama ini diduga kerap berkomunikasi langsung dengan Febrie Adriansyah. Menurut Aan, hubungan kerja keduanya sudah berlangsung sejak sekitar 2008.
Sutrimo sempat pulang ke Banyumas selama pandemi COVID-19. Dua tahun kemudian, ia kembali dipanggil ke Jakarta.
Di mata keluarga, Sutrimo merupakan orang kepercayaan Febrie Adriansyah. Pekerjaannya bermacam-macam. Ia pernah diminta mengawasi proyek di Jambi. Untuk urusan rumah, ia mencari tukang, mengurus kebutuhan mereka, hingga membeli barang yang diperlukan.
“Pak Sutrimo itu karena orang baik, orang yang dipercaya, paling jujurlah, memang orang kepercayaan Pak FA,” ungkap Aan.
Menurut cerita mantan istri Sutrimo kepada keluarga, ia juga pernah tinggal di rumah FA. Berbagai urusan rumah melewati dirinya. Jika sopir tidak masuk, misalnya, Sutrimolah yang lebih dulu menerima laporan. Begitu pula ketika ada kebutuhan rumah yang harus dibeli.
Mantan istrinya, kata Aan, pernah datang ke rumah FA dan bertemu langsung dengan FA dan istrinya.
Keterangan itu berbeda dengan penjelasan anggota tim advokat Febrie Adriansyah, Firman Wijaya. Ia menyebut Sutrimo bukan karumga, melainkan ditugaskan menjaga rumah kosong.
"Jadi posisi almarhum bukan sebagai karumga seperti yang banyak disampaikan, namun lebih ke menjaga rumah yang kosong dan tinggal di sana," ujar Firman dalam keterangannya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Rumah yang disebut kosong itu, menurut Firman, adalah Klinik Mordent di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Tempat Sutrimo ditemukan meninggal.
detikX menghubungi Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto dan Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Iman Imanuddin untuk meminta penjelasan mengenai sejumlah kejanggalan dalam kronologi kematian Sutrimo. Keduanya belum merespons pesan maupun telepon hingga tulisan ini diterbitkan.
Kasus kematian Sutrimo kini telah masuk tahap penyidikan. Polisi telah memeriksa 27 saksi, tapi belum menetapkan tersangka. Hasil pemeriksaan forensik masih ditunggu untuk memastikan penyebab kematian Sutrimo.
Reporter: Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi, Melanie Hotarina Margaret Sihotang (magang)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim