SPOTLIGHT

Cinta Berbalas Siksa, Kisah Kekerasan Ekstrem Taufik Hidayat

detikX menelusuri jejak kejahatan Taufik Hidayat melalui orang-orang terdekat korban dan dokumen hukum. Taufik melakukan penganiayaan akut terhadap beberapa perempuan dan menyebarkan ancaman pembunuhan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 29 Juni 2026

Dinda—bukan nama sebenarnya—adalah teman dekat YTR, korban perampasan harta, penyekapan, penculikan, dan penganiayaan berat oleh Taufik Hidayat. Suatu kali pada 2024, Dinda bertanya ke korban, mengapa kacamatanya rusak sebelah. Ternyata akibat tindak kekerasan oleh Taufik Hidayat.

"Aku ditampar. Tampar kenceng banget sampai telinga aku berdengung. Astagfirullahalazim. Aku bingung, Teh, aku mau minta tolong siapa," terang Dinda kepada detikX, menirukan penjelasan korban kala itu.

Korban juga mengaku takut melarikan diri karena khawatir keluarganya akan menjadi sasaran.

"Dia (Taufik Hidayat) tuh temperamen banget. Aku takut, kalau misalkan aku kabur sekarang, dia dateng ke rumah, dia ngapa-ngapain orang tuaku," penuturan korban kepada Dinda.

YTR dikenal sebagai sosok yang rajin bekerja, mudah bergaul, dan nggak neko-neko. Namun, kata Dinda, semua itu berubah sejak Juni 2024. Awalnya YTR tidak masuk kerja dengan alasan sakit. Pada hari yang sama, rekan-rekannya mendapati YTR mengunggah status WhatsApp dan mengganti foto profil bersama seorang laki-laki. Belakangan, laki-laki itu diketahui bernama Taufik Hidayat.

Unggahan tersebut mengejutkan rekan-rekan kerjanya karena selama ini YTR tak pernah membagikan kehidupan pribadinya di media sosial. Keesokan harinya, ia kembali absen dengan alasan kacamatanya rusak. Sejak saat itu, menurut Dinda, YTR mulai sering meninggalkan pekerjaan dan beberapa kali tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas.

Tak lama kemudian, beredar cerita di lingkungan kantor bahwa Taufik Hidayat, yang mengaku sebagai pacar YTR, sempat marah-marah, bahkan mengancam manajer. Kemarahan itu disebut dipicu rasa cemburu karena YTR sering lembur.

"Ternyata pacarnya itu ngamuk-ngamuk ke manajer, kenapa sih harus lembur terus. Marah-marah, temperamen kelihatan sampai ngancem-ngancem," ujar Dinda.

Setelah kejadian itu, kata Dinda, manajer meminta seluruh karyawan untuk sementara tidak menghubungi YTR.

Beberapa waktu kemudian, YTR kembali masuk kantor. Namun hari itu ia datang terlambat, sesuatu yang tak biasa bagi rekan-rekannya. Di tengah jam kerja, saat Dinda keluar dari kamar mandi, ia terkejut melihat YTR sudah berdiri menunggunya di depan pintu.

"Dia langsung peluk saya gitu. Terus, dia nangis," tuturnya.

Setelah korban mulai tenang, Dinda mencoba bertanya apa yang sebenarnya terjadi.

"Teh, aku bingung ceritanya harus dari mana," ucap Dinda menirukan perkataan korban saat itu.

Petugas menggiring tersangka kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan berat Taufik Hidayat (tengah) setibanya di Polda Jabar, Bandung, Jawa Barat, Selasa (23/6/2026). 
Foto : Raisan Al Farisi/Antarafoto

Menurut Dinda, saat itulah YTR mulai menceritakan apa yang dialaminya sejak menjalin hubungan dengan Taufik Hidayat. Saat ditanya soal unggahan WhatsApp yang sempat menghebohkan kantor, korban mengatakan bukan dirinya yang mengunggah.

"Dia (yang unggah). HP aku tuh udah diambil sama dia (Taufik Hidayat). Pokoknya HP aku udah diambil. Yang up story, ubah profil WhatsApp itu dia," penuturan korban kepada Dinda.

Korban juga mengaku sepeda motornya telah diambil.

"Makanya tadi aku berangkat kerja telat. Terus kemarin-kemarin aku nggak masuk kerja," lanjut korban.

Tak hanya itu, korban mengaku seluruh harta bendanya juga dirampas.

"Teh, emas aku udah diambil. Uang aku udah diambil, uang cash. Terus ATM aku udah disabotase semua," keluh korban.

Dinda juga mengatakan telepon seluler korban sempat diganti oleh pelaku sebelum YTR menghilang. Ponsel yang sebelumnya merupakan iPhone 11 diganti menjadi gawai Android. Lalu saat ditanya mengenai alasan kacamatanya rusak, korban mengaku baru saja mengalami kekerasan.

Beberapa waktu setelah pertemuan itu, YTR mengajukan pengunduran diri dari pekerjaannya. Berdasarkan informasi yang diterima Dinda, surat pengunduran diri tersebut dikirim oleh Taufik Hidayat, bukan oleh korban secara langsung.

Sebelum benar-benar menghilang, YTR sempat meminta bantuan Dinda membuat skenario seolah-olah ia memiliki utang Rp 10 juta yang akan dicicil Rp 2 juta setiap bulan. Menurut Dinda, tujuan skenario itu adalah agar korban memiliki alasan untuk rutin mentransfer sebagian gajinya sehingga uang tersebut tidak seluruhnya dikuasai pelaku.

Namun, saat skenario itu dijalankan pada bulan pertama, Dinda mengaku hanya menerima transfer sebesar Rp 500 ribu. Setelah itu, tak ada lagi kabar dari korban. Dinda menduga rencana tersebut gagal karena ulah pelaku. Namun, sampai kini, ia mengaku masih menyimpan uang tersebut.

Beberapa waktu kemudian, Dinda justru berkali-kali menerima pesan dari nomor telepon yang berbeda-beda yang mengatasnamakan korban untuk meminjam uang. Ia tidak pernah mengirimkan uang karena merasa bahasa yang digunakan pengirim pesan berbeda dari kebiasaan korban. Dinda juga mengingatkan rekan-rekan kerjanya agar tidak mengirim uang apabila menerima permintaan serupa.

Sejak Juni 2024, Dinda tak pernah lagi bertemu dengan YTR. Beberapa bulan kemudian, kakak korban datang ke kantor untuk mencari keberadaannya. Menurut Dinda, keluarga juga sempat mendatangi tempat kos YTR di kawasan Pasteur, Bandung. Namun yang ditemukan hanya barang-barang milik korban.

Kepada detikX, Dinda menunjukkan bahwa komunikasi terakhirnya dengan YTR melalui WhatsApp terjadi pada Juni 2024 dan hanya membahas pekerjaan. Terkait upaya hukum, Dinda mengaku sempat menyarankan YTR untuk melapor ke polisi. Namun ia tidak mengetahui apakah saran tersebut pernah dijalankan.

Selain mulai menculik korban, pada periode yang sama, Taufik Hidayat rutin meneror rekan-rekan YTR. Salah satunya adalah Nabil—bukan nama sebenarnya—rekan kerja korban di perusahaan yang sama. Kepada detikX, ia menceritakan dirinya juga pernah menerima ancaman kekerasan fisik dan pembunuhan dari Taufik Hidayat ketika YTR masih aktif bekerja.

Menurut Nabil, ancaman itu berkaitan dengan jam kerja YTR yang kerap molor hingga malam. Hal itu disebut membuat pelaku cemburu. Ia menjelaskan kantornya memang memiliki jam kerja hingga pukul 16.00 WIB. Namun pekerjaan sering kali menumpuk dan harus diselesaikan pada hari yang sama sehingga banyak pekerja terpaksa lembur.

Nabil mengaku Taufik Hidayat beberapa kali meneleponnya. Bahkan, di panggilan telepon pertama, pelaku langsung marah-marah dan menebar ancaman tanpa memperkenalkan diri. Nabil mulanya juga tidak mengetahui identitas penelepon tersebut.

"Maneh jangan deketin si Yupi ya. Jangan aneh-aneh. Saya calonnya," kata Nabil menirukan ucapan Taufik.

Karena tidak tahu siapa yang menelepon, Nabil mengaku sempat tersulut emosi. Belakangan YTR memberi tahu bahwa orang yang menghubungi Nabil adalah pacarnya.

"Itu pacar saya yang kemarin. Jangan diladenilah. Dia soalnya nggak kayak yang lain (perilaku dan tabiatnya aneh)," kata Nabil menirukan penjelasan korban.

Setelah mengetahui identitas penelepon, Nabil mengatakan mencoba menenangkan situasi.

"Tenang, ini YTR nggak ada apa-apa sama saya, cuma sebatas teman kerja. Dan untuk urusan jam kerja, ya mau gimana, itu tuntutan."

Namun, menurut Nabil, telepon bernada ancaman itu tidak berhenti. Ia mengaku beberapa kali dihubungi, bahkan saat sedang rapat.

"Saya lagi meeting juga ditelepon. Beberapa kali," ujarnya.

Pesan yang diterima Nabil tidak hanya berupa larangan mendekati YTR, tetapi juga disertai ancaman kekerasan. Bahkan ia dan rekan-rekan lainnya diancam dibunuh oleh Taufik.

"(Diancam) dipukulin, pokoknya kekerasan, kekerasan sama ancaman dibunuh," ungkapnya.

Menurut Nabil, ancaman itu berlangsung sekitar dua hingga tiga minggu berturut-turut. Selain dirinya, sejumlah orang lain di kantor juga menerima ancaman. Setidaknya ada empat orang yang mengaku menjadi sasaran teror Taufik Hidayat, termasuk atasan Nabil dan YTR.

Nabil mengaku sejak awal dirinya dan beberapa rekan kerja sebenarnya sudah merasa ada yang tidak beres dengan hubungan pelaku dan korban. Perubahan mulai terlihat ketika motor Honda Beat warna biru milik YTR—yang biasanya digunakan untuk berangkat dan pulang kerja—diakuisisi oleh pelaku. Ada dugaan korban dikekang dan hanya boleh diantar jemput oleh pelaku. Selain itu, teman-temannya juga menduga korban mulai dipaksa tinggal di tempat indekos yang sama dengan pelaku.

Tampang Taufik Hidayat penganiaya berat YTR saat berbaju tahanan.
Foto : Dok. Istimewa

"Sebelum nelpon juga aku udah aneh. Aku sama teman-teman yang lain juga sudah ngasih (peringatan) hati-hati (sama si Taufik)," ucapnya.

Namun Nabil dan rekan-rekan lainnya mengaku gamang dan khawatir untuk ikut campur lebih jauh. Selain karena ancaman, ia pernah mendengar langsung dari YTR bahwa Taufik bekerja sebagai debt collector atau penagih utang dan anggota organisasi kemasyarakatan yang identik dengan kekerasan.

Setelah rangkaian ancaman itu, YTR mulai semakin jarang masuk kerja. Saat itu perusahaan sempat melakukan pemanggilan karena korban tidak lagi masuk bekerja. Namun tidak ada respons. Belakangan diketahui korban mengundurkan diri dari perusahaan. Menurut Nabil, hal yang juga terasa janggal adalah YTR tidak pernah mengurus dokumen administrasi setelah mengundurkan diri.

Bagi rekan-rekan sekantor, absennya korban dari pekerjaan kantor—yang relatif mendadak—dianggap sangat mencurigakan. Selama ini YTR dikenal rajin dan bertanggung jawab terhadap pekerjaan. Menurut Nabil, YTR adalah rekan kerja yang paling bisa diandalkan. Selain itu, korban juga dikenal rajin ibadah, di tengah pekerjaan, salatnya tak pernah putus.

"Dia tuh kerja buat adiknya, buat orang tuanya, kadang bantuin kakaknya juga," ucap Nabil.

Para Perempuan dan Korban Lainnya
Saat berusia 23 tahun, Taufik Hidayat bin Tata Salki divonis kurungan penjara 1 tahun 4 bulan. Dia melakukan penganiayaan terhadap NFW, pacarnya sendiri yang tinggal satu kamar kontrakan. Pada malam Rabu, 8 April 2020, Taufik pulang kerja. Dia tak terima NFW bermain gadget.

Tong nyoo HP wae (jangan bermain HP saja),” kata Taufik.

Korban menyahutinya, “Kuama aing we (terserah saya saja).”

Saat itu pula Taufik langsung merebut gadget di tangan korban dan membantingnya ke lantai. Ponsel itu pecah.

Taufik lalu memukuli korban bertubi-tubi di bagian muka dan lengannya. Berdasarkan hasil visum et repertum dari RSUD Cicalengka, korban mengalami memar di lengan kanan, lengan kiri, dan pipi kanan akibat kekerasan benda tumpul.

Dalam perkara itu, majelis hakim menemukan fakta persidangan, kekerasan yang dilakukan Taufik Hidayat dipicu rasa cemburu. Taufik Hidayat menuduh korban melakukan hubungan badan dengan laki-laki lain. Rekam jejak kekerasan yang dilakukan Taufik Hidayat ini tercantum dalam Putusan Pengadilan Negeri Bale Bandung Nomor 439/Pid.B/2020/PN Blb.

Jauh ke belakang, pada 2015 Taufik Hidayat sempat menikah. Namun usia pernikahan itu hanya berumur dua minggu. Taufik disebut berlaku kasar dan meninggalkan istrinya yang saat itu tengah hamil muda. Selain itu, Taufik sempat dikabarkan menganiaya ayahnya. Di kampungnya di Nagreg, Taufik disebut pernah memukul kepala ayahnya menggunakan balok kayu karena lapar dan tak menemukan makanan di rumah.

Pada 2026, saat mendiami tempat indekos terakhirnya di Cileunyi, Taufik juga sempat hendak menganiaya tetangganya. Musababnya sepele. Penghuni yang berprofesi sebagai guru tersebut dianggap tidak permisi saat lewat di depan Taufik. Taufik pun marah dan hendak memukul korban dengan batu. Untungnya, kejadian itu dapat dicegah oleh penjaga tempat kos. Akibat kejadian itu, korban memutuskan pindah dari tempat indekos yang sebetulnya telah ia huni selama empat tahun terakhir tersebut.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Yuga Hassani (detikJabar)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE