SPOTLIGHT

Habis Demonstrasi, Terbitlah Teror dan Intimidasi

Sejumlah teror dialami mahasiswa di beberapa kampus di Yogyakarta setelah melakukan demonstrasi. Mulai doksing, penguntitan, hingga intimidasi yang mengancam nyawa.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Senin, 22 Juni 2026

Gelombang demonstrasi ‘Merahkan Titik Nol’ yang digelar Aliansi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Bergerak pada Rabu, 17 Juni 2026, selesai dengan damai. Ribuan peserta aksi kembali ke kampus dengan tertib. Nyaris tidak ada yang janggal.

“Tidak ada peristiwa-peristiwa yang kacau, tidak ada konflik-konflik itu. Kami hanya sekadar orasi-orasi, menyampaikan pandangan politik daripada kawan-kawan semua,” ungkap Jamal—bukan nama sebenarnya—kepada detikX.

Situasi damai itu berubah menjadi ricuh setelah seorang laki-laki muda—berkaus hitam dengan tas selempang abu-abu—yang tak dikenal tampak menunjukkan gerak-gerik mencurigakan. Dia duduk di atas motornya tidak jauh dari pos keamanan kampus sembari memotret sejumlah mahasiswa yang baru saja pulang dari demonstrasi.

Beberapa mahasiswa menyadari kejanggalan itu dan mencoba menanyakan identitasnya. Namun dia malah lari tunggang-langgang tanpa memberikan jawaban.

Sejumlah mahasiswa berupaya mengejar. Sampai pada titik lelaki itu terjatuh dan dikepung. Dia lantas dibawa dengan aman ke ruang Rektorat UMY untuk diinterogasi.

Berulang kali lelaki itu mengelak untuk mengungkap identitasnya. Lelaki itu baru mau mengungkapkan identitasnya setelah sejumlah mahasiswa terus-menerus mendesaknya dan koordinator aksi memastikan absensi peserta aksi tidak mencatat namanya sebagai salah satu mahasiswa yang hadir dalam demonstrasi di Titik Nol Yogyakarta hari itu.

“Akhirnya dia mengakui bahwasanya dia adalah intel dari Polda (Daerah Istimewa Yogyakarta),” ungkap Jamal.

Meski begitu, lelaki itu tetap mengelak ketika ditanya tujuannya memotret peserta aksi dan menolak menunjukkan surat penugasannya. Dia hanya mengaku sedang dalam perjalanan pulang ke rumah setelah bertugas.

Kabid Humas Polda DIY, Kombes Ihsan, membenarkan pria yang menyusup ke kampus itu merupakan anggota kepolisian. Dia, kata Ihsan, merupakan petugas yang mendapat surat perintah resmi untuk pengamanan demonstrasi mahasiswa UMY. Semuanya telah diselesaikan secara damai dan lelaki itu sudah dijemput kembali ke Polda DIY pada malam yang sama.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pihak rektorat dan mahasiswa atas komunikasi dan koordinasi yang terjalin sangat baik sehingga kesalahpahaman ini dapat terselesaikan dengan baik, dan anggota kami telah kembali ke Polda," ungkap Ihsan, dinukil dari detikJogja pada Kamis, 18 Mei 2026.

Namun, setelah peristiwa malam itu, sejumlah mahasiswa UMY mengaku mendapatkan teror dari nomor tidak dikenal. Beberapa mendapatkan pesan singkat bernada ancaman dan intimidasi, baik melalui pesan WhatsApp maupun media sosial Instagram.

Salah satu akun Instagram peneror bernama Andre333. Setelah dicek, akun tersebut dibuat pada 2016 dan telah enam kali mengganti username. Di profilnya tertera tagar adt23nusantara dan tagar 4248. Dalam kolom pencarian Instagram, tagar itu merujuk pada komunitas angkatan alumni atau lichting sebuah satuan aparatus negara.

Teror yang sama juga dialami sejumlah mahasiswa Universitas Gadjah Mada. Ketua Umum Serikat Mahasiswa UGM (Sema UGM) Mesa mengungkapkan beberapa anggotanya mengalami teror pesan singkat dan telepon dari nomor tidak dikenal. Nomor-nomor itu mengirim pesan doksing dan spam yang mendiskreditkan pergerakan mahasiswa.

Serangan teror itu terjadi setelah sejumlah mahasiswa menggeruduk diskusi bertema ‘Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia’ yang digelar di Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) UGM pada Senin, 15 Juni lalu. Diskusi ini dihadiri tiga pejabat negara, yakni Menteri Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko.

Mesa menduga teror pesan singkat itu datang dari aparat negara. Sebab, sebelum serangan teror itu datang, Mesa mendapat informasi dari petugas bahwa Rektorat UGM sempat didatangi anggota Badan Intelijen Strategis (Bais). Mereka meminta rekaman CCTV kampus dan identitas sejumlah mahasiswa yang melakukan protes terhadap diskusi di GIK.

“Alhamdulillah-nya, di UGM sendiri, kampus cukup menjaga kami. Jadi juga mereka ngasih tahu kami sendiri juga untuk kami bersiaga gitu. Kiranya ada apa-apa, saling berkomunikasi satu sama lain untuk tahu kondisi satu sama lain juga,” ungkap Mesa melalui telepon kepada detikX.

Demo mahasiswa yang berlangsung di Titik Nol Km Kota Jogja, Rabu (17/6/2026). 
Foto : Adji G Rinepta/detikJogja

Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Tentara Nasional Indonesia (TNI) Brigjen Muhammad Nas mewanti-wanti masyarakat maupun pihak kampus agar tidak langsung percaya terhadap orang-orang yang mengaku sebagai anggota Bais. Boleh jadi itu merupakan upaya provokasi yang sengaja dilakukan pihak-pihak tertentu untuk memanaskan situasi.

“Kalau ada yang mengaku sebagai orang Bais, waspadai orang-orang yang mengaku dengan tujuan provokasi,” tulis Nas melalui pesan singkat kepada detikX.

Teror terhadap sikap kritis ini juga menyerang mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UGM Tiyo Ardianto, yang kerap mengkritik kebijakan pemerintah. Tiyo berulang kali mendapatkan teror, mulai ancaman berupa doksing, penguntitan, hingga pesan intimidasi yang mengancam keselamatan nyawa Tiyo dan kedua orang tuanya.

Terbaru, Tiyo mengaku sempat dikuntit setelah mengikuti demonstrasi Gejayan Memanggil di Yogyakarta pada Sabtu, 13 Juni 2026. Mobil yang dikendarainya dipasangi pelacak PBX Finder. Tiyo menduga alat tersebut berada di mobil sejak Jumat, 12 Juni 2026.

"Itu saya ambil, lalu setelah saya konsultasikan ke beberapa orang, harus direndam di air, saya rendam di air semalaman," ungkap Tiyo, dinukil dari detikJogja.

Belakangan, Tiyo diberondong aduan ke kepolisian karena telah mengkritisi pemerintahan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Dia dilaporkan oleh pendiri ormas Ternak Mulyono, Muhammad Firdaus Oiwobo, dan Ketua LBH Gerakan Rakyat Dukung dan Bela (Garda) Prabowo, Daeng Lukman.

Ketua Umum Serikat Pekerja Kampus (SPK) Dhia Al Uyun memandang teror yang dialami sejumlah mahasiswa di Yogyakarta ini merupakan pembungkaman terhadap kebebasan akademik. Teror-teror ini, kata Dhia, tidak jauh berbeda dengan apa yang dilakukan negara pada era Orde Baru (Orba) dalam hal pembatasan hak berpendapat. Tujuannya adalah menebar ketakutan bagi masyarakat agar berhenti mengkritik pemerintah.

Demo mahasiswa yang berlangsung di Titik Nol Km Kota Jogja, Rabu (17/6/2026).
Foto : Adji G Rinepta/detikJogja

Dalam situasi ini, kata Dhia, penting bagi mahasiswa dan para aktivis untuk tetap menguatkan barisan dalam setiap pergerakan dan aksi-aksi protes. Upaya antisipasi dan mitigasi teror penting untuk dibahas secara matang sebelum melakukan aksi.

“Jadi itu menjadi salah satu cara untuk saling melindungi atau saling mengamankan begitu,” ungkap Dhia kepada detikX.

Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY Zuly Qodir menegaskan kejadian tertangkap basahnya aparat kepolisian yang menyusup ke kampus sebaiknya tidak terulang lagi. Dia meminta aparat kepolisian tak terlalu cawe-cawe urusan lingkungan kampus.

"Tidak usah diintai-intai karena pasti tidak enak. Apalagi banyak orang, mungkin ada yang tidak suka, kemudian melempar, mungkin ada yang memukul, tapi bukan sesuatu yang disengaja menurut saya. Itu lonjakan emosional yang tidak terdesain sama sekali," kata Guru Besar Bidang Ilmu Sosiologi itu kepada detikX.

Pihak kampus, kata Zuly, juga sudah menerima permintaan maaf dari Polda DIY. Dia juga berterima kasih kepada para mahasiswa karena menyelamatkan intel yang tertangkap basah tersebut.

"Jadi saya berterima kasih kepada mahasiswa saya yang menyelamatkan salah satu intel yang tertangkap. Ini memang insiden. Menurut saya, memang sekali lagi, agar lebih baik, ya sudahlah, kita dialog saja," ujarnya.

Zuly juga mendapatkan informasi para mahasiswa diteror dan intimidasi. Dia meminta agar upaya semacam ini dihentikan.

"Misalnya betul-betul terjadi, ada teror via telepon, teror via media sosial, orang-orang di luar sana, atau mahasiswa akan semakin meyakini bahwa memang aparat keamanan itu tidak suka dengan sebagian mahasiswa atau para aktivis, gitu. Jadi itu, menurut saya, semakin memburuk citra aparat keamanan kalau memang terjadi semacam itu. Kalau saya sendiri, saya, sudah datang teman-teman dari aparat kepolisian di Polda, ketemu saya, bilang, ya sudahlah, nggak usah diteruskan," ujarnya.


Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE