Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 1 Juni 2026Sinyal kapal Orzugluk tiba-tiba saja hilang ketika kapal perang Zionis Israel mendekat. Semua komunikasi ke dunia luar terputus total. Portofon, alat komunikasi antarkapal, relawan Global Sumud Flotilla (GSF) yang ikut berlayar untuk misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina, juga tidak berfungsi.
“Pas kami nyalain HT (handy-talky/portofon) malah keluar lagu Israel di HT kami,” ungkap jurnalis lepas asal Indonesia, Rahendro Herubowo, yang ikut berlayar dengan kapal Orzugluk kepada detikX.
Kapal seukuran tongkang batu bara itu terus mengelilingi Orzugluk selama tiga jam. Sampai kemudian satu sekoci kecil datang menghentikan laju Orzugluk, yang kala itu masih berada di perairan internasional Mediterania. Jaraknya masih sekitar 240 kilometer dari garis pantai Gaza. Seperti jarak Jakarta-Pekalongan.
“Stop, or we shoot (berhenti atau kami tembak)!" pekik salah satu tentara Israel Defense Force (IDF) alias Pasukan Pertahanan Israel sembari menodongkan senjata laras panjang kepada awak kapal Orzugluk pada Senin, 18 Mei 2026.
Bersama Heru, ada beberapa jurnalis Indonesia lainnya yang ikut dalam kapal Orzugluk. Mereka adalah Thody Badai dan Bambang Noroyono dari Republika serta Andre Prasetyo Nugroho, jurnalis TV Tempo. Total, ada 10 awak dalam kapal itu: 4 dari Indonesia, 2 Malaysia, 2 Turki, 1 Austria, dan 1 dari Amerika.
Mereka semua dipindahkan ke kapal perang zionis Israel tanpa membawa barang apa pun kecuali paspor. Seluruh pakaian dingin, termasuk jaket, wajib dilepas sehingga beberapa orang mengalami kedinginan hebat di tengah perairan Mediterania, yang suhunya hanya 16-17 derajat celsius ketika itu.
Kepala saya sampai disetrum juga. Kalau saya nggak teriak kenceng, mereka masih tetap membabi buta gebukin saya."
Di situlah kemudian penyiksaan dimulai. Para relawan GSF dan jurnalis yang ikut meliput dipaksa tiarap di area lambung kapal. Air laut yang naik ke bagian paling dasar dari kapal ini membasahi tubuh mereka hingga sebagian orang kesulitan bernapas dan menggigil kedinginan.
Di tengah situasi itu, tentara zionis Israel mulai memukuli dan menyetrum mereka satu per satu. Sebagian relawan, termasuk Heru, mengalami penyiksaan yang lebih parah. Dia diinjak berulang kali sampai hampir sekujur tubuhnya mengalami memar.
“Kepala saya sampai disetrum juga. Kalau saya nggak teriak kenceng, mereka masih tetap membabi buta gebukin saya,” kata Heru mengingat apa yang dialaminya kala itu.
Ketika semua relawan sudah lemas akibat penyiksaan awal itu, mereka dibawa ke sebuah kontainer besar di bagian dek kapal. Di situ sudah menunggu puluhan relawan GSF lainnya yang lebih dulu diculik.
Mereka dibagi di tiga kontainer besar yang membentuk huruf U. Di bagian tengah, terdapat area kosong seluas lapangan bulutangkis untuk mereka berjemur. Tangan mereka dipasangi gelang bernomor. Heru mendapatkan nomor 80.
Selama tiga hari dua malam di kapal ini, Heru dan tawanan lainnya hanya mendapatkan makan sehari sekali. Seplastik roti kering yang harus dibagi beramai-ramai dan segalon air mineral. Sebelum memberi makan, tentara zionis Israel lebih dulu melemparkan granat kejut dan melepaskan beberapa tembakan untuk menakut-nakuti para tawanan.
Tidak ada obat-obatan untuk mengobati luka ataupun memar yang dialami para relawan GSF. Upaya pengobatan dilakukan dengan cara-cara mendesak. Luka dan memar dikompres dengan roti yang dibasahi air atas saran relawan medis yang juga menjadi korban penculikan zionis. Patah tulang disangga dengan menggunakan baju kering.
“Saya juga disuruh tempelin badan ke kontainer kalau siang-siang karena kan anget. Terapi untuk mengurangi rasa sakit,” kata Heru saat ditemui di rumahnya di kawasan Rawamangun, Jakarta Timur.
Penyiksaan serupa dialami dua relawan Dompet Dhuafa, Ronggo Wirasanu dan Herman Budianto Sudarsano, yang kapalnya diintersep sehari setelah kapal Orzugluk. Keduanya berlayar menggunakan kapal bernama Zapyro.
Ketika mendengar kabar, beberapa kapal Zapyro sempat mengubah arah pelayaran ke arah perairan Gaza Selatan. Situasi tampak sudah mulai aman setelah 12 jam upaya pelarian karena tampak dalam radar mereka kapal zionis tidak lagi melakukan pengejaran. Namun, ketika mereka kembali ke jalur yang seharusnya di perairan Gaza Utara pada hari berikutnya, kapal zionis kembali muncul dan mengejar mereka.
Kapal Zapyro akhirnya diintersep di kawasan perairan internasional Mediterania, yang berjarak beberapa kilometer dari Gaza Utara. Sepuluh awak kapal, termasuk Ronggo dan Herman, diculik. Mereka dibawa ke kapal perang yang sama, tempat Heru ditahan.
“Lalu ya, itu, terjadi kekerasan itu, lalu kami dimasukkan ke yang tahanan kapal itu yang kontainer terus di tengahnya ada lapangan. Selama satu malam,” ungkap Ronggo.
Sebelum dikumpulkan bersama para tawanan lainnya, perut Ronggo dihantam dengan dengkul dan dipukul beberapa kali oleh tentara zionis Israel. Herman juga mengaku mendapatkan hantaman dengkul di perutnya dan beberapa kali pukulan.
Pada satu momen, ketika tentara zionis Israel menanyakan siapa kapten kapal Zapyro, Herman sempat didorong hingga terperosok dan mengalami luka di bagian tangan. Herman bahkan melihat sendiri orang-orang yang diam saat diminta menunjuk siapa kapten mereka mengalami penyiksaan yang lebih perih. Beberapa ditembak dengan peluru karet pada jarak yang sangat dekat.
“Sampai ada yang kemudian langsung teman saya yang dari Prancis itu diikat yang begitu kuat karena sampai membekas ke dalam ya, itu dikhawatirkan memutus beberapa urat nadi,” kata Herman.
Penyiksaan-penyiksaan fisik dan mental ini terus berlangsung bahkan sampai beberapa jam sebelum mereka dibebaskan. Pada Kamis, 21 Mei 2026, siang, kapal perang yang menahan puluhan relawan GSF ini bersandar di Pelabuhan Ashdod, Israel. Para tawanan diminta keluar dari kontainer dan berkumpul di area geladak. Di situ, mereka dipaksa mengambil sikap sujud di bawah matahari terik dengan tangan terikat kabel ties. Dalam posisi itu, mereka kembali diperdengarkan lagu-lagu Israel.
Saya digebukin lagi. Kiri, kanan, belakang, sampai saya teriak, ‘sakit, sakit, sakit!’. Baru mereka berhenti."
Penyiksaan itu berlangsung selama kurang-lebih dua jam sebelum satu per satu relawan diseret dengan posisi menunduk untuk turun menuju sebuah ruang eksekusi. Di tempat ini, zionis Israel menyiapkan tiga tentara untuk kembali melakukan penyiksaan kepada para pejuang kemanusiaan GSF.
“Saya digebukin lagi. Kiri, kanan, belakang, sampai saya teriak, ‘sakit, sakit, sakit!’. Baru mereka berhenti,” kata Heru lagi.
Dari ruang eksekusi itu, para relawan kembali dikumpulkan dalam satu ruangan kecil yang sangat dingin sembari menunggu proses interogasi lanjutan. Satu per satu kemudian dibawa ke ruang interogasi. Mereka ditelanjangi sembari beberapa kali mengalami tamparan dari tentara IDF.
Baca Juga : Operasi Mossad di Jantung Pertahanan Iran

Momen warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) akhirnya tiba di Indonesia usai menjalani penahanan paksa oleh zionis Israel saat berlayar menuju Gaza, Palestina, Minggu (24/5/2026).
Foto : Gilang Faturahman/detikFoto
Dengan posisi tangan diborgol, mereka kemudian dibawa menggunakan bus menuju penjara Ktzi’ot, Israel. Selama perjalanan, tangan dan kaki mereka diborgol. Pendingin udara juga diembuskan sekencang-kencangnya—membuat para relawan yang sudah lemas akibat penyiksaan—menggigil kedinginan.
Dua jam perjalanan yang menyiksa itu berakhir setelah mereka tiba di penjara Ktzi’ot. Mereka dimasukkan ke dalam ruangan sempit yang dipaksa muat untuk 20-30 orang.
“Jadi dari dingin, sampai jadi kepanasan, sampai napas aja susah,” terang Heru.
Kayak kandang anjing gitu-lah dari tanda-tanda baunya itu ya."
Hari itu menjadi hari yang teramat panjang bagi para tawanan. Mereka terus dipaksa berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Mengalami satu penyiksaan demi penyiksaan yang berbeda-beda di setiap tempatnya.
Setelah ditempatkan dalam sebuah ruang sempit yang penuh sesak itu, para relawan yang kemerdekaannya dirampas paksa itu kemudian dijebloskan ke dalam penjara berkerangkeng. Mereka dipaksa jongkok tanpa melakukan apa pun.
Ruang itu bau dan sangat kotor. Lantainya penuh debu dan atapnya hanya ditutup terpal. “Kayak kandang anjing gitu-lah dari tanda-tanda baunya itu ya,” ungkap Ronggo.
Dari ruangan itu, mereka dibawa lagi ke sebuah ruangan besar. Dipaksa mengambil sikap sujud lagi dan kembali diperdengarkan lagu berbahasa Israel selama dua jam. Setelah itu, para tahanan akhirnya dipindah ke bus tahanan untuk dibebaskan.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana