SPOTLIGHT

Mengenang Faridah Utami: Garda Terdepan Penanganan Kasus Kekerasan

Faridah Utami meninggal dunia dalam tragedi kecelakaan KRL di Stasiun Bekasi Timur. Rekan-rekan mengenangnya sebagai sosok yang sangat berdedikasi mendampingi korban kekerasan.

Ilustrasi : Edi Wahyono

Kamis, 7 Mei 2026

Di RSUP Nasional dr Cipto Mangunkusumo Indonesia (RSCM), Faridah bekerja di Pusat Krisis Terpadu (PKT), sebuah unit yang menangani kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dia bertugas melakukan asesmen awal dan bersentuhan langsung dengan korban.

“Bu Faridah juga ikut membantu menyemangati korban-korban ini dan, misalkan mereka cenderung tidak mau cerita, Bu Faridah meyakinkan dan menenangkan para pasien ini supaya mau bercerita tentang kejadian-kejadian mereka,” ucap Vania Paramitha, salah satu peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Forensik RSCM, kepada detikX.

Di mata para peserta PPDS, Faridah adalah figur yang keibuan dan tulus. Keramahan itu berpadu dengan perannya sebagai pembimbing di lapangan. Meski bukan dokter pengajar formal, Faridah justru banyak mengajarkan aspek praktik yang krusial.

“Setiap hari itu juga ceria, selalu nyambut kami. Beliau juga termasuk guru kami ya, karena banyak juga beliau mengajari kami dari alur-alur pengerjaan pasien, kemudian alur setelah selesai pemeriksaan kami harus melakukan apa,” kata Vania.

Salah satu pelajaran paling berharga yang ditanamkan Faridah, kata Vania, adalah empati. Terutama saat menangani korban kekerasan. Selain itu, ia juga dikenal andal mengendalikan situasi sulit dan menjaga ketenangan saat melakukan pelayanan. Kemampuan tersebut diajarkan melalui praktik langsung.

“Kami banyak belajar dari beliau, dari cara bertanya, kemudian cara menanggapi, menjadi pendengar yang baik. Itu kami betul-betul banyak belajar dari beliau," sambungnya.

Interaksi sehari-hari bersama Faridah juga diakui meninggalkan kesan mendalam.

“Keramahan beliau itulah yang sangat membekas di kami. Kalau misalkan kami bingung harus apa, beliau dengan senang hati merespons,” kenang Vania.

Selama proses pendidikan residensi, Faridah membimbing tanpa membuat juniornya merasa dihakimi. Saat memberikan koreksi, misalnya, Faridah memilih cara yang halus dan penuh pertimbangan.

“Kalau misalkan ada pasien kami mau wawancara, kemudian nanti Bu Faridah menegurnya tidak pada saat sedang wawancara dengan pasien, tapi nanti diberikan masukan-masukan. Nanti lebih baik ke depannya seperti ini, atau ‘bertanyanya seperti ini’,” ujarnya.

Tak hanya sebagai staf senior, Faridah juga diakui kerap menjadi tempat berbagi.

“Kalau misalkan kita cerita tentang masalah pribadi, masalah di rumah, misalkan yang tidak ada kaitan dengan pendidikan, beliau juga mendengarkan. Mendengarkan, memberikan nasihat, bukan sedang menjadi guru kami, tapi bisa menjadi orang tua juga,” ujarnya.

“Kasih nasihat tanpa membuat sakit hati atau seperti apa,” sambung Vania. “Beliau yang saya dapat kesannya sangat lembut.”

Kabar meninggalnya Faridah diterima Vania dari siaran berita. Awalnya, ia tidak mengetahui Faridah termasuk korban. Jenazah Faridah sempat disemayamkan di RSCM sebelum diberangkatkan ke peristirahatan terakhir di kampung halamannya.

“Sore-malam itu disemayamkan di RSCM sebelum dibawa ke Boyolali. Baru kami semua kumpul di situ bersama keluarga Bu Faridah,” kata Vania.

Bukan hanya Vania. Ira Pattihahuan, PPDS Ilmu Kedokteran Forensik dan Medikolegal yang mulai menjalani pendidikan sejak 2023, juga mengenang peran Faridah dalam kesehariannya. Pertemuan Ira dengan Faridah dimulai sejak awal ia bertugas jaga. Sejak saat itu, Faridah menjadi salah satu sosok yang membimbing di lapangan dengan penuh kesabaran.

“Bu Faridah ini adalah bentuk buku yang benar-benar nyata, terpampang di depan mata gitu. Jadi benar-benar perwujudan nyata dari empati, kindness, compassionate gitu. Pokoknya kompletlah Bu Faridah itu, kayak malaikat ya kalau kita bilang gitu," ujar Ira kepada detikX.

Dalam praktik sehari-hari, kemampuan dan pengalaman Faridah terlihat jelas terutama saat menangani korban anak. Ira mengingat bagaimana Faridah menghadapi anak-anak korban kekerasan seksual yang datang dengan berbagai respons—rewel, diam, takut, atau hanya bisa menangis. Pendekatan yang digunakan Faridah tidak pernah memaksa.

“Orang yang lagi di kondisi seperti itu kan kita nggak bisa maksa buat cerita, kan. Jadi benar-benar yang dikasih waktu untuk menenangkan diri,” kata Ira.

Ia menggambarkan bagaimana Faridah memeluk, menenangkan, hingga menggunakan mainan untuk membantu anak-anak bercerita.

“Terus gimana Bu Faridah mengambil mainannya, terus dikasihkan ke anaknya, gitu-gitu deh. Baik banget.”

Pada korban yang dewasa, pendekatan itu tetap terasa.

“Jadi, ‘Nggak apa-apa, ini kita semua membantu kamu,’ yang kayak gitu-gitu tuh,” ujarnya.

Di tengah tekanan kerja, Faridah juga menunjukkan kepedulian yang sederhana tapi membekas. Ira mengingat satu momen ketika ia kelelahan setelah menangani banyak kasus. Saat itu Faridah menawarkan makanan.

“Terus Bu Faridah, ‘Ayo, Dokter, ini saya ada bekal, makan dulu,’ kayak gitu.”

Ia menggambarkan kondisi ketika dalam satu panggilan terdapat dua hingga tiga korban sekaligus. Dalam situasi kerja yang riuh dan penuh tekanan itu, peran Faridah menjadi semakin terasa. Pengalaman panjang Faridah di PKT membuatnya sigap mengambil alih lini koordinasi.

Warga dan penumpang menaruh buket bunga dan berdoa di Stasiun Bekasi Timur.
Foto : Nasywa Fauziah/detikfoto

“Jadi di saat kami riuh, kami bingung, Bu Faridah langsung, ‘Dokter, begini, begini, begini, nanti saya begini, begini, begini,’ kayak gitu.”

“Kalau nggak ada Bu Faridah, itu mungkin bisa lebih lama lagi kita menangani kasusnya. Jadinya kasihan korbannya juga kan kalau pelayanannya lama gitu loh," ungkap Ira.

Dalam membimbing, Faridah tidak dikenal sebagai sosok yang mengoreksi secara keras. Sebaliknya, ia memberi ruang dan dukungan. Pendekatan itu membuat para PPDS merasa dilindungi.

“Tapi beliau itu tipikal yang, ‘Udah… nggak apa-apa, Dokter sudah melakukan yang terbaik.’”

Kebaikan itu, kata Ira, dirasakan lintas profesi di rumah sakit. Ia mengingat momen ketika jenazah Faridah disemayamkan di RSCM.

“Itu benar-benar semua orang datang,” katanya. “Semua orang… semuanya tuh bilang, ‘Ini benar-benar kita kehilangan banget.’”

Kabar meninggalnya Faridah datang secara tiba-tiba bagi Ira. Ia sempat menghubungi Faridah pada hari Senin, tetapi tidak mendapat balasan. Padahal Faridah tergolong orang yang kerap merespons cepat pesan singkat yang masuk ke gawainya.

Sosok Kunci
Faridah Utami dikenal sebagai salah satu sosok kunci dalam layanan PKT RSCM, terutama dalam penanganan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak. Menurut Kepala Subpelayanan Unit Pelayanan Forensik, Medikolegal, dan Pemulasaraan Jenazah RSCM-FKUI dokter Yudy, Faridah merupakan pegawai senior yang mengabdi sejak 26 tahun yang lalu.

"Sudah lama. Mungkin sekitar 2000-an awal (masuk di RSCM)," ucap Yudy kepada detikX.

Dalam perjalanan kariernya, Faridah tidak langsung berada di unit forensik. Ia bekerja sebagai staf sambil melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar magister, sebelum akhirnya ditempatkan di PKT sekitar 2017. Sejak saat itu, intensitas interaksinya dengan tim forensik, termasuk dokter PPDS, semakin tinggi.

Di PKT, Faridah berperan sebagai pekerja sosial—posisi yang menjadi garda depan dalam menerima korban. Ia menjadi orang pertama yang berinteraksi dengan korban, baik yang datang sendiri, diantar keluarga, maupun oleh aparat penegak hukum. Dalam tahap awal ini, pendekatan yang dilakukan lebih menekankan aspek sosial.

Warga dan penumpang menaruh buket bunga dan berdoa di Stasiun Bekasi Timur.
Foto : Nasywa Fauziah/detikfoto

Ia bertugas menggali berbagai informasi dasar terkait korban, mulai latar belakang keluarga, kondisi lingkungan, hingga relasi sosial. Data tersebut dihimpun dalam berkas yang menjadi dasar bagi proses penanganan lanjutan oleh tim medis. Setelah tahap itu selesai, barulah dokter forensik melakukan pemeriksaan fisik.

Menurut dokter Yudy, perbedaan pendekatan antara pekerja sosial dan tenaga medis menjadi bagian penting dalam sistem kerja di PKT. Sementara dokter berfokus pada temuan medis, pekerja sosial seperti Faridah berperan memahami konteks sosial dan psikologi korban.

Dalam praktik sehari-hari, Faridah disebut sebagai titik sentral dalam alur layanan. Ia tidak hanya menerima korban, tetapi juga menjadi rujukan berbagai kebutuhan administratif dan data. Kebutuhan informasi dari PPDS, permintaan visum dari kepolisian, hingga koordinasi kasus, banyak bergantung pada dirinya.

Beban kerja yang ditangani pun tidak sedikit. Dalam satu bulan, jumlah kasus yang masuk ke PKT diperkirakan mencapai puluhan hingga mendekati seratus kasus, mencakup kekerasan seksual maupun kekerasan dalam rumah tangga. Dari jumlah tersebut, sebagian besar ditangani langsung oleh Faridah.

Meski bekerja dengan sistem sif, ia selalu menyelesaikan pekerjaan hingga tuntas, bahkan hingga melewati jam kerjanya, walaupun tidak sering. Dalam sejumlah kasus yang memanjang, ia tetap mendampingi korban hingga proses selesai.

Yudy juga menyampaikan, secara personal, Faridah dikenal sebagai sosok yang mudah berinteraksi. Ia disebut terbiasa menyapa rekan kerja secara langsung dan mengingat nama mereka. Hal-hal sederhana ini, menurut rekan-rekannya, menjadi salah satu kesan yang paling terasa dalam keseharian.

“Buat saya pribadi, kalau ditanya begitu apa yang menonjol dari Bu Faridah, menurut saya keramahannya,” tuturnya.

Kabar meninggalnya Faridah dalam kecelakaan KRL di Bekasi Timur diterima rekan-rekannya pada Selasa pagi, sehari setelah kejadian. Informasi awal disampaikan secara internal sebelum kemudian dikonfirmasi melalui proses identifikasi resmi.

Yudy mengatakan, sebelum kejadian, Faridah diketahui baru kembali dari kampung halamannya di Boyolali. Ia kembali ke Jakarta dalam kondisi kurang sehat dan tengah menjalani cuti, sehingga namanya tidak langsung terdeteksi dalam pendataan pegawai setelah ada kabar kecelakaan kereta di Bekasi.

Menurut informasi yang Yudy himpun, Faridah menjadi salah satu korban dengan kondisi paling parah dalam tragedi tersebut. Ia diperkirakan langsung meninggal di lokasi kejadian.

“Memang kondisinya paling berat di antara semuanya, di antara semua korban ini kondisi beliau paling berat," ungkapnya.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE