Foto : Nasywa Fauziah/detikcom
Rabu, 6 Mei 2026Ruka malam itu pulang kerja naik di gerbong terdepan KRL 5568A, setelah gerbong khusus perempuan, Senin, 27 April 2026. Di beberapa stasiun sebelumnya, kereta yang ia tumpangi mengalami keterlambatan kedatangan meski tak terlalu lama. Kemudian, sesampainya di Stasiun Bekasi Timur, kereta yang ia tumpangi berhenti lebih dari 5 menit. Informasi dari petugas ke penumpang, kereta belum bisa jalan karena ada KRL 5181B menabrak taksi hijau bernomor polisi B-2864-SBX di jalur sebaliknya, yakni jalur arah Jakarta.
Saat kereta berhenti, Ruka melongok ke luar lewat pintu yang dibuka. Dia memotret KRL yang berhenti dan menabrak taksi hijau. Menurutnya, meski ada insiden kecelakaan tersebut, keretanya yang berjalan di rel dan jalur sebaliknya harusnya masih bisa lewat. Sebab, ada jarak yang lumayan cukup untuk dilewati. Namun, masalahnya, ada kerumunan warga yang menutup jalur ke arah luar Jakarta.
"Lihat (KRL yang menabrak taksi hijau), tapi kelihatannya nggak menghalangi jalur sih. Sepertinya kereta saya berhenti karena ada kerumunan, kerumunan massa itu. Jadi jalurnya tidak steril. Sebenarnya, kalau misalkan tidak ada kerumunan massa, kemungkinan kita masih bisa lanjut jalan," kata Ruka kepada detikX.
Saat melongok dan memotret ke arah depan kereta tersebut, exif data fotonya menunjukkan pukul 20.51. Selang beberapa detik, pintu KRL kembali ditutup, menandakan akan segera berangkat. Namun yang terjadi beberapa detik setelahnya justru ‘bruakkk!’, suara seperti dentuman besi yang bertabrakan dari arah gerbong paling belakang. KA Argo Bromo Anggrek menabrak gerbong paling belakang KRL yang ia tumpangi.
Ruka terjatuh di dalam gerbong, begitu juga penumpang lainnya. Kereta yang ia tumpangi terdorong ke arah depan. Entakannya kencang.
"Itu yang awal saya pikirkan, kok keretanya jalan sendiri. Oh, terus ada, tiba-tiba ada yang nyeletuk, ditabrak! Ditabrak!" tuturnya.
Waktu tabrakan kereta pada 20.51 seperti yang diungkapkan Ruka juga terkonfirmasi dari akun YouTube Trainspotter ID, yang menyiarkan secara langsung dari KA Argo Bromo Anggrek. Dalam rekaman video yang terunggah secara otomatis setelah siaran langsung tersebut, pada menit 17.40, KA Argo Bromo Anggrek berangkat dari Stasiun Gambir dengan waktu riil pukul 20.31. Sedangkan tabrakan terjadi pada menit 38.54 dalam rekaman video. Dengan begitu, berarti KA Argo Bromo Anggrek menabrak KRL 5568A pada pukul 20.51. Sebab, ada selisih waktu 21 menit 16 detik antara rekaman video dan waktu riil.
Selang sekitar enam menit kemudian, Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii mendapatkan informasi insiden kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL tersebut. Persisnya pukul 20.57.
Dalam kondisi tersebut, kata Syafii, Basarnas Special Group (BSG) diterjunkan. Sebab, tim elite Basarnas ini memiliki kemampuan dan perlengkapan khusus.
“Tim yang masuk harus menggunakan perlengkapan lengkap, seperti sarung tangan, baju pelindung, helm, kaca helm, dan peralatan lainnya,” kata Syafii kepada detikX.
KRL yang tertabrak tersebut, kata Syafii, diketahui berada dalam posisi parkir untuk menunggu proses clearance setelah insiden sebelumnya yang melibatkan tabrakan dengan taksi di perlintasan.
“Info kecelakaan kereta dengan kereta itu kereta apa, nomor berapa, dari mana masing-masing kereta, jadwal sampai di stasiun tersebut, berapa lama KRL berhenti menunggu proses clearance,” ujarnya.
Di lokasi, proses evakuasi tak berjalan mudah. Lima korban ditemukan dalam kondisi hidup, tetapi terjepit material rangka kereta. Struktur gerbong dilaporkan mengalami kerusakan berat, dengan lantai yang tergulung hingga ketebalan sekitar 2,5 meter.

Korban tabrakan KRL dan Agro Bromo di tololong oleh petugas medis yang datang ke lokasi.
Foto : Safir Makki/CNN Indonesia
Ia menambahkan, keterbatasan ruang dan banyaknya personel dari berbagai unsur, seperti TNI dan Polri, membuat koordinasi di lapangan harus diatur ketat.
Dari proses tersebut, lima korban bisa dievakuasi dan langsung dirujuk ke rumah sakit dengan penanganan khusus, termasuk tindakan medis untuk mengurangi rasa sakit, saat proses pemotongan material kereta dilakukan.
Sementara itu, total korban meninggal pada malam kejadian tercatat 14 orang. Namun data berkembang setelah proses evakuasi dan pemeriksaan lanjutan di rumah sakit. PT KAI kemudian melaporkan adanya penambahan dua korban, sehingga total korban meninggal menjadi 16 orang.
Terkait tingkat kerusakan, Syafii menjelaskan, dua rangkaian kereta terdampak cukup serius. Lokomotif disebut masuk sepenuhnya ke badan gerbong KRL, menyisakan ruang sangat terbatas.
“Secara efektif mungkin sekitar 2 meter ruang yang tersisa,” ujarnya.
Sedangkan gerbong kedua masih relatif utuh, meski bagian sambungan antargerbong mengalami kerusakan dan penyok akibat benturan keras.

Proses evakuasi gerbong kereta rel listrik (KRL) yang terlibat kecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.
Foto : Pradita Utama/detikFoto
Polisi kemudian menaikkan status penanganan kasus kecelakaan kereta di Bekasi ke tahap penyidikan. Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto mengatakan peningkatan status dari penyelidikan ke penyidikan dilakukan setelah penyidik mengantongi sejumlah alat bukti awal kasus tabrakan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL Jakarta-Cikarang.
Hingga kini, penyidik telah memeriksa 24 saksi untuk mendalami kasus tersebut. Selain itu, tujuh orang lainnya masih dimintai keterangan karena diduga memiliki peran penting dalam operasional perjalanan kereta, mulai petugas pusat pengendali perjalanan kereta, pengatur perjalanan kereta api, petugas sinyal, masinis KRL, hingga masinis KA Argo Bromo Anggrek, asisten masinis.
Lebih lanjut, polisi juga menggandeng tim Pusat Laboratorium Forensik Mabes Polri untuk mendalami penyebab kecelakaan. Salah satu yang ditelusuri adalah kemungkinan adanya gangguan teknis, termasuk pengaruh sistem kelistrikan maupun sinyal di lokasi kejadian.
detikX telah menghubungi Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba untuk meminta penjelasan mengenai gangguan sinyal jelang insiden tabrakan dua kereta api, tetapi belum ada jawaban hingga berita ini terbit.
Setelah seluruh peristiwa malam itu, rasa tenang belum sepenuhnya kembali bagi Ruka.
“Khawatir. Khawatir pasti selalu ada ya. Setiap naik KRL juga pasti gemeter,” ujar Ruka. “Masih gemeter sampai sekarang. Masih khawatir,” lanjutnya.
Reporter: Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi, Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim