Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 28 April 2026Di tengah menjalankan ibadah puasa, Eko Nopianto merasakan sekujur tubuhnya meriang dan tenggorokannya terasa tidak nyaman. Mulanya, Eko menganggap gejalanya itu hanyalah penyakit asam lambungnya yang kambuh. Dia mencoba mengobati sakitnya itu hanya dengan parasetamol.
“Tapi pas aku buka puasa itu, ya alhamdulillah enak aja sih buat makan, nggak ada keluhan juga di perut,” kata lelaki 23 tahun ini kepada detikX pekan lalu.
Eko akhirnya sadar gejala penyakit yang dirasakannya itu bukan dari asam lambung. Sebab, saat malam harinya, bukannya membaik, gejala itu malah semakin parah. Selain meriang dan kesulitan menelan, Eko merasakan pusing yang teramat berat di kepalanya.
Keesokan harinya, mata Eko mulai kering dan merah. Ia mulai kesulitan menatap layar ponselnya ketika berbaring di kasur. Empat hari lebih, Eko merasakan gejala-gejala itu tidak kunjung reda sampai dia memutuskan berobat ke puskesmas.
Setelah diperiksa dokter di instalasi gawat darurat (IGD) puskesmas, Eko baru tahu gejala yang dirasakannya itu bukanlah asam lambung, melainkan campak. Dokter bilang ada kemungkinan Eko belum divaksin campak.
“Nah, jadi aku konfirmasi ke orang tua juga, ternyata memang benar aku belum pernah vaksin campak,” ungkap Eko.
Eko bercerita waktu kecil orang tuanya enggan memberikan vaksin campak untuknya karena khawatir nantinya akan terjangkit demam. Keputusan itu membuat orang tua Eko belakangan cukup menyesal karena anaknya kini justru rentan terkena virus.

Seorang dokter melayani pasien balita yang akan menjalani vaksinasi campak di Puskesmas Ibrahim Adjie, Bandung, Jawa Barat, Jumat (27/3/2026).
Foto : Raisan Al Farisi/sgd/Antarafoto
“Kamu dulu masih kecil tuh, Ko. Sudah Mama mau vaksin, sudah ditimbang, tapi Mama takut, karena dengar omongan orang-orang soal vaksin campak bikin takut,” kata Eko mengingat apa yang disampaikan ibunya.
Setelah mengalami sendiri penyakit ini, Eko sadar campak memang mengerikan. Penyakit ini membuat Eko harus terbaring di rumah sakit beberapa hari. Tubuhnya lemas dan panasnya naik-turun selama hampir sebulan. Eko harus benar-benar menjaga kondisi tubuhnya meskipun sudah sembuh dari penyakit ini.
Epidemiolog Griffith University Australia, Dicky Budiman, mengatakan campak merupakan penyakit yang bisa sembuh sendiri. Namun, jika diabaikan, dampaknya akan sangat berbahaya. Dalam jangka pendek, campak bahkan bisa menyebabkan kematian. Sementara itu, dalam jangka menengah, campak bisa menyebabkan risiko infeksi lain akibat amnesia imun. Penyintas campak bisa terserang infeksi bakteri lainnya, termasuk pneumonia, yang bisa berujung kematian.
“Tubuh seperti kehilangan pertahanan. Ibarat kota tanpa benteng atau tentara. Jadi penyakit lain mudah masuk. Ini yang sering tidak disadari masyarakat,” tutur Dicky melalui sambungan telepon kepada detikX.
Belakangan, campak memang tengah mewabah di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya peningkatan drastis penyakit campak pada pekan pertama tahun ini. Angkanya sempat menyentuh 2.932 kasus secara nasional, meski pelan-pelan turun hingga hanya 330 kasus pada pekan ke-14 2026.
Penderitanya bukan hanya dari kalangan anak-anak, tapi juga orang dewasa seperti Eko. Di Garut, salah satu kota dengan penyebaran kasus campak terbanyak, ada sedikitnya sembilan orang dewasa yang terpapar campak, dari total 110 kasus.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Garut Leli Yuliani mengungkapkan orang dewasa yang terkena campak ini berada dalam rentang usia 18-45 tahun. Mayoritas mereka tidak pernah mendapatkan imunisasi campak sejak kecil.
Baca Juga : Pontang-panting Melawan Wabah Campak

“Itulah kenapa sekarang kami kejar imunisasi, karena dampak dari tidak diimunisasi itu membuat mereka lebih mudah terkena penyakit,” ungkap Leli kepada detikX.
Meski begitu, Leli mengakui upaya memperluas cakupan imunisasi campak memang tidak mudah. Tahun lalu, capaian imunisasi campak di Kabupaten Garut hanya menyentuh angka 88 persen. Tahun ini, baru sekitar 83 persen dari target 168 ribu balita. Di tiga kecamatan dengan penyebaran kasus terbanyak, khususnya di wilayah selatan Kabupaten Garut, yakni Pameungpeuk, Cibalong, dan Cikelet, cakupannya bahkan tidak sampai 50 persen. Angka ini, kata Leli, masih di bawah standar cakupan imunisasi untuk mencapai kekebalan massal yang disarankan World Health Organization (WHO), yakni 95 persen.
Sejumlah tantangan masih menjadi penghambat dalam upaya memperluas cakupan imunisasi campak. Salah satunya, kata Leli, faktor pendidikan di daerah selatan Garut yang relatif lebih rendah dibandingkan di wilayah lain. Hal ini berdampak pada pemahaman masyarakat atas manfaat dari vaksin campak.
Selain itu, masih ada faktor kepercayaan yang mengharamkan imunisasi campak. Akibatnya, banyak orang tua takut memberi anaknya vaksin lantaran dianggap sebagai perbuatan dosa. Ditambah lagi, kata Leli, banyak disinformasi dan hoaks terkait vaksin saat pandemi COVID-19 yang membuat sebagian orang tua melihat vaksin sebagai sesuatu menakutkan.
“Kemudian, banyak orang tua yang bekerja di kota. Anak-anaknya dibawa ke kota, tapi tidak diimunisasi. Saat kembali ke daerah, juga tidak diimunisasi. Ada juga anak yang diasuh kakek-nenek atau saudara, sehingga ketika akan diimunisasi, sering ada keberatan karena setelah imunisasi anak biasanya rewel,” tambah Leli.
Persoalan serupa juga dihadapi di Provinsi Aceh, yang juga sebagai salah satu kota dengan penyebaran kasus terbanyak sekitar 5.100 kasus sampai Maret 2026. Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Aceh Iman Murahman menuturkan tingginya kasus campak di Aceh ini disebabkan minimnya cakupan imunisasi.
Tahun lalu saja, cakupan imunisasi campak-rubela di Aceh hanya mencapai 39 persen. Capaian terendah ada pada Kabupaten Pidie dengan hanya 8,4 persen dari total 8.000 bayi. Bahkan tahun sebelumnya, capaian imunisasinya hanya 4 persen.

Petugas kesehatan Puskesmas Pragaan memeriksa pasien campak di Pragaan, Sumenep, Jawa Timur, Rabu (27/8/2025).
Foto : Rizal Hanafi/Antarafoto
Iman mengungkapkan perluasan cakupan vaksin campak di Aceh, khususnya Kabupaten Pidie, masih dihadapkan pada sejumlah tantangan. Salah satunya ketidakpercayaan terhadap vaksin. Banyak warga Pidie yang tidak percaya terhadap khasiat vaksin lantaran efek samping dari vaksin COVID-19. Waktu itu, beberapa orang mengalami demam setelah diberi vaksin COVID-19. Efek samping dari vaksin COVID-19 itu berdampak pada kepercayaan masyarakat terhadap vaksin campak.
“Jadi, kata ‘vaksin’ di Pidie sudah punya konotasi negatif. Kalau disebut ‘imunisasi’, ‘kekebalan’, atau ‘vitamin kebal’, justru lebih diterima. Selain itu, orang tua lebih fokus pada efek samping. Misalnya anak demam 1-2 hari setelah imunisasi, itu yang lebih ditakuti dibanding manfaat jangka panjang, seperti perlindungan dari campak atau difteri. Akhirnya banyak yang memilih tidak perlu imunisasi,” kata Iman kepada detikX pekan lalu.
Secara nasional, upaya perluasan imunisasi campak juga tidak lepas dari persoalan serupa. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, tren vaksin campak selama tiga tahun terakhir mengalami penurunan. Pada 2024, cakupan imunisasi measles-rubela 1 (MR1) mencapai sekitar 92 persen dan MR2 sekitar 78,3 persen. Pada 2025, cakupan MR1 turun jadi 82,0 persen dan MR2 sekitar 77,8 persen. Sementara itu, pada 2026 (triwulan I), cakupan masih relatif rendah karena program baru berjalan, dengan capaian sekitar 12,2 persen untuk MR1 dan 11,6 persen untuk MR2.
Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia pada 2023, salah satu faktor utama dari penurunan tren vaksinasi ini adalah resistensi masyarakat terhadap vaksin. Sekitar 45 persen responden menyatakan takut terhadap efek samping vaksin campak. Lalu sekitar 47 persen tidak berani vaksin lantaran keluarga tidak mengizinkan.
Plt Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kementerian Kesehatan Andi Sugani mengatakan resistensi tersebut timbul lantaran adanya disinformasi dan hoaks terkait vaksin campak di Indonesia. Akibatnya, ada kelompok-kelompok masyarakat yang anti terhadap vaksin. Sebagian mereka bahkan menganggap vaksin tidak penting karena penyakit nantinya bisa sembuh cukup dengan berobat.
“Kalau pemahaman ini tidak diperbaiki, akan muncul yang disebut sebagai gap imunitas atau celah kekebalan kelompok. Nah, kelompok-kelompok inilah yang bisa menjadi kantong penyebaran ketika terjadi peningkatan kasus,” pungkas Andi.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi, Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim