SPOTLIGHT

Banjir Berulang di Kota Lele

Banjir tahunan yang melanda sejumlah kecamatan di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, disebut warga telah berlangsung selama puluhan tahun. Bukan motor, warga sampai harus beraktivitas harian menggunakan perahu.

Foto : Eko Sudjarwo/detikJatim

Senin, 30 Maret 2026

Supriyanto, warga Dusun Pujut, Desa Sidomulyo, Kecamatan Deket, mengatakan banjir di wilayahnya hampir terjadi setiap tahun sejak ia kecil. Pria kelahiran 1974 itu menyebut persoalan banjir telah berlangsung hampir lima dekade.

“Banjir ini hampir (terjadi) tiap tahun. (Tahun ini) udah mendekati empat bulan ini (belum surut), bahkan ada yang hampir 5 bulan itu (ada) desa yang nggak kelihatan apa-apa, cuma kelihatan rumah. Jadi aktivitas tiap hari naik perahu,” kata Supriyanto kepada detikX.

Ia menjelaskan banjir melanda sejak November tahun lalu di lima kecamatan yang dilewati oleh aliran Bengawan Njero, anak Sungai Bengawan Solo. Saat musim hujan dan debit Bengawan Solo meningkat, air di Bengawan Njero, yang berasal dari Lamongan bagian selatan dan barat, biasanya rutin meluap.

Menurut Supriyanto, wajarnya, aliran Bengawan Njero bisa dialirkan ke Bengawan Solo. Namun sering kali aliran air sulit keluar karena debit Bengawan Solo lebih tinggi sehingga pintu air tidak dapat dibuka.

“Cuma kan masalahnya, kalau Bengawan Solo, itu arusnya besar, itu dam (bendungan)-nya nggak bisa dibuka (karena) permukaan lebih rendah dari Bengawan Solo," ucapnya.

Bagi warga, banjir selama tiga hingga empat bulan sudah menjadi tradisi rutin. Namun tiap tahun warga merasakan banjir kian tinggi dan butuh waktu lebih lama untuk surut. Tahun ini, misalnya, beberapa wilayah kini mengalami genangan hingga hampir lima bulan.

"Kalitengah itu sudah hampir 5 bulan, (dan terdapat) dusun (yang) nggak kelihatan daratan. Jadi rumah itu memang tinggi, tapi nggak bisa ke mana-mana kalau nggak bawa perahu,” ungkapnya.

Warga, menurut dia, terus meninggikan rumah untuk menyesuaikan kondisi banjir yang berulang.

“Tiap tahun rumah ditinggikan. Rumah saya ini dari saya kecil dulu itu sudah naik hampir separuh lebih rumah, tetap banjir, (dan) jalan juga. Jalan itu kalau nggak salah dihitung, dari mulai saya kecil, itu hampir 2,5 meter naiknya. Ditambal lagi, ditambal lagi. Cuma kan jalan ditinggi-tinggikan, (sementara) solusi untuk drainase, pengelolaan air kayaknya kalau saya amati kurang maksimal," ungkap Supriyanto.

Banjir merendam jalan di Kecamatan Kalitengah, Kabupaten Lamongan. Akibatnya, petugas distribusi program Makan Bergizi Gratis (MBG) terpaksa menggunakan perahu.
Foto : Eko Sudjarwo/detikJatim

Tambak dan Sawah Terdampak
Mayoritas warga di wilayah tersebut menggantungkan penghasilan pada tambak bandeng dan udang serta bertani padi. Banjir berkepanjangan menyebabkan kerugian besar karena tambak terendam dan bibit gagal ditebar. Banyak petambak belum sempat menebar bibit akibat lahan yang masih tergenang di daerah yang kerap dijuluki Kota Lele atau Soto tersebut.

“Belum sempat malah, cuma ada yang nekat. Banyak yang belum sempat nebar bibit udang sama bandeng itu. Bekasnya padi kemasukan air jadi busuk, banyak yang matilah. Akhirnya kena banjir sampai hari ini," jelas Supriyanto.

Menurutnya, potensi pendapatan kotor tambak bisa mencapai sekitar Rp 200 juta per hektare dalam kondisi normal. Namun kondisi saat ini membuat banyak warga kehilangan sumber penghasilan utama. Akhirnya sebagian warga beralih pekerjaan menjadi buruh pabrik atau pekerja bangunan.

Selain itu, banjir juga meningkatkan beban biaya rumah tangga. Warga terpaksa mengeluarkan biaya tambahan untuk meninggikan rumah. Tak murah, biaya yang dikeluarkan warga secara rutin tiap beberapa tahun sekali dapat mencapai puluhan juta rupiah.

“Sebagai contoh, dua tahun kemarin rumah (kami) kebanjiran dan sudah ditinggikan hampir 1-2 meter, habis itu kena banjir sekitar 30-40 sentimeter. Padahal itu belum saya apa-apakan, cuma saya semen, itu ajamenghabiskan hampir sekitar Rp 20 juta," ungkapnya.

Adapun sejauh ini bantuan yang diberikan pemerintah lebih banyak berupa bantuan logistik. Bagi Supriyanto, warga lebih membutuhkan bantuan yang dampaknya jangka panjang.

“(Diberikan) bantuan-bantuan mi instan, beras, (dan) itu sebenarnya masyarakat sini nggak terlalu butuh. Solusinya (apa). Supaya nggak banjir, perputaran ekonomi (terutama) tambak, jalan (normal) gitu," tegasnya.

Di tempat lain. Muhammad, warga berusia 27 tahun asal Desa Soko, Kecamatan Glagah, Kabupaten Lamongan, mengatakan ketinggian air di jalan raya sempat mencapai sekitar 60 sentimeter dan masuk ke rumah warga.

“Paling parah kemarin, sekitar 60 sentimeter, Mas. Itu paling parah (yang tergenang berada di) jalan raya," kata Muhammad kepada detikX.

Kerugian terbesar, terang Muhammad, dirasakan warga yang menggantungkan penghasilan pada tambak. Biasanya banjir baru terjadi pada Januari atau Februari, tapi tahun ini datang lebih awal di sekitar November dan Desember. Banjir datang bertepatan dengan periode tebar benih ikan di tambak-tambak warga.


“Warga yang punya mata pencaharian tambak, punya tambak itu secara materi, jelas, dia langsung terpukul. Sudah nggak ada pemasukan sama sekali semenjak bulan Desember."

Akhirnya sebagian warga memilih tetap menebar benih meski berisiko gagal panen. Beberapa warga mencoba bertahan dengan menjala ikan.

Tetep nebar benih. Cuma nggak tahu itu udang-ikannya keluar ke mana. Modalnya ini aja percaya sama Yang di Atas aja kalau (pemikiran) orang sini,” jelas Muhammad.

Pemerintah, menurut Muhammad, telah mencoba mengatasi banjir dengan menyediakan mesin pompa, tetapi kapasitasnya dinilai belum memadai. Mesin pompa itu dimaksudkan untuk membuang air menuju Bengawan Solo. Sayangnya, kapasitas pompa dianggap belum sebanding dengan tingginya intensitas hujan.

“Sebelum 2023, (ketika dilakukan) penambahan pompa, awalnya itu pompanya sangat jelek sekali kalau dibilang. Sekarang udah ada perbaikan (pompa), namun kapasitas yang ada tidak sebanding dengan intensitas curah hujan," tuturnya.

Menurut Muhammad, banjir tahun ini lebih parah dari sebelumnya. Air yang merendam permukiman, jalan, dan lahan penghidupan warga tak kunjung surut selama berbulan-bulan.

“Kalau saya lihat itu tahun ini lebih parah dalam artian itu air itu sulit untuk keluar, biarpun dipompa," ucapnya.

Ia menilai pendangkalan atau sedimentasi sungai menjadi salah satu faktor penyebab banjir yang kian parah. Di sisi lain, pemerintah dituding tidak melakukan pengerukan sungai secara menyeluruh, terutama pada sungai-sungai kecil. Ia menyebut normalisasi hanya dilakukan pada sungai besar.

“Sepengetahuan saya, itu sudah dilakukan (normalisasi sungai), (tetapi) cuma di kali-kali yang besar aja sih. Jarang yang kali-kali kecil, gitu," ungkapnya.

Warga berharap pemerintah melakukan revitalisasi sungai secara menyeluruh serta melakukan penataan tata ruang di wilayah selatan Lamongan untuk menjaga area resapan air. Ia menilai berkurangnya lahan resapan di wilayah selatan menyebabkan air mengalir tak terkendali ke utara menuju Bengawan Njero. Selain itu, untuk penanganan jangka pendek, ia dan warga lainnya berharap kapasitas pompa air dapat ditingkatkan supaya banjir lebih cepat surut.

Banjir akibat luapan Sungai Bengawan Jero yang melanda Desa Bojoasri, Kecamatan Kalitengah, Lamongan kian memprihatinkan.
Foto : Eko Sudjarwo/detikJatim

“Kalau saya (berharap) revitalisasi sungai mulai dari hulu ke hilir dan penataan di daerah selatan Lamongan. Soalnya, di Lamongan Selatan kebanyakan udah dijadikan perumahan semua lahannya,” ungkap Muhammad.

Banjir di Lamongan yang terjadi berbulan-bulan turut merendam banyak ruas jalan. Para warga terpaksa beralih menggunakan perahu sebagai alat transportasi untuk beraktivitas di tengah air banjir.

Dikutip dari detikJatim, perahu-perahu kecil atau sampan terlihat hampir di setiap rumah warga dan tersandar di depan rumah warga Desa Laladan, Kecamatan Deket. Perahu-perahu itu digunakan warga untuk beraktivitas di tengah banjir yang hari ini masih terjadi.

"Hampir semua warga Desa Laladan ini punya perahu," kata Kepala Desa Laladan, Achwan, Sabtu, 24 Januari 2026.

Achwan menuturkan perahu menjadi alat transportasi andalan warga untuk beraktivitas di tengah banjir. Perahu ini mengantarkan warga untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari atau untuk pergi ke luar desa. Sementara itu, sepeda motor telah mereka titipkan di desa atau kampung sebelah yang jalannya tidak terendam banjir.

Sementara itu, di Dusun Gendol, Desa Gempolpendowo, Kecamatan Glagah, jalan beton desa yang selama ini menjadi akses utama warga untuk beraktivitas masih terendam air. Genangan yang berlangsung lama membuat permukaan jalan ditumbuhi lumut, sehingga jalan pun menjadi licin. Hal ini membuat aktivitas warga semakin sulit, bahkan membahayakan keselamatan saat melintasi jalan desa yang licin tersebut.

Untuk mengurangi risiko terpeleset, warga secara swadaya mengambil inisiatif memasang waring atau jaring yang biasanya dipakai warga untuk ikan. Waring-waring tersebut digelar begitu saja tanpa dijahit di sepanjang jalan yang terendam air. Dengan cara ini, kelicinan jalan bisa dikurangi saat dipijak atau dicengkeram ban kendaraan bermotor.

"Pemasangan waring ini dilakukan karena kondisi jalan semakin berbahaya setelah lama terendam banjir," kata salah seorang warga desa, Sutono.

Pemprov Jatim melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Sumber Daya Air (PU SDA) Jatim mengoperasikan pompa air di sekitar wilayah Sungai Bengawan Jero, Lamongan. Pompa air ini dioperasikan untuk menyedot genangan air yang berada di Kuro, Kecamatan Karangbinangun, Lamongan. Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyebut pompa air ini diharapkan bisa membantu mengurai genangan air di Kuro, di tempat banyak rumah warga terendam banjir di wilayah tersebut.

"Jadi pasca ke BBWS Bengawan Solo, saya share info ke warga via media sosial dan ternyata ada yang melaporkan pompanya tidak difungsikan. Saya kemudian berkoordinasi dengan BBWS Bengawan Solo dan Dinas PU SDA Jatim, ternyata memang di lingkup provinsi," kata Emil kepada detikJatim, Rabu, 4 Maret 2026.


Reporter: Ahmad Thovan Sugandi
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE