SPOTLIGHT

Laki-laki Juga Wajib Divaksin HPV

Setiap 25 menit, satu perempuan Indonesia meninggal akibat kanker serviks. Di balik angka itu, HPV terus berpindah tanpa gejala, sedangkan peran laki-laki dalam pencegahan masih kerap diabaikan.

Ilustrasi : Getty Images/iStockphoto

Selasa, 24 Maret 2026

Selama ini, kanker serviks kerap dibicarakan sebagai persoalan perempuan. Mereka dianjurkan menjalani pemeriksaan, menerima vaksin, dan memahami risiko yang seolah harus ditanggung sendiri.

Di ruang-ruang edukasi kesehatan, laki-laki nyaris tak disebut. Padahal, virus penyebabnya, Human Papillomavirus (HPV) tidak mengenal batas gender. Ia menular dari kontak tubuh ke tubuh lain, seringkali tanpa gejala.

Sofia—bukan nama sebenarnya, pernah mengalami mendapatkan respons heran ketika ia mengantarkan putranya yang berusia 15 tahun untuk mendapatkan vaksin HPV. Sejumlah pengunjung di klinik di Jakarta Selatan mempertanyakan keputusan itu. Mereka menganggap vaksin HPV tidak diperlukan bagi laki-laki, karena selama ini kanker serviks dipahami sebagai penyakit yang hanya berkaitan dengan perempuan.

“Aku nggak menyalahkan orang karena nggak tahu seberapa penting juga vaksin HPV buat laki-laki karena kenyataannya memang sosialisasi tentang itu jarang kita dengar kan,” ujar Sofia kepada detikX.

Sejak kehilangan sahabat dekatnya akibat kanker serviks, Sofia mulai melihat persoalan ini dari sisi yang berbeda. Ia mengingat bagaimana penyakit itu datang tanpa banyak tanda, dan baru disadari ketika sudah terlambat.

Dalam percakapan terakhir mereka, terselip dugaan yang mengkhawatirkan, kemungkinan penularan dari pasangan yang tidak pernah terdeteksi. Pengalaman itu membekas, dan membuatnya merasa pencegahan tidak bisa hanya dibebankan terhadap perempuan.

Sejak itu, Sofia berupaya mencari informasi dan memberi pemahaman kepada putranya tentang HPV. Virus tersebut bisa menular tanpa gejala dan laki-laki dapat menjadi pembawa. Di klinik tersebut, ia membayar sekitar Rp 2,5 juta per dosis, dengan total tiga dosis vaksin yang harus dipenuhi.

Baginya, vaksinasi bukan semata perlindungan untuk anaknya sendiri, tetapi juga langkah pencegahan agar putranya kelak tak menjadi bagian dari rantai penularan.

Belakangan, Sofia juga mengetahui vaksin HPV tidak hanya berkaitan dengan kanker serviks. Vaksin ini dapat membantu mencegah sejumlah kanker lain yang juga terkait HPV, seperti kanker anus, penis, hingga tenggorokan. Informasi itu semakin menguatkan keputusannya untuk tetap melanjutkan vaksinasi bagi putranya.

“Yang bisa saya lakukan sekarang adalah mencegah dari orang terdekat,” tandasnya.

Angga—bukan nama sebenarnya—juga tidak pernah benar-benar tahu apa itu HPV. Ia tidak pernah mendengar penjelasan soal virus tersebut, apalagi memahami dampaknya bagi laki-laki.

Selama ini, informasi yang ia tangkap hanya sebatas kanker serviks adalah persoalan perempuan, tanpa pernah ada penjelasan tentang peran laki-laki di dalamnya.



Pandangan itu berubah ketika tiga orang yang ia kenal dinyatakan terinfeksi HPV. Pengalaman itu membuatnya mulai merasa khawatir.

“Awalnya nggak kepikiran sama sekali. Tapi pas tahu kenalan aku kena, jadi langsung cari tahu,” ujar Angga kepada detikX. Dari situ, ia mulai mencari tahu dan menyadari bahwa laki-laki juga bisa menjadi pembawa virus tanpa gejala.

Angga kemudian memutuskan datang ke salah satu klinik di Jakarta. Selain melakukan tes HIV dan sifilis, ia juga memilih untuk mendapatkan vaksin HPV jenis Gardasil 9 yang direkomendasikan karena dapat melindungi dari sembilan tipe virus HPV. Biayanya tidak murah, namun ia menganggapnya sebagai langkah penting.

“Lumayan mahal, tapi aku anggap ini investasi, bukan cuma buat diri sendiri tapi juga buat pasangan nanti,” katanya.

Baginya, pencegahan menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Ia menyadari, jika suatu hari terinfeksi, hal itu tidak hanya berdampak pada dirinya, tetapi juga pada orang lain.

“Kalau kita sudah kena, pasti pasangan juga akan mikir dua kali. Jadi lebih baik dicegah dari sekarang,” ujarnya.

Namun, pengalaman itu juga membuatnya mempertanyakan minimnya informasi yang ia terima selama ini. Tidak ada kampanye yang secara khusus menyasar laki-laki, tidak ada edukasi yang menjelaskan bahwa mereka juga berperan dalam penularan HPV.

“Selama ini nggak pernah ada yang ngomong kalau ini juga penting buat laki-laki,” kata Angga.

Tak hanya vaksin, Angga juga berharap laki-laki mulai lebih peka terhadap kondisi tubuh mereka sendiri. Ia menilai, pemeriksaan seharusnya tidak lagi dianggap tabu, terutama ketika muncul tanda-tanda tidak biasa pada area kelamin atau anus.

“Kalau kira-kira ada penyakit, lu itu harusnya kudu tes, atau periksa. Yang gue takutin itu kadang (nular) ke orang lainnya,” ujarnya.

Menurutnya, sikap abai masih banyak ditemui pada laki-laki, baik karena kurangnya informasi maupun rasa enggan untuk memeriksakan diri. Padahal, tanpa disadari, kondisi tersebut bisa berdampak bukan hanya pada diri sendiri, tetapi juga pada pasangan.

Bagi Angga, kesadaran untuk memeriksakan diri menjadi bagian penting dari upaya pencegahan yang selama ini kerap terlewat, termasuk kanker serviks pada perempuan.

Data pemerintah menunjukkan beban kanker serviks di Indonesia masih tinggi. Berdasarkan estimasi terbaru, terdapat sekitar 36.964 kasus baru setiap tahun, dengan angka kematian mencapai 20.708 kasus.

“Kanker leher rahim itu diperkirakan sekitar 36.964 kasus, kematiannya 20.708. Makanya kita sampaikan satu sampai satu setengah kematian per jam,” kata Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi.

Padahal, kanker serviks menjadi salah satu jenis kanker yang sebenarnya bisa dicegah, bahkan dieliminasi. Pemerintah menargetkan eliminasi melalui kombinasi vaksinasi dan skrining.

“Kanker leher rahim itu salah satu kanker yang sebenarnya sudah bisa dieliminasi,” kata Nadia.

Tingginya angka kematian itu, menurut Nadia, berkaitan erat dengan keterlambatan diagnosis. Banyak kasus baru ditemukan saat sudah memasuki stadium lanjut, ketika peluang pengobatan semakin kecil.

“Umumnya itu ketahuan kalau sudah stadium lanjut,” tutur Nadia.

Untuk itu, pemerintah menargetkan perluasan cakupan skrining dan vaksinasi. Hingga 2030, setidaknya 75 persen perempuan usia 30–69 tahun ditargetkan menjalani skrining HPV DNA, sementara cakupan vaksinasi pada anak usia 11 tahun, baik laki-laki maupun perempuan, ditargetkan mencapai 95 persen.

“Karena kita mau eliminasi, maka laki-laki juga harus kita potong jalur penularannya,” ujar Nadia.

Namun, tantangan masih besar. Cakupan skrining saat ini masih sangat rendah, bahkan belum mencapai satu persen dari populasi sasaran.

“Masih kurang dari satu persen perempuan yang melakukan screening secara rutin,” kata Nadia.

Selain faktor akses, hambatan sosial juga berperan. Rasa malu, takut, hingga tidak mendapat izin dari pasangan membuat banyak perempuan menunda pemeriksaan.

“Banyak yang tidak memeriksakan diri karena malu, takut, atau tidak diizinkan suami,” tutur Nadia.

Di sisi lain, tantangan tenaga kesehatan masih menjadi hambatan di lapangan.



“Kalau tenaga yang terlatih hanya satu atau dua orang, waktu pemeriksaannya jadi lama,” kata Nadia.

Selain itu, pemerintah juga mulai mengandalkan teknologi untuk memperkuat deteksi dini dan pelacakan kasus. Proses skrining HPV DNA tidak dilakukan langsung di fasilitas layanan pertama, melainkan melalui pemeriksaan laboratorium yang membutuhkan waktu.

“Pemeriksaannya dirujuk ke laboratorium, jadi hasilnya itu butuh waktu sekitar dua sampai tiga minggu,” kata Nadia.

Untuk memastikan pasien tetap terpantau, hasil pemeriksaan kini diintegrasikan dalam sistem digital. Melalui platform pencatatan kesehatan, fasilitas layanan dapat melacak pasien yang perlu tindak lanjut.

“Puskesmas akan bisa mengetahui hasilnya dari laboratorium, lalu melacak pasien untuk penanganan lebih lanjut,” tutur Nadia.

Pemerintah juga mulai mendorong penggunaan aplikasi kesehatan agar pasien tidak terlewat dari sistem.

“Nanti akan ada notifikasi untuk kembali ke Puskesmas untuk penanganan lebih lanjut,” ujar Nadia.

Untuk mengatasi keterbatasan fasilitas dan tenaga, metode pengambilan sampel juga mulai disederhanakan.

“Sekarang pengambilan sampel bisa dilakukan sendiri,” tutur Nadia.

Langkah ini diharapkan dapat memperluas jangkauan skrining, terutama bagi perempuan yang selama ini enggan memeriksakan diri karena faktor kenyamanan atau keterbatasan akses.

Langkah lain yang tengah disiapkan adalah perluasan vaksinasi HPV untuk laki-laki. Selama ini, laki-laki kerap luput dari intervensi, padahal mereka juga dapat menjadi pembawa virus.

“HPV itu bisa menyerang laki-laki sama perempuan, jadi kita harus putus rantai penularannya,” ujar Nadia.


Reporter: Ani Mardatila
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE