Foto: Mojtaba Khamenei (REUTERS/Office of the Iranian Supreme Le)
Sabtu, 21 Maret 2026Dalam fase awal eskalasi militer antara Iran dengan Israel dan Amerika Serikat, Mojtaba Khamenei termasuk di antara target yang terdampak. Reuters pada 4 Maret 2026 melaporkan bahwa ia selamat dalam serangan yang mengguncang Iran. Seiring perkembangan situasi, informasi tambahan mulai muncul. Seorang pejabat senior yang dikutip Reuters beberapa hari kemudian menyebut bahwa Israel meyakini Mojtaba mengalami luka ringan dalam serangan tersebut. Pernyataan ini menunjukkan bahwa ia memang mengalami cedera, tetapi tidak dalam kondisi kritis. Walaupun demikian, ia dilaporkan kehilangan istri dan salah satu anaknya dalam serangan tersebut.
Di tengah situasi yang belum stabil, proses suksesi berlangsung cepat. Reuters mencatat bahwa Mojtaba sebelumnya memang digadang sebagai penerus tampuk pimpinan tertinggi Iran. Namanya telah lama berada dalam radar elite kekuasaan Iran. Namun, krisis mempercepat segalanya.
Al Jazeera dalam laporannya menyebut bahwa ia kemudian ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran di tengah perang yang sedang berlangsung. Pada 8 Maret lalu, Mojtaba Khamenei telah terpilih sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru, menurut laporan media pemerintah. Majelis Pakar Iran – badan ulama beranggotakan 88 orang yang memilih pemimpin tertinggi negara itu – telah menyerukan kepada rakyat Iran untuk menjaga persatuan dan menyatakan dukungan kepada sosok ulama 56 tahun tersebut.
Dalam sebuah pernyataan yang diedarkan melalui media pemerintah pada hari Minggu, majelis tersebut mengatakan bahwa Khamenei dipilih berdasarkan "pemungutan suara yang menentukan". Majelis tersebut mendesak seluruh warga Iran, terutama para elit dan intelektual, untuk "berjanji setia kepada kepemimpinan dan menjaga persatuan."
Setelah resmi menjadi pemimpin tertinggi, Mojtaba Khamenei tidak muncul secara langsung di hadapan publik. Pernyataan pertamanya dibacakan melalui siaran televisi pemerintah Iran.
Dalam pernyataan itu disebutkan, Iran akan "membalas darah" warga Iran yang tewas dalam perang dengan AS dan Israel, ujar Khamenei dalam pernyataannya. Dia juga disebutkan memperingatkan negara-negara tetangga agar tidak mengizinkan wilayahnya dijadikan pangkalan militer AS.
Khamenei menegaskan bahwa Iran akan terus menyerang pangkalan-pangkalan AS di negara-negara Teluk. Teheran, katanya, tetap berpegang pada kebijakan "persahabatan" dengan negara-negara tetangga, namun dia memperingatkan mereka agar menutup pangkalan militer Amerika di wilayah masing-masing.
"Kami berbagi perbatasan darat atau maritim dengan 15 negara tetangga dan selalu berupaya menjalin hubungan yang hangat dan konstruktif dengan semuanya," ujarnya.
"Negara-negara ini harus memperjelas sikap mereka terhadap para agresor yang menyerang tanah air kami dan para pembunuh rakyat kami."
"Saya menyarankan mereka menutup pangkalan-pangkalan tersebut sesegera mungkin," sambung pernyataan tersebut.
Selain itu, pimpinan Iran itu juga menyatakan penutupan selat Hormuz. Ia menyebut kawasan itu menjadi titik penting, di sana posisi "musuh amat rentan".
Siapa dia?

Mojtaba Khamenei menggantikan ayahnya, Ali Khamenei, sebagai pemimpin tertinggi Iran
Foto: REUTERS/Office of the Iranian Supreme Le
Mojtaba Khamenei adalah putra dari Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran sejak 1989 hingga kematiannya pada 2026. Mojtaba Khamenei lahir pada tahun 1969 di kota Mashhad, Iran. Ia dikenal sebagai salah satu anak laki-laki yang paling berpengaruh di antara keluarga tersebut.
Masa kecil Mojtaba berlangsung pada periode ketika ayahnya menjadi salah satu tokoh oposisi terhadap pemerintahan monarki Mohammad Reza Pahlavi. Pada masa tersebut, keluarga Khamenei beberapa kali mengalami tekanan dari aparat keamanan kerajaan, termasuk penangkapan dan pengasingan terhadap Ali Khamenei.
Dalam pendidikan, Mojtaba menempuh pendidikan umum di Teheran sebelum kemudian melanjutkan pendidikan agama. Menurut laporan United Against Nuclear Iran, ia bersekolah di Alavi High School, sebuah sekolah yang dikenal sebagai tempat pendidikan bagi kalangan elite Iran. Banyak tokoh penting Iran yang juga pernah belajar di sekolah tersebut.
Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, Mojtaba melanjutkan langkahnya di seminari Kota Qom, pusat pendidikan ulama Syiah di Iran. Di kota tersebut ia mempelajari teologi dan ilmu agama di bawah sejumlah ulama konservatif yang memiliki pengaruh besar dalam politik Iran.
Setelah keberhasilan Revolusi Iran 1979, posisi keluarga Khamenei berubah secara drastis. Ayahnya mulai memegang sejumlah jabatan penting dalam pemerintahan Iran, termasuk sebagai presiden pada 1980-an sebelum akhirnya menjadi pemimpin tertinggi Iran pada tahun 1989. Perubahan ini membuat Mojtaba tumbuh dalam lingkungan elite politik Republik Islam Iran.
Namun, berbeda dengan ayahnya, Mojtaba tidak membangun legitimasi melalui jabatan formal atau eksposur publik. Dalam laporan Al Jazeera, ia digambarkan sebagai sosok yang jarang tampil menonjol di publik. Khamenei dilaporkan tidak pernah mencalonkan diri untuk jabatan publik atau mengikuti pemilihan umum. Namun, selama beberapa dekade, ia telah tumbuh menjadi tokoh yang sangat berpengaruh dalam lingkaran dalam pemimpin tertinggi sebelumnya, serta membina hubungan yang erat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC).
Ia disebut mulai mengembangkan hubungan dekat di dalam IRGC sejak usia muda, ketika ia bertugas di Batalyon Habib beberapa operasi dalam Perang Iran-Irak tahun 1980-an. Beberapa rekannya, termasuk ulama lainnya, kemudian memperoleh posisi penting di aparat keamanan dan intelijen Republik Islam yang baru berdiri saat itu.
Dalam beberapa tahun terakhir, Khamenei semakin sering disebut-sebut sebagai calon pengganti utama ayahnya, yang menjabat sebagai presiden selama hampir delapan tahun dan kemudian memegang kekuasaan absolut selama 36 tahun, sebelum tewas dalam serangan terhadap kompleks kediamannya di Teheran pada Sabtu, 28 Februari.
Naiknya Khamenei muda disebut sebagai pertanda faksi-faksi garis keras dalam pemerintahan Iran tetap berkuasa, dan dapat mengindikasikan bahwa pemerintah tidak memiliki keinginan untuk menyetujui kesepakatan atau negosiasi dalam jangka pendek.

Serangan gabungan Israel-Amerika menghantam Teheran, Iran
Foto : Majid Asgaripour/WANA via REUTERS
Alajzeera menyebut Mojtaba Khamenei sendiri tidak pernah membahas masalah suksesi secara terbuka. Hal itu dipandang sebagai sebuah topik sensitif, mengingat kenaikannya ke posisi pemimpin tertinggi secara efektif akan menciptakan dinasti yang mengingatkan pada monarki Pahlavi sebelum revolusi Islam 1979.
Mojtaba Khamenei secara konsisten menampilkan citra diri yang sedikit terutup. Ia disebut bersikap rendah diri, tidak memberikan kuliah umum, khutbah Jumat, atau pidato politik - sampai-sampai banyak orang Iran belum pernah mendengar suaranya. Meskipun selama bertahun-tahun mereka tahu bahwa ia adalah bintang yang sedang naik daun di dalam rezim teokratis.
Kedudukan Mojtaba Khamenei dalam struktur keagamaan juga menjadi isu yang menarik dilihat. Hal itu karena ia adalah seorang hojatoleslam, seorang ulama tingkat menengah, bukan seorang ayatollah dengan pangkat yang lebih tinggi. Namun, ayahnya juga bukan seorang ayatollah ketika ia menjadi pemimpin negara pada tahun 1989, dan undang-undang diubah untuk mengakomodasinya. Kompromi serupa mungkin juga bisa dilakukan untuk Mojtaba.
Benarkah sedang dirawat di Rusia?
Di sisi lain, sempat beredar kabar angin bahwa Motjba dilarikan ke Rusia untuk mendapat perawatan setelah diserang oleh Amerika dan Zionis Israel. Duta Besar Iran untuk Rusia, Kazem Jalali membantah kabar tersebut. Kazem menilai pemimpinnya itu tidak perlu melarikan diri. Dikutip kantor berita Rusia, TASS, Selasa (17/3/2026), tempat pemimpinnya itu berada di tengah rakyat.
"Para pemimpin Iran tidak perlu melarikan diri atau bersembunyi di bunker, tempat mereka adalah di jalanan di tengah rakyat," kata Kazem Jalali, dikutip detiknews.
Laporan yang menyebut Mojtaba Khamenei dipindahkan ke Rusia untuk perawatan medis dinilai sebagai bentuk baru perang psikologis.
"Darah syahid Khamenei meniadakan efek perang psikologis dan banjir kebohongan," tulis diplomat Iran di X.
Sebelumnya dalam konferensi pers, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov menahan diri untuk tidak berkomentar tentang laporan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Ayatollah Mojtaba Khamenei, telah datang ke Moskow untuk perawatan medis. Informasi tersebut sebelumnya muncul di surat kabar Al Jarida.
Ucapan selamat dari Megawati

Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Sukarnoputri
Foto: Aryo Mahendro/detikBali
Presiden ke-5 Indonesia Megawati Soekarnoputri mengirimkan ucapan selamat atas terpilihnya Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran yang baru. Ucapan selamat itu disampaikan Megawati melalui surat yang dikirimkan kepada Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia.
Megawati menerima kunjungan Mohammad Boroujerdi selaku Duta Besar Republik Islam Iran untuk Indonesia di kediamannya, Menteng, Jakarta Pusat, Selasa (10/3/2026). Megawati mengaku senang usai Iran telah memiliki pemimpin tertinggi yang baru.
"Ini adalah surat kedua, saya merasa gembira bahwa karena Iran sekarang sudah punya pemimpin kembali," kata Megawati saat menyodorkan surat tersebut, dikutip dari detiknews.
Saat pertemuan, Megawati didampingi Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto, bersama Ketua DPP PDIP yaitu Ahmad Basarah, Yasonna Laoly, Eriko Sotarduga, dan Kepala Badan Riset dan Analisis Kebijakan PDIP Andi Widjajanto.
Megawati pada 3 Maret lalu juga telah mengirimkan surat ke pemerintah Republik Islam Iran menyampaikan dukacita yang mendalam atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, setelah serangan Amerika Serikat dan Israel ke negara tersebut.
Selain menyampaikan surat, Megawati juga menyerahkan foto saat dirinya melakukan kunjungan resmi ke Teheran dan bertemu dengan Ayatollah Ali Khamenei pada 2004.
"Ini bukti saya punya hubungan persahabatan dengan almarhum Ayatollah Ali Khamenei," ujar Megawati ke Dubes Boroujerdi.
Mereka berbincang hangat selama lebih dari satu jam. Usai pertemuan, Megawati menyerahkan kado berupa kemeja tenun ikat khas Bali kepada Dubes Boroujerdi.
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Irwan Nugroho