Foto: Ilustrasi serpihan-serpihan rudal yang ditembakkan dalam perang antara Iran dan Amerika-Israel (REUTERS/Amir Cohen)
Selasa, 17 Maret 2026Suara dentuman rudal dan drone alias kapal tanpa awak mulai terasa tidak asing di telinga Zaik, seorang warga negara Indonesia (WNI) yang bekerja sebagai anak buah kapal (ABK), di salah satu kapal asing di wilayah perarian Dubai. Setiap hari, kata Zaik, kepulan asap rudal yang ditembakkan, baik dari pihak Iran, Amerika Serikat, maupun Israel, terus menerus terlihat melintas di atas kepalanya.
Tidak jarang serpihan-serpihan rudal itu jatuh tidak jauh dari lokasi kapal Zaik bertambat. “Berhenti sehari (setiap) 3 jam, habis itu lanjut terus. Bahkan, sampai hari ini juga masih ada serangan,” kata Zaik kepada detikX, Jumat, 13 Maret 2026. “Kemarin malam saja baru kejadian ada rudal jatuh di atas kapal lain, persis di depan kami.”
Sampai setidaknya Jumat pekan lalu, Zaik dan 10 orang WNI lainnya masih terjebak di kapal milik asing ini. Sebagian dari mereka berasal dari Sulawesi, Jakarta, Banyuwangi, dan Pemalang.
Sejauh ini, sambung Zaik, kapal di perairan Dubai masih bisa beraktivitas secara normal. Suplai makanan dan obat-obatan masih terbilang aman.
Namun, belakangan, Zaik dan rekan-rekannya makin cemas mengingat situasi perang yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir dalam waktu dekat. Terlebih lagi, jaringan internet dan telepon juga mulai sering kacau. Zaik dan rekan-rekannya kesulitan untuk memberi kabar keluarga di Indonesia.
Kini, Zaik dan rekan-rekannya berharap agar pemerintah Indonesia bisa segera mengevakuasi dan memulangkan mereka ke Tanah Air. Mereka khawatir perang akan terus berkecamuk dan suplai air bersih maupun makanan ke kapal akan tersendat. “Belum lagi, kalau sampai kapal kami amit-amit malah kena salah sasaran dari serangan rudal,” ungkapnya.
Nasib tidak jauh berbeda dialami Mega, seorang awak kapal Berkah Tuah yang kini bersandar di Pelabuhan Hamriyah, Uni Emirat Arab. Hampir setiap hari, kata Mega, suara dentuman seperti bom kerap kali terdengar di tengah perairan Sharjah, Uni Emirat Arab. Biasanya, ledakan itu terdengar menjelang subuh atau saat sahur.
Hampir dua bulan, kapal Berkah Tuah sudah tidak lagi berlayar. Mega terjebak di kapal ini bersama satu WNI lain dan delapan warga negara Malaysia.

Potret kapal-kapal yang tertahan di Selat Hormuz
Foto: REUTERS/Amr Alfiky
Situasi perang membuat perusahaan tempat Mega bekerja menghentikan sementara operasional Berkah Tuah. Perusahaan menyerahkan tanggung jawab awak kapal Berkah Tuah kepada asuransi. Hal ini menyebabkan gaji awak kapal Berkah Tuah sempat tertunda beberapa bulan.
Nasib para awak kapal yang sempat luntang-lantung di bawah ancaman rudal dari negara-negara berkonflik. Beruntung pihak asuransi akhirnya membayarkan tunggakan gaji tersebut. Pemerintah Malaysia juga ikut membantu memberikan bantuan suplai makanan dan minuman kepada mereka.
“Lalu, kalau dari kami misalnya ada yang sakit pun akan di-arrange (diatur) oleh mereka untuk dibawa ke klinik,” kata Mega melalui pesan suara pekan lalu.
Kekhawatiran yang sama dirasakan juga oleh Andrian Umar alias Rian. Dia bekerja sebagai juru mudi di kapal pengangkut pasir yang beroperasi dari Pelabuhan Ras Al Khaimah ke New Free Port dan Pelabuhan Mussafah di Abu Dhabi.
Setiap hari, Rian harus bekerja di bawah ancaman serangan rudal dan pesawat tanpa awak. Serangan-serangan itu datang di waktu tenang, saat orang-orang masih atau baru saja terlelap pada malam dan pagi hari. Rian tidak tahu dari mana serangan itu berasal, tetapi ledakannya kerap terdengar dari kapal tempat Rian bekerja.
“Contoh saja, tadi pagi sekitar pukul 04.00 terjadi sekali serangan dari tempat awal keberangkatan kami di Abu Dhabi. Itu, jujur sekali saya sendiri pun merasa was-was kalau terjadi serangan apalagi risikonya sangat besar kalau terkena kapal, utamanya dari serpihan-serpihan rudal yang meledak atau jatuh atau terlempar ke laut,” tutur Rian melalui sambungan telepon pada Kamis, 12 Maret 2026.

Potret Selat Hormuz, Titik Rawan Jalur Minyak Dunia
Foto: REUTERS/Nicolas Economou
Kondisi ini membuat Rian kerap cemas lantaran rudal-rudal serta pesawat tanpa awak yang terus berterbangan dari kubu-kubu yang berseteru kerap mengacaukan sistem navigasi kapal. Hal ini berbahaya kapal akan kehilangan informasi posisi kapal lainnya yang berdekatan, khususnya kapal-kapal yang tengah lempar labuh jangkar.
“Jadi terjadi beberapa error pembacaan, dan ini yang menyebabkan kami para navigator lebih tepatnya sangat worry (khawatir) karena risiko terjadinya kecelakaan laut itu sangat tinggi,” ungkap Rian.
Dalam situasi seperti ini, para juru mudi kapal biasanya akan menggunakan cara lama dalam sistem navigasi, yakni menggunakan peta elektronik. Namun, menurut Rian, peta elektronik kerap tidak tepat dalam menunjukkan lokasi kapal.
“Kalau peta elektronik (atau) GPS-nya error, maka posisi yang tertampil di peta elektronik itu berbeda. Sedangkan kalau kita menggunakan paper chart, kita harus menggunakan namanya baring-baringan,” ungkap Rian.
Selain khawatir situasi yang mendadak bisa membunuhnya itu, Rian juga cemas kalau-kalau situasi perang membuat suplai makanan dan air bersih ke kapalnya yang selalu berada di tengah laut menjadi terhambat bahkan tidak datang sama sekali. Situasi ini mungkin akan membunuh Rian secara perlahan.
Meski kecemasan itu terus menghantuinya dalam beberapa pekan terakhir ini, Rian berusaha untuk selalu bersikap tenang saban kali keluarga di Indonesia menghubunginya. Rian tidak ingin orang-orang yang menyayanginya di Indonesia ikut khawatir dengan kondisinya saat ini.
“Karena, kalau kita berusaha menjelaskan situasi aslinya, otomatis kekhawatiran mereka (yaitu) keluarga di kampung halaman maupun di Indonesia itu bisa dikatakan yang ada malah ‘kacau’ nanti,” kata Rian lagi.
Selain Rian, Zaik, Mega, dan beberapa ABK WNI di kapal mereka masih ada sedikitnya empat ABK WNI lagi yang kini terjebak di lokasi konflik. Keempatnya kini berada di kapal milik PT Pertamina International Shipping (SIP), Gamsunora.

Kapal tanker berlayar di perairan Teluk, dekat Selat Hormuz, saat perang antara AS-Israel dan Iran berkecamuk
Foto: REUTERS/Stringer/File Photo
Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita mengungkapkan posisi kapal Gamsunoro kini tengah berada di Teluk Persia. Vega memastikan semua awak kapal, termasuk WNI di kapal Gamsunoro, dalam kondisi aman. Pihak PIS, sambung Vita, terus berkomunikasi dengan Kementerian Luar Negeri untuk memastikan semua awak dan muatan kapal PIS yang masih berada di lokasi konflik akan pulang dengan selamat.
“Sementara posisinya masih menunggu aman untuk keluar dari Selat Hormuz,” ungkap Vega melalui telepon.
detikX telah meminta menghubungi Duta Besar Republik Indonesia untuk Uni Emirat Arab, Judha Nugraha, untuk meminta informasi terkini dan langkah yang akan diambil pemerintah kepada para ABK WNI di Uni Emirat Arab. Namun, sampai artikel ini diterbitkan, Judha masih belum membalas pesan maupun telepon.
detikX juga menghubungi Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Yvonne Mewengkang, namun belum ada jawaban.
Hingga artikel ini ditulis, ada sedikitnya empat ABK WNI menjadi korban dalam konflik yang berkecamuk antara Iran, Israel Zionis, dan Amerika Serikat. Kapal bernama Musaffah 2 yang dikendarai keempat WNI itu meledak dan tenggelam di Selat Hormuz pada Jumat, 6 Maret 2026. Belum diketahui apa yang menjadi penyebab ledekan.
Sampai saat ini baru satu korban yang dinyatakan selamat. Tiga lainnya masih hilang.
Reporter: Fajar Yusuf Rasdianto, David Kristian (magang)
Penulis: Fajar Yusuf Rasdianto
Editor: Irwan Nugroho