Ilustrasi : Edi Wahyono
Senin, 9 Maret 2026Ramadan 2026 kali ini penuh serangan rudal Amerika Serikat dan Zionis Israel ke Iran. Mereka menyerang 9 rumah sakit, 13 pusat layanan kesehatan, 20 sekolah, 3 stadion olahraga, serta permukiman sipil. Hal tersebut diungkap Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi. Lebih dari 1.230 anak-anak, perempuan, dan warga sipil tak berdosa meninggal dunia, termasuk Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Revolusi Islam Iran.
“Rakyat Iran tidak akan menyerah dan akan mempertahankan tanah air mereka hingga titik darah penghabisan,” kata Boroujerdi kepada detikX, Minggu, 8 Maret 2026.
Boroujerdi menyebut serangan terbaru ini bukan pertama kalinya terjadi di tengah proses diplomasi antara Iran dan Amerika Serikat. Ia mengatakan pihak agresor mengklaim serangan tersebut sebagai serangan pendahuluan yang mengejutkan.
“Sayangnya, ini adalah kedua kalinya rezim Zionis dan Amerika Serikat menyerang Iran di tengah berlangsungnya perundingan,” ujarnya.
Meski demikian, ia menilai kesiapan militer Iran menunjukkan negara tersebut telah lama mempersiapkan diri menghadapi konflik. Ia juga menyebut pengalaman konflik sebelumnya, yang disebutnya sebagai perang 12 hari, menjadi pelajaran penting bagi Iran. Pengalaman itu menunjukkan Iran tidak dapat mempercayai Amerika Serikat, bahkan saat berada di meja perundingan.
“Bahkan di tengah perundingan dengan Amerika Serikat pun tidak dapat menaruh kepercayaan kepada negara tersebut,” ujarnya.
Menurut Boroujerdi, sebelum serangan terjadi, pemerintah Iran sebenarnya sudah memperkirakan kemungkinan konflik karena adanya pengerahan militer Amerika Serikat di kawasan. Pusat pemerintahan Iran juga telah memberikan peringatan kesiapsiagaan kepada seluruh perwakilan diplomatiknya, termasuk Kedutaan Besar Iran di Indonesia. Namun, saat itu, kata dia, proses perundingan dengan Amerika Serikat masih berlangsung sehingga kemungkinan penyelesaian melalui diplomasi belum sepenuhnya tertutup.
Di sisi lain, Boroujerdi menilai konflik di Semenanjung Arab dan sekitarnya juga tidak terlepas dari keberadaan Israel di kawasan Asia Barat yang, menurutnya, menjadi sumber ketegangan.
“Menurut pandangan kami, keberadaan rezim Zionis di kawasan Asia Barat selalu menjadi sumber utama seluruh ketegangan dan konflik di kawasan maupun di dunia,” katanya.
Ia menuding Israel berupaya menjalankan proyek ekspansionisme yang disebutnya sebagai ‘Israel Raya’.
“Rezim pembunuh anak-anak ini kini berupaya mewujudkan proyek ‘Israel Raya’, sebuah proyek yang berlandaskan ajaran Zionisme dan mensyaratkan pelemahan serta pemecahan negara-negara di kawasan,” ujarnya.

Pemandangan puing-puing setelah serangan Zionis Israel dan Amerika Serikat terhadap Rumah Sakit Hotel Gandhi di Teheran, Iran, 2 Maret 2026.
Foto : Majid Asgaripour/WANA via REUTERS
Baca Juga : Operasi Mossad di Jantung Pertahanan Iran
Menurut Boroujerdi, Iran selama 47 tahun terakhir menjadi penghalang terbesar bagi proyek tersebut sehingga menjadi sasaran serangan.
“Atas dasar itu, rezim Zionis, dengan dukungan penuh Amerika Serikat... melalui serangan militer bersama dengan Amerika Serikat, berusaha melemahkan dan memecah Iran agar dapat mewujudkan proyek ‘Israel Raya’,” katanya.
Boroujerdi juga memperingatkan, konflik tersebut berpotensi meluas menjadi perang regional. Seluruh fasilitas militer agresor di kawasan akan menjadi target balasan Iran. Ia menyesalkan sebagian fasilitas tersebut berada di negara-negara tetangga yang sebenarnya tidak memiliki konflik dengan Iran. Namun Boroujerdi juga menegaskan Iran tidak memiliki permusuhan dengan negara-negara di kawasan Teluk Persia dan tetap berkomitmen pada kebijakan bertetangga baik.
“Kami sangat menyesalkan bahwa wilayah negara-negara muslim di kawasan pada bulan Ramadan disalahgunakan oleh para agresor Amerika untuk melakukan serangan brutal terhadap sebuah negara muslim,” ujarnya.
Bagi Iran, jika negara-negara kawasan memberikan akses wilayah udara, darat, atau laut kepada musuh Iran, risiko perluasan konflik akan semakin besar.
“Mengingat keserakahan dan tindakan perang yang dilakukan oleh Amerika Serikat dan Israel, bukan hanya risiko regionalisasi konflik yang ada, tetapi juga risiko meluasnya perang ke tingkat global dan bahkan dimulainya Perang Dunia III,” katanya.
Iran juga memperingatkan negara-negara yang ikut terlibat dalam agresi tersebut.
“Setiap negara yang bergabung dalam agresi Amerika Serikat dan rezim Zionis Israel terhadap Iran akan menjadi target sah tindakan balasan Iran,” ujarnya.
Menurut Boroujerdi, kegagalan masyarakat internasional bertindak terhadap konflik tersebut dapat mempercepat eskalasi global. Ia menyerukan agar negara-negara independen mengambil tindakan nyata untuk menghadapi ekspansionisme Amerika Serikat dan Zionis Israel. Menurutnya, situasi tersebut telah membahayakan stabilitas global.
“Langkah terpenting adalah kecaman yang tegas terhadap kejahatan dan agresi Amerika Serikat serta rezim Zionis terhadap Iran oleh semua negara independen dan masyarakat internasional,” katanya.
Serangan yang Melanggar Hukum Internasional
Guru Besar Bidang Ilmu Keamanan dan Perdamaian Universitas Pelita Harapan, Edwin Martua Bangun Tambunan, menilai serangan Israel dan Amerika Serikat berpotensi berkembang menjadi perang yang lebih luas. Namun kemungkinan berubah menjadi Perang Dunia III masih relatif kecil dalam waktu dekat.
Ia mengatakan serangan Zionis Israel yang berkoordinasi dengan Amerika Serikat terhadap Iran mengejutkan banyak pihak. Sebab, terjadi saat proses negosiasi antara Iran dan Amerika Serikat hampir mencapai tahap akhir. Iran sebenarnya hampir menyatakan kesiapan mengikuti kesepakatan yang telah dirundingkan bersama Amerika Serikat. Namun proses tersebut batal setelah Iran justru diserang. Hal ini mengindikasikan adanya kepentingan strategis yang lebih besar dibandingkan sekadar hasil perundingan mengenai program nuklir Iran.
“Saya dalam berbagai kesempatan selalu percaya apa yang dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat di Iran bukanlah soal program nuklir,” kata Edwin kepada detikX.
Ia menilai tujuan jangka panjang kedua negara tersebut adalah mencegah munculnya kekuatan besar di Asia Barat yang dapat mengancam kepentingan mereka. Menurut Edwin, kemampuan tersebut hanya dapat dihilangkan jika terjadi perubahan pemerintahan di Iran.
“Dan kemampuan ini hanya bisa dinihilkan kalau pemerintahannya mengalami replacement atau penggantian,” katanya.
Edwin melihat tahap awal konflik saat ini masih didominasi oleh penggunaan kekuatan udara oleh Israel dan Amerika Serikat. Strategi ini kemungkinan dimaksudkan untuk melumpuhkan Iran tanpa perlu melakukan operasi militer darat. Namun, menurut Edwin, sejarah menunjukkan penggunaan kekuatan udara saja tidak cukup untuk menentukan kemenangan dalam perang.
“Bahkan Amerika Serikat sudah mengalami kegagalan menggunakan air power ini. Mulai di Vietnam hingga di Afghanistan,” ujarnya.
Edwin menilai kecil kemungkinan Amerika Serikat dan Israel akan melakukan operasi militer darat di Iran karena risiko korban yang sangat besar. Menurut dia, operasi darat berpotensi menyeret Amerika Serikat kembali ke konflik berkepanjangan dengan korban besar.
“Ini yang mungkin tidak akan dilakukan oleh Israel dan Amerika Serikat: melakukan agresi terhadap Iran menggunakan kekuatan darat,” katanya.
Edwin menyinggung gaya kepemimpinan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, yang dinilai berambisi tinggi.
“Karena Trump selalu terlalu bersemangat dan berambisi, sama sekali tidak melakukan kalkulasi yang cermat dengan kemampuan Iran untuk menyerang sejumlah objek vital pertahanan Amerika Serikat,” katanya.
Jika skenario ini terjadi, Edwin memperingatkan, konflik dapat berubah menjadi perang berkepanjangan seperti yang dialami Amerika Serikat di Vietnam atau Afghanistan. Namun, menurutnya, konflik tersebut belum memenuhi syarat untuk menjadi Perang Dunia karena belum melibatkan kekuatan besar lain secara langsung.
“Perang dunia itu hanya bisa terjadi kalau setidaknya dua kekuatan besar, dua great power, terlibat di dalamnya,” katanya.
Ia menilai Rusia dan China sejauh ini masih menahan diri. Rusia mungkin enggan membuka front konflik baru karena masih terlibat perang dengan Ukraina. Sementara itu, China dinilai lebih berhitung karena stabilitas ekonomi menjadi prioritas utama.

Kuburan massal yang disiapkan untuk para korban setelah serangan yang dilaporkan terjadi di sebuah sekolah di Minab, Iran, 2 Maret 2026.
Foto : Via REUTERS/Iranian Foreign Media Department
Namun eskalasi dapat meningkat jika perang terbuka meledak di Selat Hormuz. Ia menilai Israel dan Amerika Serikat perlu berhati-hati agar tidak menyerang kapal tanker atau jalur energi yang berkaitan dengan Rusia maupun China. Kesalahan kecil seperti serangan terhadap kapal tanker yang terkait dengan Rusia atau China dapat memicu eskalasi besar.
Analis dan pakar geopolitik Timur Tengah dari Universitas Padjadjaran, Dina Yulianti Sulaeman, menilai serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran merupakan tindakan yang melanggar hukum internasional. Ia juga memperkirakan konflik tersebut berpotensi berlangsung lama dan menimbulkan dampak luas, termasuk bagi negara-negara di luar kawasan Asia Barat.
“Serangan ini adalah serangan yang ilegal, melanggar hukum internasional. Jadi Amerika Serikat-Israel menyerang Iran itu adalah sebuah langkah atau agresi yang betul-betul melanggar hukum,” kata Dina kepada detikX.
Sebaliknya, menurut Dina, tindakan Iran membalas serangan justru dilindungi hukum internasional. “Sementara itu, pihak yang diserang itu berhak melawan sesuai dengan Pasal 51 Piagam PBB,” katanya.
Dina juga menilai terdapat kemungkinan besar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berperan dalam mendorong Amerika Serikat melancarkan serangan terhadap Iran. Trump bahkan mengambil keputusan menyerang Iran bersama Israel secara tiba-tiba dan tanpa melalui persetujuan Kongres. Padahal, dari berbagai sisi, Iran sebenarnya bukan ancaman langsung bagi Amerika Serikat.
“Saya menduga kuat ini ada kaitan dengan (dirilisnya) file Epstein. Kan, secara mendadak itu dikeluarkan ketika situasi sedang panas sebelum akhirnya serangan terjadi,” ujarnya.
Menurut Dina, keberadaan dokumen-dokumen itu secara politis sangat mengancam posisi Trump sebagai Presiden. Ada kemungkinan, sedikit banyak, dirilisnya dokumen tersebut bisa menjadi faktor yang menimbulkan tekanan terhadap Trump untuk akhirnya menyerang negara lain.
“Sehingga memang di dalam negeri Amerika Serikat sendiri besar sekali protes dan penolakan atas keputusan Trump ini,” katanya.
Selain faktor politik, Dina juga menilai keputusan menyerang Iran mungkin didasarkan pada perhitungan strategi militer yang keliru. Netanyahu mungkin meyakinkan Trump bahwa operasi militer terhadap Iran akan berlangsung cepat.
“Yang terjadi justru solidaritas bangsa Iran itu justru semakin menguat dan kemudian semangat mereka justru semakin menyala-nyala untuk melakukan pembalasan,” ujarnya.
Konflik tersebut juga disebut berdampak pada ekonomi banyak negara, termasuk negara-negara Asia Barat. Menurutnya, negara-negara yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika Serikat justru ikut menanggung kerugian. Ia menilai negara-negara tersebut sebenarnya tidak menginginkan perang karena bergantung pada stabilitas kawasan untuk sektor investasi dan pariwisata. Menurut Dina, kondisi tersebut memunculkan tekanan dari negara-negara monarki Arab terhadap Amerika Serikat agar perang segera dihentikan.
Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, David Kristian Irawan (magang)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim