Foto : Potret dampak banjir bandang dan toilet darurat di selatan Sungai Simpang Jernih, Gampong (Desa) Batu Sumbang, Aceh Timur, Rabu (11/2/2026). (Harits Naufal Arrazie/Kontributor detikX)
Selasa, 24 Februari 2026Berbulan-bulan setelah banjir besar melanda Desa Batu Sumbang, Kecamatan Simpang Jernih, Kabupaten Aceh Timur, sebagian warga masih tinggal di tenda pengungsian. Sebagian lainnya terpaksa tinggal di rumah meski kondisinya tak layak. Kebanyakan rumah dikepung timbunan lumpur yang lebih tinggi daripada pelataran rumah, sehingga kerap kemasukan air saat hujan.
“Rumah itu otomatis kan tinggal di bawah (jadi lebih rendah karena ada sedimen lumpur di sekitarnya), dibersihkan kemarin tuh. Karena orang ini (pemilik rumah) nggak sanggup tinggal di tenda (akibat) panas, Bang. Jadi tinggal di rumah itu. Kalau hujan, keadaannya kayak gitulah. Macam nimba air dari dalam rumah lagi," ucap Rabuna, warga Batu Sumbang, kepada detikX.
Rabuna mengatakan Ramadan tahun ini menjadi masa sulit bagi warga yang masih hidup di pengungsian. Sebagian warga terpaksa membangun gubuk darurat sendiri. Dari sekitar 130 keluarga di Batu Sumbang, mayoritas hunian terdampak dan tak layak huni.
Adapun hunian sementara (huntara) yang dijanjikan pemerintah juga belum bisa ditempati. Padahal warga sudah lama berharap bisa pindah dari tenda. Awalnya, pemerintah menjanjikan pembangunan huntara dalam jumlah besar. Namun hanya beberapa yang mulai dibangun dan belum siap huni.
“Kemarin itu, kata pemerintah 95 titik, 95 pintu untuk desa kami. Tapi ternyata ada pengurangan, tapi nggak ada penjelasan tepat kami, gitu. Jadi warga kan sudah berharap (dapat pindah ke huntara). Macam warga nih sampai sekarang masih tinggal di tenda pengungsian," ungkapnya.
Banjir juga merusak fasilitas pendidikan. Hingga kini, sekolah dasar di desa tersebut belum sepenuhnya pulih. Akibatnya, siswa terpaksa belajar dalam kondisi terbatas. Selain itu, fasilitas kesehatan juga terdampak. Gedung puskesmas rusak berat dan tak bisa digunakan. Saat ini, untuk keperluan kesehatan, disediakan puskesmas darurat. Sanitasi pun masih terbatas. Hingga kini warga hanya memiliki beberapa toilet umum yang dibangun relawan.
Warga juga mengeluhkan lambatnya pendataan kerusakan oleh pemerintah. Tim baru datang ketika sebagian warga sudah membersihkan rumahnya sendiri. Akibatnya, sebagian warga belum mendapatkan bantuan perbaikan rumah.
“Pokoknya pendataan rumah (yang terdampak bencana) tuh (oleh) BNPB (baru) turun (ketika) sudah hampir dua bulan. Rumah kan otomatis sudah dihuni sama yang punya, udah dibersihin, gitu. Makanya macam rumah banyak warga yang nggak kena (data) rusak ringannya, rusak beratnya. Karena rumah sudah dibersihkan, sudah dibetulin sama warga, baru datang orang itu mendata dari atas. Sebelum-sebelumnya ke mana?” ujarnya.
Hingga kini, warga masih menunggu bantuan yang dijanjikan berupa logistik pangan, dana perbaikan rumah, dan pembangunan huntara. Ia berharap pemerintah segera merealisasikan janji tersebut.
"Kami mohon kepada saudara dan teman-teman relawan, mungkin ada yang ingin memberikan donasi ke daerah kami. Karena di bulan suci Ramadan ini logistik di desa kami sudah menipis," ucapnya.

Sekumpulan siswa sedang bermain di halaman bekalang PAUD Harapan Ne-Ate yang rusak akibat banjir bandang di Gampong (Desa) Pante Kera, Aceh Timur, Rabu (11/2/2026).
Foto : Harits Naufal Arrazie/Kontributor detikX
Di lain tempat. Hampir tiga bulan setelah banjir melanda Kabupaten Aceh Tamiang, kondisi di sejumlah wilayah juga belum bisa disebut pulih. Di Desa Landuh, Kecamatan Rantau, lumpur masih menimbun rumah-rumah warga, akses air bersih belum tersedia, dan sebagian warga masih bertahan di tenda darurat.
“Untuk kondisi Aceh Tamiang saat ini masih dikatakan jauh dari kata pulih. Khususnya di daerah saya sendiri di Desa Landuh, masih banyak warga yang tinggal di tenda darurat,” kata Intan Kumalasari, warga Desa Landuh sekaligus guru SMKN 2 Karang Baru, kepada detikX.
Menurut Intan, banyak rumah warga yang masih tertimbun lumpur. Meski demikian, belum ada bantuan dari pemerintah untuk menyingkirkan endapan tersebut. Warga juga mengaku kesulitan melakukan pembersihan secara mandiri karena keterbatasan alat.
“Kalau upaya pembersihan rumah ke rumah dari pemerintah itu nggak ada sama sekali. Kalaupun memang ada, itu (dilakukan secara) pribadi (warga) yang punya uang. Tapi, kalau dari pemerintah (secara) door to door, ke rumah-rumah, itu nggak ada," ucapnya.
Selain itu, sejumlah lokasi masih sulit diakses karena endapan lumpur yang masih tinggi. Endapan itu turut membuat jalanan menjadi sangat licin dan sulit dilalui. Sebaliknya, ketika terik matahari, endapan lumpur berubah menjadi debu tebal yang mudah tertiup angin. Kondisi itu dilaporkan membuat warga sesak napas dan ISPA.
“Saya pribadi, ketika ke luar rumah, sudah pakai helm, pakai masker, dan dada terasa sesak karena abunya itu super super-tebel, super-banyak,” ucapnya.
Selain hunian, menurut Intan, masalah paling mendesak bagi warga desanya saat ini adalah air bersih. Hingga kini, layanan PDAM tak kunjung pulih. Saat bencana lalu, banyak pipa penyalur air rusak dan tak kunjung diperbaiki. Selama ini warga hanya mengandalkan bantuan air bersih dari pihak swasta dan donatur yang jumlahnya terbatas.
“Pipa-pipanya itu banyak yang pecah dan perbaikannya juga belum selesai. Saat saya tanya, ‘Kapan kira-kira bisa pemulihan (air) PDAM-nya?’ Mereka juga tidak bisa menjawab. Kemungkinan baru selesai setelah Lebaran,” ungkap Intan.
Menurut Intan, Ramadan tahun ini juga terasa berbeda bagi warga Desa Landuh. Kelancaran ibadah agak terganggu karena banyak masjid rusak. Selain itu, suasana kampung pun berubah drastis.
"Banyak warga yang belum pulang ke rumah. Masih banyak di tempat pengungsian, di rumah sewa, di rumah saudara. Jadi kampung ini terlihat lebih sepi dan hari-hari sebelum banjir," ujar Intan.
Hilangnya Penghidupan
Di tempat terpisah. Habib Muhammad Isa, 70 tahun, tinggal di rumahnya di Desa Blang Panjoe, Kecamatan Kutablang, Kabupaten Bireuen, Aceh. Rumah itu kini sudah bisa ditempati kembali. Sebelumnya, rumah tersebut tak layak huni. Lumpur yang masuk telah disingkirkan. Namun, bagi Habib, membersihkan rumah bukan berarti memulihkan kehidupan.
Sejak muda, Habib adalah nelayan. Ia melaut untuk mencari nafkah utama, dengan penghasilan rata-rata sekitar Rp 2 juta per bulan, kadang mencapai Rp 3-4 juta jika hasil tangkapan sedang bagus. Untuk menopang kebutuhan keluarga, ia juga memiliki sawah seluas sekitar 1.600 meter persegi, yang dibeli khusus untuk memenuhi kebutuhan makan rumah tangga.
Baca Juga : Tiga Bulan Usai Bencana, Aceh Masih Tertatih
“Sebelum ini, pokok utama saya nelayan. Sambilan itu ada saya beli tanah-tanah sawah untuk makan di rumah ya,” ujarnya kepada detikX.
Kini keduanya hilang sekaligus.
Sawahnya tidak lagi bisa ditanami. Lumpur setebal 1 meter menutup seluruh lahan. Menurut Habib, tanpa alat berat, upaya pemulihan hampir mustahil.
“Tanah ini kita kerja-kerja kalau kita bersihkan tanah ini yang susah kita bawa ke mana kita buang,” katanya.
Di laut, nasibnya tak lebih baik. Habib tidak lagi bisa melaut. Peralatan tangkapnya hilang. Untuk kembali melaut, ia membutuhkan biaya besar. Jaring misalnya, harga yang dipatok bisa mencapai puluhan juta rupiah. Jika termasuk perahu dan perlengkapan lainnya, jumlahnya jauh lebih besar.
Tanpa sawah dan tanpa perahu, Habib kehilangan seluruh sumber penghasilan. Untuk kebutuhan sehari-hari, termasuk makan dan listrik, ia kini bergantung pada bantuan. Namun bantuan hanya bersifat sementara.
“Itulah… buat dua bulan ini nggak apa-apa. Ke depan yang susah," katanya khawatir.
Setelah bantuan berhenti, Habib tidak tahu bagaimana akan bertahan hidup. Ia berencana mencari pekerjaan lain meski usianya sudah 70 tahun.
Kembali Diterpa Banjir Bandang
Tiga bulan setelah banjir besar menghantam Desa Lopian, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Syahnur Wita belum juga bisa pulang ke rumahnya. Alih-alih pulih dari dampak bencana, dua hari menjelang Ramadan banjir bandang kembali menerpa kampungnya.
Banjir pertama terjadi pada 25 November 2025. Rumahnya rusak berat, tembok jebol, dan seluruh isi rumah hanyut. Sejak itu, ia dan suaminya terpaksa mengungsi ke rumah mertua, yang berjarak 2-3 kilometer.
Namun, saat kondisi belum pulih, banjir kembali datang pada 11 Februari, lalu disusul bencana yang lebih parah pada 16 Februari. Air banjir setinggi pinggang orang dewasa datang bersama gelondongan kayu dalam jumlah yang besar. Kini rumah mereka masih tertimbun tanah dan kayu gelondongan besar yang tak mungkin dipindahkan tanpa alat berat.
“Yang pasti rumah (kami) itu tertutup sama kayu. Kalau bisa dibilang seperti lautan kayu, bukan lautan air lagi, gitu," kata Wita kepada detikX.

Sisa-sisa pakaian tertimbun lumpur akibat banjir bandang yang dijemur warga Gampong (Desa) Batu Sumbang, Aceh Timur, Rabu (11/2/2026).
Foto : Harits Naufal Arrazie/Kontributor detikX
Menurut Wita, banjir terjadi berulang dan makin parah karena endapan tanah yang belum sepenuhnya disingkirkan.
“Dari pascabencana tanggal 25 (November), kondisi sungainya memang belum normal. Dikerjakan pun belum sepenuhnya. Jadi naik hujan dikit aja, air langsung naik karena kondisi sungai sama daratan udah mulai setara,” ungkap perempuan berusia 30 tahun tersebut.
Datangnya bencana susulan menjelang Ramadan menambah luka tersendiri bagi Wita dan warga desanya. Masjid desa yang sempat dibersihkan kini kembali terendam lumpur tebal.
“Kebetulan sejak tanggal 25 (November) masjid kami juga kena, dan sudah dibersihkan. Tapi, tanggal 11 (dan) 16 (Februari) itu air naik lagi. Jadi masjid kami pun penuh dengan tanah (lumpur)," ucapnya.
Di masa bencana ini, perekonomian warga di kampungnya juga belum pulih. Banyak warga kehilangan pekerjaan. Kebun-kebun yang sudah ditanami kini habis dihantam banjir.
Tak hanya petani. Wita, yang berprofesi sebagai guru honorer, dan suaminya yang bekerja sebagai kurir paket juga kehilangan kestabilan pendapatan.
“Saya sendiri aja nggak tahu ke depannya (akan bagaimana). Karena kan banyak rencana yang sudah hilang. Mau ngapain coba?" ujarnya.
Sebagai guru di SMK Negeri 1 Lumut, Wita juga melihat langsung dampak psikologis bencana pada murid-muridnya. Terutama bagi muridnya yang kehilangan orang tua dan saudara akibat longsor.
“Sedih, ya. Apalagi siswa-siswa kami ada yang rumahnya habis, bahkan orang tuanya, adiknya meninggal karena longsor. Nah, itu ketika masuk sekolah pun, (mereka) masih (dalam suasana) berduka," ungkap Wita.
Ia berharap pemerintah segera bertindak cepat untuk membereskan endapan lumpur agar bencana tak berulang.
“Harapan saya, pertama, pasti keadaan cepat pulih. Terus, kondisi keadaan sungai kami cepat normal lagi. Supaya, kalau hujan, (kami) nggak khawatir, nggak waswas, gitu. Dan, yang lebih penting, pengin cepat pulang. Rindu rumah," ucapnya.
Reporter: Ahmad Thovan Sugandi, Fajar Yusuf Rasdianto, Ani Mardatila, David Kristian Irawan (magang)
Penulis: Ahmad Thovan Sugandi
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim