Suara Gen Z soal 2024 hingga Pasal Penghinaan Presiden di KUHP Baru

ADVERTISEMENT

Suara Gen Z soal 2024 hingga Pasal Penghinaan Presiden di KUHP Baru

Ilham Oktafian - detikNews
Jumat, 09 Des 2022 23:15 WIB
Diskusi Peran, Ekspektasi dan Partisipasi Kaum Muda dalam Pesta Demokrasi di Gedung KPU. (Ilham Oktafian/detikcom)
Diskusi Peran, Ekspektasi dan Partisipasi Kaum Muda dalam Pesta Demokrasi di Gedung KPU. (Ilham Oktafian/detikcom)
Jakarta -

Generasi Z buka suara terkait Pemilu 2024 mendatang. Salah satu yang mereka tanggapi adalah terkait kriteria pemimpin ideal.

Anak muda Content Creator Universitas Multi Media Nusantara, Jocelyn Valencia, menyampaikan kriteria pemimpin ideal harus mendengarkan aspirasi. Dirinya menyebut jika Gen Z tidak suka diremehkan.

"Seperti apa kriteria pemimpin yang mungkin Gen Z inginkan? Itu adalah pemimpin yang mendengarkan aspirasi kami," kata Jocelyn saat diskusi Peran, Ekspektasi dan Partisipasi Kaum Muda dalam Pesta Demokrasi di Gedung KPU Jumat (09/12/2022).

"Kami Gen Z nggak suka diremehkan. Jadi kami sangat menyukai pemimpin yang akan mendengarkan aspirasi kami," tambahnya.

Selain mendengarkan aspirasi, kriteria lain yang juga diinginkan oleh Gen Z adalah pemimpin yang bisa memanfaatkan Gen Z sebaik mungkin. Jocelyn menyebut Gen Z harus diberdayakan, terutama di industri kreatif.

"Kemudian kedua pastinya pemimpin yang memanfaatkan kapabilitas kami sebagai anak muda. Jadi anak muda kreatif diberdayakan betul," paparnya.

"Anak muda memerlukan wadah, memerlukan ruang untuk mereka bisa berkembang. Jadi anak muda itu memerlukan pemimpin yang bisa memanfaatkan kapabilitas anak muda untuk semakin berkembang Dan kalau misalnya tadi sempat disinggung mengenai ketenagakerjaan, saya kira Gen Z memerlukan itu," terangnya.

Narasi keren tanpa menghina

Berbeda dengan Jocelyn, Farchan Misbach Adinda selaku HIMA Hukum Universitas Nahdlatul Ulama menyebut jika Gen Z menyukai pemimpin yang punya kepemimpinan yang kuat. Termasuk yang bisa menyampaikan argumennya terkait Indonesia di masa depan.

"Apa yang menjadi maunya Gen Z mengingat kita menjadi nomor 1. Kualitas sederhana seperti leadership, public speaking-nya," aku dia.

"Kita ekspektasinya betul-betul duel, yang kita inginkan Indonesia 5 tahun kedepan mau dibawa kemana. Kita adalah negara yang besar, negara demokrasi ketiga di dunia. Narasi yang keren, bukan justru narasi yang menghina doang," tambahnya.

Diskusi Peran, Ekspektasi dan Partisipasi Kaum Muda dalam Pesta Demokrasi di Gedung KPU. (Ilham Oktafian/detikcom)Diskusi Peran, Ekspektasi dan Partisipasi Kaum Muda dalam Pesta Demokrasi di Gedung KPU. (Ilham Oktafian/detikcom)

Gen Z soal Politik Uang

Jocelyn juga menanggapi isu politik uang di Pemilu 2024. Menurutnya, gen Z tak gampang tergiur dengan politik uang.

"Menolak keras ya, karena balik lagi bahwa Gen Z mungkin menyukai sesuatu, kita dikasih hadiah kita pasti suka, apalagi kita berbicara mengenai uang. Dan mungkin bukan cuma gen z tp semua orang suka," katanya.

"Tapi Gen Z itu adalah generasi melek politik dan tidak gampang terbodohi dengan hal-hal seperti itu. Justru itu kekuatan Gen Z. Kalau mengenai money politic i say no to that," jelasnya.

Senada dengan Jocelyn, Farchan juga mengakui jik Gen Z tak mudah diiming-imingi oleh politik uang. Malahan, menurutnya, politik uang bakal menjadi sasaran empuk untuk jadi konten.

"Saya pikir Gen Z seketika punya peluang untuk menjadi jurnalis tiap hari karena kita punya kamera kita sendiri-sendiri. Ketika kita menjumpai money politik, auto viralin bos," paparnya.

Gen Z soal program idaman

Selain mengomentari kriteria pemimpin dan politik uang, Jocelyn juga buka suara terkait program idaman yang diinginkan Gen Z pada presiden terpilih nanti. Menurut Jocelyn dan Farchan, program idaman yang Gen Z inginkan terkait pemberdayaan content creator.

"Mungkin tadi sempat disinggung juga, saya sendiri apa yang diharapkan adalah konten mengenai digitalisasi jika memang ingin nanti di pesta demokrasi 2024, jika memang ingin memanfaatkan digitalisasi teknologi, itu yang menjadi konten penting, itu yang menjadi PR bersama bahwa harus benar-benar dipersiapkan dengan baik sejak dini," papar Jocelyn.

"Kalau saya sebenarnya sejauh ini pemberdayaan konten kreator, keikut sertaan Generasi Z sudah cukup baik kan sama hal kalau kita lihat terakhir di G20. Banyak tuh influencer yang diikutsertakan," kata Farchan.

Gen Z terkait RKUHP

Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) juga menjadi isu menarik bagi Gen Z. Jocelyn berpandangan jika RKUHP membuat kecewa Gen Z, kendati begitu ia merasa jika Genz harus fokus ke depan.

"Kalau dari teman-teman circle saya mostly dari mereka merasa bahwa pasti kalau gitu kan ada pro dan kontra," kata dia.

"Mungkin ada sedikit rasa kekecewaan, tapi kalau kami sebagai Gen Z ya udah apa yang bisa kita lakukan ke depan. Jadi fokus. Kan ini kita nggak bisa ubah, apa yang bisa kita lakukan ke depan, sudah fokus di situ aja," jelasnya.

Senada dengan Jocelyn, Farchan juga kecewa dengan RKUHP yang sudah disahkan menjadi Undang-undang. Menurutnya ada sejumlah pasal yang masih bermasalah.

"Seperti yang temen-temen tahu RKUHP banyak berseliweran informasi mengenai adanya pasal selundupan lah, masih ada
beberapa hal yang perlu digaris bawahi lah dievaluasi kembali," aku dia.

"Cuma kalau menurut saya pribadi RKUHP ini kan suatu agenda yang besar. Dan yang namanya kitab undang undang hukum pidana itu menyangkut hajat hidup orang banyak. Kalau dari saya jika ternyata memang masih ada suatu hal yang kontroversi perlu dievaluasi ulang," jelasnya.

Salah satu pasal yang ia kritisi adalah terkait penghinaan presiden. Menurutnya, pasal tersebut bakal menghalangi kebebasan berekpresi, utamanya untuk Gen Z.

"Kalau aku pribadi aku paling khawatir soal pasal penghinaan presiden sih sama pasal penghinaan lembaga negara," katanya.

"Dalam artian inilah yang menjadi isu konsen Generasi Z dalam artian Generasi Z tidak bisa dipisahkan sama kebebasan berekspresi berpendapat," pungkasnya.

(dnu/dnu)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT