Tawa Jokowi Saat Ditanya soal PDIP Minta Relawan Izin Tempur Ditinggalkan

ADVERTISEMENT

Tawa Jokowi Saat Ditanya soal PDIP Minta Relawan Izin Tempur Ditinggalkan

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Rabu, 30 Nov 2022 14:20 WIB
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) ditanya wartawan perihal pernyataan salah satu elite PDIP yang memintanya untuk meninggalkan relawan karena heboh izin tempur. Jokowi hanya tertawa dan tidak mengucapkan sepatah kata pun mengenai pertanyaan tersebut.

Tanya jawab Jokowi dengan wartawan terjadi selepas acara pertemuan tahunan BI Tahun 2022 sebagaimana videonya diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden, Rabu (30/11/2022). Jokowi meladeni sesi wawancara cegat atau doorstop dengan didampingi Menko Perekonomian Airlangga Hartato dan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo.

Baca juga: Cerita Relawan

Mulanya Jokowi menjelaskan mengenai situasi global yang tidak pasti. Dia meminta jajarannya untuk lebih berhati-hati dalam mengeluarkan kebijakan.

"Saya melihat kehati-hatian itu terus dijaga karena memang keadaannya tidak mudah, situasinya tidak mudah," ujar Jokowi.

Jokowi kemudian ditanya mengenai isu lain di luar pertemuan tahunan BI. Beberapa di antaranya, yaitu terkait RKUHP dan alasan penunjukan KSAL Laksamana Yudo Margono menjadi calon panglima TNI.

Barulah setelah itu pertanyaan mengenai permintaan elite PDIP agar Jokowi meninggalkan relawan disampaikan. Tak ada jawaban yang diberikan Jokowi.

Jokowi terlihat tertawa bersama Airlangga. Jokowi kemudian menelungkupkan tangannya sambil meninggalkan lokasi.

Sebelumnya, permintaan agar Jokowi meninggalkan relawan itu disampaikan oleh Ketua DPP PDIP Said Abdullah. Said menyampaikan pernyataan tersebut dalam konteks menanggapi video viral relawan Jokowi yang meminta izin tempur.

Said mengaku telah melihat video tersebut. Said menilai relawan tersebut justru menjerumuskan Jokowi. Dia mengatakan tugas presiden menyatukan semua pihak.

"Bagi saya, kepada para relawan, tolonglah sebagaimana Pak Hasto (Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto) sampaikan, jangan kemudian mendorong-dorong presiden kita kepada tempat yang tidak semestinya. Tugas presiden itu menyatukan kita semua," kata Said kepada wartawan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/11).

Said mengatakan Jokowi sebagai presiden harus menerima kritik. Menurutnya, relawan tidak bisa meminta Jokowi untuk melawan para pihak yang berseberangan.

"Kalau ada perbedaan, ada yang kemudian mengkritik Bapak Presiden, selagi kritiknya proporsional, tidak menghina Bapak Presiden, itu harus diterima. Tidak bisa relawan meminta Bapak Presiden atau dia sendiri akan melawan atau meminta Presiden bikin undang-undang untuk mengkriminalisasi orang yang berbeda. Maka sebenarnya kalau itu dilakukan maka akan menjerumuskan Bapak presiden kita," katanya.

Terlebih, lanjut Said, Jokowi memiliki etika yang luar biasa. "Bayangin aja minta restu untuk gempur orang, ya presiden kita punya etik yang luar biasa," kata Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR itu.

Said pun mengungkit pencapaian Jokowi selama kepemimpinannya yang dianggap telah mengukir legasi. Said meminta Jokowi meninggalkan relawan tersebut.

"Menurut hemat saya, sudahlah, legacy-nya sudah luar biasa, soft landingnya biar enak. Kalau ada relawan 'yang seperti itu' tinggalkan saja. Itu bukan relawan itu," kata Said.

(knv/gbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT