Kata PSI soal Cuitan Giring Ogah Ngomong Politik di Tengah Tragedi Kanjuruhan

ADVERTISEMENT

Kata PSI soal Cuitan Giring Ogah Ngomong Politik di Tengah Tragedi Kanjuruhan

Eva Safitri - detikNews
Senin, 03 Okt 2022 19:48 WIB
Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mendaftarkan menjadi peserta Pemilu 2024. Rombongan PSI dipimpin langsung Giring Ganesha selaku Ketum.
Ketua Umum PSI Giring Ganesha (Foto: A.Prasetia/detikcom)
Jakarta -

Ketua Umum PSI Giring Ganesha diserang netizen terkait cuitannya yang tak ingin bicara politik di tengah keadaan duka tragedi Kanjuruhan. Namun cuitan itu kini sudah dihapus.

Salah satu netizen ada yang menangkap layar cuitan yang dihapus itu. Berikut isi cuitan Giring:

"Hilangnya ratusan nyawa di #kanjuruhan membuat kami di @psi_id menyingkirkan bahasan politik sementara, deklarasi capres di tengah kedukaan tentu menyisakan rasa nir empati. PSI konsisten menolak pemimpin pengusung politik identitas," tulis Giring.

PSI Buka Suara

Wakil Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie mengaku adanya cuitan Giring tersebut. Grace memastikan kadernya sudah bergerak terkait teragedi kanjuruhan.

"Saya cek juga betul ada cuitan Bro Giring demikian, dan sejak kami mendengar peristiwa tragedi di Malang, segenap pengurus dan kader sudah bergerak semua. Jadi kami sudah melakukan apa yang kami bisa, PSI Kota Malang sampai saat ini masih terus melakukan penggalangan dana, dan seluruh kader serta pengurus sudah di instruksikan membantu korban," kata Grace.

Grace meminta tragedi kanjuruhan itu diinvestigasi tuntas. "Dan kita juga meminta ada proses investigasi yang menyeluruh semua penanggung jawab, itu harus bertanggung jawab entah itu dicopot dari jabatannya atau sebagainya," ucapnya.

Lebih lanjut, Grace mengatakan PSI juga berkewajiban untuk mengumumkan hasil rembuk rakyat yang sudah digalangnya sejak Februari tahun lalu. Menurutnya, rembuk rakyat itu aspirasi masyarakat yang harus diumumkan.

"Jadi kami sudah melakukan apa yang kami bisa sesuai kapastias kami, dan hari ini kami juga punya tanggung jawab kepada masyarakat Indonesia yang sudah kami tanyai pendapatnya sejak Februari tahun lalu, terkait dengan siapa pemimpin yang mereka inginkan untuk menggantikan Pak Jokowi. Jadi dua-duanya kami jalankan secara paralel tidak ada yang tidak prioritas," ujarnya.

(eva/dwia)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT