Saat SBY Dianggap Bidik Jokowi

ADVERTISEMENT

Saat SBY Dianggap Bidik Jokowi

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 23 Sep 2022 06:14 WIB
Presiden Joko Widodo menerima Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di Istana Merdeka. Keduanya terlihat berbincang santai dan minum teh bareng di beranda Istana.
Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). (Anung/SBY Centre)

"Sehingga ketika Pak SBY menyampaikan saya melihat, saya mendengar, dan kemudian bertanya dalam forum terpenting itu wakil bukan mencederai rakyat, bukan jahat, bukan itu kan suatu pernyataan yang harus kami respons," ujarnya.

'Menyenggol' Jokowi membuat PDIP memberikan sejumlah temuan hasil penelitian dari luar negeri. PDIP justru heran mengapa raihan suara Demokrat meningkat pada pemilu-pemilu sebelumnya.

"Sehingga kami memberikan berbagai bukti-bukti yang seharusnya itu juga dijawab dengan fakta-fakta sebagaimana tulisan dari Marcus Mietzner tersebut, ya memang badan riset kami juga melakukan satu riset bahkan saat itu saya di Australia selama satu bulan dan untuk menjadi jawaban mengapa hanya partai yang bisa naik 300% di tengah era multipartai yang sangat kompleks. Bandingkan dengan kenaikan dari partai-partai yang lain dan zaman Orde Baru aja tidak ada yang langsung naik 300%," imbuhnya.

Andi Arief (dok. Andi Arief).Ketua Bappilu Partai Demokrat Andi Arief. (dok. Andi Arief)

Demokrat Anggap PDIP Lebay

Ucapan Hasto Kristiyanto bahwa SBY membidik Jokowi mendapat respons dari Partai Demokrat. Partai Demokrat menganggap pernyataan Hasto berlebihan terhadap SBY.

"Jawaban saya, terlalu berlebihan lah ya PDIP, terutama juga Hasto yang terlalu berlebihan menanggapi statement dari Pak SBY kemarin," kata Ketua Bappilu Demokrat Andi Arief.

Andi menilai SBY bukan orang baru di ranah politik. Menurut Andi, ihwal yang disampaikan oleh SBY tak sekadar sebuah peringatan untuk PDIP, melainkan mengandung sarat kepentingan demi keberlangsungan demokrasi.

"Pak SBY ini bukan orang baru di politik. Dia punya segudang pengalaman. Tentunya selalu berupaya agar menjaga kualitas demokrasi Indonesia ini tidak tergerus. Jadi itu sebetulnya warning buat kita semua, bukan hanya PDIP. Jadi tidak benar kalau itu menyasar kepada PDIP tetapi menyasar kepada seluruh upaya yang ingin mematikan demokrasi," katanya.

Lebih lanjut, Andi mengatakan bahwa proses pemilu tak hanya saat pelaksanaan pemungutan suara, melainkan juga ada sejumlah tahapan sebelumnya. Andi tak mempersoalkan apabila munculnya dua paslon di pemilu nanti terjadi secara ilmiah.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT