Senior PDIP Nilai SBY Pengalaman soal Jegal Pencapresan, PD Membela

ADVERTISEMENT

Senior PDIP Nilai SBY Pengalaman soal Jegal Pencapresan, PD Membela

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 21 Sep 2022 21:36 WIB

Mengenai SBY dinilai fasih menyampaikan penjegalan itu Herman juga memberikan pembelaan. Dia menyebut informasi mengenai capres hanya ada 2 calon yang diterima SBY itu valid.

"Kan disampaikan tadi, kan ada informasi disampaikan dan kemudian diklarifikasi informasi ini, valid. Ya disampaikan kepada kader," kata Herman.

Panda lalu bertanya soal 'valid' yang dimaksud Herman. Herman pun menjelaskan informasi yang valid itu mengenai hanya ada 2 paslon pada Pilpres 2024.

"Informasi bahwa ada setting hanya dibuat 2 calon, 2 kandidat dari hanya kelompok mereka saja," turut dia.

Kemudian, Panda menilai omongan SBY soal hanya 2 capres itu mengada-ada. Dia menilai SBY menyampaikan itu karena SBY sudah yakin bahwa Ketum Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) tak mungkin jadi capres atau cawapres.

"Jadi terkesan mengada-ada omongan ini karena dia sudah yakin AHY nggak mungkin maju jadi capres. Tapi keinginannya supaya AHY maju," katanya.

Mendengarkan penyataan Panda itu, Herman pun memberikan pembelaan.

"Saya kita tidak di situ," katanya.

Demokrat Diminta Realistis

Selain itu, Panda meminta agar realistis. Dia menilai Demokrat memang ingin mencalonkan AHY pada 2024.

"Realistis saja, ya kan, realistis saja secara politik. Kan Demokrat punya ambisi dong AHY maju, tapi bagaimana merekayasa itu, bagaimana menegosiasikan itu. Artinya kalau dia tidak punya rasa kepercayaan bisa mengajukan calonnya jadi calon presiden, mengeluarkan komentar begitu wajar gitu loh. Nggak ada yang perlu dibahas," kata Panda.

Herman kemudian membalas Panda Nababan. Dia menyebut SBY menyampaikan soal isu pencapresan 2 paslon itu di forum internal partai yang kemudian disebar oleh kader.

"Emang wajar, Bang, karena itu juga disampaikan dalam forum internal dan memang tidak menutup kemungkinan para kader yang merekam dia bisa memposting di media sosial. Saya juga memposting di media sosial, bukan yang itu ya, tapi kegiatan-kegiatan yang lain," sebut Herman.

Pernyataan SBY soal 'Jahat Bukan?'

Lebih lanjut, Panda kemudian menyoroti pernyataan SBY mengenai 'jahat bukan' saat menyampaikan soal Pilpres disetting 2 capres. Dia menyebut ada 2 kemungkinan soal pernyataan SBY itu.

"Dalam bahasa biasa pasaran 'jahat bukan?' itu ada 2 kemungkinan, dia pernah melakukan itu atau dia pernah mengalami itu. Itu akrab dengan istilah itu. Ini nggak menurut siapa-siapa, ini logika saja. 'Jahat bukan?' (artinya) gue juga pernah ngalami, 'jahat bukan?' (bisa juga artinya) gue juga pernah lakukan," kata Panda.

Merespons hal itu, Herman kemudian memberikan klarifikasi. Dia menilai pernyataan SBY soal 'jahat bukan?' itu meyakinkan bahwa SBY itu tidak pernah melakukan penjegalan itu.

"'Jahat bukan, batil bukan?' justru meyakinkan Pak SBY selama menjabat sebagai presiden pada waktu itu karena itu adalah kejahatan dan kebatilan. Semestinya begitu pola pikirnya," katanya.

SBY Duga Pilpres 2024 Diatur Hanya Diikuti 2 Paslon

Sebelumnya, SBY membeberkan adanya dugaan tindakan tidak jujur dan tidak adil pada Pemilu 2024. Dia menyebut ada upaya agar Pilpres 2024 nanti hanya akan diikuti oleh dua pasangan capres-cawapres yang dikehendaki.

Hal tersebut disampaikan SBY saat rapat pimpinan nasional (rapimnas) Partai Demokrat 2022, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta Pusat, Kamis (15/9). SBY awalnya membeberkan adanya tanda-tanda Pemilu 2024 akan berlangsung secara tidak jujur dan tidak adil.

"Para kader mengapa saya harus turun gunung menghadapi Pemilihan Umum 2024, saya mendengar mengetahui bahwa ada tanda-tanda pemilu 2024 bisa tidak jujur dan tidak adil," kata SBY seperti dilihat detikcom di akun Tiktok @pdemokrat.sumut, Sabtu (17/9). DPD Partai Demokrat Sumatera Utara telah mengizinkan isi Tiktok itu untuk dikutip.

Lebih lanjut, masih dalam video Tiktok itu, SBY mengatakan akan ada skenario capres-cawapres hanya akan diikuti oleh dua pasangan. SBY menyebut itu dikehendaki oleh mereka agar oposisi tidak bisa mengajukan capres dan cawapresnya.

"Konon akan diatur dalam pemilihan Presiden nanti yang hanya diinginkan oleh mereka dua pasangan capres cawapres saja yang dikehendaki oleh mereka. Informasinya Demokrat sebagai oposisi jangan harap bisa mengajukan capres cawapresnya sendiri bersama koalisi tentunya," ucapnya.

"Jahat bukan? Menginjak injak hak rakyat bukan? Pikiran seperti itu batil, itu bukan hak mereka, Pemilu adalah hak rakyat, hak untuk memilih dan hak untuk dipilih, yang berdaulat juga rakyat. Dan ingat selama 10 tahun dulu kita di pemerintahan 2 kali menyelenggarakan Pemilu, selama Pilpres Demokrat tidak pernah melakukan kebatilan seperti itu," lanjutnya.


(lir/jbr)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT