ADVERTISEMENT

Direktur PPI Nilai NU Era Gus Yahya Lebih Politis

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Rabu, 10 Agu 2022 22:57 WIB
Pakar Politik Adi Prayitno
Foto: Adi Prayitno (Dok. Istimewa)
Jakarta -

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno menilai Nahdlatul Ulama (NU) pimpinan Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya lebih politis dibandingkan era sebelumnya. Hal itu, kata Adi, lantaran banyak kader NU yang menjadi kader partai politik.

"NU yang sekarang itu jauh lebih politis dari NU yang sebelumnya, karena sejak Gus Yahya itu bicara tentang bahwa NU tidak boleh dikaitkan dengan Pilpres, tapi kita tahu begitu banyak kader-kader NU itu terdistribusi ke begitu banyak partai politik dan itu menurut saya NU cukup politis hari ini," kata Adi Prayitno, Rabu (10/8/2022).

Itu disampaikan Adi dalam diskusi kerjasama detikcom dan total politik yang berjudul 'Menuju Koalisi: Kawin Paksa Vs Sukarela' yang tayang di detikcom, Rabu (10/8/2022). Selain itu, Adi juga menilai indra pencium NU untuk pemilu 2024 cukup kuat.

"Itu yang membuat saya begitu yakin bahwa NU yang saat ini sebenarnya itu jauh lebih politis dari yang sebelumnya bahwa indra penciumannya untuk 2024 cukup luar biasa," kata dia.

Adi lantas menganalogikan NU meletakkan telur di banyak keranjang. Jika kerancang satu pecah, masih ada keranjang lainnya.

"Ini ibarat orang taruh telur, tapi tidak di satu keranjang, taruh telur di banyak keranjang, kalau keranjangnya satunya pecah, maka ada harapan-harapan lain kemudian bisa didiseminasi sebagai kepentingan. Kan itu yang sebenarnya Cak Imin dengan NU," tuturnya.

Situasi Saat Ini Kohabitasi Politik

Adi kemudian berbicara mengenai dinamika politik saat ini. Dia menilai politik hari ini tak lebih dari kohabitasi politik, sebab belum ada yang pasti.

"Tapi over all bagi saya, saya ingin set back ke awal kenapa saya bilang bahwa perkongsian dan dinamika politik hari ini tidak lebih dari kohabitasi politik, karena semua ini belum ada yang pasti. KIB misalnya kalau nanti capres dan cawapresnya mereka yang tidak punya elektabilitas yang tinggi, kok rasa-rasanya ketiga partai ini akan mudah iman politiknya berubah, karena bagi mereka bukan ikut pemilu tapi untuk memang," tutur dia.

Selengkapnya pada halaman berikut.

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT