Ilustrasi : Edi Wahyono
Selasa, 7 April 2026Apel pagi di markas Badan Intelijen Strategis (Bais) itu berubah jadi janggal ketika komandan detasemen mendapati barisan tak lengkap. Dua nama tak terlihat. Pengecekan dilakukan. Ternyata mereka berada klinik. Salah satunya mengalami luka bakar melepuh di tangan dan wajahnya. Orang inilah yang pada akhirnya dijadikan tersangka utama penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, pada Kamis, 12 Maret 2026.
Informasi ini disampaikan Koordinator Subkomisi Penegakan HAM dan Komisioner Mediasi Komnas HAM, Pramono Ubaid Tanthowi, kepada detikX. Sebelumnya, Komnas HAM meminta keterangan kepada Komandan Pusat Polisi Militer (Danpuspom) TNI Mayjen Yusri Nuryanto.
Dugaan keterlibatan itu, kata Pramono, bermula dari cairan kimia asam sulfat yang memercik balik mengenai pelaku.
“Ternyata di antara yang nyiram itu ada cairan yang nyiprat balik. Nah, itu, sehingga dia ada yang kena badannya. Nah, itulah, sehingga ditanya dia udah nggak bisa ngelak. Kira-kira gitu,” jelas Pramono.
Dari situ, penelusuran berlanjut. Satu nama mengarah pada nama-nama lain. Sehari sejak penyiraman air keras kepada Andrie dilakukan, para pelaku ditangani oleh Detasemen Markas (Denma) Bais TNI.
Kemudian pada Rabu, 18 Maret 2026, Komandan Denma Bais TNI melimpahkan kasus ini, termasuk para tersangkanya, kepada Pusat Polisi Militer Tentara Nasional Indonesia. Pada hari yang sama, Pusat Polisi Militer TNI melakukan konferensi pers mengumumkan inisial empat tersangka.
Terkait jenis cairan yang digunakan, Pramono mengatakan pihaknya juga menelusuri asal-usul bahan tersebut. Ia menyebut informasi awal menyebut cairan itu sebagai H₂SO₄ (asam sulfat), yang kemudian dimintakan konfirmasi lebih lanjut kepada Puspom TNI.
Dari penelusuran itu, Puspom TNI menyatakan cairan kimia yang digunakan oleh para pelaku berasal dari bengkel di lingkungan Bais. Bengkel itu menyimpan berbagai bahan kimia, termasuk cairan aki, yang kemudian diracik.
“Memanfaatkan, kalau jawaban dari Puspom, itu memanfaatkan memang barang-barang yang ada di bengkel,” ujar Pramono kepada detikX.
Pramono menyebut empat terduga pelaku berasal dari dua matra, yakni Angkatan Laut dan Angkatan Udara, dengan komposisi tiga orang dari satu matra dan satu orang dari matra lainnya. Meski begitu, belum ada penjelasan rinci mengenai pembagian tersebut.

Sebuah rumah di Jalan Panglima Polim III, Jakarta Selatan yang diduga lokasi awal dan tempat pelarian para pelaku penyiraman air keras ke Andrie Yunus.
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz/detikX
Pramono menjelaskan, berdasarkan pertemuan dengan Puspom, keempat orang tersebut berperan sebagai eksekutor dan pengawas di lokasi kejadian. Salah satunya diidentifikasi sebagai pengendara motor yang memboncengkan pelaku lain yang bertugas menyiram.
Identitas para pelaku juga baru diungkap secara terbatas. Tiga dari empat tersangka diketahui merupakan perwira, dengan pangkat tertinggi kapten. Mereka diidentifikasi sebagai Kapten NDB, Lettu SL, Lettu BHW, serta satu orang bintara, yakni Serda ES.
Dari informasi yang didapatkan detikX, diduga sebagian dari pelaku bernama Budhi Hariyanto Widhi Cahyono, Muhammad Akbar Kuddus, dan Edi Sudarko.
Di sisi lain, kepolisian bergerak dengan jalurnya sendiri, terlepas dari proses internal di Bais TNI. Penyelidikan dilakukan dengan menelusuri rekaman CCTV di sejumlah titik serta mengumpulkan barang bukti dari lokasi kejadian. Dari sana, rangkaian dugaan keterlibatan mulai disusun. Polisi memang telah mengantongi sejumlah petunjuk yang mengarah pada terduga pelaku, tetapi belum sampai pada langkah penahanan.
Polda Metro Jaya melaporkan dua terduga tersangka berinisial BAC dan MAK. Meski dua inisial telah diungkap, polisi belum menutup kemungkinan jumlah terduga pelaku melebihi empat orang.
"Namun, dari hasil penyelidikan, kami tidak menutup kemungkinan juga ini pelaku lebih dari empat sebagaimana info awal yang kami sampaikan ke rekan-rekan media sekalian," kata Dirreskrimum Polda Metro Jaya, Kombes Iman Imanuddin, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu, 18 Maret 2026.
Sumber detikX menjelaskan, sebelum konferensi pers tersebut, pihak kepolisian menelusuri rekaman CCTV. Ada dugaan terdapat tiga pelaku berangkat dari sebuah rumah di Jalan Panglima Polim III, Jakarta Selatan. Tim detikX juga mendapatkan rekaman CCTV pergerakan awal pelaku di sekitar situ sekitar pukul 16.28, Kamis, 12 Maret 2026.
Kemudian pihak kepolisian mendatangi lokasi rumah berlantai dua dengan cat putih tulang di Panglima Polim III tersebut. Saat itu didapati sepeda motor yang diduga digunakan oleh pelaku utama (Honda Beat berkelir hitam). Pihak kepolisian juga menginterogasi seorang sipil yang menjadi penjaga rumah tersebut. Dari situlah didapati berbagai informasi pengembangan terkait aktivitas hingga penanggung jawab rumah itu.
Terkait apakah rumah itu selama ini menjadi ruang merencanakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus, pihak kepolisian enggan membantah atau memberikan keterangan lanjutan. Saat dimintai konfirmasi detikX, Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, hanya menjelaskan kewenangan penanganan kasus tersebut saat ini telah ada di satuan Pusat Polisi Militer TNI.
“Kewenangan penyidik (kepolisian) sudah sampai di situ saja karena perkara sudah dilimpahkan. Silakan Mbak komunikasikan dengan pihak yang saat ini menangani ini,” ujar Budi Hermanto kepada detikX.
CCTV Menangkap Pergerakan Pelaku
Pada malam Kamis, 12 Maret 2026, Andrie Yunus, Wakil Koordinator Bidang Eksternal KontraS, menjadi sasaran penyiraman cairan air keras saat mengendarai sepeda motor di Jalan Salemba I, Senen, Jakarta Pusat. Serangan itu membuat Andrie langsung merasakan sensasi terbakar.
Berdasarkan alat bukti yang didapatkan detikX dari Tim Advokasi untuk Demokrasi (TAUD), terlihat zat kimia tersebut menembus dan merusak hingga ke singlet putih, dalaman Andrie. Warnanya menjadi tak putih lagi karena bercampur darah Andrie. Selain itu, bagian kanan tas ransel, kaca penutup speedometer motor, dan helm Andrie juga melepuh dan meleleh terkena zat kimia korosif.
Sebuah rumah di Jalan Panglima Polim III diduga menjadi titik berangkat dan kembali para pelaku, berdasarkan rekaman CCTV yang ditelusuri. Dari sinilah diduga pergerakan para pelaku bermula, dan ke tempat yang sama pula mereka kembali setelah penyiraman terjadi.
Bangunannya dua lantai, berdiri di balik pagar besi hitam dan tembok setinggi dada orang dewasa. Cat putihnya mulai kusam di beberapa sudut, halaman depannya ditumbuhi rumput liar, sementara lantai carporttampak lembap dan berlumut.
Teras depan ditopang tiang-tiang persegi, dengan pintu utama tertutup rapat. Jendela-jendela berbingkai putih menghadap ke halaman, sebagian gelap tanpa aktivitas di dalamnya ketika didatangi kembali oleh detikX. Lampu di terasnya terus menyala meski siang hari.
Berdasarkan analisis dari TAUD, dari rangkaian rekaman yang ditelusuri, pergerakan para pelaku tidak dimulai secara spontan. Sejak malam, mereka sudah tersebar di sejumlah titik di sekitar Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) dan Taman Diponegoro, menunggu di pos masing-masing.
Setelah portal ditutup sekitar pukul 21.10 WIB, pola gerak berubah. Ada improvisasi, karena tak biasanya portal di situ ditutup. Terlihat dari rekaman CCTV, beberapa terduga pelaku kembali berkumpul, diduga untuk menerima arahan sambil meninjau ponsel, sebelum kemudian berpencar lagi. Ini mengindikasikan adanya penyesuaian rencana di lapangan.
Menjelang kejadian, peran mereka terlihat lebih terstruktur. Dua orang berada lebih dulu di titik eksekusi, sementara yang lain mengikuti korban dari belakang. Ada indikasi upaya mengatur laju korban, termasuk bunyi klakson yang membuatnya melambat, hingga akhirnya penyiraman terjadi saat posisi berpapasan.
Dalam momen itu, motor pelaku sempat kehilangan keseimbangan, diduga akibat percikan cairan yang mengenai tubuh mereka. Sebuah wadah berbahan logam yang digunakan untuk membawa cairan juga terjatuh di jalan saat mereka melarikan diri.
Setelahnya, para pelaku berpencar menuju arah Jalan Salemba I hingga Jalan Diponegoro arah RSCM (RSUPN dr Cipto Mangunkusumo). Dalam pelarian, mereka sempat berhenti di area pom bensin dan membasuh badan serta wajah dengan air mineral yang dibeli dari penjual kopi keliling di trotoar RSCM. Sebab, kedua pelaku terkena percikan balik zat kimia air keras yang mereka siramkan ke Andrie.
Baca Juga : Jalan Putar Balik Reformasi TNI

Sembari mengguyur wajah dan badan dengan air mineral, mereka bersalin pakaian. Pelaku utama melepas kaus batik biru-putih lengan pendek dan mengenakan kaus merah/oranye lengan pendek. Sedangkan pelaku satunya melepas kaus biru dongker lengan pendek dan kini mengenakan kaus biru lengan panjang yang sebelumnya dililit menutupi kepala.
Direktur LBH Jakarta sekaligus perwakilan TAUD, Muhammad Fadhil Alfathan, menyebut jumlah pelaku dalam kasus ini diduga jauh lebih besar dari yang selama ini terungkap. Berdasarkan temuan mereka, sedikitnya ada 16 orang yang terlibat, dengan pembagian peran yang berlapis.
“Ya, dan sangat terbuka ke depan bisa lebih dari 16. Dengan pola peran mulai pemantauan, pengintaian, penguntitan, eksekusi, hingga memastikan korban dieksekusi dan melarikan diri. Perannya secara umum seperti itu,” ujarnya kepada detikX.
Menurutnya, pola tersebut menunjukkan bahwa serangan ini tidak berdiri sendiri, melainkan melalui proses yang telah dirancang.
“Ini kan pasti dalam suatu rangka komunikasi dan koordinasi yang terorganisir dengan baik. Kami melihat ini pasti bukan hanya pelaku lapangan, tapi ada aktor intelektual yang merencanakan dan punya kapasitas untuk mengendalikan koordinasi,” tandas Fadhil.
Di sisi lain, Ketua YLBHI sekaligus tim hukum TAUD, Muhammad Isnur, menyoroti minimnya keterbukaan dalam proses penyidikan, terutama terkait identitas para tersangka. Hingga kini, publik belum mengetahui siapa saja empat orang yang ditangkap oleh Puspom, termasuk bagaimana kondisi penahanan mereka.
“Jadi kita sampai sekarang tidak pernah melihat yang empat orang ditangkap oleh Puspom itu siapa mereka. Karena belum pernah dipajang wajahnya, belum pernah dipajang sosoknya, kita tidak tahu ditahannya bagaimana juga,” ujar Isnur kepada detikX.
Kondisi ini, menurutnya, membuat proses hukum berjalan tanpa pengawasan yang memadai, baik dari publik maupun lembaga lain. “Jadi tidak ada kontrol, tidak ada balancing, tidak ada pemantauan,” tuturnya.
Menurut KontraS, Andrie Yunus kini ditangani enam dokter spesialis mata, THT, saraf, tulang, toraks, organ dalam, dan kulit. Tim medis RSCM mencatat luka bakar mencapai 24 persen dari tubuhnya. Saat ini, korban menunggu operasi mata untuk cangkok membran amnion dengan bius lokal.
detikX telah berupaya menghubungi pihak Puspom TNI melalui Komandan Puspom TNI Mayjen Yusri Nuryanto dan Kepala Pusat Penerangan (Kapuspen) Mabes TNI Mayjen TNI Aulia Dwi Nasrullah melalui pesan teks untuk meminta konfirmasi terkait proses penangkapan pelaku, asal cairan yang digunakan, hingga dugaan rumah yang menjadi titik kumpul. Namun, hingga tenggat naskah liputan mendalam ini, belum ada respons dari mereka.
Baca Juga : Bayang-bayang Tentara di Kampus
Reporter: Ani Mardatila, Ahmad Thovan Sugandi, Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Ani Mardatila
Editor: Dieqy Hasbi Widhana
Desainer: Fuad Hasim