INTERMESO

Dari TikTok, Gen Z Jatuh Hati pada Ikan

Di tengah popularitas konten hobi di media sosial, ikan hias menarik perhatian sebagian anak muda 

Foto : Kalingga Shagufta Islam

Minggu, 18 Oktober 2026

“Bang, ikannya dijual nggak?”

Pertanyaan itu berulang kali muncul di kolom komentar TikTok Muhammad Satria Daffa. Lelaki 22 tahun asal Jakarta itu awalnya hanya mengunggah konten tentang ikan hias dan aquascape di akun @sweetzdemon. Namun, rasa penasaran penonton terhadap ikan-ikan yang ditampilkan perlahan membuka peluang usaha yang tidak pernah direncanakannya sejak awal.

Ketertarikan Daffa pada ikan hias sudah tumbuh sejak kecil, mengikuti kebiasaan orang tuanya yang juga memelihara ikan. Pada 2017, ketika masih duduk di bangku SMP, ia mulai mencoba membuat aquascape sendiri. Dalam hobi ini, akuarium menjadi lanskap bawah air yang dibentuk dari perpaduan tanaman, bebatuan, kayu, dan ikan. Selain menata pemandangan, pemiliknya perlu menjaga kondisi air agar penghuninya dapat hidup dengan baik.

Daffa belajar menyusun dan merawat akuarium melalui tutorial di YouTube. Tahun lalu, ia mulai membuat konten tentang ikan dan aquascape di TikTok. Awalnya, ia tidak berniat menjadikan aktivitas tersebut sebagai sumber penghasilan. Namun, penonton mulai bertanya apakah ikan-ikan yang ditampilkan bisa dibeli.

“Karena banyak yang tanya, gue mulai tertarik menjual ikan. Awalnya cuma iseng, nggak sampai niat banget. Tapi yang nanya bukan cuma satu dua orang. Setiap gue live TikTok juga banyak yang nanya, lalu mulai tertarik dan beli. Banyak yang beli lewat TikTok gue, jadi ya sudah, gue seriusin terjun jual ikan hias di TikTok,” ucap Daffa saat ditemui detikX.

Kini, akun @sweetzdemon telah mengumpulkan 36,9 ribu pengikut dan 4,5 juta likes. Daffa tidak selalu menawarkan ikan secara langsung melalui video. Sebagian besar kontennya berisi fakta menarik dan meme seputar ikan, sedangkan siaran langsung menjadi tempatnya berjualan sekaligus menjawab pertanyaan penonton.

“Kalau live TikTok-nya, gue 180 derajat berbeda. Karena ketika live itu, gue fokusnya bukan ke wajah gue, tapi gue jualan sama memperlihatkan ikan dan aquascape gue. Jadi kalau ada yang nanya-nanya tentang ikan, boleh banget, nggak harus tentang jualan,” katanya.

Muhammad Satria Daffa bersama akuarium aquascape kreasinya

Foto : Kalingga Shagufta Islam

Dalam beberapa siaran, jumlah penonton yang biasanya sekitar 100–200 orang pernah meningkat hingga 1.200 orang. Salah satu ikan yang menarik perhatian adalah Serpae Tetra Slayer, yang dikenal Daffa agresif dan bisa berkelahi dengan sesamanya. Ia juga memelihara Killifish Guentheri, ikan yang menurutnya cantik, tetapi berumur relatif pendek, sekitar sembilan bulan.

Daffa tidak merasa harus memiliki akuarium paling mahal atau ikan paling langka karena tren media sosial. Ia justru ingin mengenalkan jenis ikan yang belum banyak diketahui penonton. Karakter dan kebutuhan setiap ikan menjadi bagian dari informasi yang ia bagikan.

Dari aktivitas yang awalnya berangkat dari hobi, Daffa kini memperoleh penghasilan dari penjualan ikan dan konten. Ia memperkirakan pemasukan dari keduanya mencapai sekitar Rp 6 juta per bulan, meski tidak merinci berapa bagian yang merupakan keuntungan bersih. Uang hasil penjualan diputar kembali untuk menambah stok, sementara tawaran endorsement turut membantu mengembangkan usahanya.

Pilihan itu membuat perjalanan Daffa setelah lulus kuliah berbeda dari teman-teman seangkatannya. Lulusan Sastra Jepang tersebut belum melamar pekerjaan formal karena sudah menerima tawaran endorsement dan memperoleh pemasukan dari ikan hias. Namun, ia sempat ragu ketika melihat teman-temannya mulai bekerja.

“Kalau ragu sih sempet ya. Karena pas lulus gitu, kayak banyak temen-temen yang langsung udah dapet kerja, sedangkan gue sendiri belum dapet. Jadi otomatis dapet kayak tekanan juga dari lingkungan dan orang tua, kayak, ‘Kapan kamu cari kerja? Jangan main ikan terus’,” ucap Daffa menirukan orang tuanya.

Keraguan itu berangsur berkurang setelah keluarganya melihat hasil usahanya. Meski demikian, Daffa kini juga tertarik mencari pekerjaan formal untuk mengumpulkan modal. Baginya, bisnis ikan hias yang dirintis melalui TikTok tetap bisa dikembangkan sembari mempertimbangkan langkah berikutnya.

Sejumlah ikan hias berenang di dalam akuarium milik Muhammad Satria Daffa

Foto : Kalingga Shagufta Islam

Koleksi akuarium milik Muhammad Satria Daffa, mulai dari akuarium berisi ikan hias hingga aquascape dengan tanaman air dan bebatuan

Foto : Kalingga Shagufta Islam

Susunan tanaman air, kayu, dan bebatuan membentuk lanskap bawah air dalam akuarium aquascape

Foto : Kalingga Shagufta Islam

Usaha itu juga memiliki risiko. Daffa pernah mengalami sejumlah ikan mati saat pengiriman karena belum memahami cara mengemas dan menyiapkan ikan dengan benar.

“Kalau buat ngirim ikan, awal-awal sih sempat selamat ya, karena dulu pake oksigen dan ikannya juga ikan yang kuat. Cuman setelah beberapa kali, itu banyak yang gagal, banyak yang mati, karena belum ngerti waktu itu cara ngirim ikan yang benar,” ujar Daffa.

Setelah mengalami kegagalan, Daffa mulai membeli tabung oksigen sendiri dan menyediakan akuarium untuk memuasakan ikan sebelum dikirim. Ia juga harus menjaga konsistensi membuat konten. Target mengunggah video setiap hari terkadang membuatnya kehabisan ide dan mengalami burnout, terutama ketika topik yang dibuat mulai berulang.

Daffa melihat media sosial ikut mendorong anak muda tertarik memelihara ikan. Namun, ketertarikan yang hanya berangkat dari tampilan ikan dan akuarium yang cantik bisa membuat pemula terburu-buru membeli tanpa memahami cara perawatannya. Menurutnya, calon pemilik perlu mencari tahu kebutuhan ikan terlebih dahulu agar tidak berakhir dengan ikan yang mati.

Dari TikTok ke Akuarium Kecil
Berbeda dari Daffa yang mengembangkan ikan hias menjadi usaha, Ridho Agam Saputra, 22 tahun, menjalani aquascape sebagai hobi. Mahasiswa Teknik Mesin asal Bandung itu pertama kali mengenal ikan hias melalui TikTok, lalu semakin tertarik setelah melihat temannya membuat akuarium sendiri.

Ridho memulai secara spontan dengan akuarium berukuran 30 × 30 × 30 sentimeter. Isinya ikan cupang dan neon tetra, dilengkapi pasir, bebatuan, serta filter. Modal awalnya sekitar Rp100 ribu–Rp200 ribu, jumlah yang menurutnya masih terjangkau untuk sebuah hobi.

Biaya rutinnya pun relatif kecil. Pakan seharga Rp15 ribu yang dibelinya sejak awal masih bertahan selama beberapa bulan, sementara konsumsi listrik perangkat akuariumnya rendah. Ridho tidak merasa perlu mengeluarkan banyak uang untuk menikmati hobi tersebut.

Namun, biaya yang terjangkau bukan berarti ikan bebas dari risiko. Ridho pernah kehilangan tiga ikan karena akuarium kurang terawat dan airnya kotor. Kerugiannya ia perkirakan sekitar Rp20 ribu–Rp30 ribu, tetapi ia memilih melanjutkan hobi itu.

“Kayaknya kemarin puncaknya ada tiga ikan mati, gara-gara kurang dirawat. Terus akhirnya juga karena kotor, mungkin ikannya jadi mati,” cerita Ridho.

Pengalaman itu membuatnya menyadari pentingnya menjaga kualitas air. Ia menyarankan pemula memulai dengan susunan sederhana berupa pasir dan bebatuan, memberi pakan yang sesuai, serta mengganti air secara rutin. Ia juga menyebut neon tetra sebagai salah satu pilihan yang cukup baik berdasarkan pengalamannya memelihara ikan tersebut selama beberapa bulan.

Bagi Ridho, nilai akuarium bukan hanya terletak pada ikan atau susunan yang menarik. Ia menikmati kegiatan mengamati ikan yang berenang, terutama saat sedang tidak melakukan apa-apa.

“Sebenernya ada efek pelarian stres ya, karena tenang aja kadang melihatnya tuh. Kalau melihat ikan, bisa menjadi pelarian stres juga,” ungkapnya.


Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE