Menyalurkan Gairah Bertarung Remaja Lewat Tinju Jalanan
Menyalurkan Gairah Bertarung Remaja Lewat Tinju Jalanan
Di sebuah sudut Kota Depok, suara benturan sarung tinju dengan pelindung kepala terdengar bersahutan. Bunyi ‘bak, buk, bak, buk’ itu berasal dari sebuah lapangan sederhana yang menjadi tempat puluhan anak dan remaja berkumpul untuk menekuni olahraga tinju jalanan.
Lapangan tersebut merupakan markas Brenx Street Fighter, komunitas yang mewadahi anak-anak muda untuk berlatih dan melakukan latih tanding tinju. Komunitas ini menjadi ruang bagi para remaja untuk menyalurkan energi melalui olahraga sekaligus membangun lingkungan pertemanan yang lebih positif.
Dalam setiap sesi latihan, para anggota Brenx mengasah berbagai teknik tinju, mulai jab, straight, hook, hingga uppercut. Mereka juga menjalani latihan fisik untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan tubuh. Selain kemampuan bertinju, latihan tersebut turut menanamkan kedisiplinan, ketekunan, dan sikap saling menghormati.
Brenx memiliki dua lokasi latihan di Kota Depok, yakni di Sukmajaya dan Citayam. Komunitas ini juga berupaya memperluas jangkauan ke Jakarta dan Bogor agar dapat merangkul lebih banyak anak muda yang ingin menyalurkan minat dan mengembangkan kemampuan melalui kegiatan yang terarah.
Bagi sejumlah remaja, Brenx juga menjadi tempat untuk menyelesaikan perselisihan pribadi melalui pertarungan yang diawasi oleh pengurus atau anggota senior sebagai wasit. Cara ini diterapkan untuk mengarahkan konflik agar tidak berujung pada kekerasan di jalanan.
Meski mengadopsi konsep tinju jalanan, para anggota yang bertanding tetap menggunakan perlengkapan keselamatan, seperti pelindung kepala, sarung tinju, dan pelindung gigi. Pertarungan juga menerapkan sejumlah aturan yang mengacu pada pertandingan tinju profesional.
Brenx Street Fighter dibentuk oleh Martinus Reynaldi pada 2020. Komunitas ini berawal dari keresahannya melihat tawuran dan pertarungan jalanan yang merugikan anak muda. Melalui tinju, Martinus berupaya menekan kriminalitas serta kekerasan antarremaja, yang dapat berdampak buruk terhadap keluarga dan lingkungan sekolah.
“Sekitar 90 persen anggota Brenx sebelumnya pernah terlibat dalam lingkungan kriminalitas, khususnya tawuran dan kelompok gangster,” ujar Martinus.
Di tengah keterbatasan fasilitas, Brenx menyediakan sarana dan perlengkapan latihan dengan mengandalkan dukungan dari para anggotanya. Setiap anggota membayar uang kas sebesar Rp 10 ribu setiap kali berlatih. Dana tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan kegiatan komunitas.
Melalui Brenx Street Fighter, Martinus berharap anak-anak muda memiliki ruang untuk menyalurkan energi dan minat mereka secara lebih terarah. Di tengah ancaman konflik jalanan yang masih membayangi remaja, komunitas ini berupaya menjadikan tinju sebagai sarana pembinaan untuk menumbuhkan kedisiplinan, sportivitas, dan semangat mengembangkan potensi diri.
Seorang anggota Brenx memasang pelindung pergelangan.
Anggota Brenx berlatih bersama.
Peralatan latihan Brenx.
Seorang anggota Brenx memasang pelindung gigi.
Anggota Brenx berlatih bersama.
Anggota Brenx bertanding tinju.
Anggota Brenx berlatih bersama.
Reynaldi Martinus Bagus Saputro (29).
Anggota Brenx bertanding tinju.
Anggota Brenx berlatih bersama.



