Foto : Kalingga Shagufta Islam
Minggu, 4 Oktober 2026Setelah empat dekade menghilang dari Jakarta, sebuah kapal buku akhirnya kembali. Ia datang bukan dengan nama Doulos seperti pada April 1988, melainkan Doulos Hope. Jarak 38 tahun membuat kedatangan itu terasa seperti membuka kembali sebuah cerita lama.
Dikelola oleh organisasi nirlaba GBA Ships, kapal pameran buku terapung internasional ini tidak sekadar membawa buku. Doulos Hope juga membawa pengalaman berada di atas kapal, percakapan dengan kru kapal dari berbagai negara, serta pemandangan pelabuhan yang tidak bisa ditemukan di toko buku biasa.
Kapal itu bersandar di kawasan Pelabuhan Kalibaru, Jakarta Utara, pada Rabu, 16 September 2026. Namun, keberadaannya di Jakarta tidak lama. Doulos Hope dijadwalkan berada di sana hingga 11 Oktober 2026. Waktu yang terbatas itu membuat detikX tak ingin melewatkan kesempatan untuk melihat langsung kapal yang kembali ke Jakarta setelah 38 tahun tersebut.
Kamis, 1 Oktober 2026, sekitar pukul 16.30, saya berangkat menuju lokasi dengan sepeda motor. Sesampainya di sana, detikX melakukan check in di Gelanggang Remaja, Jakarta Utara. Tiket masuk sebesar Rp15 ribu per orang. Harga tersebut sudah termasuk kendaraan shuttle yang mengantar pengunjung menuju pelabuhan.
Shuttle kemudian membawa kami menuju kapal. Perlahan, sosok Doulos Hope, tujuan perjalanan sore itu mulai terlihat. Kapal itu berdiri di tengah kawasan pelabuhan dengan laut dan kapal-kapal lain di sekelilingnya. Pemandangan tersebut menjadi kesan pertama sebelum detikX benar-benar menginjakkan kaki di atas kapal.
Setibanya di kapal, detikX kembali disambut ramah oleh para kru yang sebagian besar merupakan warga negara asing. Mereka menyapa pengunjung dengan ramah, termasuk ketika kami turun dari kendaraan. Keramahan itu terlihat dari cara mereka membantu pengunjung yang membutuhkan. Beberapa pengunjung lanjut usia bahkan digandeng dan dibantu turun dari shuttle. Mereka juga mengajak pengunjung bertukar sapa. Percakapan pun berlangsung dalam bahasa Inggris, meski tidak semua kru fasih berbahasa Inggris, mulai dari sapaan sederhana hingga pertanyaan ringan kepada pengunjung.
Begitu menginjak dek Doulos Hope, detikX langsung merasa kagum. Rak-rak buku berjajar di area pameran, sementara dari sisi dek, laut dan kapal-kapal lain di pelabuhan terlihat di kejauhan. Pengalaman berada di toko buku dengan pemandangan seperti itu tentu berbeda dari toko buku pada umumnya.
Namun, Doulos Hope bukan kapal yang sejak awal dirancang untuk menjadi kapal buku. Di balik fungsinya sekarang sebagai kapal pameran buku terapung, ada perjalanan panjang yang membuat kapal ini beberapa kali berganti nama dan fungsi.

Di luar kapal, pengunjung bisa menikmati pemandangan laut sambil melihat aktivitas di sekitar pelabuhan
Foto : Kalingga Shagufta Islam
Kapal ini dibangun di Jerman pada 1991 sebagai kapal pesiar. Dalam perjalanan hidupnya, ia pernah dikenal sebagai Aurora II, MegaStar Aries, Genting World, hingga The Taipan. Pada 2022, kapal tersebut dibeli GBA Ships dan mulai menjalani perubahan fungsi. Setahun kemudian, kapal ini resmi beroperasi dengan nama Doulos Hope.
Nama “Doulos” sendiri berasal dari bahasa Yunani yang berarti “servant” atau pelayan. GBA Ships menjelaskan nama Doulos Hope sebagai “servant of hope”, atau pelayan harapan. Kapal ini menjadi bagian dari sejarah panjang GBA Ships, organisasi yang sejak 1970 menjalankan kapal-kapal pameran buku. Sebelum Doulos Hope, ada Logos, Doulos, Logos II, dan Logos Hope. Doulos Hope merupakan kapal kelima yang dikelola organisasi tersebut.
Doulos, kapal pendahulunya, memiliki cerita yang bahkan lebih panjang. GBA Ships membeli kapal itu pada 1977. Kapal tersebut dibangun pada 1914 dan pernah tercatat dalam Guinness World Records sebagai kapal penumpang laut aktif tertua di dunia.Pada 2010, Doulos dijual dan kemudian dikonversi menjadi hotel di darat di Indonesia dengan nama Doulos Phos.
Namun bagi Jakarta, hubungan dengan Doulos bukan sekadar catatan sejarah armada. Project Coordinator Jakarta Doulos Hope, Madalena Reinaldo, mengatakan kunjungan ini menjadi kesempatan untuk membangun kembali hubungan yang pernah terbentuk puluhan tahun lalu.
“Kunjungan terakhir kami sudah sangat lama berselang, sehingga kami selalu ingin kembali dan memulihkan kembali hubungan-hubungan tersebut,” ujar Madalena di Balai Kota DKI Jakarta, Senin, 14 September 2026, dikutip dari situs resmi Pemprov DKI Jakarta.
Di atas kapal, lebih dari 2.000 judul buku menunggu untuk dipilih.Koleksinya didominasi buku internasional. Sebagian besar berbahasa Inggris. Buku anak-anak terlihat cukup banyak. Ada pula buku fiksi, buku ilmiah, buku religius, termasuk Alkitab. Beberapa judul yang dijual juga cukup populer, seperti Diary of a Wimpy Kid dan Star Wars.
Orang tua terlihat datang bersama anak. Ada pula pasangan yang datang bersama-sama. Tidak semuanya terlihat seperti pemburu buku yang datang dengan daftar judul tertentu. Sebagian tampak menikmati kapal sebagai tempat untuk menghabiskan waktu.
Di salah satu sisi terdapat café. Pilihan makanan dan minumannya tidak terlalu banyak. Soft drink menjadi salah satu minuman yang cukup banyak dibeli pengunjung. Minuman yang dibeli di dalam kapal juga memiliki aturan tersendiri, harus dihabiskan dan dibuang di kapal, tidak dibawa keluar.
Harga buku tidak seragam. Ada yang berada di kisaran Rp50 ribu tetapi ada pula yang harganya menembus Rp500 ribu hingga jutaan rupiah. Selain buku, pengunjung dapat menemukan aksesori seperti gelang dan lanyard, serta beberapa mainan anak.
Bagi pembeli buku internasional, harga menjadi salah satu alasan untuk datang. Namun ada alasan lain yang sulit dihitung dengan uang. Di tengah rak buku itu, Melanie, datang bukan dengan rencana pasti untuk membawa pulang buku. Ia mengetahui Doulos Hope dari media sosial, khususnya TikTok, lalu sengaja datang karena penasaran dengan tempat yang menurutnya tidak biasa.
Perjalanan menuju kapal baginya juga tidak dekat. Ia menyebut perlu cukup banyak usaha untuk datang. Tetapi rasa penasaran itu lebih kuat daripada kerepotan perjalanan.
“Awalnya tadi mau liat-liat doang, tapi ternyata pas udah masuk ke dalem jadinya beli buku deh,” ungkapnya kepada detikX. Buku yang awalnya hanya menjadi bagian dari pemandangan akhirnya masuk ke dalam tas yang dibawa pulang.
Ia memang cukup sering membaca buku. Namun ia tidak memiliki genre tertentu yang selalu dicari. Ia membaca apa yang sedang ingin dibaca. Alasan utama kedatangannya justru bukan karena judul tertentu, melainkan karena tempatnya.
“Tertarik dateng ke sini karna unik sih tempatnya, karena pertama kali ngeliat ada orang jualan buku tapi di dalem kapal,” katanya.
Perempuan asal Cirebon ini akhirnya menghabiskan sekitar Rp100 ribu untuk buku. Menurutnya, harga buku internasional di kapal tersebut cukup menarik jika dibandingkan dengan toko buku yang memang menjual buku-buku impor.
“Di sini (Jakarta) kan banyak toko buku yang jual buku khusus internasional jadi itu biasanya harganya lebih mahal. Kalau di sini (kapal) harganya terbilang cukup worth it sih untuk buku-buku internasional,” tuturnya.
Namun perempuan berusia 22 tahun ini melihat pilihan buku nonfiksi agak terbatas. Ia juga memperhatikan sebagian buku tidak memiliki seal, sehingga tampak seperti buku pre-loved atau sudah pernah digunakan. Namun sejauh pengalamannya, kondisi tersebut masih dianggap aman.

Setelah berburu buku, waktunya mengisi tenaga dengan duduk santai di cafe sambil menikmati pemandangan laut di malam hari
Foto : Kalingga Shagufta Islam
Pengalaman Melanie juga memperlihatkan siapa saja yang datang ke kapal tersebut. Pengunjung tidak terbatas pada pembaca tertentu. Anak-anak datang bersama orang tua. Pasangan juga terlihat menikmati suasana kapal. Rentang usia pengunjung cukup beragam.
Buku hanyalah salah satu alasan pengunjung berada di sana. Alasan lain adalah para kru yang bekerja di kapal. Mereka berasal dari berbagai negara. Dalam kunjungan ke Jakarta, sekitar 100 kru dari 35 negara terlibat dalam perjalanan tersebut. Mereka bukan hanya berdiri sebagai petugas yang mengarahkan pengunjung. Di sejumlah titik, mereka menjadi bagian dari pengalaman pengunjung dengan mengajak berbicara, memberikan informasi, bahkan membuat kuis singkat mengenai kapal.
Ada corner informasi mengenai Doulos Hope. Ada tempat untuk menulis postcard. Ada petugas yang bersedia menjelaskan sesuatu ketika pengunjung bertanya. Percakapan bisa berlangsung dalam bahasa Inggris, terkadang dengan kemampuan yang tidak selalu sempurna, tetapi justru di situlah interaksi lintas budaya terasa dalam bentuk paling sederhana. Bagi pengunjung, kesempatan berinteraksi dengan kru dari berbagai negara terbuka hampir sepanjang perjalanan. Sapaan, pertanyaan ringan, hingga obrolan singkat membuat perjalanan menuju kapal terasa lebih hidup.
Madalena sebelumnya mengatakan bahwa Doulos Hope ingin membangun hubungan dengan masyarakat melalui kunjungan tersebut. Kapten MV Doulos Hope, Eymard Calibjo, menyampaikan gagasan yang serupa.
“Kunjungan ini bertujuan memperluas akses masyarakat terhadap buku berkualitas sekaligus membangun kembali hubungan dengan Jakarta,” katanya seperti dikutip dari laman Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Utara.
Bagi Calibjo, buku adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar. “Untuk itu kami mengundang masyarakat untuk datang ke kapal kami, menikmati buku, belajar hal baru bersama, dan berharap dapat membangun persahabatan melalui buku, percakapan, pertukaran budaya, serta kerja sama.”
GBA Ships sendiri mencatat bahwa kapal-kapalnya telah mengunjungi lebih dari 150 negara dan wilayah, dengan lebih dari 490 pelabuhan yang pernah disinggahi dan lebih dari 52 juta pengunjung sejak kegiatan kapal buku mereka dimulai. Organisasi tersebut juga menyebut kru dan staf internasionalnya berasal dari sekitar 60 negara dan bekerja sebagai relawan.
Doulos Hope sendiri telah mengunjungi berbagai pelabuhan sejak mulai beroperasi pada 2023. Doulos Hope berada di Jakarta hingga 11 Oktober 2026. Setelah itu, kapal tersebut dijadwalkan meninggalkan Jakarta dan melanjutkan perjalanan. Doulos Hope dibuka untuk pengunjung setiap Selasa hingga Minggu, mulai pukul 13.30 hingga 21.00 WIB. Pengunjung terakhir dapat masuk pada pukul 20.30, sementara setiap Senin kapal ditutup untuk umum.
Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim